Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Sajak Senja

Menara Munawir masih kokoh berdiri di peraduannya Berselaksa membumi dan melangit Kosong dan tak menyimpan jawab Tapi.. Lekat lekat aku masih saja memandangimu Dari tempias hujan dan pedaran senja serta bintang gemintang Kosong Tapi aku tak peduli Kekohonmu berdiri menenggelamkan kerinduanku Karenamu,,, Aku ingin” aku dan dia berada diantaramu” Menapaki kilatan senja berpegangan erat, seerat kau satukan umat untuk mengadu Bukan kamu,, Tapi keberadaanmu, simbolis kerajaan bertuan Menaramu,, Kerajaan dan bertuankan tuhan Aku ingin disini, dibawah kepak genggam saksi bisumu Berikrar ! “ wa min ayatihi an khalaqalakum mi anfusikum azwajan litaskunu ilaiha waja’ala bainakum mawaddatan wa rahmatan, inna fidzalika la ayatin liqaumin yatafakkarun”

Buih-Buih Mimpi Jum...

Gambar
Adzan subuh berkumandang.  Jumini ( 38 th ), segera mengambil air wudlu kemudian solat berjama’ah bersama lelaki sekaligus Bapak dari kedua putrinya. Saat ketika orang-orang  masih terbuai oleh mimpinya, perempuan yang akrap disapa Jum tersebut, menggendong dan mengapit putri kecilnya  hingga roda supra Fit silver yang dikendarai suaminya terhenti tepat di depan masjid Kaliori. Sembari menunggu angkot yang akan mengantarkannya ke pasar Rembang,dengan masih ditemani suami dan putrid kecilnya, Jum melepas sandalnya kemudian menekan-nekankan kakinya dengan aspal. Hal tersebut telah dilakukannya selama dua tahun untuk mendapatkan relaksasi alami dari aspal. Ia juga mengakui dengan beralaskan aspal secara langsung, kakinya akan berasa lebih ringan dan segar untuk memulai aktivitas hariannya. Sekitar 5 sampai 10 menit, biasanya angkot yang ditunggunya datang. Ia pun segera pamit kepada suami dan putrid kecilnyakemudian bergabung dengan perempuan-perempuan lain yang memil...