Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Apa Analogi yang Tepat untuk Dokter Thamrin?

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, Turut berduka cita, sebagai masyarakat yang mendamba hidup sehat. Bismillah semoga jerih payah dr. Thamrin mengkampanyekan hidup sehat diganjar sebagai amal ibadah. Satu hal yang begitu saja terlintas di benak saya, ketika mengetahui dr. Thamrin meninggal karena maag akut yang dideritanya, saya lantas berpikir "ini seperti halnya penjual nasi lupa makan." Suatu ketika saya baca artikel tentang seorang perawat yang meninggal akibat kelelahan. Jam kerja yang terlalu tinggi membuatnya harus terforsir dan kehilangan memerdekakan hidupnya untuk istirahat. Kasus perawat ini akibat menejemen dan sistem kerja yang tidak sehat. Sehingga, berita yang saya baca, meninggalnya perawat akibat kelelahan ingin dituntut oleh rekan sejawat. Bagaimana dengan dr. Thamrin? berita menyebutkankan maag akut yang dialami dr. Thamrin salah satu penyebabnya, ia menyukai mie instan. Oke yang ini saya sangat percaya karena saudara saya, pernah mengalamin...

Fiqh Dan Akhlak-Ku Diuji Tanpa Pertanyaan, Melainkan Kenyataan

Sebut saja Kamilah, seorang santri di salah satu pondok pesantren Krapyak Yogyakarta. Aktivitas Kamilah selain belajar di pondok pesantren ialah kuliyah, berorganisasi, dan bekerja di salah satu instansi pemerintahan di Yogyakarta. Kamilah terlahir dengan kemampuan standart. Jika tolok ukurnya pesantren, Kamilah tidak memiliki apa-apa. 13 tahun tinggal di pondok pesantren tidak membuatnya cakap dan mahir membaca kitab kuning. Menjadi yang diistimewakan Allah dengan menghafal Al-Qur’an juga tak mampu dilakoninya. Sehingga Kamilah kerap malu ketika ditanya sudah berapa tahun hidup di pesantren? Berbagai pertanyaan pun kerap kali terbersit di pikiran Kamilah. Terlebih ketika dihadapkan dengan sebuah cerita, “kesantrian kita diuji ketika di masyarakat” mampukah seorang santri memberi ceramah, memimpin tahlil, memecahkan persoalan hukum di masyarakat, solat berjama’ah, aktif di organisasi keagamaan kampung halaman, santun dalam bersikap, bertutur dan bertindak dan….. “Nduk samp...

Bunyaiku Keren

Bagi seorang Bunyai, memasak bisa jadi hanya sekedar hobi. Karena kalau mo dibilang kewajiban, masak bukanlah kewajiban perempuan (Pangendikan yi akhyar dan yi Faruq dulu saat di Guyangan) hehe. Namun tidak jarang seorang Bunyai menyuguhkan masakan dengan racikan tangannya sendiri ialah minongko tresno dan keta’dhiman. Naah, bagaimana jika yang dimasakin bunyai tidak hanya suami dan keluarganya? Masak buat santrinya misalnya yang jumlahnya ratusan? Nah, malam ini aku menjadi tahu mengapa perempuan kudu pinter masak. Bukan kudu atau “keharusan” sih, melainkan lebih baiknya bisa masak. Belajar dari Bunyaiku nih ya, kita tidak pernah tahu akan di hadapkan dengan kondisi seperti apa, Seperti kondisi yang dialami bunyaiku. Ndelalah sampai hari ini, mbak-mbak ndalem belum juga kembali pasca liburan lebaran. Kegiatan pondok sudah mulai aktif. Para santri sudah berdatangan, dan kewajiban “menyediakan makanan” menjadi suatu hal yang tidak boleh terabaiakan, meskipun mbak-mbak ndalem be...

Mendidik Atau Mengkomersialisasikan Ilmu?

Hari ini temen kantor saya menyinggung tentang materialitas ustadz. Ia mengkritisi tentang kepentingan bisnis dalam ceramahnya. Bukan tentang bisnis dalam ceramahnya, melainkan ceramahnya yang dibisniskan atau dikomersialisasikan. Jadi teringat obrolan singkat saat kumpul-kumpul di Kodama sembari menikmati kepulan mendoan asin buatan adek Yanti tercinta. Hehehe… Kamidin (Bukan nama sebenarnya) memandang pentingnya pendidik untuk tidak menjadikan kelas atau sekolah sebagai ladang pekerjaan. Jika yang demikian dilakukan, marwah keilmuan seorang guru, jelaslah disangsikan. Maksutnya ladang pengabdian dan labilitas guru atau pendidik sebagai pahlawan tanpa tanda jasa hanya seolah sematan belaka. Jujur saya yang bukan seorang pendidik sangat menyetujui. Namun tak dapat menampik, derita guru memang masih dipandang sebelah mata. Bahkan sampai ada ungkapan “Artis dibayar mahal untuk merusak moral siswa, sedangkan guru dibayar murah untuk memperbaiki moral siswa.” Sebenarnya yang demi...

Toleransi Dari Kepulan Asap Dapur Ibu

Bagi kamu anak rantau, pulang tentunya menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan bukan? Kalau aku sih iya! Bagaikan ratu, dimanjakan gitu hehehe…..tapi bukan menyoal itu sih, yang jelas menyantap menu sehat ala simbok ialah anugerah luar biasa. Ayam yang biasa tidak menjadi masakan idola ketika di Jogja, menjadi demen banget ketika simbok yang meracik bumbu dan memasaknya. Sungguh yang ini kenyataan, bukan boongan wkwkwkw. Nah, suatu pagi nih ya,,,,simbok memasak nasi goreng untuk menu sarapan kami. Aku yang masih nyapu dan si kecil nonton kartun, ditanya simbok. “sik arep nganggo kecap sopo, sik ora sopo?” aku dan si kecil pun serempak menjawab, memilih dengan kecap. Dari sini aku mulai berpikir, toleransi tercipta dan dapat dipelajari dari kepulan asap dapur ibu. Aku pun mulai belajar untuk tidak egois membuat sesuatu berdasarkan selera. Bikin jus mangga misalnya, ibu lebih suka sedikit gula sedangkan aku dan si kecil lebih suka yang manis. Sedangkan bapak apa aja mau, mau mani...

Mungkinkah Memilih Jodoh Seperti Memilih Pendidikan?

Pendidikan menjadi suatu hal yang dipandang penting oleh sebagian orang. Bukan menyoal pendidikan mampu menjadikanmu sebagai apa? Melainkan mampukah kamu menjadi lebih baik tanpa sebuah pendidikan? Bicara tentang pendidikan tentu tidak hanya sebatas ruang bernama kelas, melainkan alam dan keseluruhan isinya ialah ruang yang tepat untuk belajar. Adat istiadatnya, sosial masyarakatnya, spiritual keagamaannya, budaya mayoritas dan minoritasnya, persamaan Bahasa dan perbedaannya, logat, dan lain sebagainya. Pendidikan memang tak terbatas di sepetak ruang bernama kelas. Namun sepetak ruang bernama kelas masih kerap dipandang dan dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia untuk mendidik putra dan putrinya. Salah satunya, keluarga Rahma (Bukan nama sebenarnya). Tentang ini, tepat sekali dengan tulisan Nadhirsyah Hosen yang berjudul “Ketika Ilmuwan, Ulama’ dan Profesor dibully di Medsos. Tapi sebenarnya tulisan ini tidak akan membahas lebih jauh tentang pendidikan berbasis kelas atau b...

Siapa Yang Bisa Memilih Untuk Tidak Menjadi Janda?

Hatiku sakit, perih rasanya memendam cemburu dengan perempuan yang hebat luar biasa. Tak jarang, di antara kepayahan yang sangat orang berpikir tentang pendidikan. “Disini aku semakin yakin, banyak orang yang berharap melalui pendidikan dapat merubah nasib menjadi lebih baik.”  Ya allah,,,,dia yang terlahir untuk kemudian kehilangan bapaknya di usia kecilnya. dibesarkan oleh seorang ibu, yang menggantungkan hidupnya sebagai b uruh laundry. Aku sangat terharu oleh perjuangan ibunya mempuasakan diri dari berbagai kemewahan demi menyekolahkan anaknya. Kini, perlahan tapak-tapak pendidikan formal dilalui anaknya. Ingin sekali kutanyakan, “Berapa ribu kali peluh keringat menetes di setiap harinya?” Allahku,,,,, Sekarang aku semakin tahu, belajar dari seorang janda buruh cuci yang harus membiayai kehidupan keluarganya. “Perempuan memang harus tegar, harus mandiri, harus kuat, dan harus bisa menjadi luar biasa hebat bagi keluarganya.” Bukan karena apa-apa, hidup menjalani takd...

Floridina Simbah, EXPIRED

Tentang simbah yang bukan simbahku. Yaah….beliau ialah simbah-simbah yang gemar menjajakan dagangannya di Alkid. Sejak pertemuanku di Alkid saat jogging, iseng-iseng aku ngobrol tentang dagangan yang dijajakannya. Baca http://menarasenja.blogspot.co.id/2017/04/simbahku-yang-renta.html sejak saat itu aku merasa jatuh cinta dengannya. Kami pun menjadi akrab, setiap kali jogging ke Alkid aku tidak absen menegurnya, hanya untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Simbah tidak pernah tahu siapa namaku, ia hanya menyebutku Krapyak setiap kali aku mengunjunginya. Sebutan itu sudah cukup membuatku bahagia, karena di usia senjanya ia masih mampu mengingat. Jum’at kemarin saat aku cukup disibukkan dengan aktifitas kantor, membuatku harus ngelembur dan pulang sekitar pukul 20.00. Tiba-tiba aku teringat simbah, sempat ingin kembali mengunjungi rumahnya karena sudah hampir sebulan aku tak lagi jogging. Ternyata keinginanku diwujudkan Allah, saat aku pulang dan sampai di Alkid kudapati s...

Ibu-Ibu dan Ibuku

Hari ini, tahun ketiga kerja di bulan puasa. Alhamdulillah atas segala limpahan rahmat Allah, masih berpijak di tempat kerja yang sama. Terenyuh sekali hari ini, ketika akan berangkat kerja, ada suatu hal yang mengharuskanku menemui bunyaiku di Krapayak. Nyai Hj. Ida Fathimah Zainal Abidin beliau dikenalnya. Kuucapkan salam, dan terdengar jawaban lembut dari beliau di kamar. Seperti biasa aku langsung menyibak tirai kamar bunyaiku, masuk dan mengecup ta’dhim tangan beliau. Ibuk ida, biasa aku memanggil beliau menghentikan sejenak aktivitas membaca kitabnya. Entah kitab apa yang sedang dibacanya aku tak begitu mengamati. Aku hanya menebak mungkin Risalatul Mu’awanah karena selama Ramadhan setiap pukul 09.00 beliau akan mengulas kitab tersebut di hadapan para santri. “Gimana kabarnya?” Tanya Ibuk Ida. Aku tersenyum dan menjawab tentangku alhamdulillah baik dan sehat. Aku lantas bercerita dan menyampaikan amanah dari sahabatku Zida yang belum dapat sowan saat ke Jogja. Selain menyam...

Ada Apa Dengan Bapak?

Semakin hari aku semakin jatuh cinta dengan bapak. Terlebih ketika dengan jujur bapak mengakui akan kebelumsiapannya ditinggal putri kecilnya mondok di pesantren. Aku yang belum pernah merasakan berpisah dengan anak sedikit memaksa bapak berkenan merelakan sementara berpisah dengan putri kecilnya. Suatu hal yang tidak pernah aku sangka, bapak tak setegar seperti ketika dulu aku memilih belajar di pesantren. Saat itu bapak begitu antusias, bahkan berkenan mengantarku ke pasar untuk mewujudkan keinginanku membeli sarung. Sarung sebagai pakaian khas pesantren pun aku miliki sebelum aku resmi menjadi salah satu santri di pondok pesantren Raudlatul Ulum Guyangan.    Ada apa dengan bapak? Kali ini saat ketika putri kecilnya akan belajar di pesantren, aku yang belum dapat secara rutin menyuguhkan kopi untuknya merasakan kepedihan yang sangat. Ibuku bercerita, tentang hal yang dulu dirasakannya ketika aku memilih belajar di pesantren. “Bapakmu luwih ora tegel karo adimu karen...

Simbahku Yang Renta

Gambar
Simbah Penjual Jajanan Alkid Aku bukanlah seorang pengemis, mungkin jargon tersebut cocok untuk menggambarkan simbah-simbah yang jualan jajanan di Alkid. Dua minggu yang lalu, aku bersama kawanku sempat ngobrol banyak dengannya. Satu hal yang membuat aku berpikir mengenahi simbah, ternyata kaum kapitalis tidak hanya mereka para investor yang hobi membangun mall, apartemen, hotel dan bangunan yang tidak ramah terhadap kaum bawah. Melainkan, ah aku kebingungan mencari istilahnya. Dua minggu yang lalu, baru aku tahu sebotol air mineral Vit (600 ml ) dijual dengan harga Rp. 5000. “ Oke! Harga di Alkid gitu lho.” Tapi menurutku untuk ukuran Vit harga tersebut terlalu mahal. Ketika kutanya simbahnya apakah laku? Simbah menjawab dagangannya selama ini laku tapi tidak mesti setiap harinya berapa. Temenku Khotim lantas bertanya berapa keuntungan yang didapatkan simbah dari setiap satu botol Vit yang terjual. “Limangatus.” Jawab simbah. Masyaallah, sekejam inikah perilaku rakyat dengan ...

Mumpung Selo

Jangan terpaku pada judul yak, meskipun dalam penulisan yang baik judul mewakili isi. Namun kali ini anggap saja pengecualian, heheheee……hanya pengen nulis “wathon” saja, mumpung di tempat kerja sedang kagak ada kerjaan. Jadi serius nih, aku manfaatkan untuk mencari data tambahan penelitianku tentang bunyai Ida Fathimah. Di tempat kerjaku sekarang, dulunya medan berkiprahnya bunyai Ida Fathimah di bidang politik. Tapi bukan berarti kerjaanku sama dengan yang bunyai Ida dulu lakukan lho ya….beda! nah karena gak ada kerjaan, aku pun mencoba berkunjung ke perpustakaan dan ruang arsip demi mendapatkan data tambahan tentang bunya Ida. Namun, kenyataannya tak semulus harapan. Data yang aku cari terkait profile bunyai Ida tak banyak aku dapatkan. Nemu sih, satu profile dewan periode 2004-2009, namun hanya berisi sekilas tentang identitas dewan saja termasuk bunyai Ida Fathimah. Aku buka, dan kubaca sekilas kemudian menutupnya. “Kalau yang seperti ini, sudah aku dapatkan dari wawancara.” Ba...

Nyunmor Nang Alkid

Gambar
Ini pagiku,,, Fabiayyi ‘ala irabbikuma tukaddziban? Nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? “Tidak ada” bisikku lirih sebelum mengayunkan pelan kakiku. Kehangatan mentari pagi laksana pelukan rahmat tuhan. Terlebih di antara temaram cahaya keemasannya, sepoi angin berdesir pelan memainkan jilbabku. Sungguh tidak ada nikmat yang pantas aku dustakan. Kulangkahkan kakiku sembari menggerak-gerakkan pelan tangan kakan dan kiriku. Mataku menyapu sudut Alun-alun Kidul (Alkid). “Berbagai aktivitas sedang berlangsung di sini.” Batinku. Kulihat para pedagang berjejeran menjajakan dagangannya. Menurutku di Alkid setiap hari minggu sudah seperti Sunmor. Jujur lumayan mengganggu aktivitas jogging-ku. Tapi bukankah Alkid ruang publik yang boleh dimanfaatkan siapapun? Akhirnya aku berdamai dengan realitas sosial yang sedang berlangsung di Alkid setiap hari minggu. Aku berpikir mereka para pedagang ialah orang-orang cerdas yang berkenan menangkap peluang. Mereka jauh lebih berani da...

Pengen Dodolan

Gambar
Iseng-iseng nih yee…ikut nimbrung gitu diskusi tentang UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Aslinya ya belum begitu paham, tapi disini aku dapat ilmu lah yaa….eh pengetahuan ding tentang wirausaha. Hehehe…. Kalau kata mbak Rika, wirausaha tidak butuh teknologi dan scient yang muluk-muluk, yang penting praktek. Hohooo….betul juga ya. Lah boro-boro praktek kadang kita takut duluan persoalan modal. Pernah ngerasain kayak gitu gak? Kalau aku sih iya, pernah. Tapi ternyata modal juga tidak jadi prioritas dalam berwirausah. Puter otak nih! Kadang aku mikir, emang pekerjaan paling enak ya berwirausaha. Minimal, lek kesel leren amergo nggon-nggone dewe. Wahaha, gimana mau maju baru saja terbersit berwirausaha sudah mikir banyak liburnya. Wkwkw, Aku pernah mencoba jualan pulsa, tapi aku tidak pernah tahu berapa untungnya, karena uang modal, uang jajan, dan keuntungan jadi satu. Nah ini nih, yang kata temenku payah. Akhirnya aku mikir kayaknya aku gak cocok jadi wirausaha. Tapi ya pen...

Lawan Takut, Setelah Lulus Ngapain?

Gambar
Hari ini aku tertarik untuk bercerita tentang “yang katanya untuk mengawali menulis itu suatu hal yang sulit.” Iya sih, terlebih seperti aku yang serasa jemari dan penaku hampir tumpul, saking lamanya terlalu membekukan diri dalam diam atau dalam bahasanya Kalis Mardiasih tidak sensitif. Artinya, sebuah peristiwa sosial berlalu begitu saja, tanpa ada greget dari kita untuk menuliskannya. Nah, hari ini aku ingin mencoba menjadi pribadi yang sensitif. Hehehehe..... Tapi lagi-lagi aku ingin mengawali tulisanku dengan, apa ya? ide sih banyak, tapi ideku bagaikan rinduku pada seseorang, dikatakan malu gak dikatakan haduch rasanya bagaikan tersayat-sayat sakit dan pilu, Eaaakkkk. Hahaha Oke deh, aku akan memulai bercerita tentang salah satu sahabatku, sebut saja Udin. Bagiku Udin sahabat yang sangat spektakuler. Bagiku lho yaa, karena dia memiliki daya kritis yang bagus dan selain itu dia juga cermat. Termasuk saking cermatnya, sering kali ucapan atau ketikan inbok-ku ke dia dikomen...