Mungkinkah Memilih Jodoh Seperti Memilih Pendidikan?

Pendidikan menjadi suatu hal yang dipandang penting oleh sebagian orang. Bukan menyoal pendidikan mampu menjadikanmu sebagai apa? Melainkan mampukah kamu menjadi lebih baik tanpa sebuah pendidikan? Bicara tentang pendidikan tentu tidak hanya sebatas ruang bernama kelas, melainkan alam dan keseluruhan isinya ialah ruang yang tepat untuk belajar. Adat istiadatnya, sosial masyarakatnya, spiritual keagamaannya, budaya mayoritas dan minoritasnya, persamaan Bahasa dan perbedaannya, logat, dan lain sebagainya.
Pendidikan memang tak terbatas di sepetak ruang bernama kelas. Namun sepetak ruang bernama kelas masih kerap dipandang dan dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia untuk mendidik putra dan putrinya. Salah satunya, keluarga Rahma (Bukan nama sebenarnya). Tentang ini, tepat sekali dengan tulisan Nadhirsyah Hosen yang berjudul “Ketika Ilmuwan, Ulama’ dan Profesor dibully di Medsos. Tapi sebenarnya tulisan ini tidak akan membahas lebih jauh tentang pendidikan berbasis kelas atau bukan. Melainkan hanya ingin sekedar bercerita saja analogi mengenahi jodoh dan pendidikan. Hehe…
Semua berawal ketika Rahma sudah mulai menginjak kelas VI Sekolah Dasar (SD). Ada pendidikan yang harus dilanjutkan. Pertanyaannya dimanakah? Keluarga berpikir akan menyamakan pendidikan Rahma dengan kakaknya (Alma). Namun ternyata, Rahma memiliki sedikit cara berpikir bahwa Bukan sebuah keharusan seorang adik mengikuti jejak pendidikan yang ditempuh kakaknya. “Belajar agama kui ora kudu nang pesantren.” Kata Rahma suatu kali pada Bapak dan Ibunya ketika menyinggung pondok pesantren sebagai wadah yang tepat untuk melanjutkan pendidikan putri keduanya,Rahma.
Mendengar ungkapan tersebut, bapak ibu Rahma yang memang termasuk memiliki kedemokrasian tinggi terhadap pendidikan yang akan ditempuh anak-anaknya menerima ucapan tersebut. Namun, keinginan untuk tetap menyekolahkan anak-anaknya di pesantren terkadang menjadi suatu hal saklek yang ingin diterapkan di keluarganya. Alma, sebagai sorang kakak berpikir dan meminta supaya keluarga sepakat memberikan pengarahan yang baik supaya Rahma berminat untuk melanjutkan pendidikan di pesantren. Lambat laun, berbagai alasan mengapa Rahma memilih untuk tidak sekolah di pesantren ialah, takut ketika kakaknya Alma menikah, ia tidak diperbolehkan pulang. Padahal hanya Alma-lah satu-satunya kakak yang ia punya. Alasan tersebut baru diungkapkan Rahma ketika menjelang ujian nasional. Selama ini ketika ditanya mengapa tidak berkenan sekolah di pesantren, Rahma menjawab tidak berkenan jika jauh dari keluarga, enggan jika tidak ada teman satu angkatan dari kampung, belajar agama tidak harus di pesantren dan berbagai macam alasan lainnya turut dikemukakan.
Ketika mendengar alasan terakhir yakni tidak ingin sekolah di pesantren karena takut tidak dapat pulang ketika kakanya pulang, bapak ibunya langsung tersenyum. “Golek pesantren sik ngizinke muleh wayah omah ono gawe.” Ungkap Bapaknya yang disetujui ibunya.
Sang kakak pun ketawa ketika diceritain ibunya tentang alasan adeknya enggan sekolah di pesantren. Namun, sang kakak sangat memaklumi dan mulai survey pondok pesantren mana yang memiliki kualitas dan sistem pendidikan yang bermutu dan tidak terlalu ketat.
Terbersitlah Matholi’ul Falah kajen yang berlokasi tidak jauh dari pesarean Mbah Mutamakin. Matholi’ul Falah secara kualitas bagus, bahkan untuk menempuh pendidikan di Matholi’ul Falah harus melalui seleksi ketat untuk dapat menjangkau langsung masuk Madrasah Tsanawiyah. Jika tereliminasi, diberi kesempatan ikut persiapan 1 atau 2 tahun (tergantung perolehan nilai ujian).
Sang kakak setuju, begitu juga dengan ibu Rahma. Namun, berbeda dengan bapak Rahma, ia berharap putri kecilnya Rahma langsung masuk Madrasah Tsanawiyah. Terpaksa pilihan Matholi’ul Falah pun di cansel, bahkan sudah sempat mendaftar sebagai peserta didik baru dan dibayar lunas. Mungkin karena belum jodoh kali yaa,,,
Kalau tentang ini memang ada kesalahan komunikasi di keluarga Rahma. Rahma dan Ibunya mensurvei langsung ke Kajen memilih-milih Pondok Pesantren yang disukai Rahma sekaligus sekolahnya. Saat sampai di Matholi’ul Falah, Rahma kegirangan dan mengaku cocok sekolah di Matholi’ul Falah, bahkan ibu Rahma tidak mempersoalkan ketika nantinya Rahma harus mengikuti persiapan dua tahun masuk Madrasah Tsanawiyah. Saking senangnya melihat Rahma kegirangan dan siap belajar di Matholi’ul Falah, Ibu Rahma sampai lupa mengabarkan ke suami tentang bagaimana pendapatnya. Di daftarkanlah Rahma lengkap dengan pelunasan uang gedung dan kegiatan satu tahun.
Naaah…sesampainya di rumah, bapaknya Rahma mengaku tidak setuju dengan berbagai pertimbangan akhirnya keluarga menyetujui di Matholi’ul Falah dicabut. Survei kembali dilakukan dengan melibatkan sang kakak, Alma. Alma memilihkan Perguruan Islam Al-Hikmah (Prima). Di Prima,sang kakak pun sebenarnya rada ragu bukan menyoal kualitas melainkan Prima dan Pondok Pesantren Majlis Ta’lim Al-Hikmah (Permata) ialah satu atap dan keduanya milik salah satu teman Alma di Krapyak. Sedangkan Rahma berkenan di Prima tapi mondoknya di Raudlatul Ulum milik bu Fayumi. Alma tidak dapat memaksakan pilihan Rahma untuk sekolah di Prima dan mondok di Permata, yaa senajan pekewuh (sungkan) dengan temannya Alma. Tapi apa mau dikata, pilihan ada di tangan Rahma.
Nah, tiga hari sebelum berangkat mencabut pendaftaran peserta didik baru di Matholi’ul Falah sekaligus mendaftar di Prima, tetangga memberi masukan untuk sekolah di Salafiyah saja. Sang kakak pun hanya menjawab semua akan di survei dulu, masalah pilihan biarlah adek yang menentukan. Jujur, kalau soal pilihan sang kakak lebih mempercayakan adiknya sekolah di pondok pesantrennya dulu di Guyangan. Namun karena alasan takut ketika Alma menikah Rahma tidak diizinkan pulang, Alma pun sangat menghargai pilihan Alma.
Akhirnya, tibalah saatnya survei kembali dilakukan di Prima dan Salafiyah. Sang kakak setuju di Salafiyah karena kurikulum yang digunakan ialah kurikulum Kemenag dan kurikulum pesantren. Artinya kurikulum yang digunakan Salafiyah sama halnya dengan sekolah Alma. Namun secara sistem dan muatan keilmuan memang lumayan lebih ringan daripada di Guyangan. Tapi hal tersebut tidak menjadi masalah, karena pengetahuan dan keilmuan lainnya dapat dipelajari di pondok pesantren dan masyarakat sekitarnya.
Kini seluruh keluarga menyetujui, dan Rahma pun mengaku siap belajar melanjutkan pendidikannya di Salafiyah. Keluarga berharap semoga Rahma, Salafiyah dan seluruh isi Kajen berjodoh. Bukan tentang nama sekolah dan pondoknya apa, melainkan keseriusan meneladani dan mempelajari keilmuan islam, keilmuan umum, kearifan sosial dan kebudayaan Kajen. #Bismillah semoga berjodoh dan Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah menjalin tatanan pengetahuan dan kehidupan di Kajen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru