Toleransi Dari Kepulan Asap Dapur Ibu
Bagi kamu anak rantau, pulang tentunya menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan bukan? Kalau aku sih iya! Bagaikan ratu, dimanjakan gitu hehehe…..tapi bukan menyoal itu sih, yang jelas menyantap menu sehat ala simbok ialah anugerah luar biasa. Ayam yang biasa tidak menjadi masakan idola ketika di Jogja, menjadi demen banget ketika simbok yang meracik bumbu dan memasaknya. Sungguh yang ini kenyataan, bukan boongan wkwkwkw.
Nah, suatu pagi nih ya,,,,simbok memasak nasi goreng untuk menu sarapan kami. Aku yang masih nyapu dan si kecil nonton kartun, ditanya simbok. “sik arep nganggo kecap sopo, sik ora sopo?” aku dan si kecil pun serempak menjawab, memilih dengan kecap.
Dari sini aku mulai berpikir, toleransi tercipta dan dapat dipelajari dari kepulan asap dapur ibu. Aku pun mulai belajar untuk tidak egois membuat sesuatu berdasarkan selera. Bikin jus mangga misalnya, ibu lebih suka sedikit gula sedangkan aku dan si kecil lebih suka yang manis. Sedangkan bapak apa aja mau, mau manis biasa atau banget tidak menjadi masalah. Baginya ada jus siap minum, ialah anugerah.
Nah korelasi apa dengan toleransi? Ada banyak yang harus dipahami bahwa yang terenak, terbaik, tidak berada di ujung lidah, ketukan tangan, dan pemikiran kita. Terbaik ialah, yang dapat menyuguhkan menu yang sama dengan kadar rasa yang sedikit berbeda. Bukankah dengan kecap dan tanpa kecap menu yang disajikan ibu tetaplah nasi goreng? Bukankah sedikit gula dan banyak gula yang kusuguhkan tetaplah jus mangga?
Bagaimana meracik toleransi dalam organisasi? Tujuan sebagai garis besarnya, cara mencapai tujuan boleh sedikit berbeda sesuai kapasitas anggotanya. Bahkan yang demikian, berbeda-beda ditempuh dengan waktu yang sama insyaallah akan tercapai tujuannya. Ach iya gak sih? Aku yang bergelut dalam organisasi masih sedikit ragu dengan analogiku. #Mikir
Komentar
Posting Komentar