Kenapa Harus Bapak
Pernah suatu kali aku ditanya “Kamu lebih dekat dengan bapakmu kah?” aku tersenyum. “Aku dekat dengan keduanya.” Jawabku. “Kok yang sering diceritain bapak bukannya ibu?” tanya kawanku tak puas dengan jawabanku. Aku mulai berpikir, percakapan yang pada awalnya kubiarkan begitu saja. Aku baru menyadari saat ketika salah satu di antara temenku memposting foto bapaknya dan mengatakan “kangen”. Aaach di waktu yang berbeda, temenku juga pernah membingkai foto keluarganya. Aku menggelitik dan berkomentar “perempuan terhebatnya mana, mbak?” “Foto ibu menyusul, mbak.hehhe” Disini aku merasakan ada sebuah kejanggalan. “Kenapa aku dan temanku seolah lebih menonjolkan kehebatan, bapak? Apakah tolok ukur kehebatan terlihat dari kecerdasan dan prestasi formalitas yang disandangnya?” Aaach kawan…. Persepsimu tentang kedekatanku, sungguh keliru. Kenapa yang kusebut selalu bapak? Karena bapak bisa menjadi teman saat aku butuh bercerita tentang polemik isu aktual yang ada...