Postingan

Apa Analogi yang Tepat untuk Dokter Thamrin?

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, Turut berduka cita, sebagai masyarakat yang mendamba hidup sehat. Bismillah semoga jerih payah dr. Thamrin mengkampanyekan hidup sehat diganjar sebagai amal ibadah. Satu hal yang begitu saja terlintas di benak saya, ketika mengetahui dr. Thamrin meninggal karena maag akut yang dideritanya, saya lantas berpikir "ini seperti halnya penjual nasi lupa makan." Suatu ketika saya baca artikel tentang seorang perawat yang meninggal akibat kelelahan. Jam kerja yang terlalu tinggi membuatnya harus terforsir dan kehilangan memerdekakan hidupnya untuk istirahat. Kasus perawat ini akibat menejemen dan sistem kerja yang tidak sehat. Sehingga, berita yang saya baca, meninggalnya perawat akibat kelelahan ingin dituntut oleh rekan sejawat. Bagaimana dengan dr. Thamrin? berita menyebutkankan maag akut yang dialami dr. Thamrin salah satu penyebabnya, ia menyukai mie instan. Oke yang ini saya sangat percaya karena saudara saya, pernah mengalamin...

Fiqh Dan Akhlak-Ku Diuji Tanpa Pertanyaan, Melainkan Kenyataan

Sebut saja Kamilah, seorang santri di salah satu pondok pesantren Krapyak Yogyakarta. Aktivitas Kamilah selain belajar di pondok pesantren ialah kuliyah, berorganisasi, dan bekerja di salah satu instansi pemerintahan di Yogyakarta. Kamilah terlahir dengan kemampuan standart. Jika tolok ukurnya pesantren, Kamilah tidak memiliki apa-apa. 13 tahun tinggal di pondok pesantren tidak membuatnya cakap dan mahir membaca kitab kuning. Menjadi yang diistimewakan Allah dengan menghafal Al-Qur’an juga tak mampu dilakoninya. Sehingga Kamilah kerap malu ketika ditanya sudah berapa tahun hidup di pesantren? Berbagai pertanyaan pun kerap kali terbersit di pikiran Kamilah. Terlebih ketika dihadapkan dengan sebuah cerita, “kesantrian kita diuji ketika di masyarakat” mampukah seorang santri memberi ceramah, memimpin tahlil, memecahkan persoalan hukum di masyarakat, solat berjama’ah, aktif di organisasi keagamaan kampung halaman, santun dalam bersikap, bertutur dan bertindak dan….. “Nduk samp...

Bunyaiku Keren

Bagi seorang Bunyai, memasak bisa jadi hanya sekedar hobi. Karena kalau mo dibilang kewajiban, masak bukanlah kewajiban perempuan (Pangendikan yi akhyar dan yi Faruq dulu saat di Guyangan) hehe. Namun tidak jarang seorang Bunyai menyuguhkan masakan dengan racikan tangannya sendiri ialah minongko tresno dan keta’dhiman. Naah, bagaimana jika yang dimasakin bunyai tidak hanya suami dan keluarganya? Masak buat santrinya misalnya yang jumlahnya ratusan? Nah, malam ini aku menjadi tahu mengapa perempuan kudu pinter masak. Bukan kudu atau “keharusan” sih, melainkan lebih baiknya bisa masak. Belajar dari Bunyaiku nih ya, kita tidak pernah tahu akan di hadapkan dengan kondisi seperti apa, Seperti kondisi yang dialami bunyaiku. Ndelalah sampai hari ini, mbak-mbak ndalem belum juga kembali pasca liburan lebaran. Kegiatan pondok sudah mulai aktif. Para santri sudah berdatangan, dan kewajiban “menyediakan makanan” menjadi suatu hal yang tidak boleh terabaiakan, meskipun mbak-mbak ndalem be...

Mendidik Atau Mengkomersialisasikan Ilmu?

Hari ini temen kantor saya menyinggung tentang materialitas ustadz. Ia mengkritisi tentang kepentingan bisnis dalam ceramahnya. Bukan tentang bisnis dalam ceramahnya, melainkan ceramahnya yang dibisniskan atau dikomersialisasikan. Jadi teringat obrolan singkat saat kumpul-kumpul di Kodama sembari menikmati kepulan mendoan asin buatan adek Yanti tercinta. Hehehe… Kamidin (Bukan nama sebenarnya) memandang pentingnya pendidik untuk tidak menjadikan kelas atau sekolah sebagai ladang pekerjaan. Jika yang demikian dilakukan, marwah keilmuan seorang guru, jelaslah disangsikan. Maksutnya ladang pengabdian dan labilitas guru atau pendidik sebagai pahlawan tanpa tanda jasa hanya seolah sematan belaka. Jujur saya yang bukan seorang pendidik sangat menyetujui. Namun tak dapat menampik, derita guru memang masih dipandang sebelah mata. Bahkan sampai ada ungkapan “Artis dibayar mahal untuk merusak moral siswa, sedangkan guru dibayar murah untuk memperbaiki moral siswa.” Sebenarnya yang demi...

Toleransi Dari Kepulan Asap Dapur Ibu

Bagi kamu anak rantau, pulang tentunya menjadi suatu hal yang sangat menyenangkan bukan? Kalau aku sih iya! Bagaikan ratu, dimanjakan gitu hehehe…..tapi bukan menyoal itu sih, yang jelas menyantap menu sehat ala simbok ialah anugerah luar biasa. Ayam yang biasa tidak menjadi masakan idola ketika di Jogja, menjadi demen banget ketika simbok yang meracik bumbu dan memasaknya. Sungguh yang ini kenyataan, bukan boongan wkwkwkw. Nah, suatu pagi nih ya,,,,simbok memasak nasi goreng untuk menu sarapan kami. Aku yang masih nyapu dan si kecil nonton kartun, ditanya simbok. “sik arep nganggo kecap sopo, sik ora sopo?” aku dan si kecil pun serempak menjawab, memilih dengan kecap. Dari sini aku mulai berpikir, toleransi tercipta dan dapat dipelajari dari kepulan asap dapur ibu. Aku pun mulai belajar untuk tidak egois membuat sesuatu berdasarkan selera. Bikin jus mangga misalnya, ibu lebih suka sedikit gula sedangkan aku dan si kecil lebih suka yang manis. Sedangkan bapak apa aja mau, mau mani...

Mungkinkah Memilih Jodoh Seperti Memilih Pendidikan?

Pendidikan menjadi suatu hal yang dipandang penting oleh sebagian orang. Bukan menyoal pendidikan mampu menjadikanmu sebagai apa? Melainkan mampukah kamu menjadi lebih baik tanpa sebuah pendidikan? Bicara tentang pendidikan tentu tidak hanya sebatas ruang bernama kelas, melainkan alam dan keseluruhan isinya ialah ruang yang tepat untuk belajar. Adat istiadatnya, sosial masyarakatnya, spiritual keagamaannya, budaya mayoritas dan minoritasnya, persamaan Bahasa dan perbedaannya, logat, dan lain sebagainya. Pendidikan memang tak terbatas di sepetak ruang bernama kelas. Namun sepetak ruang bernama kelas masih kerap dipandang dan dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia untuk mendidik putra dan putrinya. Salah satunya, keluarga Rahma (Bukan nama sebenarnya). Tentang ini, tepat sekali dengan tulisan Nadhirsyah Hosen yang berjudul “Ketika Ilmuwan, Ulama’ dan Profesor dibully di Medsos. Tapi sebenarnya tulisan ini tidak akan membahas lebih jauh tentang pendidikan berbasis kelas atau b...

Siapa Yang Bisa Memilih Untuk Tidak Menjadi Janda?

Hatiku sakit, perih rasanya memendam cemburu dengan perempuan yang hebat luar biasa. Tak jarang, di antara kepayahan yang sangat orang berpikir tentang pendidikan. “Disini aku semakin yakin, banyak orang yang berharap melalui pendidikan dapat merubah nasib menjadi lebih baik.”  Ya allah,,,,dia yang terlahir untuk kemudian kehilangan bapaknya di usia kecilnya. dibesarkan oleh seorang ibu, yang menggantungkan hidupnya sebagai b uruh laundry. Aku sangat terharu oleh perjuangan ibunya mempuasakan diri dari berbagai kemewahan demi menyekolahkan anaknya. Kini, perlahan tapak-tapak pendidikan formal dilalui anaknya. Ingin sekali kutanyakan, “Berapa ribu kali peluh keringat menetes di setiap harinya?” Allahku,,,,, Sekarang aku semakin tahu, belajar dari seorang janda buruh cuci yang harus membiayai kehidupan keluarganya. “Perempuan memang harus tegar, harus mandiri, harus kuat, dan harus bisa menjadi luar biasa hebat bagi keluarganya.” Bukan karena apa-apa, hidup menjalani takd...