Bunyaiku Keren
Bagi seorang Bunyai, memasak bisa jadi hanya sekedar hobi.
Karena kalau mo dibilang kewajiban, masak bukanlah kewajiban perempuan
(Pangendikan yi akhyar dan yi Faruq dulu saat di Guyangan) hehe. Namun tidak
jarang seorang Bunyai menyuguhkan masakan dengan racikan tangannya sendiri
ialah minongko tresno dan keta’dhiman. Naah, bagaimana jika yang dimasakin
bunyai tidak hanya suami dan keluarganya? Masak buat santrinya misalnya yang
jumlahnya ratusan?
Nah, malam ini aku menjadi tahu mengapa perempuan kudu
pinter masak. Bukan kudu atau “keharusan” sih, melainkan lebih baiknya bisa
masak. Belajar dari Bunyaiku nih ya, kita tidak pernah tahu akan di hadapkan
dengan kondisi seperti apa, Seperti kondisi yang dialami bunyaiku.
Ndelalah sampai hari ini, mbak-mbak ndalem belum juga
kembali pasca liburan lebaran. Kegiatan pondok sudah mulai aktif. Para santri
sudah berdatangan, dan kewajiban “menyediakan makanan” menjadi suatu hal yang
tidak boleh terabaiakan, meskipun mbak-mbak ndalem belum juga datang.
Alhasil, aku semakin jatuh cinta dengan bunyaiku. Ketika
sedang tidak dapat sare, bunyaiku lantas ke dapur memasak tumis kacang campur
tempe untuk makan para santrinya. Kulirik jam dinding, pukul 00.00.
Waaa….ini kali pertamanya aku berpartner masak dengan
bunyaiku. Eeh…bukan berpartner ding, cuman mengaduk-aduk tumis doang sambil
mengikuti intruksi beliau memasukkan bumbunya. Hehehe..
Tak pernah aku sangka sebelumnya, bunyaiku di tengah usia
senjanya mampu melakukan hal ini. Nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau
dustakan? usai masak kamipun tidur, dan paginya kukabarkan kepada temen-temen
selantaiku. “Kali ini masakan kita asli buatan bunyai tercinta” Fabiayyi ala
irabbikuma tukadziban? rasanya "Gureeeeh" luar biasa wehehe. 😋😋
Komentar
Posting Komentar