Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru

Gambar
Anjungan Walisongo WBL Sebelumnya, terimakasih tak terhingga atas secercah cahaya yang dikirimkan Tuhan di kehidupanku. Terutama kepada cahayaku, yang telah mengajariku menyibak gelabnya kebodohan.Tak dapat kuingat betul lantunan kalam tauhid di telingaku, ketika aku terlahir di detik pertama mengenal dunia. Tapi, kesabaran dan ketegasan mengenalkan huruf hijaiyah dan abjad di usia beliaku, membuatku mengerti. “Banyak hal dari suguhan dunia yang harus aku baca.” Karenanya, tepat di hari ini, ku teriakkan lantang pada cahaya-cahayaku “Salam ta’dhimku , semoga aku selalu dapat meneruskan jejak-jejak istimewamu.” Di sini, aku ingin sedikit bercerita tentang satu di antara dua hal yang menarik untuk aku perhatikan ketika rihlah di Wisata Bahari Lamongan (WBL). Tepatnya di Anjungan Walisongo, kudapati seorang perempuan sedang mendidik anak kecil. Pada awalnya aku berpikir, perempuan itu ialah ibu yang sedang mengenalkan deretan huruf hijaiyah pada anaknya. Ternyata, s...

Wadhon Kui Kudu Kuat Doyo Pikir lan Dzikire

Gambar
Studi Banding  Ponpes Al-Munawwir Komplek R2 ke pondok pesantren Lathifi yah, Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang Perempuan ini lho, yang pertama kali aku bertemu dan jatuh cinta. Beliau akrab dipanggil bu nyai Mahfudhoh. Pemilik nama lengkap Mahfudhah Ali Ubaid tersebut tak lain ialah Putri dari KH. Wahab Chasbullah pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama’. Kecakapan retorikanya membuatku terpukau, terlebih ketika beliau mengulas tentang keharusan perempuan memiliki daya pikir dan dzikir yang kuat. Karenanya, pengasuh pondok pesantren Lathifi yah, Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang tersebut begitu bakoh/ kekeh meneladankan dzikir kepada para santrinya.  Selain dzikir, beliau meyakinkan kepada kami yang hadir studi banding di pondok pesantren yang diasuhnya bahwa perempuan itu mampu berkontribusi mengisi dan menjaga kesatuan NKRI. Apa yang telah diwariskan mbah Hasyim Asy’ari, mbah Wahab Hasbullah melalui Nahdlatul Ulama’ harus dipegang teguh. Islam rahmata...

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Gambar
Add caption Rihlah,suatu hal yang sangat menyenangkan bukan? terimakasihku teruntuk segenap pengasuh dan panitia rihlah komplek R, karena jerih payah kalian saya dapat turut serta sowan kepada Raden Qasim atau yang dikenal dengan sebutan Sunan Drajat. Ini bukan kali pertamanya aku sowan, sewaktu kecil bapak dan ibuku kerap mengajak dan mengenalkanku dengan pejuang Islam di tanah Jawa. Salah satunya, Sunan Drajat. Namun, baru kali ini aku dapat merasakan nikmatnya sowan pada beliau. Dulu aku terlalu kecil, usia SD belum dapat membuatku berpikir apa-apa selain hanya soal senang diajak bapak ibuk turut serta rombongan ziarah desa ke makam waliyullah. Itu saja,…. Namun kali ini, mataku sudah dapat membaca, otakku sudah dapat berpikir akankah ketika aku tak lebih dari sepasang batu nisan ada yang berkenan datang mengusap nisanku dan mendoakanku? Adakah anak-anak yang aku temani di TPA mengingat dan mengamalkan apa yang aku sampaikan? Bagaimana jika kurangnya kesungguhanku mendidik me...

KETIKA KEMBALI KUBACA SURATMU DI 8 TAHUN YANG LALU, BAPAK…

Gambar
Surat dari Bapak Saat Mau Ujian Mts di Raudlatul Ulum SD, aku tak pernah takut apa-apa Dunia yang aku kenal hanyalah bermain, belajar dan tertawa Bukan harapan dan sebuah capaian, apalagi amarah dan ketakutan Ketika kuadukan peringkat 10 di raportku, guyonanmu bapak “alhamdulillah iso didomke wong sak deso” Dan ketika kusampaikan peringkat 2 di raportku, kau hadiahkan gelang di tangan kanan dan kiriku Dan itu dulu… Ketika Mts, satu hal yang aku takutkan“tidak lulus ujian.” Saat itu, ketika engkau belum dapat menjengukku, kau titipkan empat lembar 50 ribuan dan selembar surat teruntukku. Pesanmu agar aku tak lelah belajar dan berdoa. “Bapak lan ibu melu surung pandongo mugi putrine sing lagi ngangsu kaweruh ing Ponpes Guyangan, mugo-mugo entuk ilmu ingkang manfaat ndunyo lan akhirat.” Do’amu bapak yang tertera dalam lampiran suratmu di 8 tahun yang lalu. Dan Allah….memeluk erat mimpiku… Ketika MA, satu hal yang aku takutkan“tidak lulus ujian munaqosyah” aku tak...

Disinkronkan Dengan Madin Saja, Pak!

Gambar
Full day school,…. Apa yang digagas menteri pendidikan dan kebudayaan Muhadjir Effendy menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Berbagai tulisan pun bermunculan merespon ujaran tersebut. Banyak juga kecaman-kecaman di sosial media (sosmed). Bahkan ada pamflet yang beredar di sosmed bertuliskan “Enak jamanku toh?” versi anyar. Bukan pak Soeharto yang bertengger di pamflet dengan lambaian tanggannya, melainkan Anies Baswedan. Saya kira, sejak kepemimpinan pak Jokowi jargon-jargon tersebut sudah tidak laku. Ternyata, masih laku saja. Anies Baswedan di hari terakhirnya menjabat berharap di kepemimpinan selanjutnya pendidikan terus menuju ke arah yang lebih baik. Semua elemen agar berkenan bersama melanjutkan perjuangan, memberi dukungan pada komitmen pemerintah dalam membangun sekolah yang menyenangkan.  Bagaimana harapan indah Anies Baswedan terwujud jika baru saja menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru Muhadjir Effendy merencanakan progam sudah lebih dulu mendapatkan ...

Jangan Hanya Soal Sangsi

“ Indonesia darurat kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.” Jargon tersebut bergema sejak terungkapnya kasus Yuyun, siswa SMP, Rejang Lebong yang meninggal secara mengenaskan di tangan kebiadaban 14 laki-laki beringas yang memperkosanya. Semua elemen masyarakat dan pemerintah berduka, menyayangkan dan mengecam tindakan keji yang terjadi pada Yuyun.    Maraknya kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak menjadi sebuah keprihatinan, kritikan, sekaligus peringatan bagi bangsa Indonesia.Terungkapnya kasus Yuyun sebenarnya bukan sebuah awal dari kebejatan yang kerap terjadi pada perempuan dan anak. Melainkan awal dari sebuah kesadaran akan pentingnya penegasan hukum dan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Perempuan dan anak menjadi sasaran biang seksual.    Sejak 2013 Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap perempuan (Komnas Perempuan) telah mengingatkan kedaruratan Indonesia terhadap pelecehan dan kekerasan seksual. Hal tersebut terjadi di ...

Agama Sebagai Mitra Politik

Bicara tentang politik, mungkin yang terlintas dalam benak kita adalah kongkalikong, manipulasi dan kekuasaan. Orang rela membayar ratusan juta demi membeli demokrasi untuk mendapatkan kekuasaan. Imbasnya, banyak mereka yang terpilih dalam Pemilu/Pilkada akhirnya tersangkut korupsi karena asumsi balik modal. Asumsi balik modal biasa disebut oleh orang-orang yang sengaja memanfaatkan peluang untuk mengeruk keuntungan meng k orupsi uang negara. Entah digunakan untuk menutupi hutang saat kampanye, mengumpulkan kekayaan atau gaya hidup. Seperti Anas Urbaningrum mantan Ketua Umum Partai Demokrat yang kini mendekam di penjara karena kasus korupsi proyek Hambalang. Selain Anas, Jonny Allen Marbun juga tersjerat kasus korupsi. Partai Demokrat sebagai partai nasional yang menggalakkan “Katakan Tidak Untuk Korupsi” melakukan korupsi. Ini semacam Jarkoni, iso ngajar ora iso ngelakoni . Lantas bagaimana dengan partai-partai berbasis agama? Seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai K...

Tembak Massa Dengan Bambu Runcing Dan Peluru

Tanggal 9 D e sember tiga kabupaten di DIY akan menggelar pesta demokrasi. Masing-masing Cabup/ Cawabup menarik massa dengan menggunakan bambu runcing dan peluru. Kedua cara tersebut dilakukan oleh masing-masing Cabup/Cawabup di kabupaten Sleman, Bantul dan Gunung Kidul. Di era modern bambu runcing masih digunakan. Namun, bambu runcing tidak seperti senjata yang digunakan nenek moyang (bangsa Indonesia) saat mengusir penjajah. Bambu runcing yang digunakan para Cabup/Cawabup dengan menyerang langsung massa. Penyerangan dilakukan dengan mengumpulkan massa untuk mendengarkan retorika para calon. Momen inilah yang memungkinkan masyarakat terlibat aktiv berinteraksi dan menelisik lebih detail tentang pribadi calon. Biasanya para calon akan menyampaikan visi, misi dan janji-janji ketika ia terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati. Suatu hal yang lumrah dilakukan saat kampanye bukan? Cara lain menembak massa yaitu peluru. Wilbur Schram pada tahun 1950-an mengasumsikan peluru sebagai...

Pentingnya Debat Publik Dalam Pilkada

Tidak lama lagi pesta demokrasi Pilkada di gelar serentak pada tanggal 9 Desember 2015. 26 hari lagi masyarakat akan menentukan pemimpin untuk lima tahun ke depan. Sudahkah masyarakat siap menentukan pilihannya? Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan berbagai upayanya telah melakukan sosialisasi agar masyarakat siap menjadi pemilih yang merdeka. Tidak tersekat oleh kepentingan pihak tertentu dan bayang-bayang demokrasi yang dinominalkan. Seperti money politic yang selalu terjadi di Pemilu/Pemilukada sebelumnya. Masing-masing Pasangan Calon (Paslon) juga telah melakukan upaya maksimal dengan mengkampanyekan pribadinya ke masyarakat, baik melalui media massa ataupun menyapa masyarakat secara langsung. Pencitraan saat kampanye dilakukan. Gambar atau vidio yang mencerminkan kepedulian Paslon dengan rakyat seperti petani dan pelayan dipublikasikan ke masyarakat. Masing-masing Paslon melakukan pencitraan diri. Bahkan kampanye hitam dengan menjatuhkan lawan dilakukan agar masyarakat berpihak ...

PANCASILA, ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN DAN SALIM KANCIL

Indonesia negeri gemah ripah loh jinawe . Kekayaan alam yang melimpah dan keanekaragaman budaya, suku, bahasa serta keluhuran budi pekerti disimbolkan dengan ketangguhan burung Garuda. Warna keemasan serta perisai dengan lima sila di tengahnya, dimaknai sebagai indonesia yang jaya dan berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Bersatu dalam perbedaan dan  bersaudara dalam keanekaragaman. Bintang diartikan sebagaimana sila pertama yang berbunyi ketuhanan yang maha esa. Di Indonesia sendiri mengakui adanya perbedaan agama. Kebaikan berpikir dan bertindak tentulah diajarkan di masing-masing agama. Namun, kenapa masih banyak pertikaian terjadi dengan mengatasnamakan agama? Mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Dalam Islam, Manifestasi ketuhanan tidak hanya berdampak pada pelaku dan tuhannya (Allah SWT). Namun, sinergi positif akan terpancar secara sosial, politik, ekonomi dan budaya. Hal tersebut dapat dilihat dari setiap ibadah mahdhoh (ibadah wajib) yang ditetapkan dalam ru...

Perempuan dan Politik

Pasal 55 Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum DPR, DPD dan DPRD menyebutkan daftar bakal calon yang disusun   partai politik   memuat paling sedikit 30 persen keterwakilan   perempuan .  Bahkan Pasal 56 ayat 2 menyebutkan bahwa dalam setiap 3 orang bakal calon terdapat sekurang-kurangnya 1 orang   perempuan .  Poin-poin tersebut  dikuatkan dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 7 Tahun 2013 pada Pasal 11b,11d, 24 ayat 1c-d dan ayat 2. Sudah adilkah undang-undang tersebut bagi perempuan? Tentu kalau dilihat dari kuantitas terdapat perbandingan yang mencolok. 30% kuota perempuan di parlemen, dan 70% diperuntukkan bagi laki-laki. Namun, bagaimana jika dilihat dari perananan perempuan dalam ranah politik? Terlepas dari adil tidaknya UU Nomor 8 Tahun 2012, realitasnya kuota 30% belum terpenuhi. Desk Perempuan dan Politik, Departemen Politik, Demokrasi dan Desa Yayasan SATUNAMA dalam kajiannya meny...

Media Massa dan Perannya dalam Pembentukan Opini Publik

Keterbukaan informasi paska reformasi 1998 melahirkan beberapa efek yang dialami oleh media massa. Salah satunya adalah semakin intensnya media meliput dan memberitakan momentum politik. Era ini menjadi surganya media massa. Mengapa? Karena media massa memiliki kebebasan mencari, mengolah dan mempublikasikan berita. Kebebasan tersebut sebagaimana yang dijamin oleh negara pada pasal 2 UU. No.40 tentang “Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum”. Media massa atau bisa disebut sebagai pers memiliki kekuatan membentuk opini publik. Informasi yang disajikan media massa dapat mempengaruhi masyarakat. Sebagaimana dua asumsi Teori  dari Ekologi Media. Pertama, media melingkupi setiap tindakan di dalam masyarakat. Kedua, media memperbaiki persepsi kita dan mengorganisasikan pengalaman kita. Berangkat dari dua asumsi tersebut, jelas bahwa media massa memiliki kekuatan mengorganisir atau membentuk per...

Tumbangnya Dinasti Samawi dalam Bingkai SKH Sindo dan SKH Kedaulatan Rakyat

Kekalahan tiga pasangan calon yang di usung PDIP di kabupaten Bantul, Sleman, dan Gunung Kidul menjadi pukulan berat partai berlogo moncong putih tersebut. Pasalnya PDIP sudah terlalu yakin, calon yang diusungnya mem e nangi pertarungan memperebutkan kursi Bupati dan Wakil Bupati. Terlebih kekalahan petahana Bantul, Sri Surya Widati - Misbakhul Munir. Dinasti Samawi yang telah berkuasa selama 15 tahun berhasil ditumbangkan oleh pasangan Suharsono- Abdul H alim Muslih . Pukulan berat tersebut menjadikan internal PDIP semakin terlihat rapuh. Kemenangannya pada pemilu legislati f tahun 2014, goyah oleh kekalahan Pilkada serentak yang digelar pada 9 Desember 2015. Seiring kekalahan PDIP di tiga kabupaten sekaligus, pengkhianatan kader PDIP disinyalir menjadi penyebabnya. “Ketua DPD PDIP DIY Bambang Praswanto mengancam akan memecat kader yang ketahuan berkhianat” (SKH Sindo , edisi 14 Desember 2015). Pernyataan tersebut bergulir hingga ke jajaran ranting. Bahkan ada ketua ranting ya...