Wadhon Kui Kudu Kuat Doyo Pikir lan Dzikire
![]() |
| Studi Banding Ponpes Al-Munawwir Komplek R2 ke pondok pesantren Lathifiyah, Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang |
Selain dzikir, beliau meyakinkan kepada kami yang hadir studi banding di pondok pesantren yang diasuhnya bahwa perempuan itu mampu berkontribusi mengisi dan menjaga kesatuan NKRI. Apa yang telah diwariskan mbah Hasyim Asy’ari, mbah Wahab Hasbullah melalui Nahdlatul Ulama’ harus dipegang teguh. Islam rahmatan lil’alamin yang diteladankan Rasulullah dan para walisongo harus diuri-uri.
Memandang lebih lama beliau, aku semakin jatuh cinta dan kagum. Bagaimana tidak, dibalik perannya sebagai nyai di pesantren, beliau mampu mendedikasikan diri dalam ranah politik dengan menjabat DPR selama tiga periode. Menjadi ketua I pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama’ selama empat periode juga pernah dilakoninya. Selain itu, beliau juga menjabat sebagai direktur utama PT Hijaz Tour and Travel. Namun dari semua prestasi tersebut yang paling membuatku terkagum ialah kehadiran beliau mengawal para santri yang diasuhnya. Bagaimana beliau menyikapi lelahnya? Pikirku dalam hati.
Apa yang barusan terbersit di pikiranku, terjawab ketika beliau mengungkapkan perihal pentingnya rasa senang terhadap berbagai aktivitas yang dijalani. Karena dengan merasa senang, tentulah berbagai aktivitas yang digeluti akan terasa enak dan nikmat dijalani. Selain itu, yakin bahwa kita bisa menyelesaikannya. Di sini beliau juga mengenalkan jargon “aku bisa, aku pasti bisa, aku bisa jadi anak muliya.” Pasnya bagaimana aku sedikit lupa. Intinya Jargon yang kini menjadi andalan pamungkas santri Lathifiyah tersebut berawal dari kegelisahan beliau ketika ada santrinya yang mengaku pusing, dan pusing. Bagaimana agar santri dapat semangat belajar? Akhirnya tercetuslah jargon tersebut, yang ternyata dipandangnya mampu menggerakkan semangat dan percaya diri santri untuk dapat menyelesaikan dengan baik apa yang akan dikerjakan.
Sungguh aku terpukau,….dan berharap akan terlahir perempuan-perempuan hebat seperti beliau. Ketika ada tugas di luar kota, beliau ngendikan doa fatihah ditujukan kepada para santrinya sebagai wujud cintanya beliau kepada para santrinya.

Komentar
Posting Komentar