Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

KU PELUK ERAT FIRDAUSI-MU, TUHAN……..

Aku terbangun dari mimpi panjangku. Diantara rasa sakit yang entah seperti apa, aku masih menengadah diantara takdir tuhan yang belum sepenuhnya aku terima. Aku tak lagi mengenali siapa aku. Pintu terbuka dan aku masih sibuk menenggelamkan wajah senduku. Ku rasakan belaian lembut mengusap jilbabku, memelukku erat tapi tak kurasakan sebagai sebuah kebahagiaan. Takdir ini jauh lebih sakit, dan tak dapat dikembalikan hanya dengan sebuah pelukan. Aku tak bisa melihat, aku terbutakan oleh keegoisan dan kesibukan menghakimi  tuhan. “Lihat cahaya itu, nak. Ia tak hanya menyinari ruang-ruang yang terbentuk secara sempurna. Tapi, keindahan itu tetap memukau diantara garis keretakan yang sering dilupakan oleh pemiliknya. Tetap indah, bukan?” Aku hanya terdiam membiarkan suara lembut itu berlalu diterpa sepoinya angin pagi. Ia kembali memelukku erat, berharap aku dapat melupakan jamuan baru tuhan. “Kita jalan-jalan di taman, ya?” Lagi-lagi aku hanya terdiam, namun segera berontak...

Tulang Rusuk Zaina

Suara itu lantang Memecah cakrawala mimpi Menyibak perdu putih yang menggumpal dan mengatup Menggantung  dan terkadang menyeringai Dengan gelagar  tawa  yang membilah  peraduan Sakit , hatiku  terkoyak Luluh lantak peraduan cintaku tergores dan terluka Dan  jiwa itu Masih sepi dengan lamunan sepinya Masih jengah dengan kejengahan yang membuatkan tertunduk Bagai  anak ayam kehilangan induknya Perih Serpihan cintaku di tonggak kekuasaan Izroil dan kamu…?             “Jika  Mas masih menginginkan  tulang rusuk ini, silakan temui dia di pelaminn.”             Entah sudah yang keberapa ratus kalinya Azka membaca sms yang diterima tiga hari yang lalu. Ia masih termangu tak dapat bergerak mengambil langkah terhadap ketegasan  yang dibuat Zaina. Ia tak percaya wanita yang telah lima tahun mengusik kehidupan...

SEPENGGAL SURGA YANG TERLUKA

Di sini Di puncak peraduanku Ku sematkan cinta tuhan untukmu ,anakku Cinta yang tak pernah luruh meniupkan kehidupan Cinta yang tak pernah mengering mengalirkan riak riak berdentuman Wahai engkau pemangku zaman,,,, Ingatlah sayang Jangan biarkan masa mencabikmu, menggenggammu dan memutus urat lehermu Wa idz akhodza  robbuka min bani adama min dhuhurihim dzurriyatahum wa asyhadahum ‘ala anfusihim,alastu birobbikum,qolu bala syahidna an taqulu yaumal qiyamati inna kunna ‘an hadza gofilin Masa masih enggan memberikan jawaban pasti tentang apa yang akan terjadi. Hening, semua hanya dapat mengatup sembari berbisik lirih mengalunkan bait bait suci kalam illahi. Berharap diantara denting denting harapan pasi, masih ada sepercik kehangatan yang dapat merangkul dan mendekap wajah wajah yang mulai menampakkan kepudaran. Delapan bulan Wajah wajah itu tak pernah usang menanti waktu  menjawab semuanya. Menjawab sebuah masa yang mulai mengering seolah kehilangan sosok...