Tulang Rusuk Zaina

Suara itu lantang
Memecah cakrawala mimpi
Menyibak perdu putih yang menggumpal dan mengatup
Menggantung  dan terkadang menyeringai
Dengan gelagar  tawa  yang membilah  peraduan
Sakit , hatiku  terkoyak
Luluh lantak peraduan cintaku tergores dan terluka
Dan  jiwa itu
Masih sepi dengan lamunan sepinya
Masih jengah dengan kejengahan yang membuatkan tertunduk
Bagai  anak ayam kehilangan induknya
Perih
Serpihan cintaku di tonggak kekuasaan Izroil
dan kamu…?
            “Jika  Mas masih menginginkan  tulang rusuk ini, silakan temui dia di pelaminn.”
            Entah sudah yang keberapa ratus kalinya Azka membaca sms yang diterima tiga hari yang lalu. Ia masih termangu tak dapat bergerak mengambil langkah terhadap ketegasan  yang dibuat Zaina. Ia tak percaya wanita yang telah lima tahun mengusik kehidupannya dengan cinta, kini membuatnya lumpuh  dan bahkan membiarkannya hampir  mati. Sosok penawar luka yang selama ini begitu dikaguminya, menjelma menjadi  wanita  pembunuh  bagi diri yang benar-benar dipenuhi kekaguman dan kerinduan.
            “Zaina, kenapa semua harus seperti ini? Tak inginkah kamu berpeluk rindu dengan cinta yang telah halal bagimu? Dengan raga yang siap kau jadikan sandaran kapan pun kamu mau? Kenapa, Zaina? Kenapa kau biarkan orang yang telah kau sungguhi  desahan  nafas cintamu merasakan sakit, kenapa harus kamu yang melakukannya Zaina? Masih tak cukupkah jamuan  rinduku  terbelengggu karena ulahmu, karena ulahmu sayang.
Azka semakin terpekur dalam kenestapaan yang tak mampu ia pecahkan. Semua  ini begitu pelik untuk ia rasakan. Ia sangat mencintai Zaina, wanita yang telah lima tahun dinikahinya. Namun kenapa keindahan yang telah menghiasi hidupnya  selama ini di ambang kehancuran? Tak adakah penawar yang mampu menghambat laju kedukaan ini? Sungguh ia merasa lunglai, lemah, dan tak berdaya. Otak dan geraknya telah tersekat oleh cinta yang sekarang membiusnya dengan beragam racun yang entah ia tak tahu, semua begitu sakit dan kejam.
“Aaaaaaaachh…” Teriak Azka. Ia tak lagi dapat mengontrol emosi. Semua yang ada dihadapannya musnah, hancur menyisakan serpihan-serpihan bening dan kemerlap di timpa cahaya lampu. Seandainnya mereka dapat berbicara, mereka akan berontak seperti halnya hati Azka yang berontak terhadap sesuatu yang tak mampu ia kendalikan.
“MasyaAllah Den Azka… Mbuk yao kalau marah jangan mecahin kaca ya Den. Bibi takut kalau lihat darah,” kata Mbok Inah sambil menyeka darah yang berleleran di tangan Azka dengan bergidik.
Azka hanya diam dan melotot dengan pandangan kosong tak peduli mata tua itu begitu mengkhawatirkannya. Mata seorang pembantu yang kian hari kian menampakkan jelas kenduran  di bawah kelopak matanya itu, semakin cemas karena Azka tak mengindahkan anjurannya untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Sedangkan darah dari tangan Azka tak jua terhenti. Dalam kebingungannya, Mbok Inah tak kurang akal, ia menelpon Zaina.
Semula Zaina hanya diam dan mencoba untuk mengingkari rasa takutnya akan keadaan Azka. Ia tahu Azka adalah seorang laki-laki yang kuat. Ia tak akan kenapa-kenapa hanya gara-gara serpihan kaca yang melukai tangannya. Namun, pengingkaran itu tak bertahan lama. Hati Zaina tiba-tiba gundah. Sekuat apapun Azka, dia adalah manusia biasa yang sangat mendambakan kehadiran orang yang sangat dicintainya terlebih di saat ia mengalami masa-masa genting dalam kehidupannya.
Namun, jika teringat kelakuan Azka dua bulan yang lalu, niat untuk mengunjungi Azka ia urungkan. Ia masih tak percaya suami yang begitu dikagumi dengan segenap kepribadian sejati seorang pemimpin, melampiaskan amarahnya dengan ke bar. Berhari-hari seolah club tersebut dapat memberikan jawaban akan berbagai masalah yang dihadapinya. Tak bisakah ia berpikir dengan otak seorang intelek bahwa bar bukanlah tempat dimana ia menggantungkan beban. Paling membuat Zaina sakit, tak sadarkah Azka, berhari-hari seorang yang sangat mencintainya bersimpuh peluh menangis dan berdoa berharap ia akan segera kembali. Bukan menjadi seorang yang liar hidup tak tentu arah. Hingga keesokan harinya Allah menjawab doa Zaina.
Betapa kecewanya hati Zaina melihat seorang yang dinanti kehadirannya hadir dengan raut mata merah dengan wajah pucat. Tak hanya itu, yang jauh membuat Zaina kecewa adalah Azka bersama seorang wanita seksi berbaju super mini lengkap dengan tato mawar merah di lengan kanan dan tato kupu-kupu di lengan kiri. Jika saat itu yang datang bukanlah suami yang telah menjadikan cintanya halal, sungguh Zaina akan melaknatnya karena ia sudah berani menampakkan diri dihadapannya.
Diantara gemuruh rasa kecewa, Zaina tetaplah Zaina. Sosok istri yang tak mungkin tega melihat suami yang sangat dicintainya  terjatuh, terjerembab, dan terlena dengan dunia yang tidak seharusnya digeluti. Apalagi ia tahu bahwa sudah selayaknya  ketika satu diantara sepasang suami-istri terpedaya oleh bujuk rayu kesenangan sesaat yang bersifa duniawi, maka salah satu diantara mereka diperintahkan untuk saling meluruskan. Tetapi benarkah sekuat dan setegar itukah Zaina?
Entahlah. Saat itu Zaina sendiri tak mampu menginterpretasi rasa yang berkecamuk di dadanya. Ia hanya dapat menahan amarah dan mencoba untuk tegar sembari memapah tubuh  Azka ke kamar dan menungguinya dengan tak berhenti mengulum doa agar suaminya segera sadarkan diri. Di sampingnya, ada Mbok Inah yang sedikit-banyak mampu menghibur kekalutan hati Zaina.
Keesokan paginya Azka terbangun saat Zaina sedang tersedu menahan isak tangis dalam sujud penghambaan pada Tuhannya. Azka segera memeluk wanita yang beberapa hari ditinggalkannya. Ia merasa benar-benar menyakiti seseorang yang telah menjadi bagian dari jiwanya. Ia malu bahkan hanya sekedar menatap mata Zaina. Mata itu terlalu indah untuk dimiliki oleh lelaki bodoh sepertinya. Azka merasa dirinya telah gagal menjadi sosok pemimpin yang baik bagi keluarganya.
Pelukan itu kini telah Zaina raih kembali. Namun, entah mengapa semakin erat Azka memeluknya, ia semakin jengah. Hatinya semakin sakit akan peristiwa yang terjadi malam itu.
“Maafkan aku, Sayang.” Bisik Azka sembari mengecup tangan yang masih menggenggam butiran tasbih.
Tangis Zaina semakin pecah. Butiran air matanya meleleh membasahi pipi putihnya. Berkali-kali Azka bersimpuh meminta maaf akan tindakan bodoh yang telah dilakukannya. Hening. Hanya ada isakan tangis karena kekecewaan.
“Tak adakah maaf untuk suamimu ini, Sayang?” Tanya Azka.
“Lepaskan aku, Mas. Aku tak ingin tubuhku ternodai oleh tangan kotormu.”
            Keadaan semakin genting. Perang mulut tak lagi dapat dihindari lagi. Baik Azka ataupun Zaina bersikeras dengan ego masing-masing. Rumah yang dulu keduanya anggap sebagai ‘rumahku surgaku’, kini tak dapat ditemui lagi. Yang ada rumah itu tak lain bagaikan neraka yang penghuninya meluap-luap perih menahan siksa dan amarah. Tiba tiba…
 PRAANG!
            Azka menghantam guci yang terletak tak jauh darinya. Zaina semakin tertunduk takut. Tak pernah ia melihat Azka seberingas ini. Namun untuk kesekian kalinya Zaina tak mampu berbuat apa-apa. Ia semakin terpekur dalam tangis yang kian menjadi-jadi. Ia tutup telinga rapat-rapat berharap tuk sejenak Allah berkenan menghentikan fungsi pendengarannya. Tapi tak berhasil. Allah enggan mengabulkan permohonan Zaina. Suara benda-benda berjatuhan tak jua usai, hingga akhirnya Zaina pun berontak akan ulah Azka.
            “Belum puas, Mas? Belum puaskah berhari-hari membuat istrimu takut dan mencemaskanmu? Belum puaskah membuat istrimu merasa enggan untuk mengakuimu sebagai pemimpin yang baik? Dan sekarang tidak puaskah, Mas menghujani pendengaran istrimu dengan pecahan benda-benda yang kau banting?”
            “Apa kau bilang? Siapa yang tidak puas? Kau yang memberi tahu aku, bahwa suami-istri harus siap untuk dijadikan tempat bersandar. Tapi kenapa Zaina? Saat aku membutuhkanmu untuk sejenak mendengarkan ceritaku, kau enggan untuk mendengarkannya. Aku akui aku salah, dan karena dorongan rasa bersalahku itulah aku memohon maaf padamu, Zaina. Tapi kenapa kau hanya diam membisu? Sedangkan kau tahu aku tak butuh diam dan kebisuanmu!”
            Sepi. Keduanya sibuk menahan gemelut hati masing masing. Fajar yang semula menampakkan pesona keindahannya, pudar meninggalkan setitik kecerahan usang yang kemudian hilang tak berbekas. Tergantikan dengan kepulan awan yang berjalan lambat seiring laju gerakan berotasinya bumi. Tak lama kemudian semilir angin menyibakkan tirai-tirai kamar, dimana dua hati beradu dalam kebekuan. Sunyi. Hanya terdengar rintik-rintik hujan yang perlahan turun membasahi hamparan pelataran bumi.
            Azka beranjak meninggalkan Zaina yang masih terpekur duka. Ia sadar, kemelut yang baru saja dilakukannya membuatnya lupa akan kewajiban seorang Muslim untuk bertafakkur bersimpuh dan menggantungkan hidup kepada Sang Pemilik Kehidupan. Lama Azka bersujud. Ia tertunduk menyesali setiap detik kehidupan pahit yang dialaminya dengan Zaina. Ia mengadukan semua pada Allah sembari berharap Dia berkenan meniupkan kembali nafas-nafas kehidupan agar cinta dan rumah tangganya dengan Zaina kembali bersemi, mengukir dan menghiasi hari-harinya lagi.
            Melihat suaminya benar-benar telah menyesali perbuatannya, Zaina segera beranjak menggapai dan mengecup tangan Azka. Azka tersenyum dan balas mengecup kening Zaina.
            “Maafkan aku ya, Sayang?”
            Zaina tersenyum dan mengangguk. Tapi entah kenapa ia merasakan senyum yang terukir di bibirnya bukanlah senyum keindahan seperti yang selama ini ia persembahkan pada Azka. Senyum itu terlalu getir, hampa, meski sebenarnya Zaina sadar, seperti halnya orang lain, Azka juga memiliki hak yang sama untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
            Diantara kepingan senyum pasi itu, Zaina membiarkan Azka menjelaskan semuanya tanpa ada sedikit niat untuk meresponnya. Ia lepaskan apapun yang diucapkan Azka seolah bagaikan gelegar suara petir yang kemudian hilang tanpa harus disesali. Namun, diam dan tidak adanya respon Zaina, bukan berarti ia tidak memercayai apa yang telah diucapkan Azka. Sebenci dan sekecewa apapun Zaina terhadap suaminya, Zaina tidak berpikiran negatif terhadap suaminya.
            Azka bahagia. Berkali-kali ia daratkan kecupan sayang di kening Zaina. Ia bersyukur akhirnya kerinduannya untuk dapat memeluk Zaina terpenuhi sudah. Ia peluk erat tubuh Zaina dan berharap moment itu akan terus ia dapatkan selama raga dan nyawa menyatu dalam diri Azka. Belum begitu lama Azka menikmati kebahagiaan itu, Zaina perlahan melepaskan pelukan erat suaminya.
            “Mungkin untuk sementara waktu aku akan pulang ke rumah Ibuk, Mas,” Kata Zaina lirih.
Azka kaget namun segera menguasai diri dan mengangguk lembut.
            “Aku antar ya?”
            “Nggak usah, Mas. Mas  kan masih kurang sehat. Toh Zaina juga sudah terbiasa pulang ke rumah Ibuk sendiri.”
            Tiba-tiba Zaina merasakan sentuhan halus dipundaknnya. Ia menoleh dan mendapati wanita yang kuat yang tak pernah letih memberinya nasihat meski ia sering kali tak mengindahkannya. Wanita itu tersenyum membuyarkan lamunan Zaina tentang percekcokannya dengan Azka.
            “Ibuk.” Kata Zaina pelan. Ia kemudian segera memeluk dan menumpahkan kesedihannya di pundak wanita yang sangat berpengaruh dalam kehidupan Zaina. Wanita yang ketika Zaina terjatuh, tak pernah bosan menyediakan bahunya untuk bersandar.
            “Pergi dan temuilah Azka, Nak.”
            “Tapi Buk?” Zaina tak percaya dengan apa yang barusan di dengar dari ibuknya.
            “Masihkah kamu membiarkan Azka terkapar dengan kesedihannya, Nak? Tak inginkah kamu hadir memenuhi kewajiban sebagai seorang istri terhadap suami yang sedang mengalami  kekosongan? Jika kamu istri yang baik, temui dia.”
            Zaina terdiam meresapi dan memikirkan apa yang baru saja diucapkan ibuknya. Perlahan, ego Zaina luluh. Ucapan yang keluar dari lisan ibuknya bagaikan secercah cahaya yang menerangi hatinya dari kegelapan.
            “Mungkinkah ini hal terbaik yang dilakukan oleh Zaina untuk kembali menatap mimpi dengan merajut kembali apa yang hampir sirna, Ya Allah?” Bisik Zaina.
            “Ya sudah dipikir-pikir dulu. Kalau sudah mantap, besok langsung temui suamimu,” kata  Ibuk. Wanita itu kemudian melangkahkan kaki membiarkan putrinya bergelut dengan pikirannya. Namun, baru beberapa langkah, Zaina menahan langkah ibuknya.
            “Buk, sekarang Zaina sadar. Seharusnya Zaina bersyukur memilki seorang suami seperti Mas Azka.” Kata Zaina sembari tersenyum. Ibuk mengangguk pelan sambil membalas senyuman Zaina.
***
            “Bismillahirrohmanirrohim.” Bisik Zaina. Ia melangkahkan kaki meninggalkan tempat dimana ia dilahirkan, bermain menikmati panorama alam yang masih suci tak tersentuh oleh tangan-tangan borjuis.
Hari ini akan menjadi sejarah bagi kehidupan baru Zaina dan Azka. Sejarah yang mungkin semuanya tak dapat dilihat oleh kasat mata dan bahkan Zaina pun tak tahu langkah apa yang disisakan Tuhan  untuk kehidupan cintanya. Mungkinkah Tuhan akan mengembalikan denyut-denyut kehidupan untuk pernikahannya dengan Azka yang di ambang kehancuran? Ataukah semua akan musnah, seiring perjalanan waktu yang tak jua mampu menggoyahkan  hati Azka dan Zaina yang saling berseberangan? Tidakkah salah satu diantara keduanya berkenan untuk mengalah demi membangun kembali istana cinta diperaduan selaksa hati yang kini kian rapuh?
Zaina menghela nafas sejenak. Merenung, mencoba berpikir dan bernegosiasi dengan hati kecilnya. Ia sadar seharusnya ia bersyukur Tuhan telah menganugerahkan lelaki hebat dalam kehidupannya. Lelaki yang mampu menopang kesedihan saat Zaina terjatuh. Lelaki yang siap memotivasi tatkala keputusasaan hinggap mewarnai kehidupannya. Namun kenapa anugerah itu seakan menjauhkan Zaina dari kesempurnaan hidup yang telah direngkuhnya? Tak bersyukurkah Zaina menikmati taburan cinta yang terjalin menghiasi pernikahannya dengan Azka?
Semua bermula ketika diam-diam Zaina mendengarkan percakapan Azka dengan orangtuanya di telepon. Dari situ Zaina tahu bahwa hidup seseorang tidak akan sempurna tanpa adanya kelahiran sang  buah hati. Tahun pertama dan kedua pernikahan, ketidakhadiran buah hati masih bisa dianggap wajar, tapi bagaimna dengan diagnosis dokter yang mengatakan bahwa Zaina hanya memiliki kemungkinan kecil untuk memilki seorang anak. Wanita mana yang tidak tersayat hatinya mengalami kenyataan dirinya adalah kendala utama bagi keluarga, bagi suaminya, karena ia tidak dapat meneruskan nasab. Sebagai seorang suami, Azka mencoba menghibur Zaina.
“Dokter bukan Tuhan yang dapat mengetahui semua yang terjadi pada hidup seseorang, Sayang. Tidakkah kamu percaya bahwa Tuhan akan mengubah nasib seseorang hanya jika seseorang itu berkenan mengubah dengan tangannya sendiri?” Kata Azka saat itu.
Zaina mengangguk ragu. “Iya, aku yakin, tapi tidakkah kamu berpikir bahwa Allah menyebar ilmu di  bumi untuk diketahui ahlinya? Tuhan memberikan pengetahuan bagi seorang dokter untuk mendeteksi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada pasiennya, Mas. Dokter…” Belum sempat Zaina meneruskan ucapannya, Azka menempelkan jarinya di bibir Zaina.
“Karena itulah, Allah membekali otak bagi manusia untuk berpikir. Kamu tahu kan, Sayang, Allah tidak akan menciptakan penyakit tanpa obat di dunia ini? Dokter hanya bilang kemungkinan kamu hamil sangat kecil, tapi yang kecil itu bukan berarti kamu tidak bisa, Sayang. Kita masih bisa berusaha dengan terapi tradisonal. Yang penting, kita yakin Allah mengetahui keinginan dan jerih payah kita.”
Zaina kembali mengangguk. Keyakinan itu membuat Zaina semakin bertekat untuk menempuh jalan apapun. Mengikuti anjuran dokter, mengonsumsi jamu yang dapat menyuburkan kandungan, memakan sayurran lebih banyak terlebih toge, sampai pijat, semua dilakukan demi dapat menjadi istri yang sempurna. Bahkan sempat terbersit dalam benak Zaina untuk mengadopsi anak, yang kata orang Jawa, dapat memancing sesesorang untuk memliki keturunan. Azka memperbolehkan istrinya mengadopsi anak di panti asuhan, meski sebenarnya ia sangsi akan kepercayaan yang tidak bisa dijangkau oleh logika. Namun, saat keinginan Zaina tercapai untuk mengadopsi anak, bayi dengan nama Kanza harus kembali ke pelukan orangtuanya.
            Sedih. Pada awalnya Zaina menolak, namun Azka membujuknya dengan segenap kelembutan agar Zaina berkenan memberikan Kanza pada ibu kandungnya. Berhasil. Hati Zaina akhirnya luluh. Sebesar apapun rasa sayang Zaina terhadap Kanza, ia tidak berhak menghalangi sang ibu untuk kembali memeluk darah dagingnya. Bahkan seharusnya ia bersyukur cinta seorang ibu dan anak kembali menyatu setelah hampir delapan bulan terpisah entah karena masalah apa. Zaina lupa.
            Pasca pengembalian Kanza rumah menjadi sepi. Tak ada lagi rengek manja Kanza yang minta dibuatin susu. Untuk mengusir sepinya, Zaina kembali meneruskan aksi menulis yang telah menjadi hobinya sejak masih aktif menjadi anggota RAUDLATINA di pesantren  Raudlatul Ulum Guyangan. Jika bosan, maka iseng-iseng Zaina membuka Facebook yang hampir off  karena jarang di buka.
            Meski sedikit, namun Facebook mampu membuat Zaina kembali bernostalgia dengan sahabat-sahabat di pesantrennya dulu. Ada Rahma dengan foto profil anaknya yang hampir berusia 2 tahun, Ismi yang sedang mengandung anak keduanya, Wahyu  yang lagi repot-repotnya menyiapkan khitan anak pertamanya dan terakhir Raicha, hanya dia satu-satunya sahabat Zaina yang mengalami kegagalan berumah tangga.
            Deg!!! Zaina tercengang dengan apa yang baru ia pikirkan. Akankah nasib pernikahannya akan sama dengan apa yang pernah dialami oleh Raicha? Zaina beristigfar berkali-kali.
            “Astaghfirullahal‘adzim… astaghfirullahal‘adzim… Maafkan istrimu, Mas. Seharusnya istrimu ini menyadari bahwa akar dari kerenggangan cinta kita adalah aku. Seandainya…” Zaina kembali memutar otaknya mengingat sesuatu yang telah menjadikan hubungannya dengan Azka mengalami goncangan yang tak jua menemukan titik akhir perdamaian.
            Semua bermula ketika ia menemukan kembali Raicha di Facebook. Keduanya saling bercerita tentang pahit-getirnya kehidupan yang saat ini dijalaninya. Dari situlah Zaina berpikir bahwa Allah telah mengirimkan seorang wanita yang akan menyempurnakan kehidupan Azka menjadi seorang ayah. Dia adalah Raicha, sahabatnya. Terlebih saat Raicha menceritakan keinginannya untuk dapat lagi membina rumah tangga.
            Zaina berpikir bagaimana cara agar Azka berkenan membuka sebagian hatinya untuk menerima Raicha. Pada awalnya Zaina ragu, tapi rasa bersalah karena ia belum juga mampu memberikan keturunan menjadikan Zaina tak lagi peduli dengan apa yang  dilakukannya. Ia ganti semua gambar Ricardo Izecson Dosantos Leite yang  terpampang di kamarnya dengan foto foto terbaru Raicha, hasil download dari Facebook. Paling membuat Azka heran, foto-foto itu tak hanya didapatinya di kamar tapi di dapur, di ruang makan, dan bahkan di selipan Al-Qur’an.
            “Sayang, hebat banget ya Raicha?” Tanya Azka saat itu.
            “Maksudnya?” Tanya Zaina pura-pura tidak tahu. Sebenarnya Zaina senang. Ia pikir usahanya berhasil.
            “Dia hebat, bisa menempati posisi special di hatimu. Cemburu aku sama dia,” kata Azka.
            “Maksud, Mas?” Kali ini Zaina benar-benar tidak mengerti dengan arah pembicaraan Azka.
            “Kamu itu lho, foto suami nggak dipajang malahan foto orang lain yang dipajang di seluruh ruangan. Untung Raicha bukan cowok,” kata Azka sambil tersenyum.
            Zaina ikut tersenyum  mendengar  komentar suaminya. Meski dalam hati sebenarnya ia merasa sakit tapi ini adalah suatu pengorbanan yang terpenting untuk ia lakukan dalam hidupnya. Tapi benarkah pengorbanan yang Zaina lakukan akan berhasil menciptakan kebahagiaan yang sempurna seperti yang  ia bayangkan? Atau…?
            “Seandainya aku bisa memilih Mas, sungguh aku tidak akan pernah memilih ini. Sebaik apapun Raicha, dia akan menjadi pesaing dalam kehidupanku.”
***
Tanpa terasa butiran lembut menetes membasahi pipi  Zaina. Segera ia menyeka kristal bening itu dan mencoba menetralisir perasaannya. Ia tak ingin ketika sampai di hadapan Azka, ia kelihatan rapuh, karena itu hanya akan membuat ia menjadi wanita cengeng yang hanya dapat menangis dan tertunduk lesu menghadapi masalah yang sedang menghalaunya.
Assalamu’alaikum.” Sapa Zaina ketika ia telah sampai di rumah yang telah banyak menorehkan kenangan untuk kehidupannya.
Tak ada jawaban, Zaina kembali mengulangi salamnya beberapa kali. Sepi. Zaina tak lagi mampu menahan air matanya. Ia benar-benar takut sesuatu yang buruk menimpa Azka.
Assalamua’laikum.. Mbok.. Mbok Inah…” Panggil Zaina lebih keras.
“Non Zaina?” Teriak wanita tua yang tampak begitu kelelahan.
Zaina menoleh ke suara yang sudah tak asing lagi di pendengarannya.
“Mbok Inah dimana Mas Azka, Mbok?”
“Den Azka dirawat di rumah sakit Non. Penyakit hemofilia yang dideritanya menjadikan darah yang keluar dari lukanya sukar membeku.”
“ Hemofilia?”
Tanpa pikir panjang Zaina segera bertandang ke rumah sakit dimana Azka dirawat. Sesampainya di rumah sakit, Zaina tak sanggup melihat seseorang yang hampir sebulan ditinggalkannya, kini hanya dapat menggantungkan hidup dengan selang yang terpasang di lengan dan hidungnya.
“Maafkan Zaina, Mas,” bisik Zaina tepat di telinga  Azka. Zaina yakin diantara ketidaksadaran suaminya, Azka masih mampu untuk mendengar dan merasakan desahan hangat   kerinduan istrinya.
Benar, sentuhan Zaina mampu memberikan stimulus terhadap Azka. Perlahan tangan Azka bergerak. Bulir air mata menetes membasahi tangan Zaina yang sedang membelai lembut pipi suaminya. Perlahan Zaina mendengar sayup-sayup rintihan seseorang memanggil namanya pelan.
“Mas Azka…” Teriak Zaina spontan.
Subhanallah terimakasih Ya Allah, Engkau telah memberikan kesadaran pada Mas Azka,” ucap Zaina penuh syukur. Zaina sangat bahagia suami yang sangat dicintainya kini telah sadar.
“Mas, aku panggil dokter dulu ya.” Pamit Zaina lalu segera melangkahkan kaki memberitahukan kabar baik ini kepada dokter yang merawat Azka.
Dokter yang telah biasa menangani kasus yang sama dengan Azka hanya mampu berdecak kagum akan keajaiban yang diberikan pada Azka. Ia tak percaya bagaimana mungkin hal ini terjadi.
Subhanallah… Ini sungguh suatu keagungan Tuhan.”
Zaina tersenyum dan tak pernah letih berucap syukur akan kemurahan Allah yang diberikan kepada suaminya. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar saja. Zaina kembali merasakan kecemasan yang sangat, tubuh Azka tiba-tiba mengguncang seolah inilah saat dimana kematian mencekam diri seseorang. Zaina menjerit, dokter yang semula berdecak kagum segera mengambil langkah cepat.
“Ya Allah mungkinkah ini saat terakhir hamba menikmati kebersamaan ini? Hamba mohon Ya Allah, berilah kekuatan pada suami hamba.”
“Bagaimana keadaan suami saya, Dok?” Kejar Zaina pada dokter yang baru saja mengecek keadaan Azka.
“Kita bicara  di ruang kerja saya saja. Mari.”
Zaina mengangguk dan mengikuti langkah tegap sang dokter. Dalam hati, Zaina benar-benar takut. Ia tidak sanggup seandainya Tuhan akan memisahkan ia dengan Azka dengan jalan seperti ini. Zaina masih sangat mencintai Azka, bahkan dalam hati Zaina berjanji setelah Azka sembuh nanti, Zaina tak akan lagi egois memaksakan keinginannya. Biarlah Azka memilih apa yang terbaik untuk kebaikan rumah tangganya.
“Keadaan suami anda baik baik saja. Namun ia harus segera mendapatkan tranfusi darah. Sampai sekarang pihak rumah sakit masih belum berhasil menemukan pedonor yang sesuai dengan golongan darah suami anda. Jadi mungkin dari pihak keluarga bisa membantu mencarikan pedonor?”
“Golongan darah Azka sama dengan saya, Dok.”
“Benarkah? Kalau begitu, kita akan segera memberikan pertolongan pada suami anda.”
“Lakukan Dok, lakukan yang terbaik untuk kesembuhan suami saya.”
                                                                           ***                                                                          
            Satu jam berlalu. Zaina masih berbaring sembari menungu hasil cek kesehatan dirinya. Ia berdoa agar Allah berkenan mempermudah dokter untuk melakukan pengambilan darahnya. Semakin cepat hasil tes itu keluar, maka tranfusi darah terhadap Azka akan dapat segera dilakukan. Itu artinya, kemungkinan Azka untuk sembuh dapat segera terpenuhi atas kuasa Allah.
            “Maaf, kami tidak bisa melakukan tranfusi dari darah anda. Anda sedang mengandung dua minggu. Jika pengambilan darah tetap dilakukan, hal itu akan membahayakan anda dan bayi anda.”
            “Benarkah saya hamil, Dok?”
Dokter mengangguk. ”Selamat ya.”
            “Subhanallah. Terimakasih Ya Allah.” Zaina sujud syukur. Segera ia menemui suaminya dan menceritakan anugerah yang diberikan Allah di kala bingkai cintanya dengan Azka hampir rapuh.
            “Mas, aku hamil, Mas. Aku mengandung darah daging hasil cinta kita, Mas. Bersama sama kita rawat bayi kita ya, Mas.”
            “Ya Allah segala puji atas kuasa dan rahmat-Mu, hamba mohon sembuhkanlah Mas Azka. Biarkan kami melengkapi kebahagiaan ini dengan sentuhan hangat seseorang yang atas izinmu telah menjadikan bayi ini terjaga erat di rahim hamba.”
***

Meski hanya diam, kekuatan cinta telah mengalahkan segalanya
Kebahagiaan itu terdengar
Dirasakan…
Tak hanya digenggaman erat jari yang perlahan mendingin dan pasi
Mas Azka,  aku mencintaimu…

-selesai-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru