KU PELUK ERAT FIRDAUSI-MU, TUHAN……..


Aku terbangun dari mimpi panjangku. Diantara rasa sakit yang entah seperti apa, aku masih menengadah diantara takdir tuhan yang belum sepenuhnya aku terima. Aku tak lagi mengenali siapa aku.
Pintu terbuka dan aku masih sibuk menenggelamkan wajah senduku. Ku rasakan belaian lembut mengusap jilbabku, memelukku erat tapi tak kurasakan sebagai sebuah kebahagiaan. Takdir ini jauh lebih sakit, dan tak dapat dikembalikan hanya dengan sebuah pelukan. Aku tak bisa melihat, aku terbutakan oleh keegoisan dan kesibukan menghakimi  tuhan.
“Lihat cahaya itu, nak. Ia tak hanya menyinari ruang-ruang yang terbentuk secara sempurna. Tapi, keindahan itu tetap memukau diantara garis keretakan yang sering dilupakan oleh pemiliknya. Tetap indah, bukan?”
Aku hanya terdiam membiarkan suara lembut itu berlalu diterpa sepoinya angin pagi. Ia kembali memelukku erat, berharap aku dapat melupakan jamuan baru tuhan.
“Kita jalan-jalan di taman, ya?”
Lagi-lagi aku hanya terdiam, namun segera berontak saat ibuku mulai menjalankan kursi rodaku.
“Biarkan aku disini, Ibu. Aku tidak mau tuhan menertawakan kepedihanku.”
Air mataku pecah, tak sadar dengan apa yang aku katakan barusan. Tuhan yang selama ini aku temui di sepertiga malam, di setiap mentari memamerkan cahaya dhuhanya, di setiap sudut waktu, di setiap adzan berkumandang, kenapa ia harus mengambil kakiku dalam mencintaiku.
“Tuhan telah melupakan aku, Ibu.” Kataku pelan.
Ibu segera melepaskan pelukannya, merunduk dihadapanku dan memandang lekat wajah senduku.
“Tuhan tidak akan pernah menertawakan apalagi melupakanmu, nak.”
Ku balas tatapan mata ibuku, geram, emosiku memuncak hingga aku melupakan segenap kelembutan perempuan hebat di hadapanku. Aku marah, aku menangis, aku ingin keluar dari zona ini.
“Maukah ibu menggantikan posisiku?” kataku setengah berteriak.
Ibuku terdiam tidak percaya dengan apa yang barusan keluar mulutku. Putri kebanggaannya dulu kini telah berubah. Iya, aku akui aku telah berubah. Aku telah lepas dari kebahagiaan bercinta dan mengagumi tuhan. Sebagaimana kakiku yang terlepas dari tubuhku. Aku telah kehilangan kebahagiaan yang selama ini aku wujudkan untuk mencintai sang pemilik kehidupan. Tapi kenapa, kenapa saat aku ingin menyempurnakan keimananku di penghujung kerinduanku padanya, ia membiarkan mobil melaju kencang dan menabrakku. Tak hanya kegagalanku mengunjungi Mekah Al-Mukarromah, tuhan mengambil bapak dan mengambil kakiku. Bahkan aku tak bisa menghantarkan bapak untuk terakhir kalinya.
Mereka menangis mengulurkan tangan untuk menghiburku, tapi aku tak butuh uluran tangan mereka, aku hanya butuh kaki dan bapakku kembali. aku tahu aku salah, tak seharusnya aku sok lebih tahu daripada tuhan, tapi tahukah mereka bagaimana sakitnya aku?
Peluh air mata ibuku menetes membasahi pipinya. Tatapan mata tuanya semakin erat dan seolah menghujamku. Aku begidik, takut bukan karena tatapan matanya, hanya takut akan lebih kehilangan perempuan hebat di hadapanku.
“Maafkan aku, Ibu.” Kataku pelan.
Ibu mengangguk “Kita sholat dhuha dulu yuk, nak.” Ajaknya padaku.
“Sampaikan salam putrimu pada tuhan, Ibu. Aku akan menemuinya suatu hari setelah aku bisa menerima jamuan cintanya padaku. Aku akan berjalan-jalan saja di taman, semoga tuhan mencintaiku dan membiarkan aku kembali menemuinya seperti dulu. Meski tanpa kedua kakiku.”
Ibuku kembali terisak dan mengecup pelan keningku. Aku tahu perempuan hebat ini sungguh luar biasa. Ia tegar, meski harus hidup diluar kebiasaannya. Ia kehilangan bapak, tempat bersandar, tempat berbagi, sang teladan kesabaran nyata dalam hidupnya.
Aku jalankan kursi rodaku, sembari meratapi kenyataan yang katanya anugerah tuhan. Aku masih saja tidak bisa menerima, anugerah tuhan terbungkus oleh kenyataan yang sangat menyakitkan. Aku menangis, berontak mencari celah dimana letak keadilan tuhan. Aku berharap selamanya tuhan memelukku dan memberi pemahaman tentang garis takdir barunya padaku. Aku ingin selalu memelukknya erat dalam cinta dan penghambaan. Tapi semua ini aku rasakan begit luar biasa sulit.
Aku tak pernah membayangkan menjadi pribadi di atas tumpuan orang lain. Mimpi-Mimpiku bisa menjadi manusia yang bermanfaat kepada orang lain berasa sirna, pudar dan tertelan waktu semenjak tuhan mengambil kakiku.
Aku tak menyalahkan mereka, orang-orang yang telah berbaik hati memintaku sabar dan tetap berpeguh teguh padanya, sang penguasa alam, sang pemberi nikmat dan sang maha yang tak pernah dapat aku tebak jalan kehendakknya. Aku ingin bersyukur, tapi lidah ini kelu, hanya untuk sekedar menerima kenyataan pahit yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
“Tuhan, biarkan ku peluk erat Firdausimu.”
Aku semakin terperosok oleh rasa bersalah dan ketidak terimaan menjalani semua ini. Hingga tanpa sadar perempuan botak dengan garis di kepalanya mengalihkanku. Ku beranikan bertanya, dan agak sedikit mengusik kehidupan bercengkeramnya dengan tuhannya. Ia pejamkan matanya, dan bulir-bulir harapan disampaikannya pada tuhan.
“Apa yang kamu minta dari tuhanmu? Ceplosku membuatnya terusik.
Ia tersenyum diantara rasa tidak nyamannya dengan kehadiranku.
“Apakah karena ini engkau bertanya tentang harapanku pada tuhanku?” katanya sembari memegang kalung salib yang ia kenakan.
Aku terdiam dan membuang jauh senyum sinisku. Tapi tak sengaja, ku lihat ia kembali tersenyum, senyum tulus meski hadir diantara ketidak nyamanan karena aku telah mengganggu komunikasinya dengan tuhannya.
“Adakah tuhan selain tuhanmu?”
Deg! Aku tak mengerti apa yang ia tanyakan padaku. Ku pandangai lamat-lamat wajah semangatnya diantara garis bekas oprasi yang menjulur dari kepala hingga mendekati telinga. Aku tak tahu ada apa dengan kepalanya. Tapi, senyum dan semangat yang tulus seolah merahasiakan betapa sakit yang dideritanya seolah tidak ada. Tapi entah karena apa, aku melihat ada ketulusan yang berbeda dari senyum dan semangatnya.
“Anda muslim kan?”
“Iya!”
“Adakah tuhan selain tuhanmu?”
Aku menghela nafas sejenak, membiarkan sepoinya angin pagi diantara tempias cahaya dhuha memasuki ruang-ruang kosong di sudut dadaku.
“Tuhanku, satu! Allah namanya.” Kataku sembari menatap matanya.
Ia tersenyum, dan mengangguk mantap.
“Anda rajin salat?”
Aku hanya diam, tak tahu harus menjawab apa. Kenyataan saat ini, aku merasa telah berusaha melupakan tuhan, meski aku tak mengharapkannya. Aku kecewa, dan setan telah merasuki nafsu amarahku akan kenyataan takdir tuhan yang  belum bisa aku terima. Tapi hati kecilku, aku tak ingin selamanya berada dalam kondisi seperti ini, aku ingin bangkit dari keterpurukan dan kembali menjadi manusia yang dapat menjalankan keimanan secara sempurna. Tapi,,,,,entahlah!
“Sampaikan pada tuhanmu, aku sangat mencintainya. Tapi aku tak pernah bisa memeluknya.”
Aku tak mengerti apa yang barusan ia ucapkan. Hening! aku tak berani bertanya lebih jauh tentang dia. Aku hanya menunduk kemudian lamat-lamat menatapnya dalam diam dan penasaran.
“Aku seperti kepompong itu.” Katanya membuat mataku beralih pada kepompong yang bergerak-gerak karena sang penghuninya telah siap menikmati alam bebas.
“Hanya saja, diantara rasa sakitnya, kemudian ia bisa bebas dan bertasbih pada tuhannya. Tidak seperti aku.” Tambahnya.
Aku masih tak mengerti dan yang bisa aku lakukan hanyalah diam, bersabar menunggu perempuan botak di hadapanku kembali bercerita.
Ia menatapku. Tersenyum, kemudian kembali menatap lekat kepompong di hadapannya. “Aku mencintai tuhanmu, dan percaya terhadap surga Firdaus yang dijanjikannya. Tapi, sakit ini dan mereka adalah satu. Aku tak bisa apa-apa selain menggantungkan mereka yang telah membiayai pengobatan penyakit kanker otakku. Aku tak ingin mati, karena aku berharap suatu kelak aku dapat memeluk tuhan dan firdausinya.”
Dadaku sesak oleh kenyataan yang baru saja aku dengar dari perempuan penyakitan yang sangat mengagumi tuhanku. Allah sang pemilik rahmat dan hidayah. Ku beranikan menggenggam erat jemari perempuan yang belum aku kenal namanya. Dalam hati aku berjanji aku akan memintakan pada tuhan Firdausi Allah untuknya.
“Dari mana engkau menemukannya?” Tanyaku penasaran.
“Dari pintu dhuha!” Jawabnya.
Hatiku terkoyak tak tahan lagi untuk menangis sejadi-jadinya. Memohon ampun kepada tuhan, karena takdir yang tidak aku terima telah menjauhkan aku dari keimananan yang selama ini aku peluk dan aku jaga.
Kupercepat laju kursi rodaku, aku ingin menemui masjid dan bersimpuh peluh padanya. Aku menangis, dan bersyukur Allah menjagaku sebelum aku berlari terlalu jauh melupakannya.
“Dari pintu dhuha aku menemukannya. Aku menemukan kesamaan bercinta dengan tuhan di setiap pagi. Dan itu diatur dalam agamamu melalui dhuha. “
Aku semakin tenggelam dalam lautan ampunan. Bertakbir, bertahlil dan bertahmid ku dendangkan dengan perdua diantara sesak pilu kecintaan tuhan padaku. Mungkin tuhan sedang memanjakan aku dengan mengambil kedua kakiku. Aku tak tahu apa yang ia rahasiakan, tapi kini aku yakin tetap mencintainya dan berusaha setegar mungkin beriman dalam dekapan rahmat, hidayah, kasih, dan sayangnya akan membawaku selamanya berada pada pelukan firdausi-Nya.
Nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Krapyak, 24 Desember 2014




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru