Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Kok...Rokok...........

Gambar
Rokok dan kopi, paduan yang sangat cocok untuk menemani obrolan, mengusir sepi, dan memanjakan hidup. Benarkah? Kurasa iya, meski tidak semua menyetujuinya. Bahkan, tanpa rokok dan kopi, terkadang orang kehilangan semangat untuk berkarya. Aku sih gak pernah merasakan, selain aku bukan perokok aku juga tak terlalu suka dengan kopi. Tapi, bagaimana dengan meraka yang telah larut dalam candu kopi dan rokok?   Sebenarnya aku hanya ingin menuliskan ceritaku saja tentang rokok dan sedikit tentang kopi. Entah sudah keberapa kalinya aku dan kawan-kawanku membahas tentang rokok dan kopi. Tidak serius sih, hanya kebetulan saja, saat habis makan atau menunggu kehadiran dosen. Seperti kali ini, ketika temanku bernama Yusuf beradu argumen dengan Mansur. Mereka mematematiskan harga satu kontainer rokok dengan harga mobil yang juga diangkut kontainer “Sepertinya lebih mahalan rokok.” Ungkap Mansur.    Penasaran Yusuf pun menghitung persatuan bungkus rokok dengan kisaran har...

Fabiayyi 'Ala Irabbikuma Tukadzziban?

Sini,,,, Kugenggam tanganmu untuk menjemput pagi   Aku melangkah, di antara rinai waktu yang kadang terasa tak terpeluk olehku. Ragaku telah sampai pada tempat dimana aku harus berjibun dengan aktivitasku. Tapi, coba kutemui jiwaku, berasa tak kutemukan di antara ulasan kehidupanku. Kenapa?   Entahlah… Aku hanya dapat menggelengkan kepalaku. Lama aku tertegun, menatap bayangku. Layu, seperti Adam kehilangan tulang rusuknya. Dedaunan seolah mengering kala jemariku menyentuhnya. Sedemikian burukkah nasibku? Segera kubuang jauh pemikiran burukku. Aku tak setolol itu, mewarnai hidupku. Atau, tak sebodoh itu menghadapi oase kehidupan takdir tuhan. Aku masih percaya, ada cinta dan kasih sayang tuhan di balik semuanya.   Mungkin aku tak dapat seperti mereka, menikmati pagi cerianya dengan semangat yang ter...

Secercah Harapan Di Bumi Surga

Rasa ini seperti 4 tahun yang lalu Saat ketika rasa ini ku adukan pada bapak Lamat-lamat senyumnya mengembang Yakin tuhan akan memeluk mimpi-mimpi putrinya Bapak…. Taukah engkau Orang terdekat sekaligus pengkhianat di kehidupanmu Itulah aku Kalam suci tuhan yang engkau hadiahkan di 4 tahun yang lalu Masih belum bisa ku lafadkan sebagaimana mimpiku Aku belum bisa seperti mereka Dan saat ku keluhkan mengapa? Sebenarnya semua itu bukan alasan Aku tak sibuk apa-apa, bapak Ketika kau tanya bagaimana dg sekolahku? Ada hal sulitkah? Tak ada! bagaimana dengan aktivitas lain? tak banyak yang aku lakukan, bapak bejibun aktivitas yang ku adukan padamu berasa seolah hanya pengalihanku saja maafkan aku bapak,,,, Orang terdekat yang engkau percaya belum bisa apa-apa Dan kini…. Aku merasakan kehausan bermimpi di empat tahun yang lalu Memeluk erat kalamnya Dan menghadiahkan jubah surgawi padamu lelaki terhebatku Doakan putrimu,bapak,,,, Aku… Mencintaimu dan mencintai perem...

Nyawang Yo Nyawang, Tapi Ojo....

Sudah tidak asing lagi, bahkan amat sangat familiar dengan ucapan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Satu dengan yang lainnya tidak akan dapat benar-benar hidup tanpa menggantungkan diri dengan yang lainnya. Saat mati sekalipun, tidak lantas memutus hubungan sosial kita dengan yang lainnya. Seolah-olah iya, mungkin bagi kita yang meninggalkan seluruh hiruk pikuk kehidupan dunia. Tapi, benarkah ketika kita mati kita tidak lagi butuh peran orang lain untuk mengurus jasat tak berdaya kita? Tentulah tidak!    Lantas siapa diantara kita yang paling dapat berperan dan dibutuhkan kontribusinya oleh orang dan masyarakat lain? siapakah yang lebih muliya di antara kita sebagai manusia? Mereka yang berdasikah, yang dapat membeli suara ketika kampanye? Mereka yang berpeci dan bersarungkah, yang ketika berjalan sedikit menunduk? Atau mereka yang kaki dan anggota tubuh lainnya dihiasi tato? Ehmmm apa mungkin bisa jadi mereka yang terlunta-lunta oleh ketercekikan kehidupan ekonomi...