Fabiayyi 'Ala Irabbikuma Tukadzziban?
Sini,,,,
Kugenggam tanganmu untuk menjemput pagi
Aku melangkah, di antara rinai waktu yang kadang terasa tak terpeluk olehku. Ragaku telah sampai pada tempat dimana aku harus berjibun dengan aktivitasku. Tapi, coba kutemui jiwaku, berasa tak kutemukan di antara ulasan kehidupanku.
Kenapa?
Entahlah…
Aku hanya dapat menggelengkan kepalaku. Lama aku tertegun, menatap bayangku. Layu, seperti Adam kehilangan tulang rusuknya. Dedaunan seolah mengering kala jemariku menyentuhnya. Sedemikian burukkah nasibku?
Segera kubuang jauh pemikiran burukku. Aku tak setolol itu, mewarnai hidupku. Atau, tak sebodoh itu menghadapi oase kehidupan takdir tuhan. Aku masih percaya, ada cinta dan kasih sayang tuhan di balik semuanya.
Mungkin aku tak dapat seperti mereka, menikmati pagi cerianya dengan semangat yang tersemat di antara buku-buku dan pena. Menuju tempat terindah menikmati waktu dengan sebayanya. Belajar memahami reaksi-reaksi kimia, memahami rumus-rumus mikro dan makro, menyerap dan melakukan pengamatan menegemen bisnis, membaur ke masyarakat dan menganalisa teori psikologi, berdiskusi serta mengamati komunikasi para pejabat politik, dan tenggelam dalam nikmatnya belajar memanusiakan manusia.
Tapi, di sinilah ruangku belajar. Kala sepi dapat kubunuh kesepianku dengan mengulas isi koran, dan kala sibuk, dapat kukeluhkan kepeluhanku dengan menikmati secangkir kopi dan mendengarkan diskusi.
“Yaach, meski terkadang ada yang tak bisa aku pahami. Tapi inilah takdir terindah tuhan untukku.”
Tak pernah terbayangkan sebelumnya mungkin, aku berada di antara mereka. Gaya hidup, simbol-simbol status sosial yang terlihat dari apa yang orang kenakan, penekanan nada bicara, keangkuhan berpikir, dan…..matinya rasa kemanusiaan oleh kepentingan pribadi.
Namun, pantaskah aku mengakui diriku sebagai air zam-zam dalam comberan? Ataukah laksana mutiara yang keram oleh lumpur? sungguh,,,,,itu bukan diriku meski aku tak pernah sepaham dengan sebagian besar cara mereka.
Tak kudapati diriku secantik Aisyah kala bercermin, dengan mata yang meneduhkan dan keberanian yang menyala saat membentangkan dada menghalau musuh di perlawanan perang Jamal. Tak pula kudapati diriku laksana Khodijah, yang menenangkan dan tanggap serta inisiatif, dengan ketabahan tanpa batas. Bahkan hanya untuk memeluk diriku saja, terkadang aku belum mampu. Bagaimana bisa aku bermimpi seperti Khodijah dengan ketidakterbatasan ketabahannya mampu menenangkan Muhammad?
Tapi apapun itu, akan kugengggam erat pagiku menemui senjaku. Aku akan belajar, di ruang yang mungkin tidak terlalu membuatku nyaman. Tapi tahukah, tidak semua yang tidak nyaman itu menghanyutkan. Adakalanya, Tuhan sengaja tak membiarkanku terninabobokkan oleh waktu.
“Fabiayyi ala Irabbikuma Tukaddziban? Terimakasih dan sangat mencintaimu, Tuhan!”
Komentar
Posting Komentar