Fiqh Dan Akhlak-Ku Diuji Tanpa Pertanyaan, Melainkan Kenyataan
Sebut saja Kamilah, seorang santri di salah satu pondok pesantren Krapyak Yogyakarta. Aktivitas Kamilah selain belajar di pondok pesantren ialah kuliyah, berorganisasi, dan bekerja di salah satu instansi pemerintahan di Yogyakarta. Kamilah terlahir dengan kemampuan standart. Jika tolok ukurnya pesantren, Kamilah tidak memiliki apa-apa. 13 tahun tinggal di pondok pesantren tidak membuatnya cakap dan mahir membaca kitab kuning. Menjadi yang diistimewakan Allah dengan menghafal Al-Qur’an juga tak mampu dilakoninya. Sehingga Kamilah kerap malu ketika ditanya sudah berapa tahun hidup di pesantren? Berbagai pertanyaan pun kerap kali terbersit di pikiran Kamilah. Terlebih ketika dihadapkan dengan sebuah cerita, “kesantrian kita diuji ketika di masyarakat” mampukah seorang santri memberi ceramah, memimpin tahlil, memecahkan persoalan hukum di masyarakat, solat berjama’ah, aktif di organisasi keagamaan kampung halaman, santun dalam bersikap, bertutur dan bertindak dan….. “Nduk samp...