KU PELUK ERAT FIRDAUSI-MU, TUHAN……..
Aku terbangun dari mimpi panjangku. Diantara rasa sakit yang entah seperti apa, aku masih menengadah diantara takdir tuhan yang belum sepenuhnya aku terima. Aku tak lagi mengenali siapa aku. Pintu terbuka dan aku masih sibuk menenggelamkan wajah senduku. Ku rasakan belaian lembut mengusap jilbabku, memelukku erat tapi tak kurasakan sebagai sebuah kebahagiaan. Takdir ini jauh lebih sakit, dan tak dapat dikembalikan hanya dengan sebuah pelukan. Aku tak bisa melihat, aku terbutakan oleh keegoisan dan kesibukan menghakimi tuhan. “Lihat cahaya itu, nak. Ia tak hanya menyinari ruang-ruang yang terbentuk secara sempurna. Tapi, keindahan itu tetap memukau diantara garis keretakan yang sering dilupakan oleh pemiliknya. Tetap indah, bukan?” Aku hanya terdiam membiarkan suara lembut itu berlalu diterpa sepoinya angin pagi. Ia kembali memelukku erat, berharap aku dapat melupakan jamuan baru tuhan. “Kita jalan-jalan di taman, ya?” Lagi-lagi aku hanya terdiam, namun segera berontak...