SEPENGGAL SURGA YANG TERLUKA

Di sini
Di puncak peraduanku
Ku sematkan cinta tuhan untukmu ,anakku
Cinta yang tak pernah luruh meniupkan kehidupan
Cinta yang tak pernah mengering mengalirkan riak riak berdentuman
Wahai engkau pemangku zaman,,,,
Ingatlah sayang
Jangan biarkan masa mencabikmu, menggenggammu dan memutus urat lehermu
Wa idz akhodza  robbuka min bani adama min dhuhurihim dzurriyatahum wa asyhadahum ‘ala anfusihim,alastu birobbikum,qolu bala syahidna an taqulu yaumal qiyamati inna kunna ‘an hadza gofilin
Masa masih enggan memberikan jawaban pasti tentang apa yang akan terjadi. Hening, semua hanya dapat mengatup sembari berbisik lirih mengalunkan bait bait suci kalam illahi. Berharap diantara denting denting harapan pasi, masih ada sepercik kehangatan yang dapat merangkul dan mendekap wajah wajah yang mulai menampakkan kepudaran.
Delapan bulan
Wajah wajah itu tak pernah usang menanti waktu  menjawab semuanya. Menjawab sebuah masa yang mulai mengering seolah kehilangan sosok yang telah menjadikan kanvas dan oase masa berarti. Namun, sebuah titik oase masih sanggup bertahan. Mereka  tak akan membiarkan masa menggulung dan melenyapkan denyut denyut yang masih menyembulkan kehidupan. Mereka yakin diantara hembusan nafas yang tersengal, akan ada keajaiban kata yang mampu mengubah semuanya. Mengubah dan  menjadikan zaman terdekap erat di genggaman penguasa cilik yang terlahir dari tangan penyihir buta.
Yaaach penyihir buta. Semua berawal dari sebuah masa yang tak mampu dikendalikan. Gejolak yang dirasakannya begitu indah telah menyesatkan dan menyeret ia ke dalam jurang yang kemudian semua harus berahir di pembantaian. Cacian, murka, amarah dan entah apa lagi.Terlalu banyak hingga masapun tak mampu mendeteksi dan mendefinisikannya. Namun, pembantaian dan caci  maki itu tak membuatnya lekas mati. Ia bangkit dan  mencoba menghapus yang telah basi, karena ia yakin tuhan masih memberikan percikan cintanya dengan aksi dekomposer yang kemudian menjadikannya sebuah  zat-zat anorganik yang terserap oleh tumbuhan. Itulah dia yang terlahir kembali dari sebuah masa kegelapan hingga ia mampu berdiri dan melahirkan generasi generasi baru.
Generasi generasi itulah yang kini senantiasa manjaga dan tak pernah letih menyenandungkan bisikan rohani pada seseorang yang kini hanya mampu terbaring lemah sembari menanti Allah menjatuhkan taqdir kehidupan selanjutnya.
            “Gus gus…ibuk menangis.”
            “Heeh…?”
Agus menghentikan sejenak  aktivitas membaca al qur’annya. Ia pandangi mata yang telah beberapa hari ini tak lagi dapat membuka atau sejenak saja berkedib membiarkan cahaya masuk menerobos retina. Benar, telaga teduh itu terpejam, namun keterpejaman  itu meneyiratkan sesuatu yang tidak semua orang dapat menginterpretasi pesan apa yang berusaha disampaikannya.
“Buuuk.” Sapa Rohmat.
Mata tua itu masih saja terpejam  tanpa sejenakpun menghentikan air matanya untuk tak terjatuh. Rohmat kebingungan tak tau apa yang terjadi  pada  seseorang yang telah dianggapnya sebagai ibu kandungnya sendiri.Agus yang semula berdiam diri ikut mendekat dan menyapa perempuan hebat di hadapannya.
“Bu Zahrona, ini Agus buuk.”
                Aliran air mata itu semakin deras mengalir membasahi pipi yang mulai mengkriput.Pipi yang dulu selalu menampakkan rona kemerahannya. Yang baginya rona itu tak sekedar rona yang menjadikan siapapun melihatnya terkagum akan pesona yang dipancarkannya. Namun, rona itu begitu alami terpancar dari kesungguhan hati yang dipenuhi akan cinta penghambaan illahi.
            “Agus ambilin minum ya, buuk.”
Diam. Agus dan Rohmat saling berpandangan mencoba saling bertukar pikiran apa yang sebenarnya dirasakan Bu Zahrona. Keduanya menggeleng tak tau.
            “Ibuuuk,Rohmat panggilin dokter dulu yaa?”
Tiba tiba tangan itu tergerak pelan. Agus dan Rohmat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
            Agus terpana dan segera menggenggam  erat tangan Bu Zahrona.Begitu juga Rohmat, ia segera mengurungkan niatnya untuk menemui dokter.Ia tau saat ini Bu Zahrona sangat menginginkan keduanya hadir menemani mata tuanya terbuka dan kembali menyikap warna yang entah telah berapa sekian waktu tak dirasakannya.
            Dingin itu semakin menjalar, merambat dan menghentikan aliran darah, menyekat pernafasan dan membungkam lisan tua itu untuk berkata. Namun, meski hanya dengan terkatup perlahan suara lirih itu terdengar.Mereka hanya dapat menduga mungkinkah ini saat semua akan terambil dan terlepas dari titik dimana ruh bersemayam,yang kemudian raga itu terbujur kaku dan hanya akan meninggalkan jejak jejak kenangan,,,,,,,,,
***
            Masa telah menjawab semuanya, bahwa perlahan titik ujung cengkeraman Izroil tak akan pernah sedetik saja meleset dari sasaran mautnya. Ruh itu terlepas meningalkan kumpulan organ yang terbalut daging. Yang semua mengakui bahwa awal dari keberadaan itu tak lain hanyalah dari setetes nuthfah yang tersimpan kokoh di ruang dimana tuhan telah menjamin telapaknya sebagai keridhohan surganya.
            Kini tak hanya dua sosok pemangku zaman yang masih berdiri tegap dan kemudian melangkah menjejaki dunia tanpa alas seorang penyihir buta. Semua mengakui tak hanya pada pandangan yang terlihat oleh kasat mata. Alam  yang tak dapat dijangkau oleh tangan tangan yang terlahir dari benih Adam, dan semuanya masih enggan terbangun dari kegelapan karena masa yang mengambil penyihir buta dirasakannya terlalu cepat.
            Yaach,,,,
Semua terasa begitu cepat mengambil alih masa untuk terlepas dari bingkainya. Hingga saat mata tua itu benar benar harus terpejam, dua pemangku zaman masih merasa risalah yang telah sampai padanya belum sepenuhnya sempurna. Namun entahlah, kini semuanya benar benar gelap, dan kegelapan itu yang memaksa pemangku zaman  harus  tergerak melangkah memerangi sebuah masa.
“Gimana sudah siap?” Tanya seorang mudin.
Rohmat dan Agus hanya mampu menganggukkan kepala dan berusaha setegar mungkin untuk tidak melepas kepergian orang yang dicintainya dengan derai air mata. Keduanya yakin Bu Zahrona  akan tersenyum berkawankan kebaikan tuhan. Meski ada satu masa gelap yang tak akan pernah terlupakan sejarah dimana seseorang yang kini di bopong menuju peraduan terakhir, adalah seseorang yang pernah mengingkari kesucian kalam tuhan.
            “Selamat tinggal, Bu Zahrona. Kami sangat mencintaimu.” Bisik Agus yang diangguki oleh Rohmat.
            Keduanyapun pulang sembari menghimpit senja yang mulai menguning. Melangkah tegap membawa janji yang terikror di atas kemilau nisan karena terpaan mentari. Padang ilalang kemarau menjadi saksi bisu bahwa suatu saat nanti, cinta itu tumbuh kembali membawa masa akan tertunduk di penghambaan tuhannya. Mengabdi dan bersujud menikmati nada nada kenikmatan tuhan yang tak terhitung oleh setiap jengkal kaki melangkah dan berkarya.
Tak hanya itu, semuanyapun tak akan pernah ada yang mampu untuk menghitung seberapa banyak dan luas karunia illahi yang tersebar secara horizontal dan vertikal kehidupan. Semua anugerah itu terlalu indah, terlalu berharga untuk sekedar diingkari dengan kebahagiaan semu. Namun, dalam kalamnya Allah menyebarkan barbagai cara utuk menguji kemampuan hambanya. Hal itu dilakukan Allah bukan karena kekuasaanya untuk menghakimi seseorang melalui garis taqdirnya. Melainkan sebagai kekuasan demokrasi tuhan yang memberikan jalan pilihan bagi hambanya untuk memilih apa apa yang dikehendaki.
 Tak hanya terlepas begitu saja, Ar- Rahman dan Ar-Rahim Allah tersebar memenuhi keidahan bumi yang tersampaikan lewat kalam tuhan dan  rasulnya. Dari situlah manusia akan dimintai pertanggung jawaban, sudahkan apa yang dilakukan sesuai deangan rambu rabu illahi.
Jika iya tentulah manusia akan menuai keindahan abadi di sisinya, bergelimang kenikmatan yang selamanya tak akan pernah terlepas. Namun  jika hal itu berlaku sebaliknya, Allah maha pengampun dan menerima hambanya untuk melakukan perubahan.Sebagaimana yang pernah dilakukan Bu Zahrona, seseorang yang atas kuasa illahi terlahir untuk merasakan keindahan dunia dari setetes nuthfah yang dipenuhi akan cahaya keimanan illahi. Terbungkus oleh dinding rahim seorang ibu yang sangat menikmati denyutan hidup berpayungkan cinta tuhan.
***
            Tujuh hari kepergian Bu Zahrona langit masih saja kelabu. Mendung masih saja bergumul menjanjikan tetesan hujan terjatuh menyatukan kembali tanah tanah yang telah merengggang akan kemarau yang melebihi separuh musim. Rohmat dan Agus duduk terpaku sembari menanti bidadari kecil berlarian, berkejar kejaran dengan menenteng qiro’ah di surau kecil peninggalan Bu Zahrona.
            “Ada yang hilang, Guus.” Keluh Rohmat.
            “Iyaaa, sekarang aku merasakan surau ini kosong. Tak ada lagi tawa mencumbu kita dikala malam menjelang. Guyonan itu, serasa tak akan pernah tergantikan.”
            Agus mengangguk dan kemudian mengalihkan peredaran arah matanya menyapu kepekatan sore yang masih saja berselimut kabut. Sembari meneguk kopi dengan ditemani sebatang rokok, Agus  menghembuskan perlahan kepulan asap dari mulutnya, berharap duka itu menghilang bersamaan asap putih yang perlahan pudar dan sirna oleh angin sore peralihan musim.
            “Seandainya semudah kepulan asap ini kesedihan kita tanpa Bu Zahrona, tentulah hal itu akan memudahkan kita untuk bangkit.”
Rohmat menggeleng kemudian menatap erat sahabatnya.
            “Kenangan Bu Zahrona di surau ini terlalu indah dan tak sepadan dengan kepulan asapmu Guus. Bu Zahrona mewariskan kepada kita dan semua yang belajar disini dengan sesuatu yang dapat menjadikan seeorang melakukan perubahan. Perubahan dalam menguasai barisan huruf huruf hijaiyah menjadi suatu rentetan kata yang menenggelamkan pemiliknya ke kedamaian seorang hamba pada tuhannya.
            “Benar, Rohmat. Peninggalan Bu Zahrona tak seperti kepulan asap dari hisapan rokokku. Kepulan asap ini hanya akan menjadikan detak jantung semakin melemah oleh nikotin yang menyebar menjadikan pembuluh darah kita tersumbat dan mengalami pembengkakan. Yang ketika saatnya tiba nyawa seseorang akan begitu saja  terhunus oleh cengkeraman pedang Izroil.” Geram Agus sembari mematikan rokok yang hampir habis dihisapnya.
Rohmat mengangguk. Sejenak kemudian keduanya bangkit menoreh senyum di kerlingan duka yang belum sepenuhnya musnah. Titik titik air pun menetes perlahan membasahi pelataran bumi yang telah amat sangat mengering kehausan, menjadikan bocah bocah kecil surau yang masih belum memiliki nama itu berlarian menangkap tetesan air yang terjatuh. Mereka enggan untuk sejenak saja bersinggah mengayunkan kakinya ke surau tempat dimana kenangan penyihir buta bersimpuh erat melekat di dinding dinding putihnya.
Rohmat dan Agus tersenyum menyapa bidadari kecil  untuk menghidupkan kembali surau ini.Mereka mengangguk dan memperlihatkan geraham giginya. Perlahan satu per satu diantara mereka mulai terlatih untuk mencintai kalam suci tuhan dengan membaca dan menghafalnya.
“Sabbihis ma robbikal a’la. Alladzi kholaqo fasawwa. Walladzi qoddaro fahada…”
Demi langit yang datang pada malam hari, dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? Bintang yang bersinar tajam,….
***
Dua puluh tiga tahun kemudian
Derai cinta tu mengalir dari  kerlipan mata ibnu sabil pesantren zahroniah. Semuanya terpaku oleh jamuan seni film yang terbingkai oleh setapak genggam kehidupan Bu Zahrona. Agus dan Rohmat tersenyum menyembulkan gelagat keriput keriput diwajahnya yang semakin tak bisa untuk ditutupiya. Meski belum sempurna, keduanya bangga telah mampu mengenalkan siapa pemilik pondok yang kini telah meraup ribuan pasang mata santri yang siap menebar ruh islam dalam setiap kehidupannya.
            1986…
            Terseok seok kaki itu melangkah mengitari para warga yang dengan keindahan senyumnya melepas gadis kecil yang terlahir dari seorang ibu yang sangat disegani karena keilmuan agamanya. Gadis itu tersenyum dengan tak berhentinya mengibaskan kerudungya oleh terpaan angin sore.
            “Ngangsu kaweruh kanthi sae nggih neng, mbok Inah among saget dedungo mugi neng Zahrona dipun rekso gusti Allah, manah lan kesehatanipun.”
            Zahrona mengangguk dan tersenyum dengan seseorang yang telah mengabdikan masa tuanya untuk merawat Zahrona. Karena itulah bukan suatu yang aneh jika hubungan diantara keduanya sangatlah dekat. Hingga terkadang kedekatan itu menimbulkan kecemburuan Umi Lutfia sebagai orang yang telah melahirkan Zahrona. Namun apa mau dikata, cinta antara seorang abdi ndalem telah terbingkai di hati putri tercintanya sejak masih bayi. Meski terkadang Umi Lutfia menyesal karena obsesi untuk menyelesaikan pendidikannya di Al-Azar Cairo menjadikan jarak baginya untuk mengekspresikan cintanya pada putrinya tersekat.
            Zahrona kembali berdiri disamping mbok Inah dan Abahnya yang juga bersebelahan dengan Umi Lutfia. Tak lama kemudian Abahnya mengambil nafas sejenak dan meminta izin warga untuk turut mendoakan putrinya yang akan hijrah berlayar mengarungi ilmu tuhan.Umi Lutfia tersenyum kemudian menghampiri putrinya yang telah  menginjak masa remaja.
            “Gimana udah siap semuanya, sayang?”
            “Sampun Umi.”  Jawab Zahrona kemudian melangkah menuju mobil yang diikuti Abah dan Uminya. Namun, tiba tiba Zahrona menghentikan langkahnya perlahan.
            “Ada apa, sayang?” Tanya Umi Lutfia.
            “Umi….
            Mbok Inah boleh ikut yaa?” Umi Lutfia tercengang kemudian memalingkan wajahnya kearah suaminya. Abah Zahrona tersenyum kemudian menggeleng.
            “Gini sayang,..
 kalau mbok Inah ikut, nanti yang manyediakan makan malam untuk santri siapa?”
            “Kan ada mbok Sari, Umi. Ayolah Umi, mbok Inah boleh ikut yaa..?”
Ahirnya Zahronapun teriak bangga karena Abah dan Uminya mengizinkan  mbok Inah ikut bersamanya mengantarkan Zahrona ke pondok dimana ia akan belajar mendalami khazanah ilmu yang tersimpan dalam kitab kuning.
            Umi Lutfiah tersenyum. Ahirnya setelah hampir tujuh jam mendekam di mobil, beliau dapat bernafas lega menikmati panorama alam khas Yogya. Dari kejauhan tampak seorang wanita cantik berlari mendekatinya.
“Assalamualaikum, mbak  Lutfiah. Tambah ayu ki suwe ra keton hehehe…
pripun kabare?”
            “Alhamdulillah sae, keluarga ugi sae.”
            “Alhamdulillah….                                                                                                                     
 Monggo pinarak rumiyen. Ampun ting mriki panas hehhe...”
Umi Lutfia ,Abah, Zahrona dan mbok Inah tersenyum kemudian mengikuti langkah sahabat Umi Lutfia yang juga menjabat sebagai pengasuh pesantren yang akan menjadi tempat belajar Zahrona. Umi Lutfia sengaja menganjurkan Zahrona belajar di pesantren sahabatnya, karena beliau tahu betul kafasihan alqur’an sahabat di Mesirnya dulu dan kecerdasannya dalam mengkaji kitab kitab kuning. Selain itu, pesantren ini dipilih karena keberadaannya tepat untuk mewadahi Zahrona dalam mengembangkan kecerdasan otaknya.
Merekapun berbincang bincang sambil menkmati gudeg sebagai makanan khas Yogya. Zahrona tak berhentinya tersenyum dengan keakraban yang terjalin diantara keluarganya dengan bu nyai yang baru saja diketahuinya. Bu Asfiah, benar yang diceritakan Uminya, sahabat di Mesirnya dulu sangat cantik dan baik. Hal itu terlihat dari gayanya berbicara yang sopan dan riang. Beliau juga sering menyelipkan guyonan guyonan yang mampu mencairkan kebekuan. Tak ayal jika membayangkan saja mengaji dan menghafal di hadapan beliau, Zahrona seolah menemukan semangat baru yang menambah keinginannya untuk segera menapaki jalan sebagai santri. Sebagaimana yang dilakukan santri santri lain di pesantren yang di naungi Abah dan Uminya.
“Gimana, neng Zahronanya udah siap di marah marahin ibu disini? Hehhe kalau nakal nggak mau ngaji nanti tak suruh kang kange nyeret.”
“Kalau yang nyeret kang kange mending tiap hari Zahrona nggak ngaji, bu hehhe.” Balas Zahrona.
Spontan semuanya tertawa dengan kekonyolan yang diciptakan Zahrona. Umi Lutfia tersenyum dengan guyonan yang baru saja keluar dari bibir putrinya. Begitu juga seseorang yang  tanpa sengaja mendengarkan guyonan yang baru saja terjadi antara pengasuh pesantren dan santri baru, Zahrona.
“Nggih cekap semanten, bu. Kulo lan Umi Lutfia nitip Zahrona dipun bimbing lan di arahaken kanthi sae. Sak derengepun keluarga ngaturaken  maturnuwun sanget, among saget dungo mugi berkah anggen ngeluberake ilmu amin.”
“Nggih nggih amin, pak. Restune mawon saget ngemban amanah kanthi sae.” Jawab Bu Asfiah.
***
Teng teng teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng
02.00
Fajar kadzib  mulai menampakkan kehadirannya. Semua santri terbangun oleh gelegar loteng yang sengaja dibunyikan. Hal ini bertujuan unuk membentuk mental santri agar senantiasa membudayakan malam sebagai kendaraan untuk menemui tuhannya. Hal ini tidak dirasakan Zahrona berat, karena ini merupakan hal yang biasa dilakukannya ketika masih tinggal bersama Abah dan Uminya.
“Zahrona wes tangi opo durung?” Tanya Bu Asfiah yang sengaja langsung berkunjung ke pondok untuk mengecek santrinya yang masih pulas dengan tidurnya.
“Sampun buk.” Jawab santri lainnya.
“Yo wees…
Mengko nek wes podo kumpul mbak mbak e sik wes senior kon ngimami, ibuk lagi gak solat.”
“Nggih, buuk.”
Seperempat berlalu, semua santriwati kecuali yang berhalangan telah bekumpul di musholla. Tak hanya santri putri, hal yang sama dilakukan juga oleh santri putra yang dibimbing langsung oleh Bapak, suaminya Bu Asfiah.

            “Sttt stttt….gus Endart gus Endart,,,,,,”teriak salah seorang santri yang kemudian tanpa dikomando semuanya beraksi mejulurkan kepalanya ke pintu yang berhadapan langsung dengan pintu ndalem. Mata mereka berbinar menyaksikan seseorang berjalan menembus kegelapan untuk menggantikan Bapak mengimami santri putra tahajudan.
            “Subhanallaaaaah, itu yang namanya gus Endar? Dulu ibuk waktu bikin, doanya apa yaa?” Celetuk Arjom santri asal Jombang.
            “Sttt…saru!” Protes Gentong salah seorang santri asal Klaten ini memiliki julukan khas dari santri lain karena porsi tubuhnya yang gedhe.
            “Hweech,,,” Gerutu Arjom kesal.
            “Tapi emang iya kok Arjom yaaa,,,,seganteng itu makanannya apa ya? Heran!” Kata Nunuk menambahi.
            Mereka larut dalam kekaguman. Hingga tak sadar sepasang mata tiba tiba melotot tepat di depan pintu. Tak heran jika semua langsung tertunduk dan mengundurkan langkah kakinya kembali ke sajadah masing masing.
            Zahrona dan santri lainnya telah larut menikmati sepoi angin Yogya dari celah celah tirai yang tersingkap. Bergelayut dalam pegabdian suci illahi. Menengadah agar di pesantren ini mereka menemukan apa yang mereka cari.
            Zahrona masih tertunduk  dalam sujudnya. Ternyata pertama kali hidup tanpa Abah, Umi dan mbok Inah disampingnya membuatnya merasakan ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya. Tapi ia sadar hal ini tak lain hanyalah sekedar emosi sesaat.
            “ Zahrona, kenapa seorang perempuan harus cerdas dan berpengetahuan tinggi?” Tanya Abah sehari sebelum kepergiannya untuk nyantri.
            “Kata Umi, kesuksesan seorang suami tak bisa lepas dari peran perempuan cerdas di belakangnya. Makanya baah kalau besok Zahrona udah gede, Zahrona ingin menjadi perempuan cerdas yang mendukung kesuksesan suami Zahrona. Seperti Abah dan Umi dan juga sebagaimana yang dilakukan Aisyah terhadap Rasulullah.”
Abah mengangguk dan memeluk putri semata wayangnya.
            “Iya, sayaaang…
            Yang terpenting untuk saat ini adalah belajar. Pernahkah Zahrona tahu tentang kisah Sulaiman?”
Zahrona mengangguk. Kemudian menceritakan tentang betapa besarnya kekuatan ilmu. Hingga ketika Allah meminta Nabi Sulaiman untuk memilih satu diantara empat pilihan yaitu harta, jabatan, wanita yang cantik dan ilmu. Maka tak ayal jika Sulaiman lebih memilih ilmu. Karena dengan ilmu pintu segala kesuksesan akan terbuka.
             Abah manggut manggut dengan kisah Sulaiman yang diceritakan putrinya. Kembali Abah memeluk dan mencium kening Zahrona. Zahrona tersenyum bahagia. Ia menyadari moment seperti ini jarang sekali singgah di kehidupannya. Karena kesibukan Abahnya harus mengurusi pesantren.
            Dari balik pintu ahirnya wanita itu melangkahkan kakinya mendekat dan kemudian membelai kerudung Zahrona.
“Kamu benar, nak
            Allah telah menganugerahkan kenikmatan di seluruh permukaan bumi dan langit. Tapi hanya dengan ilmulah kenikmatan tuhan itu akan mudah digapai dan dimanfaatkan untuk ibadah kepadanya.”
Zahrona berbalik arah dan memeluk perempuan yang atas izin Allah telah menjadikannya merasakan kekuatan dinding rahimnya.
            “Allahuakbar.” Ucap Zahrona lirih kemudian segera menguasai hatinya untuk tidak larut dalam bayangan Abah dan Uminya.
            attahiatu al ssolawatu attoyyibatulillah. Assalamu’alaika ayyuhannabiyyu warohmatullahi wabarokatuh.Assalamu’alaina wa’ala ibadillahissolihiiin………..
***
Tak terasa dunia pesantren telah melarutkan Zahrona untuk tenggelam menikmati belaian lembut cakrawala pengetahuan yang tersimpan erat di balik balik  huruf tak berharokat. Ia pandangi jajaran kata yang tersusun indah oleh pakar pakar  terdahulu. Semua begitu mengagumkan. Bahkan  untuk membayangkannyapun Zahrona tak mampu. Bagaimana  jerih payah tangan para ulama’ menorehkan dunia berada di balik kertas kertas yang semula kosong tak bermakna. Bagaimana para ulama’ menahan  kepekatan matanya untuk menjejali dan membagi apa yang diketahuinya lewat bahasa tulisan yang kemudian sampai kepada kita. Bagaimana kinerja keras ulama’ mencurahkan otaknya untuk berkarya dan bagaimana cara ulama’ melewati padang pasir, gurun, lautan dan entahlah demi sebuah jawaban.
            “Sttt.. stttt… nek kene ae, Ci’neng.”
Zahrona mengalihkan pandangannya kearah dimana suara tersebut berasal.
            “Balkon, mbak?” Balas Ci’neng tak percaya.
Zahrona tersenyum dengan aksi dua temannya. Ia berpikir kekonyolan ini telah merambat dan menjalar sehingga menyekat pola pikir mereka untuk bangkit menjelajahi samudra ilmu. Namun, Zahrona menyadari ini adalah bagian dari sebuah misteri yang harus ia pahami. Mengapa hal itu bisa terjadi. Bukankah sejak sebelum melangkahkan kaki disini mereka telah paham dengan apa yang akan digelutinya di pesantren.
            “Ci’neng buruan.” Teriak Gentong.
            “Iyah iyaaah bentar. Balas Ci’neng yang kemudian dengan gesit melangkah keluar melewati jendela. Sesampainya di balkon, Ci’neng memberi kode Zahrona untuk menutup tirai jendela agar ketika keamanan oprasi nyawa mereka terselamatkan.
“Kenapa nggak di jemuran aja, mbak?” Bisik Zahrona.
            “Udah nggak aman. Keamanan si Bontot udah mulai curiga. Ya udah buruan tutupin ya tirainya.”
            Zahrona mengangguk kemudian melakukan apa yang di inginkan teman sekamarnya. Zahrona tahu mereka melakukan ini bukan tanpa alasan. Mereka hanya menghindari amukan pak Kurdi yang ketika mengajar tak pernah sekalipun memperliihatkan senyumnya. Zahronapun heran terbuat dari apakah guru tauhidnya itu. Tak pernahkah beliau berpikir cara yang ditempuhnya hanya akan menjadikan santri jengah dan bosen  bahkan menghindar.
            Yach ini suatu pembelajaran yang berharga bagi Zahrona. Ia tak ingin mewarisi sikap pak Kurdi yang ekstrim dalam menyalurkan ilmunya. Namun, karena keinginannya untuk bisa sedikit saja mewarisi keilmuan istri termuda Rasul Aisyah, Zahrona tak peduli dengan tampang geram pak Kurdi ketika ada santrinya salah dalam memaknai kitabnya.
            “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah.”Zahrona berdoa kemudian melangkah menyusuri lorong gelap untuk sampai ke kelas dimana pak Kurdi akan menyalurkan ilmunya dengan gaya yang khas, datar dan mencekam.
            “MasyaAllah udah ditutup pintunya ya, mbak?” Tanya Zahrona pada salah satu santri yang mencoba membuka pintu tapi gagal.
            “Iya, dek. Kebiasaan nih Ustadz. Masak baru setengah delapan udah ditutup pintunya. Kalau bukan karena tauhid  ilmu yang wajib untuk diketahui dek, sumpah males banget harus ketemu nih orang.”
            “Hmmmm salam aja yuk mbak, mana tahu dibukain pintunya.”
            “Haaah?” Jawab santri tersebut ragu. Zahrona tak peduli kemudian ia melangkah dan mnegucapkan salam agak keras agar terdengar dari tempat duduk dimana pak Kurdi mengajar.
            Tak seberapa lama kemudian Zahrona berucap syukur. Perlahan pintu terbuka, ia dan teman sekelasnyapun mengendap ngendap ketakutan kemudian masuk. Namun  baru saja ia akan duduk, suara khas pak Kurdi mencegahnya.
            “Yang baru masuk baca halaman lima belas.”
Dalam hati Zahrona bersyukur, apa yang diperintahkan pak Kurdi telah ia pelajari sebelumnya. Begitu juga degan seseorang yang begitu antusias untuk mengetahui ketauhidan tuhan tak peduli risalah tentang itu disampaikan oleh ustadz yang bernama pak Kurdi. Satu satunya ustadz yang mampu mengubah pola pikir pengurus untuk aktif  berorasi dan beroprasi meninjau santri yang malas malasan mengikuti ngajinya pak Kurdi.
“Bismillahirrohmanirrohim.” Ucap Zahrona mengawali bacaannya.
Semua santri terpana menyimpan kekaguman dengan apa yang sedang didengarnya. Suara Zahrona halus dan tegas membaca setiap kata dengan fasih dan benar. Bahkan karena itu, langitpun menggumang tentang keanehan yang terjadi dalam sosok ustadz yang selama ini begitu angker. Beliau mampu tersenyum bahkan memuji kehebatan santrinya dapat menguasai jejeran kata tanpa makna.

***
Bagaikan janji bintang
Siapapun akan berdecak kagum
Saat..
Ketika mata itu mengalihkan sejenak pandangannya untuk menguasai malam dengan keajaiban tahtanya
            “Bagaikan janji bintang.” Begitulah Zahrona mendeskripsikan tentang kehidupan yang diselaminya dalam memenangkan rivalnya.Rival yang hanya dengan hatinyalah ia dapat mengatahui sejauh apa ia mampu menggenggam apa yang seharusnya ia genggam.
            Semua itu perlahan terbukti seiring perjalanan waktu Zahrona menggeluti dunianya. Dunia al-qur’annya, dunia kitabnya dan dunia pesantrennya. Karena dengan ketekunan itulah Zahrona merasakan kemudahan baginya menjelajahi fase yang dulu hanya menjadi bagian dari imajinasinya.
Sekarang…
Semua dapat tersenyum bangga. Tak hanya gumpalan awan putih yang melaju seiring putaran bumi mengelilingi matahari, atau kicauan burung yang berlalu lalang memenuhi dunia tak terbatasya. Semua bangga, dan bahkan kebanggan itu beradu menjadi sebuah titik kekaguman yang harus diujikan dalam rival sesungguhnya. Yaitu rival yang tak hanya melawan diri sendiri, tapi melawan sesuatu yang harus dilawan sebagai bentuk perjuangan terhadap apa yang telah sebelumnya diperjuangkan oleh Kartini. Salah satu perempuan di Indonesia yang mampu mengubah ketersekatan perempuan menjadi perempuan tangguh yang dapat mencengkeram dunia dalam genggamannya.
“Gimana udah siap nak?”
“Bismillahirrohmanirrohim insyaAllah buk, pangestune mawon seget ngemban amanah meniko kanthi sae ugi ikhlas.”
Bu Asfiah mengangguk kemudian menuju kamar sebentar dan keluar dengan membawa kitab lusuh. Zahrona ingin menangis saat ketika kitab lusuh itu harus berganti tangan dari Bu Asfiah ke tangannya. Ia merasa belum mampu, namun ini adalah sebuah titah yang harus diperjuangkannya dan dijaga.
“Kitab ini kitab turunan dari Abah. Jadi ya wajar kalau udah blutek kaya gini, yang penting isinya masih bisa dibaca dan disampaikan ke yang lainnya.”
“Nggih, buuk.” Ucap Zahrona kemudian melangkah meninggalkan jejak kaki yang masih mematung sembari mengiring doa untuk ungkapan sebuah titah.
Disepanjang perjalanan Zahrona masih saja merenung dengan titah yang baru saja menghampirinya. Titah yang akan menghantarkannya pada suatu bentuk keberkahan seorang bunyai. Keberkahan yang jika tuhan menghendakinya, semua akan berjalan pada rotasi garis ketetapan tuhan. Namun, satu hal yang terkadang berkecamuk mengobrak abrikkan pemikiran Zahrona. Benarkah keberkahan itu akan terus mengikuti jejak langkah penerimanya, ataukah hanya sekedar penghantar bagi penerimanya untuk berjalan menyusuri apa yang pernah ditelusuri oleh jejak jejak pewaris para Nabi sebelumnya?
Entahlah Zahrona tak mampu lagi berpikir lebih keras. Sekarang yang ada dihadapanya hanya satu, yaitu bagaimana titah yang telah diterimanya dari Bu Asfiah akan sampai pada gelora gelora yang tak akan pernah terpadamkan oleh terobosan terobosan pengetahuan.
“Bismillahirrohmanirrohim.” Bisik Zahrona sebelum memasuki segerombolan orang orang yang telah melingkar menanti siraman pengetahuan dari kitab ta’lim al muata’allim karya Syaih Zarnuji.
Zahrona mengucapkan salam kemudian masuk dan duduk di tempat yang telah disediakan untuknya. Dalam hati ia bersyukur betapa maha Al-rohman dan Al-rohimnya Allah mengizinkan ia menempati posisi Bu Asfiah dalam majlis ta’lim yang telah berpuluh puluh tahun diampunya. Belum lama ia mensyukuri anugerah terindah tersebut, dua sosok wanita seumuran Zahrona berjalan menunduk dengan menggunakan lututnya kemudian menyungguhkan hidangan dan segelas teh.
“Subhanallaaah.”
Zahrona tak lagi mampu menyembunyikan rasa harunya. Sebegitu spesialkah kehadirannya di majlis ini, hingga ia merasa perlakuan dan jamuan yang disungguhkan warga begitu berharga. Zahrona merasa semua jamuan ini terlalu berharga dan belum saatnya ia mendapatkan ini. Ia bukan bu nyai yang setiap orang berlomba lomba untuk menekat demi keberkahannya. Tapi Zahrona hanyalah seorang santri yang hanya kebetulan mendapatkan kepercayaan untuk menggantikan posisi Bu Asfiah dalam pembelajaran mengkaji kitab Ta’lim Al –Muta’alim.
Zahrona tersenyum kemudian mulai membuka percakapan dengan gaya khasnya. Semua yang hadir tertawa oleh sungguhan guyonan Zahrona. Begitu juga Zahrona, ia bersyukur banget karena perlahan semua yang hadir mulai terbiasa dengan gaya berpikir Zahrona dalam menyampaikan dakwahnya,
“Pripun siap dipunlanjutaken nopo dipuncekapi semanten pengaosanipun, mbak-mbake ugi ibuk-ibuke ingkang sampun podo ngantuk nggih hehheeee?”
Spontan para kaum ibuk-ibuk protes dengan apa yang baru saja dikatakan Zahrona. mereka tidak terima dibilang ngantuk, dan hal itu sungguh membuat Zahrona semangat untuk melestarikan budaya yang dulu sebelum Indonesia mengalami masa kegemilangan, hal ini hanya menjadi bagian dari angan angan belaka. Yang kemudian ketika Kartini menyadari akan kesenjangan yang terjadi antara kaum laki laki dan perempuan, dari situlah Kartini berani melangkah, memberontak demi emansipasi wanita.
“Hmm oke oke diralat. Pripun tasih semangat ibuk –ibuke  ting pojok?”
“Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaat.” Jawab ibuk ibuk yang berada di pojok serempak.
Zahrona mengangguk kemudian melanjutkan membaca kitab ta’lim al muata’allimnya.
“Faslun, utawi iki iku fasl siji. Fi mahiyatil ilmi iku kang nerangake kepentingane ilmu. Wal fiqhi, lan fiqh. Wa fadllihi, lan keutamaane.” Zahrona menghela nafas sejenak kemudian menjelaskan apa yang baru saja dibacanya.
“Ibuk ibuk, mbak mbake yang manis manis, bab selanjutnya yaitu membahas tentang pentingnya ilmu, fiqh dan keutamaannya..”
Qolaa Rasulullahi SAW ta’ala alaihi wassalam, tholabul ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimin wal muslimatin.
***
Sepasang mata itu kembali hadir menguntit langkah kaki yang terseok seok di balik senja yang mulai mengatup. Membiaskan cahayanya menyusuri titik pusat langkah itu akan terhenti. Perlahan, langkah itu mulai goyah dan ragu, kemudian tersekat diantara sepasang mata yang mampu menjadikan pemilik langkah itu terkagum dalam diam.
“Mmmm maaf, aku hanya ingin mengantarkanmu sampai pesantren.”
Zahrona tercengang diam tak mampu berkata apa apa. Mata itu tak mampu diingkarinya begitu meneduhkan. Begitu memukau hingga tanpa disadari Zahronapun mengangguk kemudian kembali melangkah dan membiarkan mata penguntit itu menyusuri lebih lama langkah langkah kakinya.
Jarak pesantren semakin dekat, Zahrona menghentikan langkahnya dan sejenak memandang mata itu.  Mata itu balas memandangnya kemudian mengangguk ke arah Zahrona dan pergi.
“Terimakasih atas kerelaan matamu menghantarkanku sampai disini. Di tempat dimana aku harus kembali.
Mata itu berbalik arah membelakangi Zahrona. Ia berharap disela sela langakahnya, meski hanya sekejab mata itu kembali dapat dinikmati keteduhannya. Zahrona tersenyum, cahaya senja itu benar benar ia temukan lewat sapuan mata penguntit itu.
“Zahrona aja, dia cakap kok!”
“Iya bener dijamin  kita akan mengukir sejarah di pesantren tercinta kita.” Teriak Gentong menambahi usulan Ci’neng.
“Secakap apapun Zahrona, dia masih tergolong santri baru yang pengalamannya tidak dapat disaingkan dengan santri senior komplek AB. Apa kita ingin mengulang masa lalu, pulang dengan membawa kekalahan?”
Zahrona bingung ada apa gerangan yang menjadikan namanya  begitu banyak dijadikan perdebatan diantara teman temannya dan pengurus pondok. Zahrona  malu, suara mereka bahkan terdengar sampai luar.
Tanpa pikir panjang Zahrona segera berlari menuju pondok yang sudah tak lagi jauh dari tempatya berada. Ia kaget, disitu tepat di depan pengumuman yang entah pengumuman apa Zahrona tidak tahu, ada jajaran pengurus dan teman temannya saling beradu argumen.
“Apa apaan sih ini? Suara sampean sampean itu lho terdengar mengusik warga kampung.  Seperti inikah santrinya Bu Asfiah?”
Bontot geram dengan apa yang baru saja dikatakan Zahrona. Ia merasa harga dirinya terinjak diprotes oleh santri yang masih bau kencur menempati pesantren ini.
“Seperti inikah jagoanmu Gentong? Bagaimana pondok kita akan mengukir prestasi, jika yang diajukan bahkan tidak memiliki sopan santun terhadap seniornya?”
“Huuch.”  Jawab Gentong dan Ci’neng bersamaan kemudian melengos pergi meninggalkan Bontot cs.
Zahrona menggelengkan kepala, bingung dengan apa yang sebanarnya terjadi. Begitupun teman teman yang lain. Mereka hanya dapat mengerutkan keningnya sembari kembali ke kamarnya masing masing.
Sesampainya di kamar, Zahrona ingin sekali memejamkan matanya sejenak melepas penat sembari menunggu sang mu’adzin mengumandangkan adzan. Namun berkali kali Zahrona mencoba untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi, hal itu terlalu sulit untuk dimusnahkan walau hanya  sekejab. Tragedi debat tersebut masih saja berlanjut di jajaran santri santri yang mendukung ataupun menolak Zahrona.
“Ngapain sih masih ngembahas masalah tadi? Bukankah itu bagian dari ghibah? Membicarakan orang lain dibelakangnya.”
“Ini bukan lagi masalah ghibah dan tidaknya ghibah,Zahrona. Tapi menyangkut pondok kita ke depannya. Pokoknya kalau mereka masih bersi keras tidak membiarkan kamu maju menaklukkan komplek AB, dijamin nanti malam nggak bakal ada suporternya.”
“MasyaAllah, kenapa harus sedangkal itu, mbak cara berfikir sampean? Toh kalaupun saya yang maju nanti malam, saya juga nggak bakalan siap. Kalau mereka lebih siap kenapa kita tidak mendukung perjuangan mereka?”
“Iya kalau menang kalau kalah?”
            “Mending kalah, aku jauh lebih siap tidak mendengar tawa yang menyeringai dari mereka. Jika menang, mereka akan bertambah besar kepalnya.” kata Arjom dongkol.
            Zahrona menggelengkan kepala kemudian bangkit untuk memenuhi panggilan mu’adzin. Kapalanya dirasakan pening, lelah mendengarkan keributan di pesantrennya. Ia berpikir mengapa hal ini bisa terjadi, mengapa antara santri dan pengurus tidak bersatu untuk kemenangan pondok ini. Mengapa mereka saling mencerca mencoba menjadi yang lebih kuat demi ego  masing masing. Dan mengapa harus dirinya yang terlibat dalam perdebatan ini?
            Perdebatan tersebut bagaikan kepulan asap yang menyebar tertiup angin hingga sampai ke pendengaran ibuk. Melihat polah santrinya, hati ibuk teriris kemudian mengambil langkah dengan mengumpulkan semua santri di aula  sebelum lomba debat dimulai.
            “Anak anakku, lomba tidak lain hanyalah ajang untuk menguji seberapa besar kemampuan kita dalam meraup pengetahuan yang tersebar di bumi.  Bukan sebagai ajang untuk memamerkan apa yang telah kita miliki. Ibuk bangga santri santri disini cakap dan pintar, tapi ibuk mohon jangan jadikan kecerdasan kalian sebagai alat untuk menjatuhkan yang lainnya. Bahkan sampai menimbulkan perselisihan dan fitnah, na’udzu billahi mindzalik.”
            Semua santri terdiam luruh dalam kekecewaan seorang pengasuh.  Kemudian dari kekecewaan itulah sinar cahaya yang mulai redup kembali menggelitik memenuhi pesantren Bu Asfiah. Mereka dapat kembali menebarkan cinta dan kedamaian. Bontot beserta jajarannya tersenyum kemudian menyapa dan menghampiri Zahrona untuk diajaknya gabung menyemarakkan  debat untuk membawa pulang kemenangan.
            “Maaf mbak jika hanya untuk kemenangan Zahrona tidak bisa, mbak. Masih ada hal yang jauh lebih penting untuk kita harapkan daripada sekedar meraih kemenangan.”
Bontot tersenyum dan perlahan mengangguk.
            “Iya,, kita masih memiliki otak untuk berpikir demi menemukan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat untuk kita, bangsa  dan agama kita.”
Kerlipan cahaya bintang semakin terang menghiasi panorama malam di bawah tapak bumi pesantren. Semuanya tergengggam mencapai titik dimana semuanya harus beradu bukan untuk mencari kemenangan semata, melainkan mencari demi menemukan sebuah kebebasan bagi kaum hawa untuk menemukan dunianya.
Dunia saat ketika semua masih berada dalam cengkeraman ego dan penindasan. Gerak perempuan tersekat dan hanya terbelenggu oleh 3M. macak, masak dan manak. Dari situlah Kartini tergerak untuk membebaskan langkah agar perempuan dapat mengekspresikan gaya dan karyanya untuk mewarnai dunia. Namun, mengapa dunia  masih terlalu sempit dipahami oleh santri. Karena itulah Zahrona ingin hadir sebagai Kartini baru di masa selanjutnya, dimana seorang perempuan sudah seharusnya dapat bebas mengepakkan sayapnya menjelajahi samudra kehidupan dari bilik manapun yang disukainya.
Karena itulah dalam majlis tersebut perwakilan komplek AB bertandang dengan segenap kemampuannya untuk tetap membela apa yang telah diyakininya. Bersikukuh dengan berdasarkan bahwasanya perempuan berada di dalam kekuasaan seorang laki laki.
“Jadi saya tegaskan lagi, tidak ada alasan bagi perempuan membantah suami untuk menginginkan apapun dari istrinya kecuali hal hal yang telah dikecualikan. Seperti seorang suami memerintah seorang istri untuk melakukan maksiat. Hal itu jelas Allah menganjurkan seorang istri untuk membantahnya.”
“Benar apa  yang dikatakan sahabat saya Fahrudin.  Merujuk pada pengertian wajib dan haram itu sendiri dijelaskan, selama tidak ada dalil atau larangan dari Allah untuk menjauhi sesuatu maka sesuatu tersebut berarti boleh. Sedangkan selama ditemukan dalil yang diperintahkan kepada hambanya maka semua itu berlaku sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan bukan dibantah dengan berbagai alasan. Dari pengertian tersebut, saya rasa kita akan peham bagaimana batas sesungguhnya seorang istri berada dibawah kekuasaan seorang suami, qodrat bagi seorang istri untuk melayani suami dengan menyiapkan keperluan sehari hari, mengurusi anak dan rumah tangganya, seperti pekerjaan membersihkan rumah dan memasak.”
“Oke terimakasih sahabat Ardian atas jawaban yang sangat memukau dan menakjubkan. Namun yang perlu digaris bawahi pernyataannya sampean, benarkah qodrat seorang istri harus mengurusi pekerjaan rumah tangga? Jika benar itu adanya, bagaimana bisa sampean menyebut seorang perempuan yang telah sampean nikahi suatu saat nanti sebagai seorang istri, tidakkah itu pantas disebut sebagai babu? Yang 24 jam non stop harus dapat mengurusi kebutuhan dan keperluannya sampean, jika benar itu adanya bukankah itu dinamakan penindasan?Apakah islam meperbolehkannya?  Jadi tolong ketika sampean ingin mempertahankan argumennya sampean jangan mengatakan pekerjaan rumah tangga adalah qodrat perempuan. Karena apa, karena qodrat perempuan yang selamanya tidak dapat diubah yaitu menyusui dan melahirkan. Jika hal ini dihubungkan dengan qoidah Al- adatu muhakkamah, saya rasa hal itu masih dapat diterima. Hal ini dikarenakan melihat kondisi persepsi masyarakat di Indonesia yang tidak dapat luput bahwasanya seorang istri berkewajiban mengurusi rumah tangga. Namun jika ditelaah lebih dalam salah satu contoh dari qoidah tersebut yaitu mengenahi masalah menstrusi seorang perempuan. Ketika seorang perempuan menstruasi maka dikembalikan sebagaimana kebiasaan menstruasinya. Contoh ketika kebiasaan seorang perempuan menstruasi adalah 8 hari, Namun entah karena apa, pada hari ke Sembilan darahnya masih juga keluar, hal ini dikembalikan pada dasar kebiasaannya dengan meneliti terlebih dahulu darah yang keluar. Apakah darah tersebut sesuai dengan kebiasaannya atau sesuai dengan ciri ciri darah mentruasi sebagaimana  yang dijelaskan dalam kitab Fathul Wahab dalam bab Haidl.”
Hening yang terdengar hanyalah desas desus santri yang terkuak emosinya menyaksikan debat yang semakin memanas. Kedua belah pihak sama sama kuat dalam mempertahankan jawaban. Mereka memiliki dasar yang kuat yang menjadikan penonton semakin penasaran menuai kesimpulan ending dari debat tersebut.
“Oke bagaimana saudara Ardian dan Fahrudin masih adakah tanggapan untuk menanggapi pernyataan saudari Zahrona? jika tidak berarti kita akan meminta tanggapan dari penonton untuk menanggapi pernyataan saudari Zahrona.”
Zahrona terdiam berharap tidak akan ada lagi tanggapan dari lawan.Ia sudah lelah dan menginginkan lomba debat ini segera usai. 
“Huuuucf….” Sejenak Zahrona merelaksasikan matanya agar tetap kelihatan segar. Dikedip kedipkan matanya ke arah sahabat sahabat sekamarnya yang masih saja bugar dan semangat menyaksikan lomba.
 Gentong hanya cengengesan melihat mata Zahrona yang agak membengkak menahan kantuk. Sekelebat mata Zahrona terkejut dengan mata yang tadi sore menghantarkannya sampai pondok. Ia segera mencari keseluruh penjuru santri sembari berharap mata itu kembali dapat ditatapnya malam ini. Namun sudah berulang kali mata Zahrona menyusuri ratusan mata santri, ia tidak menemukan mata itu berpendar di tahtanya.
“Huuuucff mungkin hanya ilusi.” Bisik Zahrona dalam hati.
Malam semakin larut , panitia memutuskan untuk mengahiri debat yang diselenggarakan kali ini.  Baik kelompok Zahrona ataupun kelompok Fahrudin mereka sama sama mendapatkan aplous yang begitu berharga dari penonton karena kehebatan mereka dalam mempertahankan dan memberikan argumennya masing masing.
“ Oke terimakasih untuk semuanya atas partisipasi dan persaingan yang  begitu memukau dari kedua kelompok. Terimakasih juga kepada segenap santri yang ikut serta meramaikan dan menyemangati acara debat kali ini. Kami akui dari segenap panitia benar benar terkejut dengan apa yang disungguhkan dari kelompok mbak Zahrona dan kang Fahrudin. Akan tetapi karena ini adalah sebuah pertandingin, maka mau tidak mau kami akan memilih mana yang terbaik diantara yang terbaik dalam mengemukakan argument. Tetapi, satu hal yang perlu digaris bawahi bahwasanya dari tema yang di bahas dalam perdebatan kali ini jujur dari panitia sendiri masih harus belajar banyak dan mengkaji serta menyelami dunia kitab agar dapat menemukan jawaban yang mendekati kebenaran.
Zainal menghela nafas sejenak menatap deretan santri yang tampak begitu semangat dan was was dengan siapa yang akan dipilih dewan juri menempati posisi bersejarah tahun ini. Bahkan sebagai orang yang dipercaya memimpin berjalannya debat malam ini, Zainal bingung dan lebih memilih diam  membungkam mengenahi siapa yang berhak pulang dengan membawa kemenangan.
“Hmm bingung ni mo ngomong apa lagi. Pokoknya untuk kedua kelompok, saya tidak berani komen apa apa, saya kagum dan mengakui kehebatan kalian. Sekarang disini secarik kertas ini entah sebagai suratan taqdir atau entahlah para dewan juri memutuskan pemenangnya adalah….”
Zainal sengaja menghentikan sejenak pembicaraannya agar lebih membuat penonton semakin penasaran dengan siapa yang dianggap dewan juri berhak pulang dengan membawa kemenangan.
“Yaaach dapatkah penonton menebak siapa pemenanganya?”
Jeritan penonton membahana memenuhi ruangan berukuran  20x15. Mereka begitu semangat mengemukakan pendapatnya tentang siapa yang berhak menyandang kemenangan lomba debat kali ini.
“Oke oke saya kira pilihan kalian tidak ada yang salah, Semua benar, karena keduanya sama sama cakap dan baik. Akan tetapi disini dewan juri memutuskan dengan berbagai pertimbangan bahwa pemenangnya adalah kelompok putra yaitu Fahrudin dan Ardian. Hal ini didasarkan pada tanggapan mbak Zahrona bahwa seandainya kasus urusan rumah tangga dihubungkan dengan qoidah Al Adatu Muhakkamah, maka masih bisa diterima, jika urusan tersebut lebih dominan harus dikerjakan oleh seorang perempuan(istri). Dari tanggapan tesebut kelompok mbak Zahrona dianggap menyetujui argument lawan meski dengan alasan yang berbeda.
Gema tawa kebahagian menyatu. Begitu juga yang dilakukan oleh Zahrona dan kelompoknya terhadap kelompok  Fahrudin. Meski Zahrona gagal mengukir sejarah, ia tak berkecil hati.
“Selamat yaaa…
Semoga kedepannya jauh lebih baik bagiku, bagimu dan bagi kita, semua santri Bu Asfiah.”
“Amiin.. barokillah ukhti.”
“Amin…”
Pendar bintang gemintang bergerumbul membentuk rasi rasi yang nyata. Zahrona tersenyum ketika dilihatnya rasi bintang itu seolah mengikutinya. Ke kanan ke kiri dilangkahkan kakinya secara bergantian. Zahrona semakin tergoda untuk membiarkan rasi rasi itu mengikuti gerak gerik kakinya yang lincah. Ia merasa bintang bintang itu tersenyum hingga mampu mengalihkan rasa kantuk yang dideritanya. Sembari mendongak ke  arah langit, Zahrona terus melangkah menyusuri jalanan kecil menuju kompleknya.
“Mbak..”
Dug
Mata itu kembali ditemukannya di secarik kanvas cahaya langit yang berpendar memenuhi malam. Zahrona terdiam menikmati degupan jantung yang berdetak begitu cepat.
“Berjalanlah seperti biasanya, jangan pernah berbalik dan berhenti, saat setelah sampean melihat tawa  mereka menyeringai menikmati adegan gilanya sampean.”
Hwahahhaa,,, huuuu,, kwkwkw
Benar yang dikatakan mata teduh itu. Sekarang saat ketika Zahrona telah menemukan jutaan tawa menggema terhipnotis oleh adegan gilanya, Zahrona  hanya dapat berjalan cepat menahan malu yang semakin menggerogoti kebahagian yang baru saja   ditemukannya lewat goresan bintang gemintang. 
                                                             ***
Tatapan mata itu
Telah membuatku merasakan, tuhan telah menitipkan cintanya untukku
Membiarkan aku terjamu
Oleh degupan nada
                                          Dan alunan yang entah mengapa
Aku merasakan semua begitu indah dan nyata
Terimakasih tuhan
Telaga mata itu membiarkanku tenggelam dalam dekapannya
“Huuuueeeck,,,huuuck,,,”
Zahrona segera membungkam mulutnya menuju kamar mandi. Semua teman teman sekamarnya heran, tidak biasanya Zahrona seperti ini.
“Kamu sakit, Na??” Tanya Gentong  kawatir melihat wajah teman sekamarnya tampak pucat.
“Nggak tahu mbak tiba tiba jadi pelanggan kamar mandi ni, ahir ahir ini perutku mual melulu.”
“Nih anak ya, sakit masiiiiiiiiiih saja bisa becanda. Heran!”
“Masuk angin tuuch,makanya jangan suka begadang.” Kata Nunu’ menambahi.
“Hmm…”
 Ya udah Zahrona pamit dulu ya, mbak assala…” Belum sepat meneruskan salamnya, Zahrona segera meluncur ke kamar mandi. Sebenarnya ia sangat takut, apa yang dirasakannya sekarang bukanlah masuk angin seperti apa yang dikira Nunu’. Melainkan akibat dosa terindah yang pernah dilakukan dengan pemilik mata teduh yang telah menyihir segenap rasional otaknya untuk berpikir.
“Mungkinkah?”
Zahrona menyesal mengapa hal seburuk itu bisa terjadi pada dirinya. Seseorang yang dipercaya bu nyai meski hanya sedikit untuk menduduki tahtanya. Tahta amanah untuk membagikan ilmunya lewat goresan pena tua yang tersimpan dalam kitab lusuh dari Abah seorang bunyai.
Zahrona benar benar menyesal dan menangis sejadi jadinya. Ia tidak tau apa yang harus dilakukan dan tak mampu membayangkan betapa kecewanya ibuk jika tahu santri yang diercayainya tidak lain hanyalah seorang …….
“Ya Allah mengapa dulu aku tak pernah menyadari bahwa tatapan mata teduh itu bukanlah titipan cinta darimu? Ya Allah aku merasakan tatapan itu, tak lain hanyalah hunusan pedang iblis yang mengaku percikan cintamu. Ya Allah mengapa tak kau musnahkan saja tatapan itu, saat setelah ia memberi tahuku untuk,Berjalanlah seperti biasanya, jangan pernah berbalik dan berhenti, saat setelah sampean melihat tawa  mereka menyeringai menikmati adegan gilanya sampean. Mengapa aku begitu menikmati ceritanya tentang bagaimana anak putra mentertawakan adegan gilaku saat merasa rasi bintang perlahan bergerak seolah mengikutiku?  Mengapa harus ada pertemuan selanjutnya ya Allah, hingga kini menjadikanku terpuruk oleh kebodohanku.”
“Na…
Kamu nggak papa thoo?.”
“Ng.. ng….nggak, mbak.”
Sekembalinya dari kamar mandi, semuanya terkejut melihat mata Zahrona tampak sembab.
“Mbak Nunu’ bisa gantiin Zahrona ngisi pengajian di majlis kampung sebelah?”
“Tapi, Na?”
“Udahlah Nunu’ terima aja kasian Zahrona tuu.” Protes Ci’neng terhadap sahabatnya Nunu’.
Nunu’ mengangguk. Zahrona  tersenyum diantara kegetiran yang melanda dan menghakimi kesalahan yang pernah diperbuatnya.
“Makasih ya, mbak Nun…” ucap Zahrona kemudian segera meluncur ke dapur ndalem. Sesampainya di dapur, deretan abdi ndalem terheran dengan keberadaan Zahrona yang masuk tanpa salam terlebih dahulu.
“Ehmm.. maaf bisa tolong buatin wedang jahe, kang?ada teman yang sakit.” Kata Zahrona berbohong.
“Saget mbak, saget. Sekedap  nggih?”
Zahrona mengangguk sembari menatap  jemari mata teduh itu yang sama sekali tak respek akan keberadaannya. Ia amati jemari itu dengan lincah menarikan pisaunya menghujam bawang merah yang perlahan membuat mata teduhnya kabur oleh  rasa perih yang ditimbulkannya.
Zahrona tak kuasa menahan air matanya untuk tidak menetes. Hatinya terlalu sakit hanya untuk sekedar membiarkan mata teduh itu tersayat perihnya tirisan bawang merah. Bukan karena itu, melainkan hati Zahrona terlalu perih dan jauh lebih sakit dari semua yang ada.
Gubrak
Zahrona membanting pintu kemudian begitu saja keluar meninggalkan jejak jejak keheranan oleh semua abdi ndalem. Sejenak mereka terdiam dan menghentikkan aktivitasnya. Mata teduh itu beranjak dengan alasan yang tak mampu ditafsirkan oleh kawan abdi ndalem lainnya. Otaknya berpikir untuk menggerakkkan kakinya ke suatu tempat dimana ia tahu dan yakin, bahwa pelangi yang ditemukan tidak hanya diwaktu hujan menunggunya.
“Apa yang bisa dilakukan mata teduhmu untuk menghentikan hujan tangis di matamu? Hingga mata ini dapat memandang jelas keindahan pelangi berpendar di tahtanya.”
“Tahta itu telah hancur dan tidak akan pernah membiarkan pelangi berpendar menghias mata teduhmu. Jika masih mungkin untuk bisa, semua itu amat sangat sulit.”
“Sesulit apa hingga mata teduh ini tidak lagi dapat menjangkaunya?”
“Sesulit mata teduhmu menemukan hujan di musim kemarau, di kegersangan yang perlahan akan membuat telaga mata teduhmu mengering. Dan aku merasakan semua itu sangat sakit.”
“Kenapa harus sakit?”
Zahrona menatap lekat mata teduh yang kini telah menghancurkan keberadaannya.
“Karena mata teduhmu telah menenggelamkan senja menghardik dan menghujam pelangimu. Menjadikan pelangimu rapuh dan tak kuasa untuk sejenak saja membiarkan keteduhan matamu menyapu seganap rasionalitasku untuk berpikir. Telaga dan keteduhanmu adalah candu iblis yang kini membuatku terpuruk.”
“Kenapa harus terpuruk?”
“Kenapa harus terpuruk?” Zahrona mengulangi apa yang baru saja dikatakan oleh  pemilik mata teduh itu.
“Karena biasan telagamu menjadikan pelangi berpikir tentang  siapa diriku sesungguhnya?”
“Jika sudah kau temukan tentang dirimu, kenapa harus menagis dan merasakan sakit? Bukankah itu yang dicari oleh setiap raga yang terhembus oleh nyawa?”
“Apakah aku harus bangga menemukan diriku tak lain hanyalah seorang pezina yang gelab mata karena keteduhan matamu. Tak sadarkah kau, benihmu di rahimku…”
Emosi Zahrona memuncak hingga ia tak sanggup lagi  melanjutkan perkataannya. Di depannya, mata teduh itu hanya dapat menatap pilu pelangi yang kini terpekur menahan sakit. Begitu juga dengan hatinya, meski berusaha tegar, perlahan mata teduh itu kabur oleh cairan bening yang menetes dari pelupuk matanya.
“Sekarang kami tahu, topeng santrimu tak lagi dapat menutupi jiwa iblis yang bersemayam erat di tubuhmu. Sungguh saya kecewa dengan kamu Zahrona.Tidakkah kamu tahu mana jalan yang halal yang harus kau tempuh jika tak lagi dapat memadamkan jerat nafsumu. Dan kau Musthofa, ibuk pasti menyesal memakan  makanan olahan tangan kotormu, tangan iblis.
Baik Zahrona ataupun Musthofa hanya dapat diam tak tahu harus berkata apa. Bahkan keduanya tak tahu sejak kapan usatadz Ma’sum dan santrinya berada disini.
“Najis!
Dicambuk  aja tadz.” Celetuk salah satu santri.
“Yaach benar! untung kita diutus ibuk bersih bersih area ini. Jika tidak, mungkin selamanya tempat ini akan jadi tempat mesum.” Celetuk santri lain.
Tak berapa lama semua santri ikut menghujam Zahrona dan Musthofa. Mereka menyeret keduanya dengan caci maki yang sangat memekakkan telinga. Zahrona berteriak kencang dan menangis berharap mendapat belasan kasihan dari mereka. Tapi nash, teriakan itu bagaikan angin lalu yang menghilang tanpa harus disesali. Bahkan mereka seolah mengginkan teriakan itu terhunus oleh tangan Izroil
Kini ratusan pasang mata santri Bu Asfiah Abdul Khozin merasa tertampar oleh tindakan terkutuk yang dilakukan Zahrona dan Musthofa. Mereka gelab mata tidak lagi peduli dengan teriakan Zahrona yang meronta merintih dan menyesal dengan apa yag telah dilakukan.
Puuuck
Zahrona menyeka cairan merah yang mengalir hangat dari pelipisnya.
            “Ini nih yang lebih pantas diterima perempuan jalang sepertimu.” Teriak sorang santri kemudian melemparkan dua telur tepat di wajah Zahrona.
            “Rasa sakit ini begitu nyata  ya Allah….” Rintih  Zahrona dalam hati. Ia tak peduli santri santri lain ikut melemparinya dengan apa saja yang ditemukan. Ia hanya dapat menatap nanar perempuan yang terpaku dan terdiam oleh kekecewaan yang baru saja diusungnya.
“Pergilah!
Tempat ini terlalu suci untuk kau singgahi.” Kata Gentong kemudian melemparkan tas ransel kehadapan sahabatnya dan pergi.
Zahrona meraih tas ransel sembari manatap nanar kepergian sahabatnya dan Bu Asfiah secara bergantian.
“Maafkan saya, buuk.” Ucap Zahrona kemudian melangkakahkan kakinya meninggalkan  pesantren yang telah begitu banyak menorehkan kenangan di hidupnya.
***
Berita tentang kehamilan Zahrona bagaikan asap yang diterpa  angin menyebar memenuhi penjuru alam. Menyelubung memenuhi kuping kuping tak berdosa menghimpit dan menyekat aliran darah untuk sejenak berpikir meredakan ego tak sadarnya. Zahrona tahu, apa yang telah dilakukannya hanya akan menjadikan kabar gulita bagi malam malam dimana Abah dan Uminya bersujud, menengadah mencoba mencari dan menemukan dimana mereka akan berdiri. Jika masih mungkin untuk tegap, tiang apa lagi yang dapat berkenan menopang keberadaannya selain Allah?
“Maafkan putrimu, Abah…”
“Haruskah dengan tangan Abahmu hukuman  cambuk itu diberlakukan?”
“Abah…” Teriak  Umi tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan suaminya.
“Meski Negara ini bukan Negara islam Umi, aku akan melakukannya terhadap seseorang yang terlahir dari nuthfahku.”
“Abaaah..”
Plakkk…
Satu sabetan mengenahi pantat Zahrona. Ia mengaduh menahan rasa perih.
”Lakukanlah, bah. Jika itu dapat membuat engkau ikhlas menerima semuanya.” Kata Zahrona dalam hati. Meski ia tahu selamanya  hal ini akan menjadi kenyataan terkeji yang menampar kehidupan orang tuanya.
Plaak..
“Hentikan!”
Plak
“Umi bilang hentikan!” Teriak Umi yang kedua kalinya.
“Umi… aku mohon biarkan Abah menghukumku, Umii.” Rintih Zahrona sembari mendekap kaki Umi.
“Pergi!
Atau akan kuperintahkan masa menyeretmu.”
“Maafkan Zahrona, Umi.”
“PERGIIIIIIIIII.” Teriak Umi sembari menghempaskan kakinya hingga Zahronapun terjatuh.
“Jika masih mancintai Umi, Umi mohon pergilah!” Kata Umi lirih kemudian masuk rumah tak peduli putrinya merintih berharap akan uluran tangan dan menanting tangannya untuk bangkit.
Tapi nash, uluran tangan itu hanya suatu kemustahilan yang tidak akan pernah terjadi sampai ia benar benar dapat bangkit dan mengembalikan semuanya. Mengembalikan percikan percikan yang telah retak tergores  muslihat shaitan yang karena kebutaannya telah dirasakan bagaikan titipan cinta tuhan.
“Mbok Inah…..”
“Pergilah neng mbok akan menemanimu.”
“Benarkah, mbok?”
Mbok Inah mengangguk membuat Zahrona semakin terisak oleh tangis kebahagiaan. Tangis haru akan uluran tangan tuhan yang dengan belas kasih cinta dan rahmatnya masih berkenan menciptakan pencakar kehidupan itu hadir menguatkan bangunan kehidupan yang telah hancur.
“Makasih, mbok.” Ucap Zahrona kemudian melangkah sejengkah demi sejengkah menyusuri perkampungan kumuh yang ini merupakan kali pertamanya  ia menemuinya disini, di tempat sebagaimana yang dicantumkan mbok Inah saat menyuruhnya pergi.
“Jika ini bagian dari fase aku selanjutnya, aku mohon ya Allah biarkan aku menapakkan jalanku disini atas dasar cintamu sesungguhnya. Cinta yang atas kuasamu  mampu menjadikan aku bertahan di masa dimana kutang kutang itu masih menjadi hal yang mengasikkan  untuk berpendar kokoh tak berbalutkan kain lain.”
Tiga hari kemudian mbok Inah benar benar menepati janjinya. Ia rela meninggalkan kemegahan orang tua Zahrona  demi menyusulnya di perkampungan kumuh.Beliau tersenyum saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah yang ternyata adalah tempat dimana mbok Inah dilahirkan. Berbeda dengan Zahrona, meski ia berusaha untuk tersenyum menghadapi keterasingan yang saat ini dijalaninya, keterasingan tersebut terlalu enggan hanya untuk sedikit berbagi masa bagi Zahrona untuk mengenalnya.
“Zahrona nggak kuat tinggal disini, mbok.”
Perlahan senyum mbok Inah memudar. Butiran Kristal dipelupuk matanya terjatuh. Zahrona masih saja meronta, meski ia tahu apa yang dilakukannya tidak akan mengubah apapun.
“Ngomong, neng,…
Siapa yang telah menanam nutfah di rahimmu?”
Zahrona semakin terisak dan membiarkan pertanyaan mbok Inah berlalu bagaikan petir yang menghilang tanpa harus disesali.
Melihat hal itu, mbok Inah tak putus asa. Beliau berusaha membujuk dengan segenap kesabarannya agar Zahrona berkenan memberitahukan siapa ayah dari janin yang kini mendekam erat di rahimnya. Zahrona masih saja terdiam membuat kesabaran mbok Inah perlahan memudar menjadi emosi yang tidak dapat terkontrol lagi. Mbok Inah marah dan bahkan mengancam Zahrona untuk membiarkannya hidup sendiri di lingkungan yang masih begitu asing di kehidupanya.
Paginya setelah mbok Inah berhasil menggertak Zahrona, beliau meminta Zahrona untuk makan yang banyak agar ia  kuat selama di perjalanan. Ia tak tahu kemana mbok Inah akan membawanya, yang ia tahu kakinya nyeri dengan luka yang semakin melebar. Melihat ketidakberdayaan Zahrona, mbok Inah menghentikan sejenak langkahnya dan memijat seseorang yang telah sejak kecil diasuhnya.
“Sabar nggih, neng. Bengkak neng ini hanyalah gawan bayi.”
Zahrona mengangguk sembari menahan rasa perih di kakinya yang tak jua reda.
“Sampun mendingan, neng sakitnya?”
Untuk kedua kalinya Zahrona mengangguk. Ia tak tega untuk mengatakan tidak.  Keduanyapun kembali melangkah dan seperempat kemudian mereka dapat menarik nafas panjang sembari menikmati sepoinya jamuan alam dengan bersandarkan kursi reot yang ditumpanginya.
Perlahan  mata ini mengatup
Membiarkan selaksa alam asing membawanya ke peraduan antah berantah
Tak kenal dan tak mengerti
Namun….
Ia percaya kaki tua itu akan melangkah mencari secercah cahaya yang masih menguning di ujung senja yang telah rapuh
           
“ Mbok Inah sebenarnya kita mau kemana sih?”
Belum sempat mbok Inah menjawab, suara ricuh penumpang mengalihkan keduanya. Semuanya menggerutu kesal oleh keputusan kondektur yang tidak dapat dipercaya. Akibatnya si kondektur hanya dapat  termangu oleh amukan  penumpang.
“Hooo kalo tahu kaya gini jadinya, gak bakalan ngikut bis ini aku. Udah reot menipu lagi. Huuuuch…” Omel perempuan paruh baya kepada si kondektur.

“Ya udah kita turun yuk, mbok…”
Mbok Inah mengangguk kemudian menyisingkan tapehnya agar dapat lebih mudah menuruni tangga bis. Namun tiba tiba…
Stttt,,, braaak…
Gelap
Langkah kaki tua itu terhenti
Tersekat..
Oleh denyut nadi yang semakin melemah
Dan perlahan…
***
“Temui Musthofa!”
Entah untuk yang keberapa kalinya pesan itu begitu mengoyak alam sadar Zahrona.Ia berpikir, mungkinkah karena alasan itu mbok Inah  mengajaknya pergi ke suatu tempat yang ia sendiri tak mengetahuinya. Sampai saat ketika jawaban itu belum sempat tergenggam, lisan tua itu telah lebih dulu terbungkam.
“Benarkah karena itu, mbok?...
Jika ya,,,
Maaf! tak ada alasan lagi bagiku tuk menemuinya.”
“Bu Zahrona kenapa menangis?” Tanya Agus dengan lugunya.
“Nggak nak, ibuk hanya bangga di saat ibuk benar benar terjatuh kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam kehidupan ibuk, Allah berkenan menghadirkan kalian berada disini. Makasih ya, sayaang?”
 Agus dan Rohmat mengangguk kemudian mendekat dan memeluk erat Zahrona.
“Sekali lagi makasih ya, sayang. Karena keberadaan kalian menjadikan ibuk menemukan alasan mengapa ibuk harus bertahan tanpa harus terpuruk akan kepergian mbok Inah dan bayiku.”
“Terimakasih juga ya, buuk. Meski terlalu muda untuk dipanggil ibuk, anda telah berkenan membiarkan kami disini menikmati masa kami. Karenamu, kami tidak lagi hidup berkawankan jalanan.”
Dan…
Tak hanya terkadang
Kamipun bangga
Berpelukkan jalanan dan berkawankanmu,,,
                                                                    Kau dan aku
Disini…
***
            Sepi
            Semuanya terisak dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sungguhan itu begitu memukau, menguak emosi dan menenggelamkan pandangan untuk tertunduk, merasakan demi mengetahui sebuah jawaban menjadi jawaban….
Dari tangan siapakah pesantren ini terlahir??
                                                                      THE END                                                                     

 SEPENGGAL SURGA YANG TERLUKA
Oleh: Sulistyoningsih
Di sini
Di puncak peraduanku
Ku sematkan cinta tuhan untukmu ,anakku
Cinta yang tak pernah luruh meniupkan kehidupan
Cinta yang tak pernah mengering mengalirkan riak riak berdentuman
Wahai engkau pemangku zaman,,,,
Ingatlah sayang
Jangan biarkan masa mencabikmu, menggenggammu dan memutus urat lehermu
Wa idz akhodza  robbuka min bani adama min dhuhurihim dzurriyatahum wa asyhadahum ‘ala anfusihim,alastu birobbikum,qolu bala syahidna an taqulu yaumal qiyamati inna kunna ‘an hadza gofilin
Masa masih enggan memberikan jawaban pasti tentang apa yang akan terjadi. Hening, semua hanya dapat mengatup sembari berbisik lirih mengalunkan bait bait suci kalam illahi. Berharap diantara denting denting harapan pasi, masih ada sepercik kehangatan yang dapat merangkul dan mendekap wajah wajah yang mulai menampakkan kepudaran.
Delapan bulan
Wajah wajah itu tak pernah usang menanti waktu  menjawab semuanya. Menjawab sebuah masa yang mulai mengering seolah kehilangan sosok yang telah menjadikan kanvas dan oase masa berarti. Namun, sebuah titik oase masih sanggup bertahan. Mereka  tak akan membiarkan masa menggulung dan melenyapkan denyut denyut yang masih menyembulkan kehidupan. Mereka yakin diantara hembusan nafas yang tersengal, akan ada keajaiban kata yang mampu mengubah semuanya. Mengubah dan  menjadikan zaman terdekap erat di genggaman penguasa cilik yang terlahir dari tangan penyihir buta.
Yaaach penyihir buta. Semua berawal dari sebuah masa yang tak mampu dikendalikan. Gejolak yang dirasakannya begitu indah telah menyesatkan dan menyeret ia ke dalam jurang yang kemudian semua harus berahir di pembantaian. Cacian, murka, amarah dan entah apa lagi.Terlalu banyak hingga masapun tak mampu mendeteksi dan mendefinisikannya. Namun, pembantaian dan caci  maki itu tak membuatnya lekas mati. Ia bangkit dan  mencoba menghapus yang telah basi, karena ia yakin tuhan masih memberikan percikan cintanya dengan aksi dekomposer yang kemudian menjadikannya sebuah  zat-zat anorganik yang terserap oleh tumbuhan. Itulah dia yang terlahir kembali dari sebuah masa kegelapan hingga ia mampu berdiri dan melahirkan generasi generasi baru.
Generasi generasi itulah yang kini senantiasa manjaga dan tak pernah letih menyenandungkan bisikan rohani pada seseorang yang kini hanya mampu terbaring lemah sembari menanti Allah menjatuhkan taqdir kehidupan selanjutnya.
            “Gus gus…ibuk menangis.”
            “Heeh…?”
Agus menghentikan sejenak  aktivitas membaca al qur’annya. Ia pandangi mata yang telah beberapa hari ini tak lagi dapat membuka atau sejenak saja berkedib membiarkan cahaya masuk menerobos retina. Benar, telaga teduh itu terpejam, namun keterpejaman  itu meneyiratkan sesuatu yang tidak semua orang dapat menginterpretasi pesan apa yang berusaha disampaikannya.
“Buuuk.” Sapa Rohmat.
Mata tua itu masih saja terpejam  tanpa sejenakpun menghentikan air matanya untuk tak terjatuh. Rohmat kebingungan tak tau apa yang terjadi  pada  seseorang yang telah dianggapnya sebagai ibu kandungnya sendiri.Agus yang semula berdiam diri ikut mendekat dan menyapa perempuan hebat di hadapannya.
“Bu Zahrona, ini Agus buuk.”
                Aliran air mata itu semakin deras mengalir membasahi pipi yang mulai mengkriput.Pipi yang dulu selalu menampakkan rona kemerahannya. Yang baginya rona itu tak sekedar rona yang menjadikan siapapun melihatnya terkagum akan pesona yang dipancarkannya. Namun, rona itu begitu alami terpancar dari kesungguhan hati yang dipenuhi akan cinta penghambaan illahi.
            “Agus ambilin minum ya, buuk.”
Diam. Agus dan Rohmat saling berpandangan mencoba saling bertukar pikiran apa yang sebenarnya dirasakan Bu Zahrona. Keduanya menggeleng tak tau.
            “Ibuuuk,Rohmat panggilin dokter dulu yaa?”
Tiba tiba tangan itu tergerak pelan. Agus dan Rohmat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
            Agus terpana dan segera menggenggam  erat tangan Bu Zahrona.Begitu juga Rohmat, ia segera mengurungkan niatnya untuk menemui dokter.Ia tau saat ini Bu Zahrona sangat menginginkan keduanya hadir menemani mata tuanya terbuka dan kembali menyikap warna yang entah telah berapa sekian waktu tak dirasakannya.
            Dingin itu semakin menjalar, merambat dan menghentikan aliran darah, menyekat pernafasan dan membungkam lisan tua itu untuk berkata. Namun, meski hanya dengan terkatup perlahan suara lirih itu terdengar.Mereka hanya dapat menduga mungkinkah ini saat semua akan terambil dan terlepas dari titik dimana ruh bersemayam,yang kemudian raga itu terbujur kaku dan hanya akan meninggalkan jejak jejak kenangan,,,,,,,,,
***
            Masa telah menjawab semuanya, bahwa perlahan titik ujung cengkeraman Izroil tak akan pernah sedetik saja meleset dari sasaran mautnya. Ruh itu terlepas meningalkan kumpulan organ yang terbalut daging. Yang semua mengakui bahwa awal dari keberadaan itu tak lain hanyalah dari setetes nuthfah yang tersimpan kokoh di ruang dimana tuhan telah menjamin telapaknya sebagai keridhohan surganya.
            Kini tak hanya dua sosok pemangku zaman yang masih berdiri tegap dan kemudian melangkah menjejaki dunia tanpa alas seorang penyihir buta. Semua mengakui tak hanya pada pandangan yang terlihat oleh kasat mata. Alam  yang tak dapat dijangkau oleh tangan tangan yang terlahir dari benih Adam, dan semuanya masih enggan terbangun dari kegelapan karena masa yang mengambil penyihir buta dirasakannya terlalu cepat.
            Yaach,,,,
Semua terasa begitu cepat mengambil alih masa untuk terlepas dari bingkainya. Hingga saat mata tua itu benar benar harus terpejam, dua pemangku zaman masih merasa risalah yang telah sampai padanya belum sepenuhnya sempurna. Namun entahlah, kini semuanya benar benar gelap, dan kegelapan itu yang memaksa pemangku zaman  harus  tergerak melangkah memerangi sebuah masa.
“Gimana sudah siap?” Tanya seorang mudin.
Rohmat dan Agus hanya mampu menganggukkan kepala dan berusaha setegar mungkin untuk tidak melepas kepergian orang yang dicintainya dengan derai air mata. Keduanya yakin Bu Zahrona  akan tersenyum berkawankan kebaikan tuhan. Meski ada satu masa gelap yang tak akan pernah terlupakan sejarah dimana seseorang yang kini di bopong menuju peraduan terakhir, adalah seseorang yang pernah mengingkari kesucian kalam tuhan.
            “Selamat tinggal, Bu Zahrona. Kami sangat mencintaimu.” Bisik Agus yang diangguki oleh Rohmat.
            Keduanyapun pulang sembari menghimpit senja yang mulai menguning. Melangkah tegap membawa janji yang terikror di atas kemilau nisan karena terpaan mentari. Padang ilalang kemarau menjadi saksi bisu bahwa suatu saat nanti, cinta itu tumbuh kembali membawa masa akan tertunduk di penghambaan tuhannya. Mengabdi dan bersujud menikmati nada nada kenikmatan tuhan yang tak terhitung oleh setiap jengkal kaki melangkah dan berkarya.
Tak hanya itu, semuanyapun tak akan pernah ada yang mampu untuk menghitung seberapa banyak dan luas karunia illahi yang tersebar secara horizontal dan vertikal kehidupan. Semua anugerah itu terlalu indah, terlalu berharga untuk sekedar diingkari dengan kebahagiaan semu. Namun, dalam kalamnya Allah menyebarkan barbagai cara utuk menguji kemampuan hambanya. Hal itu dilakukan Allah bukan karena kekuasaanya untuk menghakimi seseorang melalui garis taqdirnya. Melainkan sebagai kekuasan demokrasi tuhan yang memberikan jalan pilihan bagi hambanya untuk memilih apa apa yang dikehendaki.
 Tak hanya terlepas begitu saja, Ar- Rahman dan Ar-Rahim Allah tersebar memenuhi keidahan bumi yang tersampaikan lewat kalam tuhan dan  rasulnya. Dari situlah manusia akan dimintai pertanggung jawaban, sudahkan apa yang dilakukan sesuai deangan rambu rabu illahi.
Jika iya tentulah manusia akan menuai keindahan abadi di sisinya, bergelimang kenikmatan yang selamanya tak akan pernah terlepas. Namun  jika hal itu berlaku sebaliknya, Allah maha pengampun dan menerima hambanya untuk melakukan perubahan.Sebagaimana yang pernah dilakukan Bu Zahrona, seseorang yang atas kuasa illahi terlahir untuk merasakan keindahan dunia dari setetes nuthfah yang dipenuhi akan cahaya keimanan illahi. Terbungkus oleh dinding rahim seorang ibu yang sangat menikmati denyutan hidup berpayungkan cinta tuhan.
***
            Tujuh hari kepergian Bu Zahrona langit masih saja kelabu. Mendung masih saja bergumul menjanjikan tetesan hujan terjatuh menyatukan kembali tanah tanah yang telah merengggang akan kemarau yang melebihi separuh musim. Rohmat dan Agus duduk terpaku sembari menanti bidadari kecil berlarian, berkejar kejaran dengan menenteng qiro’ah di surau kecil peninggalan Bu Zahrona.
            “Ada yang hilang, Guus.” Keluh Rohmat.
            “Iyaaa, sekarang aku merasakan surau ini kosong. Tak ada lagi tawa mencumbu kita dikala malam menjelang. Guyonan itu, serasa tak akan pernah tergantikan.”
            Agus mengangguk dan kemudian mengalihkan peredaran arah matanya menyapu kepekatan sore yang masih saja berselimut kabut. Sembari meneguk kopi dengan ditemani sebatang rokok, Agus  menghembuskan perlahan kepulan asap dari mulutnya, berharap duka itu menghilang bersamaan asap putih yang perlahan pudar dan sirna oleh angin sore peralihan musim.
            “Seandainya semudah kepulan asap ini kesedihan kita tanpa Bu Zahrona, tentulah hal itu akan memudahkan kita untuk bangkit.”
Rohmat menggeleng kemudian menatap erat sahabatnya.
            “Kenangan Bu Zahrona di surau ini terlalu indah dan tak sepadan dengan kepulan asapmu Guus. Bu Zahrona mewariskan kepada kita dan semua yang belajar disini dengan sesuatu yang dapat menjadikan seeorang melakukan perubahan. Perubahan dalam menguasai barisan huruf huruf hijaiyah menjadi suatu rentetan kata yang menenggelamkan pemiliknya ke kedamaian seorang hamba pada tuhannya.
            “Benar, Rohmat. Peninggalan Bu Zahrona tak seperti kepulan asap dari hisapan rokokku. Kepulan asap ini hanya akan menjadikan detak jantung semakin melemah oleh nikotin yang menyebar menjadikan pembuluh darah kita tersumbat dan mengalami pembengkakan. Yang ketika saatnya tiba nyawa seseorang akan begitu saja  terhunus oleh cengkeraman pedang Izroil.” Geram Agus sembari mematikan rokok yang hampir habis dihisapnya.
Rohmat mengangguk. Sejenak kemudian keduanya bangkit menoreh senyum di kerlingan duka yang belum sepenuhnya musnah. Titik titik air pun menetes perlahan membasahi pelataran bumi yang telah amat sangat mengering kehausan, menjadikan bocah bocah kecil surau yang masih belum memiliki nama itu berlarian menangkap tetesan air yang terjatuh. Mereka enggan untuk sejenak saja bersinggah mengayunkan kakinya ke surau tempat dimana kenangan penyihir buta bersimpuh erat melekat di dinding dinding putihnya.
Rohmat dan Agus tersenyum menyapa bidadari kecil  untuk menghidupkan kembali surau ini.Mereka mengangguk dan memperlihatkan geraham giginya. Perlahan satu per satu diantara mereka mulai terlatih untuk mencintai kalam suci tuhan dengan membaca dan menghafalnya.
“Sabbihis ma robbikal a’la. Alladzi kholaqo fasawwa. Walladzi qoddaro fahada…”
Demi langit yang datang pada malam hari, dan tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? Bintang yang bersinar tajam,….
***
Dua puluh tiga tahun kemudian
Derai cinta tu mengalir dari  kerlipan mata ibnu sabil pesantren zahroniah. Semuanya terpaku oleh jamuan seni film yang terbingkai oleh setapak genggam kehidupan Bu Zahrona. Agus dan Rohmat tersenyum menyembulkan gelagat keriput keriput diwajahnya yang semakin tak bisa untuk ditutupiya. Meski belum sempurna, keduanya bangga telah mampu mengenalkan siapa pemilik pondok yang kini telah meraup ribuan pasang mata santri yang siap menebar ruh islam dalam setiap kehidupannya.
            1986…
            Terseok seok kaki itu melangkah mengitari para warga yang dengan keindahan senyumnya melepas gadis kecil yang terlahir dari seorang ibu yang sangat disegani karena keilmuan agamanya. Gadis itu tersenyum dengan tak berhentinya mengibaskan kerudungya oleh terpaan angin sore.
            “Ngangsu kaweruh kanthi sae nggih neng, mbok Inah among saget dedungo mugi neng Zahrona dipun rekso gusti Allah, manah lan kesehatanipun.”
            Zahrona mengangguk dan tersenyum dengan seseorang yang telah mengabdikan masa tuanya untuk merawat Zahrona. Karena itulah bukan suatu yang aneh jika hubungan diantara keduanya sangatlah dekat. Hingga terkadang kedekatan itu menimbulkan kecemburuan Umi Lutfia sebagai orang yang telah melahirkan Zahrona. Namun apa mau dikata, cinta antara seorang abdi ndalem telah terbingkai di hati putri tercintanya sejak masih bayi. Meski terkadang Umi Lutfia menyesal karena obsesi untuk menyelesaikan pendidikannya di Al-Azar Cairo menjadikan jarak baginya untuk mengekspresikan cintanya pada putrinya tersekat.
            Zahrona kembali berdiri disamping mbok Inah dan Abahnya yang juga bersebelahan dengan Umi Lutfia. Tak lama kemudian Abahnya mengambil nafas sejenak dan meminta izin warga untuk turut mendoakan putrinya yang akan hijrah berlayar mengarungi ilmu tuhan.Umi Lutfia tersenyum kemudian menghampiri putrinya yang telah  menginjak masa remaja.
            “Gimana udah siap semuanya, sayang?”
            “Sampun Umi.”  Jawab Zahrona kemudian melangkah menuju mobil yang diikuti Abah dan Uminya. Namun, tiba tiba Zahrona menghentikan langkahnya perlahan.
            “Ada apa, sayang?” Tanya Umi Lutfia.
            “Umi….
            Mbok Inah boleh ikut yaa?” Umi Lutfia tercengang kemudian memalingkan wajahnya kearah suaminya. Abah Zahrona tersenyum kemudian menggeleng.
            “Gini sayang,..
 kalau mbok Inah ikut, nanti yang manyediakan makan malam untuk santri siapa?”
            “Kan ada mbok Sari, Umi. Ayolah Umi, mbok Inah boleh ikut yaa..?”
Ahirnya Zahronapun teriak bangga karena Abah dan Uminya mengizinkan  mbok Inah ikut bersamanya mengantarkan Zahrona ke pondok dimana ia akan belajar mendalami khazanah ilmu yang tersimpan dalam kitab kuning.
            Umi Lutfiah tersenyum. Ahirnya setelah hampir tujuh jam mendekam di mobil, beliau dapat bernafas lega menikmati panorama alam khas Yogya. Dari kejauhan tampak seorang wanita cantik berlari mendekatinya.
“Assalamualaikum, mbak  Lutfiah. Tambah ayu ki suwe ra keton hehehe…
pripun kabare?”
            “Alhamdulillah sae, keluarga ugi sae.”
            “Alhamdulillah….                                                                                                                     
 Monggo pinarak rumiyen. Ampun ting mriki panas hehhe...”
Umi Lutfia ,Abah, Zahrona dan mbok Inah tersenyum kemudian mengikuti langkah sahabat Umi Lutfia yang juga menjabat sebagai pengasuh pesantren yang akan menjadi tempat belajar Zahrona. Umi Lutfia sengaja menganjurkan Zahrona belajar di pesantren sahabatnya, karena beliau tahu betul kafasihan alqur’an sahabat di Mesirnya dulu dan kecerdasannya dalam mengkaji kitab kitab kuning. Selain itu, pesantren ini dipilih karena keberadaannya tepat untuk mewadahi Zahrona dalam mengembangkan kecerdasan otaknya.
Merekapun berbincang bincang sambil menkmati gudeg sebagai makanan khas Yogya. Zahrona tak berhentinya tersenyum dengan keakraban yang terjalin diantara keluarganya dengan bu nyai yang baru saja diketahuinya. Bu Asfiah, benar yang diceritakan Uminya, sahabat di Mesirnya dulu sangat cantik dan baik. Hal itu terlihat dari gayanya berbicara yang sopan dan riang. Beliau juga sering menyelipkan guyonan guyonan yang mampu mencairkan kebekuan. Tak ayal jika membayangkan saja mengaji dan menghafal di hadapan beliau, Zahrona seolah menemukan semangat baru yang menambah keinginannya untuk segera menapaki jalan sebagai santri. Sebagaimana yang dilakukan santri santri lain di pesantren yang di naungi Abah dan Uminya.
“Gimana, neng Zahronanya udah siap di marah marahin ibu disini? Hehhe kalau nakal nggak mau ngaji nanti tak suruh kang kange nyeret.”
“Kalau yang nyeret kang kange mending tiap hari Zahrona nggak ngaji, bu hehhe.” Balas Zahrona.
Spontan semuanya tertawa dengan kekonyolan yang diciptakan Zahrona. Umi Lutfia tersenyum dengan guyonan yang baru saja keluar dari bibir putrinya. Begitu juga seseorang yang  tanpa sengaja mendengarkan guyonan yang baru saja terjadi antara pengasuh pesantren dan santri baru, Zahrona.
“Nggih cekap semanten, bu. Kulo lan Umi Lutfia nitip Zahrona dipun bimbing lan di arahaken kanthi sae. Sak derengepun keluarga ngaturaken  maturnuwun sanget, among saget dungo mugi berkah anggen ngeluberake ilmu amin.”
“Nggih nggih amin, pak. Restune mawon saget ngemban amanah kanthi sae.” Jawab Bu Asfiah.
***
Teng teng teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng
02.00
Fajar kadzib  mulai menampakkan kehadirannya. Semua santri terbangun oleh gelegar loteng yang sengaja dibunyikan. Hal ini bertujuan unuk membentuk mental santri agar senantiasa membudayakan malam sebagai kendaraan untuk menemui tuhannya. Hal ini tidak dirasakan Zahrona berat, karena ini merupakan hal yang biasa dilakukannya ketika masih tinggal bersama Abah dan Uminya.
“Zahrona wes tangi opo durung?” Tanya Bu Asfiah yang sengaja langsung berkunjung ke pondok untuk mengecek santrinya yang masih pulas dengan tidurnya.
“Sampun buk.” Jawab santri lainnya.
“Yo wees…
Mengko nek wes podo kumpul mbak mbak e sik wes senior kon ngimami, ibuk lagi gak solat.”
“Nggih, buuk.”
Seperempat berlalu, semua santriwati kecuali yang berhalangan telah bekumpul di musholla. Tak hanya santri putri, hal yang sama dilakukan juga oleh santri putra yang dibimbing langsung oleh Bapak, suaminya Bu Asfiah.

            “Sttt stttt….gus Endart gus Endart,,,,,,”teriak salah seorang santri yang kemudian tanpa dikomando semuanya beraksi mejulurkan kepalanya ke pintu yang berhadapan langsung dengan pintu ndalem. Mata mereka berbinar menyaksikan seseorang berjalan menembus kegelapan untuk menggantikan Bapak mengimami santri putra tahajudan.
            “Subhanallaaaaah, itu yang namanya gus Endar? Dulu ibuk waktu bikin, doanya apa yaa?” Celetuk Arjom santri asal Jombang.
            “Sttt…saru!” Protes Gentong salah seorang santri asal Klaten ini memiliki julukan khas dari santri lain karena porsi tubuhnya yang gedhe.
            “Hweech,,,” Gerutu Arjom kesal.
            “Tapi emang iya kok Arjom yaaa,,,,seganteng itu makanannya apa ya? Heran!” Kata Nunuk menambahi.
            Mereka larut dalam kekaguman. Hingga tak sadar sepasang mata tiba tiba melotot tepat di depan pintu. Tak heran jika semua langsung tertunduk dan mengundurkan langkah kakinya kembali ke sajadah masing masing.
            Zahrona dan santri lainnya telah larut menikmati sepoi angin Yogya dari celah celah tirai yang tersingkap. Bergelayut dalam pegabdian suci illahi. Menengadah agar di pesantren ini mereka menemukan apa yang mereka cari.
            Zahrona masih tertunduk  dalam sujudnya. Ternyata pertama kali hidup tanpa Abah, Umi dan mbok Inah disampingnya membuatnya merasakan ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya. Tapi ia sadar hal ini tak lain hanyalah sekedar emosi sesaat.
            “ Zahrona, kenapa seorang perempuan harus cerdas dan berpengetahuan tinggi?” Tanya Abah sehari sebelum kepergiannya untuk nyantri.
            “Kata Umi, kesuksesan seorang suami tak bisa lepas dari peran perempuan cerdas di belakangnya. Makanya baah kalau besok Zahrona udah gede, Zahrona ingin menjadi perempuan cerdas yang mendukung kesuksesan suami Zahrona. Seperti Abah dan Umi dan juga sebagaimana yang dilakukan Aisyah terhadap Rasulullah.”
Abah mengangguk dan memeluk putri semata wayangnya.
            “Iya, sayaaang…
            Yang terpenting untuk saat ini adalah belajar. Pernahkah Zahrona tahu tentang kisah Sulaiman?”
Zahrona mengangguk. Kemudian menceritakan tentang betapa besarnya kekuatan ilmu. Hingga ketika Allah meminta Nabi Sulaiman untuk memilih satu diantara empat pilihan yaitu harta, jabatan, wanita yang cantik dan ilmu. Maka tak ayal jika Sulaiman lebih memilih ilmu. Karena dengan ilmu pintu segala kesuksesan akan terbuka.
             Abah manggut manggut dengan kisah Sulaiman yang diceritakan putrinya. Kembali Abah memeluk dan mencium kening Zahrona. Zahrona tersenyum bahagia. Ia menyadari moment seperti ini jarang sekali singgah di kehidupannya. Karena kesibukan Abahnya harus mengurusi pesantren.
            Dari balik pintu ahirnya wanita itu melangkahkan kakinya mendekat dan kemudian membelai kerudung Zahrona.
“Kamu benar, nak
            Allah telah menganugerahkan kenikmatan di seluruh permukaan bumi dan langit. Tapi hanya dengan ilmulah kenikmatan tuhan itu akan mudah digapai dan dimanfaatkan untuk ibadah kepadanya.”
Zahrona berbalik arah dan memeluk perempuan yang atas izin Allah telah menjadikannya merasakan kekuatan dinding rahimnya.
            “Allahuakbar.” Ucap Zahrona lirih kemudian segera menguasai hatinya untuk tidak larut dalam bayangan Abah dan Uminya.
            attahiatu al ssolawatu attoyyibatulillah. Assalamu’alaika ayyuhannabiyyu warohmatullahi wabarokatuh.Assalamu’alaina wa’ala ibadillahissolihiiin………..
***
Tak terasa dunia pesantren telah melarutkan Zahrona untuk tenggelam menikmati belaian lembut cakrawala pengetahuan yang tersimpan erat di balik balik  huruf tak berharokat. Ia pandangi jajaran kata yang tersusun indah oleh pakar pakar  terdahulu. Semua begitu mengagumkan. Bahkan  untuk membayangkannyapun Zahrona tak mampu. Bagaimana  jerih payah tangan para ulama’ menorehkan dunia berada di balik kertas kertas yang semula kosong tak bermakna. Bagaimana para ulama’ menahan  kepekatan matanya untuk menjejali dan membagi apa yang diketahuinya lewat bahasa tulisan yang kemudian sampai kepada kita. Bagaimana kinerja keras ulama’ mencurahkan otaknya untuk berkarya dan bagaimana cara ulama’ melewati padang pasir, gurun, lautan dan entahlah demi sebuah jawaban.
            “Sttt.. stttt… nek kene ae, Ci’neng.”
Zahrona mengalihkan pandangannya kearah dimana suara tersebut berasal.
            “Balkon, mbak?” Balas Ci’neng tak percaya.
Zahrona tersenyum dengan aksi dua temannya. Ia berpikir kekonyolan ini telah merambat dan menjalar sehingga menyekat pola pikir mereka untuk bangkit menjelajahi samudra ilmu. Namun, Zahrona menyadari ini adalah bagian dari sebuah misteri yang harus ia pahami. Mengapa hal itu bisa terjadi. Bukankah sejak sebelum melangkahkan kaki disini mereka telah paham dengan apa yang akan digelutinya di pesantren.
            “Ci’neng buruan.” Teriak Gentong.
            “Iyah iyaaah bentar. Balas Ci’neng yang kemudian dengan gesit melangkah keluar melewati jendela. Sesampainya di balkon, Ci’neng memberi kode Zahrona untuk menutup tirai jendela agar ketika keamanan oprasi nyawa mereka terselamatkan.
“Kenapa nggak di jemuran aja, mbak?” Bisik Zahrona.
            “Udah nggak aman. Keamanan si Bontot udah mulai curiga. Ya udah buruan tutupin ya tirainya.”
            Zahrona mengangguk kemudian melakukan apa yang di inginkan teman sekamarnya. Zahrona tahu mereka melakukan ini bukan tanpa alasan. Mereka hanya menghindari amukan pak Kurdi yang ketika mengajar tak pernah sekalipun memperliihatkan senyumnya. Zahronapun heran terbuat dari apakah guru tauhidnya itu. Tak pernahkah beliau berpikir cara yang ditempuhnya hanya akan menjadikan santri jengah dan bosen  bahkan menghindar.
            Yach ini suatu pembelajaran yang berharga bagi Zahrona. Ia tak ingin mewarisi sikap pak Kurdi yang ekstrim dalam menyalurkan ilmunya. Namun, karena keinginannya untuk bisa sedikit saja mewarisi keilmuan istri termuda Rasul Aisyah, Zahrona tak peduli dengan tampang geram pak Kurdi ketika ada santrinya salah dalam memaknai kitabnya.
            “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah.”Zahrona berdoa kemudian melangkah menyusuri lorong gelap untuk sampai ke kelas dimana pak Kurdi akan menyalurkan ilmunya dengan gaya yang khas, datar dan mencekam.
            “MasyaAllah udah ditutup pintunya ya, mbak?” Tanya Zahrona pada salah satu santri yang mencoba membuka pintu tapi gagal.
            “Iya, dek. Kebiasaan nih Ustadz. Masak baru setengah delapan udah ditutup pintunya. Kalau bukan karena tauhid  ilmu yang wajib untuk diketahui dek, sumpah males banget harus ketemu nih orang.”
            “Hmmmm salam aja yuk mbak, mana tahu dibukain pintunya.”
            “Haaah?” Jawab santri tersebut ragu. Zahrona tak peduli kemudian ia melangkah dan mnegucapkan salam agak keras agar terdengar dari tempat duduk dimana pak Kurdi mengajar.
            Tak seberapa lama kemudian Zahrona berucap syukur. Perlahan pintu terbuka, ia dan teman sekelasnyapun mengendap ngendap ketakutan kemudian masuk. Namun  baru saja ia akan duduk, suara khas pak Kurdi mencegahnya.
            “Yang baru masuk baca halaman lima belas.”
Dalam hati Zahrona bersyukur, apa yang diperintahkan pak Kurdi telah ia pelajari sebelumnya. Begitu juga degan seseorang yang begitu antusias untuk mengetahui ketauhidan tuhan tak peduli risalah tentang itu disampaikan oleh ustadz yang bernama pak Kurdi. Satu satunya ustadz yang mampu mengubah pola pikir pengurus untuk aktif  berorasi dan beroprasi meninjau santri yang malas malasan mengikuti ngajinya pak Kurdi.
“Bismillahirrohmanirrohim.” Ucap Zahrona mengawali bacaannya.
Semua santri terpana menyimpan kekaguman dengan apa yang sedang didengarnya. Suara Zahrona halus dan tegas membaca setiap kata dengan fasih dan benar. Bahkan karena itu, langitpun menggumang tentang keanehan yang terjadi dalam sosok ustadz yang selama ini begitu angker. Beliau mampu tersenyum bahkan memuji kehebatan santrinya dapat menguasai jejeran kata tanpa makna.

***
Bagaikan janji bintang
Siapapun akan berdecak kagum
Saat..
Ketika mata itu mengalihkan sejenak pandangannya untuk menguasai malam dengan keajaiban tahtanya
            “Bagaikan janji bintang.” Begitulah Zahrona mendeskripsikan tentang kehidupan yang diselaminya dalam memenangkan rivalnya.Rival yang hanya dengan hatinyalah ia dapat mengatahui sejauh apa ia mampu menggenggam apa yang seharusnya ia genggam.
            Semua itu perlahan terbukti seiring perjalanan waktu Zahrona menggeluti dunianya. Dunia al-qur’annya, dunia kitabnya dan dunia pesantrennya. Karena dengan ketekunan itulah Zahrona merasakan kemudahan baginya menjelajahi fase yang dulu hanya menjadi bagian dari imajinasinya.
Sekarang…
Semua dapat tersenyum bangga. Tak hanya gumpalan awan putih yang melaju seiring putaran bumi mengelilingi matahari, atau kicauan burung yang berlalu lalang memenuhi dunia tak terbatasya. Semua bangga, dan bahkan kebanggan itu beradu menjadi sebuah titik kekaguman yang harus diujikan dalam rival sesungguhnya. Yaitu rival yang tak hanya melawan diri sendiri, tapi melawan sesuatu yang harus dilawan sebagai bentuk perjuangan terhadap apa yang telah sebelumnya diperjuangkan oleh Kartini. Salah satu perempuan di Indonesia yang mampu mengubah ketersekatan perempuan menjadi perempuan tangguh yang dapat mencengkeram dunia dalam genggamannya.
“Gimana udah siap nak?”
“Bismillahirrohmanirrohim insyaAllah buk, pangestune mawon seget ngemban amanah meniko kanthi sae ugi ikhlas.”
Bu Asfiah mengangguk kemudian menuju kamar sebentar dan keluar dengan membawa kitab lusuh. Zahrona ingin menangis saat ketika kitab lusuh itu harus berganti tangan dari Bu Asfiah ke tangannya. Ia merasa belum mampu, namun ini adalah sebuah titah yang harus diperjuangkannya dan dijaga.
“Kitab ini kitab turunan dari Abah. Jadi ya wajar kalau udah blutek kaya gini, yang penting isinya masih bisa dibaca dan disampaikan ke yang lainnya.”
“Nggih, buuk.” Ucap Zahrona kemudian melangkah meninggalkan jejak kaki yang masih mematung sembari mengiring doa untuk ungkapan sebuah titah.
Disepanjang perjalanan Zahrona masih saja merenung dengan titah yang baru saja menghampirinya. Titah yang akan menghantarkannya pada suatu bentuk keberkahan seorang bunyai. Keberkahan yang jika tuhan menghendakinya, semua akan berjalan pada rotasi garis ketetapan tuhan. Namun, satu hal yang terkadang berkecamuk mengobrak abrikkan pemikiran Zahrona. Benarkah keberkahan itu akan terus mengikuti jejak langkah penerimanya, ataukah hanya sekedar penghantar bagi penerimanya untuk berjalan menyusuri apa yang pernah ditelusuri oleh jejak jejak pewaris para Nabi sebelumnya?
Entahlah Zahrona tak mampu lagi berpikir lebih keras. Sekarang yang ada dihadapanya hanya satu, yaitu bagaimana titah yang telah diterimanya dari Bu Asfiah akan sampai pada gelora gelora yang tak akan pernah terpadamkan oleh terobosan terobosan pengetahuan.
“Bismillahirrohmanirrohim.” Bisik Zahrona sebelum memasuki segerombolan orang orang yang telah melingkar menanti siraman pengetahuan dari kitab ta’lim al muata’allim karya Syaih Zarnuji.
Zahrona mengucapkan salam kemudian masuk dan duduk di tempat yang telah disediakan untuknya. Dalam hati ia bersyukur betapa maha Al-rohman dan Al-rohimnya Allah mengizinkan ia menempati posisi Bu Asfiah dalam majlis ta’lim yang telah berpuluh puluh tahun diampunya. Belum lama ia mensyukuri anugerah terindah tersebut, dua sosok wanita seumuran Zahrona berjalan menunduk dengan menggunakan lututnya kemudian menyungguhkan hidangan dan segelas teh.
“Subhanallaaah.”
Zahrona tak lagi mampu menyembunyikan rasa harunya. Sebegitu spesialkah kehadirannya di majlis ini, hingga ia merasa perlakuan dan jamuan yang disungguhkan warga begitu berharga. Zahrona merasa semua jamuan ini terlalu berharga dan belum saatnya ia mendapatkan ini. Ia bukan bu nyai yang setiap orang berlomba lomba untuk menekat demi keberkahannya. Tapi Zahrona hanyalah seorang santri yang hanya kebetulan mendapatkan kepercayaan untuk menggantikan posisi Bu Asfiah dalam pembelajaran mengkaji kitab Ta’lim Al –Muta’alim.
Zahrona tersenyum kemudian mulai membuka percakapan dengan gaya khasnya. Semua yang hadir tertawa oleh sungguhan guyonan Zahrona. Begitu juga Zahrona, ia bersyukur banget karena perlahan semua yang hadir mulai terbiasa dengan gaya berpikir Zahrona dalam menyampaikan dakwahnya,
“Pripun siap dipunlanjutaken nopo dipuncekapi semanten pengaosanipun, mbak-mbake ugi ibuk-ibuke ingkang sampun podo ngantuk nggih hehheeee?”
Spontan para kaum ibuk-ibuk protes dengan apa yang baru saja dikatakan Zahrona. mereka tidak terima dibilang ngantuk, dan hal itu sungguh membuat Zahrona semangat untuk melestarikan budaya yang dulu sebelum Indonesia mengalami masa kegemilangan, hal ini hanya menjadi bagian dari angan angan belaka. Yang kemudian ketika Kartini menyadari akan kesenjangan yang terjadi antara kaum laki laki dan perempuan, dari situlah Kartini berani melangkah, memberontak demi emansipasi wanita.
“Hmm oke oke diralat. Pripun tasih semangat ibuk –ibuke  ting pojok?”
“Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaat.” Jawab ibuk ibuk yang berada di pojok serempak.
Zahrona mengangguk kemudian melanjutkan membaca kitab ta’lim al muata’allimnya.
“Faslun, utawi iki iku fasl siji. Fi mahiyatil ilmi iku kang nerangake kepentingane ilmu. Wal fiqhi, lan fiqh. Wa fadllihi, lan keutamaane.” Zahrona menghela nafas sejenak kemudian menjelaskan apa yang baru saja dibacanya.
“Ibuk ibuk, mbak mbake yang manis manis, bab selanjutnya yaitu membahas tentang pentingnya ilmu, fiqh dan keutamaannya..”
Qolaa Rasulullahi SAW ta’ala alaihi wassalam, tholabul ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimin wal muslimatin.
***
Sepasang mata itu kembali hadir menguntit langkah kaki yang terseok seok di balik senja yang mulai mengatup. Membiaskan cahayanya menyusuri titik pusat langkah itu akan terhenti. Perlahan, langkah itu mulai goyah dan ragu, kemudian tersekat diantara sepasang mata yang mampu menjadikan pemilik langkah itu terkagum dalam diam.
“Mmmm maaf, aku hanya ingin mengantarkanmu sampai pesantren.”
Zahrona tercengang diam tak mampu berkata apa apa. Mata itu tak mampu diingkarinya begitu meneduhkan. Begitu memukau hingga tanpa disadari Zahronapun mengangguk kemudian kembali melangkah dan membiarkan mata penguntit itu menyusuri lebih lama langkah langkah kakinya.
Jarak pesantren semakin dekat, Zahrona menghentikan langkahnya dan sejenak memandang mata itu.  Mata itu balas memandangnya kemudian mengangguk ke arah Zahrona dan pergi.
“Terimakasih atas kerelaan matamu menghantarkanku sampai disini. Di tempat dimana aku harus kembali.
Mata itu berbalik arah membelakangi Zahrona. Ia berharap disela sela langakahnya, meski hanya sekejab mata itu kembali dapat dinikmati keteduhannya. Zahrona tersenyum, cahaya senja itu benar benar ia temukan lewat sapuan mata penguntit itu.
“Zahrona aja, dia cakap kok!”
“Iya bener dijamin  kita akan mengukir sejarah di pesantren tercinta kita.” Teriak Gentong menambahi usulan Ci’neng.
“Secakap apapun Zahrona, dia masih tergolong santri baru yang pengalamannya tidak dapat disaingkan dengan santri senior komplek AB. Apa kita ingin mengulang masa lalu, pulang dengan membawa kekalahan?”
Zahrona bingung ada apa gerangan yang menjadikan namanya  begitu banyak dijadikan perdebatan diantara teman temannya dan pengurus pondok. Zahrona  malu, suara mereka bahkan terdengar sampai luar.
Tanpa pikir panjang Zahrona segera berlari menuju pondok yang sudah tak lagi jauh dari tempatya berada. Ia kaget, disitu tepat di depan pengumuman yang entah pengumuman apa Zahrona tidak tahu, ada jajaran pengurus dan teman temannya saling beradu argumen.
“Apa apaan sih ini? Suara sampean sampean itu lho terdengar mengusik warga kampung.  Seperti inikah santrinya Bu Asfiah?”
Bontot geram dengan apa yang baru saja dikatakan Zahrona. Ia merasa harga dirinya terinjak diprotes oleh santri yang masih bau kencur menempati pesantren ini.
“Seperti inikah jagoanmu Gentong? Bagaimana pondok kita akan mengukir prestasi, jika yang diajukan bahkan tidak memiliki sopan santun terhadap seniornya?”
“Huuch.”  Jawab Gentong dan Ci’neng bersamaan kemudian melengos pergi meninggalkan Bontot cs.
Zahrona menggelengkan kepala, bingung dengan apa yang sebanarnya terjadi. Begitupun teman teman yang lain. Mereka hanya dapat mengerutkan keningnya sembari kembali ke kamarnya masing masing.
Sesampainya di kamar, Zahrona ingin sekali memejamkan matanya sejenak melepas penat sembari menunggu sang mu’adzin mengumandangkan adzan. Namun berkali kali Zahrona mencoba untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi, hal itu terlalu sulit untuk dimusnahkan walau hanya  sekejab. Tragedi debat tersebut masih saja berlanjut di jajaran santri santri yang mendukung ataupun menolak Zahrona.
“Ngapain sih masih ngembahas masalah tadi? Bukankah itu bagian dari ghibah? Membicarakan orang lain dibelakangnya.”
“Ini bukan lagi masalah ghibah dan tidaknya ghibah,Zahrona. Tapi menyangkut pondok kita ke depannya. Pokoknya kalau mereka masih bersi keras tidak membiarkan kamu maju menaklukkan komplek AB, dijamin nanti malam nggak bakal ada suporternya.”
“MasyaAllah, kenapa harus sedangkal itu, mbak cara berfikir sampean? Toh kalaupun saya yang maju nanti malam, saya juga nggak bakalan siap. Kalau mereka lebih siap kenapa kita tidak mendukung perjuangan mereka?”
“Iya kalau menang kalau kalah?”
            “Mending kalah, aku jauh lebih siap tidak mendengar tawa yang menyeringai dari mereka. Jika menang, mereka akan bertambah besar kepalnya.” kata Arjom dongkol.
            Zahrona menggelengkan kepala kemudian bangkit untuk memenuhi panggilan mu’adzin. Kapalanya dirasakan pening, lelah mendengarkan keributan di pesantrennya. Ia berpikir mengapa hal ini bisa terjadi, mengapa antara santri dan pengurus tidak bersatu untuk kemenangan pondok ini. Mengapa mereka saling mencerca mencoba menjadi yang lebih kuat demi ego  masing masing. Dan mengapa harus dirinya yang terlibat dalam perdebatan ini?
            Perdebatan tersebut bagaikan kepulan asap yang menyebar tertiup angin hingga sampai ke pendengaran ibuk. Melihat polah santrinya, hati ibuk teriris kemudian mengambil langkah dengan mengumpulkan semua santri di aula  sebelum lomba debat dimulai.
            “Anak anakku, lomba tidak lain hanyalah ajang untuk menguji seberapa besar kemampuan kita dalam meraup pengetahuan yang tersebar di bumi.  Bukan sebagai ajang untuk memamerkan apa yang telah kita miliki. Ibuk bangga santri santri disini cakap dan pintar, tapi ibuk mohon jangan jadikan kecerdasan kalian sebagai alat untuk menjatuhkan yang lainnya. Bahkan sampai menimbulkan perselisihan dan fitnah, na’udzu billahi mindzalik.”
            Semua santri terdiam luruh dalam kekecewaan seorang pengasuh.  Kemudian dari kekecewaan itulah sinar cahaya yang mulai redup kembali menggelitik memenuhi pesantren Bu Asfiah. Mereka dapat kembali menebarkan cinta dan kedamaian. Bontot beserta jajarannya tersenyum kemudian menyapa dan menghampiri Zahrona untuk diajaknya gabung menyemarakkan  debat untuk membawa pulang kemenangan.
            “Maaf mbak jika hanya untuk kemenangan Zahrona tidak bisa, mbak. Masih ada hal yang jauh lebih penting untuk kita harapkan daripada sekedar meraih kemenangan.”
Bontot tersenyum dan perlahan mengangguk.
            “Iya,, kita masih memiliki otak untuk berpikir demi menemukan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat untuk kita, bangsa  dan agama kita.”
Kerlipan cahaya bintang semakin terang menghiasi panorama malam di bawah tapak bumi pesantren. Semuanya tergengggam mencapai titik dimana semuanya harus beradu bukan untuk mencari kemenangan semata, melainkan mencari demi menemukan sebuah kebebasan bagi kaum hawa untuk menemukan dunianya.
Dunia saat ketika semua masih berada dalam cengkeraman ego dan penindasan. Gerak perempuan tersekat dan hanya terbelenggu oleh 3M. macak, masak dan manak. Dari situlah Kartini tergerak untuk membebaskan langkah agar perempuan dapat mengekspresikan gaya dan karyanya untuk mewarnai dunia. Namun, mengapa dunia  masih terlalu sempit dipahami oleh santri. Karena itulah Zahrona ingin hadir sebagai Kartini baru di masa selanjutnya, dimana seorang perempuan sudah seharusnya dapat bebas mengepakkan sayapnya menjelajahi samudra kehidupan dari bilik manapun yang disukainya.
Karena itulah dalam majlis tersebut perwakilan komplek AB bertandang dengan segenap kemampuannya untuk tetap membela apa yang telah diyakininya. Bersikukuh dengan berdasarkan bahwasanya perempuan berada di dalam kekuasaan seorang laki laki.
“Jadi saya tegaskan lagi, tidak ada alasan bagi perempuan membantah suami untuk menginginkan apapun dari istrinya kecuali hal hal yang telah dikecualikan. Seperti seorang suami memerintah seorang istri untuk melakukan maksiat. Hal itu jelas Allah menganjurkan seorang istri untuk membantahnya.”
“Benar apa  yang dikatakan sahabat saya Fahrudin.  Merujuk pada pengertian wajib dan haram itu sendiri dijelaskan, selama tidak ada dalil atau larangan dari Allah untuk menjauhi sesuatu maka sesuatu tersebut berarti boleh. Sedangkan selama ditemukan dalil yang diperintahkan kepada hambanya maka semua itu berlaku sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan bukan dibantah dengan berbagai alasan. Dari pengertian tersebut, saya rasa kita akan peham bagaimana batas sesungguhnya seorang istri berada dibawah kekuasaan seorang suami, qodrat bagi seorang istri untuk melayani suami dengan menyiapkan keperluan sehari hari, mengurusi anak dan rumah tangganya, seperti pekerjaan membersihkan rumah dan memasak.”
“Oke terimakasih sahabat Ardian atas jawaban yang sangat memukau dan menakjubkan. Namun yang perlu digaris bawahi pernyataannya sampean, benarkah qodrat seorang istri harus mengurusi pekerjaan rumah tangga? Jika benar itu adanya, bagaimana bisa sampean menyebut seorang perempuan yang telah sampean nikahi suatu saat nanti sebagai seorang istri, tidakkah itu pantas disebut sebagai babu? Yang 24 jam non stop harus dapat mengurusi kebutuhan dan keperluannya sampean, jika benar itu adanya bukankah itu dinamakan penindasan?Apakah islam meperbolehkannya?  Jadi tolong ketika sampean ingin mempertahankan argumennya sampean jangan mengatakan pekerjaan rumah tangga adalah qodrat perempuan. Karena apa, karena qodrat perempuan yang selamanya tidak dapat diubah yaitu menyusui dan melahirkan. Jika hal ini dihubungkan dengan qoidah Al- adatu muhakkamah, saya rasa hal itu masih dapat diterima. Hal ini dikarenakan melihat kondisi persepsi masyarakat di Indonesia yang tidak dapat luput bahwasanya seorang istri berkewajiban mengurusi rumah tangga. Namun jika ditelaah lebih dalam salah satu contoh dari qoidah tersebut yaitu mengenahi masalah menstrusi seorang perempuan. Ketika seorang perempuan menstruasi maka dikembalikan sebagaimana kebiasaan menstruasinya. Contoh ketika kebiasaan seorang perempuan menstruasi adalah 8 hari, Namun entah karena apa, pada hari ke Sembilan darahnya masih juga keluar, hal ini dikembalikan pada dasar kebiasaannya dengan meneliti terlebih dahulu darah yang keluar. Apakah darah tersebut sesuai dengan kebiasaannya atau sesuai dengan ciri ciri darah mentruasi sebagaimana  yang dijelaskan dalam kitab Fathul Wahab dalam bab Haidl.”
Hening yang terdengar hanyalah desas desus santri yang terkuak emosinya menyaksikan debat yang semakin memanas. Kedua belah pihak sama sama kuat dalam mempertahankan jawaban. Mereka memiliki dasar yang kuat yang menjadikan penonton semakin penasaran menuai kesimpulan ending dari debat tersebut.
“Oke bagaimana saudara Ardian dan Fahrudin masih adakah tanggapan untuk menanggapi pernyataan saudari Zahrona? jika tidak berarti kita akan meminta tanggapan dari penonton untuk menanggapi pernyataan saudari Zahrona.”
Zahrona terdiam berharap tidak akan ada lagi tanggapan dari lawan.Ia sudah lelah dan menginginkan lomba debat ini segera usai. 
“Huuuucf….” Sejenak Zahrona merelaksasikan matanya agar tetap kelihatan segar. Dikedip kedipkan matanya ke arah sahabat sahabat sekamarnya yang masih saja bugar dan semangat menyaksikan lomba.
 Gentong hanya cengengesan melihat mata Zahrona yang agak membengkak menahan kantuk. Sekelebat mata Zahrona terkejut dengan mata yang tadi sore menghantarkannya sampai pondok. Ia segera mencari keseluruh penjuru santri sembari berharap mata itu kembali dapat ditatapnya malam ini. Namun sudah berulang kali mata Zahrona menyusuri ratusan mata santri, ia tidak menemukan mata itu berpendar di tahtanya.
“Huuuucff mungkin hanya ilusi.” Bisik Zahrona dalam hati.
Malam semakin larut , panitia memutuskan untuk mengahiri debat yang diselenggarakan kali ini.  Baik kelompok Zahrona ataupun kelompok Fahrudin mereka sama sama mendapatkan aplous yang begitu berharga dari penonton karena kehebatan mereka dalam mempertahankan dan memberikan argumennya masing masing.
“ Oke terimakasih untuk semuanya atas partisipasi dan persaingan yang  begitu memukau dari kedua kelompok. Terimakasih juga kepada segenap santri yang ikut serta meramaikan dan menyemangati acara debat kali ini. Kami akui dari segenap panitia benar benar terkejut dengan apa yang disungguhkan dari kelompok mbak Zahrona dan kang Fahrudin. Akan tetapi karena ini adalah sebuah pertandingin, maka mau tidak mau kami akan memilih mana yang terbaik diantara yang terbaik dalam mengemukakan argument. Tetapi, satu hal yang perlu digaris bawahi bahwasanya dari tema yang di bahas dalam perdebatan kali ini jujur dari panitia sendiri masih harus belajar banyak dan mengkaji serta menyelami dunia kitab agar dapat menemukan jawaban yang mendekati kebenaran.
Zainal menghela nafas sejenak menatap deretan santri yang tampak begitu semangat dan was was dengan siapa yang akan dipilih dewan juri menempati posisi bersejarah tahun ini. Bahkan sebagai orang yang dipercaya memimpin berjalannya debat malam ini, Zainal bingung dan lebih memilih diam  membungkam mengenahi siapa yang berhak pulang dengan membawa kemenangan.
“Hmm bingung ni mo ngomong apa lagi. Pokoknya untuk kedua kelompok, saya tidak berani komen apa apa, saya kagum dan mengakui kehebatan kalian. Sekarang disini secarik kertas ini entah sebagai suratan taqdir atau entahlah para dewan juri memutuskan pemenangnya adalah….”
Zainal sengaja menghentikan sejenak pembicaraannya agar lebih membuat penonton semakin penasaran dengan siapa yang dianggap dewan juri berhak pulang dengan membawa kemenangan.
“Yaaach dapatkah penonton menebak siapa pemenanganya?”
Jeritan penonton membahana memenuhi ruangan berukuran  20x15. Mereka begitu semangat mengemukakan pendapatnya tentang siapa yang berhak menyandang kemenangan lomba debat kali ini.
“Oke oke saya kira pilihan kalian tidak ada yang salah, Semua benar, karena keduanya sama sama cakap dan baik. Akan tetapi disini dewan juri memutuskan dengan berbagai pertimbangan bahwa pemenangnya adalah kelompok putra yaitu Fahrudin dan Ardian. Hal ini didasarkan pada tanggapan mbak Zahrona bahwa seandainya kasus urusan rumah tangga dihubungkan dengan qoidah Al Adatu Muhakkamah, maka masih bisa diterima, jika urusan tersebut lebih dominan harus dikerjakan oleh seorang perempuan(istri). Dari tanggapan tesebut kelompok mbak Zahrona dianggap menyetujui argument lawan meski dengan alasan yang berbeda.
Gema tawa kebahagian menyatu. Begitu juga yang dilakukan oleh Zahrona dan kelompoknya terhadap kelompok  Fahrudin. Meski Zahrona gagal mengukir sejarah, ia tak berkecil hati.
“Selamat yaaa…
Semoga kedepannya jauh lebih baik bagiku, bagimu dan bagi kita, semua santri Bu Asfiah.”
“Amiin.. barokillah ukhti.”
“Amin…”
Pendar bintang gemintang bergerumbul membentuk rasi rasi yang nyata. Zahrona tersenyum ketika dilihatnya rasi bintang itu seolah mengikutinya. Ke kanan ke kiri dilangkahkan kakinya secara bergantian. Zahrona semakin tergoda untuk membiarkan rasi rasi itu mengikuti gerak gerik kakinya yang lincah. Ia merasa bintang bintang itu tersenyum hingga mampu mengalihkan rasa kantuk yang dideritanya. Sembari mendongak ke  arah langit, Zahrona terus melangkah menyusuri jalanan kecil menuju kompleknya.
“Mbak..”
Dug
Mata itu kembali ditemukannya di secarik kanvas cahaya langit yang berpendar memenuhi malam. Zahrona terdiam menikmati degupan jantung yang berdetak begitu cepat.
“Berjalanlah seperti biasanya, jangan pernah berbalik dan berhenti, saat setelah sampean melihat tawa  mereka menyeringai menikmati adegan gilanya sampean.”
Hwahahhaa,,, huuuu,, kwkwkw
Benar yang dikatakan mata teduh itu. Sekarang saat ketika Zahrona telah menemukan jutaan tawa menggema terhipnotis oleh adegan gilanya, Zahrona  hanya dapat berjalan cepat menahan malu yang semakin menggerogoti kebahagian yang baru saja   ditemukannya lewat goresan bintang gemintang. 
                                                             ***
Tatapan mata itu
Telah membuatku merasakan, tuhan telah menitipkan cintanya untukku
Membiarkan aku terjamu
Oleh degupan nada
                                          Dan alunan yang entah mengapa
Aku merasakan semua begitu indah dan nyata
Terimakasih tuhan
Telaga mata itu membiarkanku tenggelam dalam dekapannya
“Huuuueeeck,,,huuuck,,,”
Zahrona segera membungkam mulutnya menuju kamar mandi. Semua teman teman sekamarnya heran, tidak biasanya Zahrona seperti ini.
“Kamu sakit, Na??” Tanya Gentong  kawatir melihat wajah teman sekamarnya tampak pucat.
“Nggak tahu mbak tiba tiba jadi pelanggan kamar mandi ni, ahir ahir ini perutku mual melulu.”
“Nih anak ya, sakit masiiiiiiiiiih saja bisa becanda. Heran!”
“Masuk angin tuuch,makanya jangan suka begadang.” Kata Nunu’ menambahi.
“Hmm…”
 Ya udah Zahrona pamit dulu ya, mbak assala…” Belum sepat meneruskan salamnya, Zahrona segera meluncur ke kamar mandi. Sebenarnya ia sangat takut, apa yang dirasakannya sekarang bukanlah masuk angin seperti apa yang dikira Nunu’. Melainkan akibat dosa terindah yang pernah dilakukan dengan pemilik mata teduh yang telah menyihir segenap rasional otaknya untuk berpikir.
“Mungkinkah?”
Zahrona menyesal mengapa hal seburuk itu bisa terjadi pada dirinya. Seseorang yang dipercaya bu nyai meski hanya sedikit untuk menduduki tahtanya. Tahta amanah untuk membagikan ilmunya lewat goresan pena tua yang tersimpan dalam kitab lusuh dari Abah seorang bunyai.
Zahrona benar benar menyesal dan menangis sejadi jadinya. Ia tidak tau apa yang harus dilakukan dan tak mampu membayangkan betapa kecewanya ibuk jika tahu santri yang diercayainya tidak lain hanyalah seorang …….
“Ya Allah mengapa dulu aku tak pernah menyadari bahwa tatapan mata teduh itu bukanlah titipan cinta darimu? Ya Allah aku merasakan tatapan itu, tak lain hanyalah hunusan pedang iblis yang mengaku percikan cintamu. Ya Allah mengapa tak kau musnahkan saja tatapan itu, saat setelah ia memberi tahuku untuk,Berjalanlah seperti biasanya, jangan pernah berbalik dan berhenti, saat setelah sampean melihat tawa  mereka menyeringai menikmati adegan gilanya sampean. Mengapa aku begitu menikmati ceritanya tentang bagaimana anak putra mentertawakan adegan gilaku saat merasa rasi bintang perlahan bergerak seolah mengikutiku?  Mengapa harus ada pertemuan selanjutnya ya Allah, hingga kini menjadikanku terpuruk oleh kebodohanku.”
“Na…
Kamu nggak papa thoo?.”
“Ng.. ng….nggak, mbak.”
Sekembalinya dari kamar mandi, semuanya terkejut melihat mata Zahrona tampak sembab.
“Mbak Nunu’ bisa gantiin Zahrona ngisi pengajian di majlis kampung sebelah?”
“Tapi, Na?”
“Udahlah Nunu’ terima aja kasian Zahrona tuu.” Protes Ci’neng terhadap sahabatnya Nunu’.
Nunu’ mengangguk. Zahrona  tersenyum diantara kegetiran yang melanda dan menghakimi kesalahan yang pernah diperbuatnya.
“Makasih ya, mbak Nun…” ucap Zahrona kemudian segera meluncur ke dapur ndalem. Sesampainya di dapur, deretan abdi ndalem terheran dengan keberadaan Zahrona yang masuk tanpa salam terlebih dahulu.
“Ehmm.. maaf bisa tolong buatin wedang jahe, kang?ada teman yang sakit.” Kata Zahrona berbohong.
“Saget mbak, saget. Sekedap  nggih?”
Zahrona mengangguk sembari menatap  jemari mata teduh itu yang sama sekali tak respek akan keberadaannya. Ia amati jemari itu dengan lincah menarikan pisaunya menghujam bawang merah yang perlahan membuat mata teduhnya kabur oleh  rasa perih yang ditimbulkannya.
Zahrona tak kuasa menahan air matanya untuk tidak menetes. Hatinya terlalu sakit hanya untuk sekedar membiarkan mata teduh itu tersayat perihnya tirisan bawang merah. Bukan karena itu, melainkan hati Zahrona terlalu perih dan jauh lebih sakit dari semua yang ada.
Gubrak
Zahrona membanting pintu kemudian begitu saja keluar meninggalkan jejak jejak keheranan oleh semua abdi ndalem. Sejenak mereka terdiam dan menghentikkan aktivitasnya. Mata teduh itu beranjak dengan alasan yang tak mampu ditafsirkan oleh kawan abdi ndalem lainnya. Otaknya berpikir untuk menggerakkkan kakinya ke suatu tempat dimana ia tahu dan yakin, bahwa pelangi yang ditemukan tidak hanya diwaktu hujan menunggunya.
“Apa yang bisa dilakukan mata teduhmu untuk menghentikan hujan tangis di matamu? Hingga mata ini dapat memandang jelas keindahan pelangi berpendar di tahtanya.”
“Tahta itu telah hancur dan tidak akan pernah membiarkan pelangi berpendar menghias mata teduhmu. Jika masih mungkin untuk bisa, semua itu amat sangat sulit.”
“Sesulit apa hingga mata teduh ini tidak lagi dapat menjangkaunya?”
“Sesulit mata teduhmu menemukan hujan di musim kemarau, di kegersangan yang perlahan akan membuat telaga mata teduhmu mengering. Dan aku merasakan semua itu sangat sakit.”
“Kenapa harus sakit?”
Zahrona menatap lekat mata teduh yang kini telah menghancurkan keberadaannya.
“Karena mata teduhmu telah menenggelamkan senja menghardik dan menghujam pelangimu. Menjadikan pelangimu rapuh dan tak kuasa untuk sejenak saja membiarkan keteduhan matamu menyapu seganap rasionalitasku untuk berpikir. Telaga dan keteduhanmu adalah candu iblis yang kini membuatku terpuruk.”
“Kenapa harus terpuruk?”
“Kenapa harus terpuruk?” Zahrona mengulangi apa yang baru saja dikatakan oleh  pemilik mata teduh itu.
“Karena biasan telagamu menjadikan pelangi berpikir tentang  siapa diriku sesungguhnya?”
“Jika sudah kau temukan tentang dirimu, kenapa harus menagis dan merasakan sakit? Bukankah itu yang dicari oleh setiap raga yang terhembus oleh nyawa?”
“Apakah aku harus bangga menemukan diriku tak lain hanyalah seorang pezina yang gelab mata karena keteduhan matamu. Tak sadarkah kau, benihmu di rahimku…”
Emosi Zahrona memuncak hingga ia tak sanggup lagi  melanjutkan perkataannya. Di depannya, mata teduh itu hanya dapat menatap pilu pelangi yang kini terpekur menahan sakit. Begitu juga dengan hatinya, meski berusaha tegar, perlahan mata teduh itu kabur oleh cairan bening yang menetes dari pelupuk matanya.
“Sekarang kami tahu, topeng santrimu tak lagi dapat menutupi jiwa iblis yang bersemayam erat di tubuhmu. Sungguh saya kecewa dengan kamu Zahrona.Tidakkah kamu tahu mana jalan yang halal yang harus kau tempuh jika tak lagi dapat memadamkan jerat nafsumu. Dan kau Musthofa, ibuk pasti menyesal memakan  makanan olahan tangan kotormu, tangan iblis.
Baik Zahrona ataupun Musthofa hanya dapat diam tak tahu harus berkata apa. Bahkan keduanya tak tahu sejak kapan usatadz Ma’sum dan santrinya berada disini.
“Najis!
Dicambuk  aja tadz.” Celetuk salah satu santri.
“Yaach benar! untung kita diutus ibuk bersih bersih area ini. Jika tidak, mungkin selamanya tempat ini akan jadi tempat mesum.” Celetuk santri lain.
Tak berapa lama semua santri ikut menghujam Zahrona dan Musthofa. Mereka menyeret keduanya dengan caci maki yang sangat memekakkan telinga. Zahrona berteriak kencang dan menangis berharap mendapat belasan kasihan dari mereka. Tapi nash, teriakan itu bagaikan angin lalu yang menghilang tanpa harus disesali. Bahkan mereka seolah mengginkan teriakan itu terhunus oleh tangan Izroil
Kini ratusan pasang mata santri Bu Asfiah Abdul Khozin merasa tertampar oleh tindakan terkutuk yang dilakukan Zahrona dan Musthofa. Mereka gelab mata tidak lagi peduli dengan teriakan Zahrona yang meronta merintih dan menyesal dengan apa yag telah dilakukan.
Puuuck
Zahrona menyeka cairan merah yang mengalir hangat dari pelipisnya.
            “Ini nih yang lebih pantas diterima perempuan jalang sepertimu.” Teriak sorang santri kemudian melemparkan dua telur tepat di wajah Zahrona.
            “Rasa sakit ini begitu nyata  ya Allah….” Rintih  Zahrona dalam hati. Ia tak peduli santri santri lain ikut melemparinya dengan apa saja yang ditemukan. Ia hanya dapat menatap nanar perempuan yang terpaku dan terdiam oleh kekecewaan yang baru saja diusungnya.
“Pergilah!
Tempat ini terlalu suci untuk kau singgahi.” Kata Gentong kemudian melemparkan tas ransel kehadapan sahabatnya dan pergi.
Zahrona meraih tas ransel sembari manatap nanar kepergian sahabatnya dan Bu Asfiah secara bergantian.
“Maafkan saya, buuk.” Ucap Zahrona kemudian melangkakahkan kakinya meninggalkan  pesantren yang telah begitu banyak menorehkan kenangan di hidupnya.
***
Berita tentang kehamilan Zahrona bagaikan asap yang diterpa  angin menyebar memenuhi penjuru alam. Menyelubung memenuhi kuping kuping tak berdosa menghimpit dan menyekat aliran darah untuk sejenak berpikir meredakan ego tak sadarnya. Zahrona tahu, apa yang telah dilakukannya hanya akan menjadikan kabar gulita bagi malam malam dimana Abah dan Uminya bersujud, menengadah mencoba mencari dan menemukan dimana mereka akan berdiri. Jika masih mungkin untuk tegap, tiang apa lagi yang dapat berkenan menopang keberadaannya selain Allah?
“Maafkan putrimu, Abah…”
“Haruskah dengan tangan Abahmu hukuman  cambuk itu diberlakukan?”
“Abah…” Teriak  Umi tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan suaminya.
“Meski Negara ini bukan Negara islam Umi, aku akan melakukannya terhadap seseorang yang terlahir dari nuthfahku.”
“Abaaah..”
Plakkk…
Satu sabetan mengenahi pantat Zahrona. Ia mengaduh menahan rasa perih.
”Lakukanlah, bah. Jika itu dapat membuat engkau ikhlas menerima semuanya.” Kata Zahrona dalam hati. Meski ia tahu selamanya  hal ini akan menjadi kenyataan terkeji yang menampar kehidupan orang tuanya.
Plaak..
“Hentikan!”
Plak
“Umi bilang hentikan!” Teriak Umi yang kedua kalinya.
“Umi… aku mohon biarkan Abah menghukumku, Umii.” Rintih Zahrona sembari mendekap kaki Umi.
“Pergi!
Atau akan kuperintahkan masa menyeretmu.”
“Maafkan Zahrona, Umi.”
“PERGIIIIIIIIII.” Teriak Umi sembari menghempaskan kakinya hingga Zahronapun terjatuh.
“Jika masih mancintai Umi, Umi mohon pergilah!” Kata Umi lirih kemudian masuk rumah tak peduli putrinya merintih berharap akan uluran tangan dan menanting tangannya untuk bangkit.
Tapi nash, uluran tangan itu hanya suatu kemustahilan yang tidak akan pernah terjadi sampai ia benar benar dapat bangkit dan mengembalikan semuanya. Mengembalikan percikan percikan yang telah retak tergores  muslihat shaitan yang karena kebutaannya telah dirasakan bagaikan titipan cinta tuhan.
“Mbok Inah…..”
“Pergilah neng mbok akan menemanimu.”
“Benarkah, mbok?”
Mbok Inah mengangguk membuat Zahrona semakin terisak oleh tangis kebahagiaan. Tangis haru akan uluran tangan tuhan yang dengan belas kasih cinta dan rahmatnya masih berkenan menciptakan pencakar kehidupan itu hadir menguatkan bangunan kehidupan yang telah hancur.
“Makasih, mbok.” Ucap Zahrona kemudian melangkah sejengkah demi sejengkah menyusuri perkampungan kumuh yang ini merupakan kali pertamanya  ia menemuinya disini, di tempat sebagaimana yang dicantumkan mbok Inah saat menyuruhnya pergi.
“Jika ini bagian dari fase aku selanjutnya, aku mohon ya Allah biarkan aku menapakkan jalanku disini atas dasar cintamu sesungguhnya. Cinta yang atas kuasamu  mampu menjadikan aku bertahan di masa dimana kutang kutang itu masih menjadi hal yang mengasikkan  untuk berpendar kokoh tak berbalutkan kain lain.”
Tiga hari kemudian mbok Inah benar benar menepati janjinya. Ia rela meninggalkan kemegahan orang tua Zahrona  demi menyusulnya di perkampungan kumuh.Beliau tersenyum saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah yang ternyata adalah tempat dimana mbok Inah dilahirkan. Berbeda dengan Zahrona, meski ia berusaha untuk tersenyum menghadapi keterasingan yang saat ini dijalaninya, keterasingan tersebut terlalu enggan hanya untuk sedikit berbagi masa bagi Zahrona untuk mengenalnya.
“Zahrona nggak kuat tinggal disini, mbok.”
Perlahan senyum mbok Inah memudar. Butiran Kristal dipelupuk matanya terjatuh. Zahrona masih saja meronta, meski ia tahu apa yang dilakukannya tidak akan mengubah apapun.
“Ngomong, neng,…
Siapa yang telah menanam nutfah di rahimmu?”
Zahrona semakin terisak dan membiarkan pertanyaan mbok Inah berlalu bagaikan petir yang menghilang tanpa harus disesali.
Melihat hal itu, mbok Inah tak putus asa. Beliau berusaha membujuk dengan segenap kesabarannya agar Zahrona berkenan memberitahukan siapa ayah dari janin yang kini mendekam erat di rahimnya. Zahrona masih saja terdiam membuat kesabaran mbok Inah perlahan memudar menjadi emosi yang tidak dapat terkontrol lagi. Mbok Inah marah dan bahkan mengancam Zahrona untuk membiarkannya hidup sendiri di lingkungan yang masih begitu asing di kehidupanya.
Paginya setelah mbok Inah berhasil menggertak Zahrona, beliau meminta Zahrona untuk makan yang banyak agar ia  kuat selama di perjalanan. Ia tak tahu kemana mbok Inah akan membawanya, yang ia tahu kakinya nyeri dengan luka yang semakin melebar. Melihat ketidakberdayaan Zahrona, mbok Inah menghentikan sejenak langkahnya dan memijat seseorang yang telah sejak kecil diasuhnya.
“Sabar nggih, neng. Bengkak neng ini hanyalah gawan bayi.”
Zahrona mengangguk sembari menahan rasa perih di kakinya yang tak jua reda.
“Sampun mendingan, neng sakitnya?”
Untuk kedua kalinya Zahrona mengangguk. Ia tak tega untuk mengatakan tidak.  Keduanyapun kembali melangkah dan seperempat kemudian mereka dapat menarik nafas panjang sembari menikmati sepoinya jamuan alam dengan bersandarkan kursi reot yang ditumpanginya.
Perlahan  mata ini mengatup
Membiarkan selaksa alam asing membawanya ke peraduan antah berantah
Tak kenal dan tak mengerti
Namun….
Ia percaya kaki tua itu akan melangkah mencari secercah cahaya yang masih menguning di ujung senja yang telah rapuh
           
“ Mbok Inah sebenarnya kita mau kemana sih?”
Belum sempat mbok Inah menjawab, suara ricuh penumpang mengalihkan keduanya. Semuanya menggerutu kesal oleh keputusan kondektur yang tidak dapat dipercaya. Akibatnya si kondektur hanya dapat  termangu oleh amukan  penumpang.
“Hooo kalo tahu kaya gini jadinya, gak bakalan ngikut bis ini aku. Udah reot menipu lagi. Huuuuch…” Omel perempuan paruh baya kepada si kondektur.

“Ya udah kita turun yuk, mbok…”
Mbok Inah mengangguk kemudian menyisingkan tapehnya agar dapat lebih mudah menuruni tangga bis. Namun tiba tiba…
Stttt,,, braaak…
Gelap
Langkah kaki tua itu terhenti
Tersekat..
Oleh denyut nadi yang semakin melemah
Dan perlahan…
***
“Temui Musthofa!”
Entah untuk yang keberapa kalinya pesan itu begitu mengoyak alam sadar Zahrona.Ia berpikir, mungkinkah karena alasan itu mbok Inah  mengajaknya pergi ke suatu tempat yang ia sendiri tak mengetahuinya. Sampai saat ketika jawaban itu belum sempat tergenggam, lisan tua itu telah lebih dulu terbungkam.
“Benarkah karena itu, mbok?...
Jika ya,,,
Maaf! tak ada alasan lagi bagiku tuk menemuinya.”
“Bu Zahrona kenapa menangis?” Tanya Agus dengan lugunya.
“Nggak nak, ibuk hanya bangga di saat ibuk benar benar terjatuh kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam kehidupan ibuk, Allah berkenan menghadirkan kalian berada disini. Makasih ya, sayaang?”
 Agus dan Rohmat mengangguk kemudian mendekat dan memeluk erat Zahrona.
“Sekali lagi makasih ya, sayang. Karena keberadaan kalian menjadikan ibuk menemukan alasan mengapa ibuk harus bertahan tanpa harus terpuruk akan kepergian mbok Inah dan bayiku.”
“Terimakasih juga ya, buuk. Meski terlalu muda untuk dipanggil ibuk, anda telah berkenan membiarkan kami disini menikmati masa kami. Karenamu, kami tidak lagi hidup berkawankan jalanan.”
Dan…
Tak hanya terkadang
Kamipun bangga
Berpelukkan jalanan dan berkawankanmu,,,
                                                                    Kau dan aku
Disini…
***
            Sepi
            Semuanya terisak dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sungguhan itu begitu memukau, menguak emosi dan menenggelamkan pandangan untuk tertunduk, merasakan demi mengetahui sebuah jawaban menjadi jawaban….
Dari tangan siapakah pesantren ini terlahir??
                                                                      THE END                                                                     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru