SEPENGGAL SURGA YANG TERLUKA
Di
sini
Di
puncak peraduanku
Ku
sematkan cinta tuhan untukmu ,anakku
Cinta
yang tak pernah luruh meniupkan kehidupan
Cinta
yang tak pernah mengering mengalirkan riak riak berdentuman
Wahai
engkau pemangku zaman,,,,
Ingatlah
sayang
Jangan
biarkan masa mencabikmu, menggenggammu dan memutus urat lehermu
Wa idz akhodza robbuka min bani adama min dhuhurihim
dzurriyatahum wa asyhadahum ‘ala anfusihim,alastu birobbikum,qolu bala syahidna
an taqulu yaumal qiyamati inna kunna ‘an hadza gofilin
Masa masih enggan memberikan jawaban pasti
tentang apa yang akan terjadi. Hening, semua hanya dapat mengatup sembari
berbisik lirih mengalunkan bait bait suci kalam illahi. Berharap diantara
denting denting harapan pasi, masih ada sepercik kehangatan yang dapat
merangkul dan mendekap wajah wajah yang mulai menampakkan kepudaran.
Delapan bulan
Wajah wajah itu tak pernah usang menanti
waktu menjawab semuanya. Menjawab sebuah
masa yang mulai mengering seolah kehilangan sosok yang telah menjadikan kanvas
dan oase masa berarti. Namun, sebuah titik oase masih sanggup bertahan. Mereka tak akan membiarkan masa menggulung dan
melenyapkan denyut denyut yang masih menyembulkan kehidupan. Mereka yakin
diantara hembusan nafas yang tersengal, akan ada keajaiban kata yang mampu
mengubah semuanya. Mengubah dan menjadikan zaman terdekap erat di genggaman
penguasa cilik yang terlahir dari tangan penyihir buta.
Yaaach penyihir buta. Semua berawal dari
sebuah masa yang tak mampu dikendalikan. Gejolak yang dirasakannya begitu indah
telah menyesatkan dan menyeret ia ke dalam jurang yang kemudian semua harus
berahir di pembantaian. Cacian, murka, amarah dan entah apa lagi.Terlalu banyak
hingga masapun tak mampu mendeteksi dan mendefinisikannya. Namun, pembantaian
dan caci maki itu tak membuatnya lekas
mati. Ia bangkit dan mencoba menghapus yang
telah basi, karena ia yakin tuhan masih memberikan percikan cintanya dengan
aksi dekomposer yang kemudian menjadikannya sebuah zat-zat anorganik yang terserap oleh
tumbuhan. Itulah dia yang terlahir kembali dari sebuah masa kegelapan hingga ia
mampu berdiri dan melahirkan generasi generasi baru.
Generasi generasi itulah yang kini senantiasa
manjaga dan tak pernah letih menyenandungkan bisikan rohani pada seseorang yang
kini hanya mampu terbaring lemah sembari menanti Allah menjatuhkan taqdir
kehidupan selanjutnya.
“Gus
gus…ibuk menangis.”
“Heeh…?”
Agus menghentikan sejenak aktivitas membaca al qur’annya. Ia pandangi
mata yang telah beberapa hari ini tak lagi dapat membuka atau sejenak saja
berkedib membiarkan cahaya masuk menerobos retina. Benar, telaga teduh itu
terpejam, namun keterpejaman itu meneyiratkan
sesuatu yang tidak semua orang dapat menginterpretasi pesan apa yang berusaha
disampaikannya.
“Buuuk.” Sapa Rohmat.
Mata tua itu masih saja terpejam tanpa sejenakpun menghentikan air matanya
untuk tak terjatuh. Rohmat kebingungan tak tau apa yang terjadi pada seseorang yang telah dianggapnya sebagai ibu
kandungnya sendiri.Agus yang semula berdiam diri ikut mendekat dan menyapa
perempuan hebat di hadapannya.
“Bu Zahrona, ini Agus buuk.”
Aliran air mata itu semakin deras mengalir
membasahi pipi yang mulai mengkriput.Pipi yang dulu selalu menampakkan rona
kemerahannya. Yang baginya rona itu tak sekedar rona yang menjadikan siapapun
melihatnya terkagum akan pesona yang dipancarkannya. Namun, rona itu begitu
alami terpancar dari kesungguhan hati yang dipenuhi akan cinta penghambaan
illahi.
“Agus
ambilin minum ya, buuk.”
Diam. Agus dan Rohmat saling berpandangan
mencoba saling bertukar pikiran apa yang sebenarnya dirasakan Bu Zahrona.
Keduanya menggeleng tak tau.
“Ibuuuk,Rohmat
panggilin dokter dulu yaa?”
Tiba tiba tangan itu tergerak pelan. Agus dan
Rohmat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Agus
terpana dan segera menggenggam erat tangan
Bu Zahrona.Begitu juga Rohmat, ia segera mengurungkan niatnya untuk menemui
dokter.Ia tau saat ini Bu Zahrona sangat menginginkan keduanya hadir menemani
mata tuanya terbuka dan kembali menyikap warna yang entah telah berapa sekian
waktu tak dirasakannya.
Dingin itu semakin menjalar, merambat dan
menghentikan aliran darah, menyekat pernafasan dan membungkam lisan tua itu
untuk berkata. Namun, meski hanya dengan terkatup perlahan suara lirih itu
terdengar.Mereka hanya dapat menduga mungkinkah ini saat semua akan terambil
dan terlepas dari titik dimana ruh bersemayam,yang kemudian raga itu terbujur
kaku dan hanya akan meninggalkan jejak jejak kenangan,,,,,,,,,
***
Masa
telah menjawab semuanya, bahwa perlahan titik ujung cengkeraman Izroil tak akan
pernah sedetik saja meleset dari sasaran mautnya. Ruh itu terlepas meningalkan
kumpulan organ yang terbalut daging. Yang semua mengakui bahwa awal dari
keberadaan itu tak lain hanyalah dari setetes nuthfah yang tersimpan kokoh di
ruang dimana tuhan telah menjamin telapaknya sebagai keridhohan surganya.
Kini
tak hanya dua sosok pemangku zaman yang masih berdiri tegap dan kemudian
melangkah menjejaki dunia tanpa alas seorang penyihir buta. Semua mengakui tak
hanya pada pandangan yang terlihat oleh kasat mata. Alam yang tak dapat dijangkau oleh tangan tangan
yang terlahir dari benih Adam, dan semuanya masih enggan terbangun dari
kegelapan karena masa yang mengambil penyihir buta dirasakannya terlalu cepat.
Yaach,,,,
Semua terasa begitu cepat mengambil alih masa
untuk terlepas dari bingkainya. Hingga saat mata tua itu benar benar harus
terpejam, dua pemangku zaman masih merasa risalah yang telah sampai padanya
belum sepenuhnya sempurna. Namun entahlah, kini semuanya benar benar gelap, dan
kegelapan itu yang memaksa pemangku zaman
harus tergerak melangkah
memerangi sebuah masa.
“Gimana sudah siap?” Tanya seorang mudin.
Rohmat dan Agus hanya mampu menganggukkan
kepala dan berusaha setegar mungkin untuk tidak melepas kepergian orang yang
dicintainya dengan derai air mata. Keduanya yakin Bu Zahrona akan tersenyum berkawankan kebaikan tuhan. Meski
ada satu masa gelap yang tak akan pernah terlupakan sejarah dimana seseorang
yang kini di bopong menuju peraduan terakhir, adalah seseorang yang pernah
mengingkari kesucian kalam tuhan.
“Selamat
tinggal, Bu Zahrona. Kami sangat mencintaimu.” Bisik Agus yang diangguki oleh Rohmat.
Keduanyapun
pulang sembari menghimpit senja yang mulai menguning. Melangkah tegap membawa
janji yang terikror di atas kemilau nisan karena terpaan mentari. Padang
ilalang kemarau menjadi saksi bisu bahwa suatu saat nanti, cinta itu tumbuh
kembali membawa masa akan tertunduk di penghambaan tuhannya. Mengabdi dan
bersujud menikmati nada nada kenikmatan tuhan yang tak terhitung oleh setiap
jengkal kaki melangkah dan berkarya.
Tak hanya itu, semuanyapun tak akan pernah
ada yang mampu untuk menghitung seberapa banyak dan luas karunia illahi yang
tersebar secara horizontal dan vertikal kehidupan. Semua anugerah itu terlalu
indah, terlalu berharga untuk sekedar diingkari dengan kebahagiaan semu. Namun,
dalam kalamnya Allah menyebarkan barbagai cara utuk menguji kemampuan hambanya.
Hal itu dilakukan Allah bukan karena kekuasaanya untuk menghakimi seseorang
melalui garis taqdirnya. Melainkan sebagai kekuasan demokrasi tuhan yang
memberikan jalan pilihan bagi hambanya untuk memilih apa apa yang dikehendaki.
Tak
hanya terlepas begitu saja, Ar- Rahman dan Ar-Rahim Allah tersebar memenuhi
keidahan bumi yang tersampaikan lewat kalam tuhan dan rasulnya. Dari situlah manusia akan dimintai
pertanggung jawaban, sudahkan apa yang dilakukan sesuai deangan rambu rabu
illahi.
Jika iya tentulah manusia akan menuai
keindahan abadi di sisinya, bergelimang kenikmatan yang selamanya tak akan pernah
terlepas. Namun jika hal itu berlaku
sebaliknya, Allah maha pengampun dan menerima hambanya untuk melakukan
perubahan.Sebagaimana yang pernah dilakukan Bu Zahrona, seseorang yang atas
kuasa illahi terlahir untuk merasakan keindahan dunia dari setetes nuthfah yang
dipenuhi akan cahaya keimanan illahi. Terbungkus oleh dinding rahim seorang ibu
yang sangat menikmati denyutan hidup berpayungkan cinta tuhan.
***
Tujuh
hari kepergian Bu Zahrona langit masih saja kelabu. Mendung masih saja bergumul
menjanjikan tetesan hujan terjatuh menyatukan kembali tanah tanah yang telah
merengggang akan kemarau yang melebihi separuh musim. Rohmat dan Agus duduk
terpaku sembari menanti bidadari kecil berlarian, berkejar kejaran dengan
menenteng qiro’ah di surau kecil peninggalan Bu Zahrona.
“Ada
yang hilang, Guus.” Keluh Rohmat.
“Iyaaa,
sekarang aku merasakan surau ini kosong. Tak ada lagi tawa mencumbu kita dikala
malam menjelang. Guyonan itu, serasa tak akan pernah tergantikan.”
Agus
mengangguk dan kemudian mengalihkan peredaran arah matanya menyapu kepekatan
sore yang masih saja berselimut kabut. Sembari meneguk kopi dengan ditemani
sebatang rokok, Agus menghembuskan
perlahan kepulan asap dari mulutnya, berharap duka itu menghilang bersamaan
asap putih yang perlahan pudar dan sirna oleh angin sore peralihan musim.
“Seandainya
semudah kepulan asap ini kesedihan kita tanpa Bu Zahrona, tentulah hal itu akan
memudahkan kita untuk bangkit.”
Rohmat menggeleng kemudian menatap erat
sahabatnya.
“Kenangan
Bu Zahrona di surau ini terlalu indah dan tak sepadan dengan kepulan asapmu Guus.
Bu Zahrona mewariskan kepada kita dan semua yang belajar disini dengan sesuatu
yang dapat menjadikan seeorang melakukan perubahan. Perubahan dalam menguasai
barisan huruf huruf hijaiyah menjadi suatu rentetan kata yang menenggelamkan
pemiliknya ke kedamaian seorang hamba pada tuhannya.
“Benar,
Rohmat. Peninggalan Bu Zahrona tak seperti kepulan asap dari hisapan rokokku.
Kepulan asap ini hanya akan menjadikan detak jantung semakin melemah oleh
nikotin yang menyebar menjadikan pembuluh darah kita tersumbat dan mengalami
pembengkakan. Yang ketika saatnya tiba nyawa seseorang akan begitu saja terhunus oleh cengkeraman pedang Izroil.”
Geram Agus sembari mematikan rokok yang hampir habis dihisapnya.
Rohmat mengangguk. Sejenak kemudian keduanya
bangkit menoreh senyum di kerlingan duka yang belum sepenuhnya musnah. Titik
titik air pun menetes perlahan membasahi pelataran bumi yang telah amat sangat mengering
kehausan, menjadikan bocah bocah kecil surau yang masih belum memiliki nama itu
berlarian menangkap tetesan air yang terjatuh. Mereka enggan untuk sejenak saja
bersinggah mengayunkan kakinya ke surau tempat dimana kenangan penyihir buta
bersimpuh erat melekat di dinding dinding putihnya.
Rohmat dan Agus tersenyum menyapa bidadari
kecil untuk menghidupkan kembali surau
ini.Mereka mengangguk dan memperlihatkan geraham giginya. Perlahan satu per
satu diantara mereka mulai terlatih untuk mencintai kalam suci tuhan dengan
membaca dan menghafalnya.
“Sabbihis ma robbikal a’la. Alladzi kholaqo
fasawwa. Walladzi qoddaro fahada…”
Demi
langit yang datang pada malam hari, dan tahukah kamu apakah yang datang pada
malam hari itu? Bintang yang bersinar tajam,….
***
Dua puluh tiga tahun kemudian
Derai cinta tu mengalir dari kerlipan mata ibnu sabil pesantren zahroniah.
Semuanya terpaku oleh jamuan seni film yang terbingkai oleh setapak genggam
kehidupan Bu Zahrona. Agus dan Rohmat tersenyum menyembulkan gelagat keriput
keriput diwajahnya yang semakin tak bisa untuk ditutupiya. Meski belum sempurna,
keduanya bangga telah mampu mengenalkan siapa pemilik pondok yang kini telah
meraup ribuan pasang mata santri yang siap menebar ruh islam dalam setiap
kehidupannya.
1986…
Terseok
seok kaki itu melangkah mengitari para warga yang dengan keindahan senyumnya
melepas gadis kecil yang terlahir dari seorang ibu yang sangat disegani karena
keilmuan agamanya. Gadis itu tersenyum dengan tak berhentinya mengibaskan
kerudungya oleh terpaan angin sore.
“Ngangsu
kaweruh kanthi sae nggih neng, mbok Inah among saget dedungo mugi neng Zahrona
dipun rekso gusti Allah, manah lan kesehatanipun.”
Zahrona
mengangguk dan tersenyum dengan seseorang yang telah mengabdikan masa tuanya
untuk merawat Zahrona. Karena itulah bukan suatu yang aneh jika hubungan
diantara keduanya sangatlah dekat. Hingga terkadang kedekatan itu menimbulkan
kecemburuan Umi Lutfia sebagai orang yang telah melahirkan Zahrona. Namun apa
mau dikata, cinta antara seorang abdi ndalem telah terbingkai di hati putri
tercintanya sejak masih bayi. Meski terkadang Umi Lutfia menyesal karena obsesi
untuk menyelesaikan pendidikannya di Al-Azar Cairo menjadikan jarak baginya
untuk mengekspresikan cintanya pada putrinya tersekat.
Zahrona
kembali berdiri disamping mbok Inah dan Abahnya yang juga bersebelahan dengan Umi
Lutfia. Tak lama kemudian Abahnya mengambil nafas sejenak dan meminta izin
warga untuk turut mendoakan putrinya yang akan hijrah berlayar mengarungi ilmu
tuhan.Umi Lutfia tersenyum kemudian menghampiri putrinya yang telah menginjak masa remaja.
“Gimana
udah siap semuanya, sayang?”
“Sampun
Umi.” Jawab Zahrona kemudian melangkah
menuju mobil yang diikuti Abah dan Uminya. Namun, tiba tiba Zahrona
menghentikan langkahnya perlahan.
“Ada
apa, sayang?” Tanya Umi Lutfia.
“Umi….
Mbok
Inah boleh ikut yaa?” Umi Lutfia tercengang kemudian memalingkan wajahnya kearah
suaminya. Abah Zahrona tersenyum kemudian menggeleng.
“Gini
sayang,..
kalau
mbok Inah ikut, nanti yang manyediakan makan malam untuk santri siapa?”
“Kan
ada mbok Sari, Umi. Ayolah Umi, mbok Inah boleh ikut yaa..?”
Ahirnya Zahronapun teriak bangga karena Abah
dan Uminya mengizinkan mbok Inah ikut
bersamanya mengantarkan Zahrona ke pondok dimana ia akan belajar mendalami khazanah
ilmu yang tersimpan dalam kitab kuning.
Umi
Lutfiah tersenyum. Ahirnya setelah hampir tujuh jam mendekam di mobil, beliau
dapat bernafas lega menikmati panorama alam khas Yogya. Dari kejauhan tampak
seorang wanita cantik berlari mendekatinya.
“Assalamualaikum, mbak Lutfiah. Tambah ayu ki suwe ra keton hehehe…
pripun kabare?”
“Alhamdulillah
sae, keluarga ugi sae.”
“Alhamdulillah….
Monggo
pinarak rumiyen. Ampun ting mriki panas hehhe...”
Umi Lutfia ,Abah, Zahrona dan mbok Inah
tersenyum kemudian mengikuti langkah sahabat Umi Lutfia yang juga menjabat
sebagai pengasuh pesantren yang akan menjadi tempat belajar Zahrona. Umi Lutfia
sengaja menganjurkan Zahrona belajar di pesantren sahabatnya, karena beliau
tahu betul kafasihan alqur’an sahabat di Mesirnya dulu dan kecerdasannya dalam
mengkaji kitab kitab kuning. Selain itu, pesantren ini dipilih karena
keberadaannya tepat untuk mewadahi Zahrona dalam mengembangkan kecerdasan
otaknya.
Merekapun berbincang bincang sambil menkmati
gudeg sebagai makanan khas Yogya. Zahrona tak berhentinya tersenyum dengan
keakraban yang terjalin diantara keluarganya dengan bu nyai yang baru saja
diketahuinya. Bu Asfiah, benar yang diceritakan Uminya, sahabat di Mesirnya
dulu sangat cantik dan baik. Hal itu terlihat dari gayanya berbicara yang sopan
dan riang. Beliau juga sering menyelipkan guyonan guyonan yang mampu mencairkan
kebekuan. Tak ayal jika membayangkan saja mengaji dan menghafal di hadapan
beliau, Zahrona seolah menemukan semangat baru yang menambah keinginannya untuk
segera menapaki jalan sebagai santri. Sebagaimana yang dilakukan santri santri
lain di pesantren yang di naungi Abah dan Uminya.
“Gimana, neng Zahronanya udah siap di marah
marahin ibu disini? Hehhe kalau nakal nggak mau ngaji nanti tak suruh kang
kange nyeret.”
“Kalau yang nyeret kang kange mending tiap
hari Zahrona nggak ngaji, bu hehhe.” Balas Zahrona.
Spontan semuanya tertawa dengan kekonyolan
yang diciptakan Zahrona. Umi Lutfia tersenyum dengan guyonan yang baru saja
keluar dari bibir putrinya. Begitu juga seseorang yang tanpa sengaja mendengarkan guyonan yang baru
saja terjadi antara pengasuh pesantren dan santri baru, Zahrona.
“Nggih cekap semanten, bu. Kulo lan Umi Lutfia
nitip Zahrona dipun bimbing lan di arahaken kanthi sae. Sak derengepun keluarga
ngaturaken maturnuwun sanget, among
saget dungo mugi berkah anggen ngeluberake ilmu amin.”
“Nggih nggih amin, pak. Restune mawon saget ngemban
amanah kanthi sae.” Jawab Bu Asfiah.
***
Teng teng teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng
02.00
Fajar kadzib mulai menampakkan kehadirannya. Semua santri
terbangun oleh gelegar loteng yang sengaja dibunyikan. Hal ini bertujuan unuk
membentuk mental santri agar senantiasa membudayakan malam sebagai kendaraan
untuk menemui tuhannya. Hal ini tidak dirasakan Zahrona berat, karena ini
merupakan hal yang biasa dilakukannya ketika masih tinggal bersama Abah dan Uminya.
“Zahrona wes tangi opo durung?” Tanya Bu
Asfiah yang sengaja langsung berkunjung ke pondok untuk mengecek santrinya yang
masih pulas dengan tidurnya.
“Sampun buk.” Jawab santri lainnya.
“Yo wees…
Mengko nek wes podo kumpul mbak mbak e sik
wes senior kon ngimami, ibuk lagi gak solat.”
“Nggih, buuk.”
Seperempat berlalu, semua santriwati kecuali
yang berhalangan telah bekumpul di musholla. Tak hanya santri putri, hal yang
sama dilakukan juga oleh santri putra yang dibimbing langsung oleh Bapak,
suaminya Bu Asfiah.
“Sttt
stttt….gus Endart gus Endart,,,,,,”teriak salah seorang santri yang kemudian
tanpa dikomando semuanya beraksi mejulurkan kepalanya ke pintu yang berhadapan
langsung dengan pintu ndalem. Mata mereka berbinar menyaksikan seseorang
berjalan menembus kegelapan untuk menggantikan Bapak mengimami santri putra tahajudan.
“Subhanallaaaaah,
itu yang namanya gus Endar? Dulu ibuk waktu bikin, doanya apa yaa?” Celetuk Arjom
santri asal Jombang.
“Sttt…saru!”
Protes Gentong salah seorang santri asal Klaten ini memiliki julukan khas dari
santri lain karena porsi tubuhnya yang gedhe.
“Hweech,,,”
Gerutu Arjom kesal.
“Tapi
emang iya kok Arjom yaaa,,,,seganteng itu makanannya apa ya? Heran!” Kata Nunuk
menambahi.
Mereka
larut dalam kekaguman. Hingga tak sadar sepasang mata tiba tiba melotot tepat
di depan pintu. Tak heran jika semua langsung tertunduk dan mengundurkan langkah
kakinya kembali ke sajadah masing masing.
Zahrona
dan santri lainnya telah larut menikmati sepoi angin Yogya dari celah celah
tirai yang tersingkap. Bergelayut dalam pegabdian suci illahi. Menengadah agar
di pesantren ini mereka menemukan apa yang mereka cari.
Zahrona
masih tertunduk dalam sujudnya. Ternyata
pertama kali hidup tanpa Abah, Umi dan mbok Inah disampingnya membuatnya
merasakan ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya. Tapi ia sadar hal ini tak
lain hanyalah sekedar emosi sesaat.
“
Zahrona, kenapa seorang perempuan harus cerdas dan berpengetahuan tinggi?”
Tanya Abah sehari sebelum kepergiannya untuk nyantri.
“Kata
Umi, kesuksesan seorang suami tak bisa lepas dari peran perempuan cerdas di
belakangnya. Makanya baah kalau besok Zahrona udah gede, Zahrona ingin menjadi
perempuan cerdas yang mendukung kesuksesan suami Zahrona. Seperti Abah dan Umi
dan juga sebagaimana yang dilakukan Aisyah terhadap Rasulullah.”
Abah mengangguk dan memeluk putri semata
wayangnya.
“Iya,
sayaaang…
Yang
terpenting untuk saat ini adalah belajar. Pernahkah Zahrona tahu tentang kisah
Sulaiman?”
Zahrona mengangguk. Kemudian menceritakan
tentang betapa besarnya kekuatan ilmu. Hingga ketika Allah meminta Nabi Sulaiman
untuk memilih satu diantara empat pilihan yaitu harta, jabatan, wanita yang
cantik dan ilmu. Maka tak ayal jika Sulaiman lebih memilih ilmu. Karena dengan
ilmu pintu segala kesuksesan akan terbuka.
Abah manggut manggut dengan kisah Sulaiman
yang diceritakan putrinya. Kembali Abah memeluk dan mencium kening Zahrona. Zahrona
tersenyum bahagia. Ia menyadari moment seperti ini jarang sekali singgah di
kehidupannya. Karena kesibukan Abahnya harus mengurusi pesantren.
Dari
balik pintu ahirnya wanita itu melangkahkan kakinya mendekat dan kemudian
membelai kerudung Zahrona.
“Kamu benar, nak
Allah
telah menganugerahkan kenikmatan di seluruh permukaan bumi dan langit. Tapi
hanya dengan ilmulah kenikmatan tuhan itu akan mudah digapai dan dimanfaatkan
untuk ibadah kepadanya.”
Zahrona berbalik arah dan memeluk perempuan yang
atas izin Allah telah menjadikannya merasakan kekuatan dinding rahimnya.
“Allahuakbar.”
Ucap Zahrona lirih kemudian segera menguasai hatinya untuk tidak larut dalam
bayangan Abah dan Uminya.
attahiatu al ssolawatu attoyyibatulillah.
Assalamu’alaika ayyuhannabiyyu warohmatullahi wabarokatuh.Assalamu’alaina
wa’ala ibadillahissolihiiin………..
***
Tak terasa dunia pesantren telah melarutkan Zahrona
untuk tenggelam menikmati belaian lembut cakrawala pengetahuan yang tersimpan
erat di balik balik huruf tak
berharokat. Ia pandangi jajaran kata yang tersusun indah oleh pakar pakar terdahulu. Semua begitu mengagumkan. Bahkan untuk membayangkannyapun Zahrona tak mampu. Bagaimana jerih payah tangan para ulama’ menorehkan dunia berada di balik
kertas kertas yang semula kosong tak bermakna. Bagaimana para ulama’ menahan kepekatan matanya untuk menjejali dan membagi
apa yang diketahuinya lewat bahasa tulisan yang kemudian sampai kepada kita. Bagaimana
kinerja keras ulama’ mencurahkan otaknya untuk berkarya dan bagaimana cara ulama’
melewati padang pasir, gurun, lautan dan entahlah demi sebuah jawaban.
“Sttt..
stttt… nek kene ae, Ci’neng.”
Zahrona mengalihkan pandangannya kearah dimana
suara tersebut berasal.
“Balkon,
mbak?” Balas Ci’neng tak percaya.
Zahrona tersenyum dengan aksi dua temannya.
Ia berpikir kekonyolan ini telah merambat dan menjalar sehingga menyekat pola pikir
mereka untuk bangkit menjelajahi samudra ilmu. Namun, Zahrona menyadari ini
adalah bagian dari sebuah misteri yang harus ia pahami. Mengapa hal itu bisa
terjadi. Bukankah sejak sebelum melangkahkan kaki disini mereka telah paham
dengan apa yang akan digelutinya di pesantren.
“Ci’neng
buruan.” Teriak Gentong.
“Iyah
iyaaah bentar. Balas Ci’neng yang kemudian dengan gesit melangkah keluar
melewati jendela. Sesampainya di balkon, Ci’neng memberi kode Zahrona untuk
menutup tirai jendela agar ketika keamanan oprasi nyawa mereka terselamatkan.
“Kenapa nggak di jemuran aja, mbak?” Bisik Zahrona.
“Udah
nggak aman. Keamanan si Bontot udah mulai curiga. Ya udah buruan tutupin ya
tirainya.”
Zahrona
mengangguk kemudian melakukan apa yang di inginkan teman sekamarnya. Zahrona
tahu mereka melakukan ini bukan tanpa alasan. Mereka hanya menghindari amukan
pak Kurdi yang ketika mengajar tak pernah sekalipun memperliihatkan senyumnya. Zahronapun
heran terbuat dari apakah guru tauhidnya itu. Tak pernahkah beliau berpikir
cara yang ditempuhnya hanya akan menjadikan santri jengah dan bosen bahkan menghindar.
Yach
ini suatu pembelajaran yang berharga bagi Zahrona. Ia tak ingin mewarisi sikap
pak Kurdi yang ekstrim dalam menyalurkan ilmunya. Namun, karena keinginannya
untuk bisa sedikit saja mewarisi keilmuan istri termuda Rasul Aisyah, Zahrona
tak peduli dengan tampang geram pak Kurdi ketika ada santrinya salah dalam
memaknai kitabnya.
“Bismillahi
tawakkaltu ‘alallah.”Zahrona berdoa kemudian melangkah menyusuri lorong gelap
untuk sampai ke kelas dimana pak Kurdi akan menyalurkan ilmunya dengan gaya
yang khas, datar dan mencekam.
“MasyaAllah
udah ditutup pintunya ya, mbak?” Tanya Zahrona pada salah satu santri yang
mencoba membuka pintu tapi gagal.
“Iya,
dek. Kebiasaan nih Ustadz. Masak baru setengah delapan udah ditutup pintunya.
Kalau bukan karena tauhid ilmu yang
wajib untuk diketahui dek, sumpah males banget harus ketemu nih orang.”
“Hmmmm
salam aja yuk mbak, mana tahu dibukain pintunya.”
“Haaah?”
Jawab santri tersebut ragu. Zahrona tak peduli kemudian ia melangkah dan
mnegucapkan salam agak keras agar terdengar dari tempat duduk dimana pak Kurdi
mengajar.
Tak
seberapa lama kemudian Zahrona berucap syukur. Perlahan pintu terbuka, ia dan
teman sekelasnyapun mengendap ngendap ketakutan kemudian masuk. Namun baru saja ia akan duduk, suara khas pak Kurdi
mencegahnya.
“Yang
baru masuk baca halaman lima belas.”
Dalam hati Zahrona bersyukur, apa yang diperintahkan
pak Kurdi telah ia pelajari sebelumnya. Begitu juga degan seseorang yang begitu
antusias untuk mengetahui ketauhidan tuhan tak peduli risalah tentang itu
disampaikan oleh ustadz yang bernama pak Kurdi. Satu satunya ustadz yang mampu
mengubah pola pikir pengurus untuk aktif
berorasi dan beroprasi meninjau santri yang malas malasan mengikuti
ngajinya pak Kurdi.
“Bismillahirrohmanirrohim.” Ucap Zahrona
mengawali bacaannya.
Semua santri terpana menyimpan kekaguman
dengan apa yang sedang didengarnya. Suara Zahrona halus dan tegas membaca
setiap kata dengan fasih dan benar. Bahkan karena itu, langitpun menggumang
tentang keanehan yang terjadi dalam sosok ustadz yang selama ini begitu angker.
Beliau mampu tersenyum bahkan memuji kehebatan santrinya dapat menguasai
jejeran kata tanpa makna.
***
Bagaikan
janji bintang
Siapapun
akan berdecak kagum
Saat..
Ketika
mata itu mengalihkan sejenak pandangannya untuk menguasai malam dengan
keajaiban tahtanya
“Bagaikan
janji bintang.” Begitulah Zahrona mendeskripsikan tentang kehidupan yang
diselaminya dalam memenangkan rivalnya.Rival yang hanya dengan hatinyalah ia
dapat mengatahui sejauh apa ia mampu menggenggam apa yang seharusnya ia
genggam.
Semua
itu perlahan terbukti seiring perjalanan waktu Zahrona menggeluti dunianya.
Dunia al-qur’annya, dunia kitabnya dan dunia pesantrennya. Karena dengan ketekunan
itulah Zahrona merasakan kemudahan baginya menjelajahi fase yang dulu hanya
menjadi bagian dari imajinasinya.
Sekarang…
Semua dapat tersenyum bangga. Tak hanya
gumpalan awan putih yang melaju seiring putaran bumi mengelilingi matahari, atau
kicauan burung yang berlalu lalang memenuhi dunia tak terbatasya. Semua bangga,
dan bahkan kebanggan itu beradu menjadi sebuah titik kekaguman yang harus
diujikan dalam rival sesungguhnya. Yaitu rival yang tak hanya melawan diri
sendiri, tapi melawan sesuatu yang harus dilawan sebagai bentuk perjuangan
terhadap apa yang telah sebelumnya diperjuangkan oleh Kartini. Salah satu
perempuan di Indonesia yang mampu mengubah ketersekatan perempuan menjadi
perempuan tangguh yang dapat mencengkeram dunia dalam genggamannya.
“Gimana udah siap nak?”
“Bismillahirrohmanirrohim insyaAllah buk,
pangestune mawon seget ngemban amanah meniko kanthi sae ugi ikhlas.”
Bu Asfiah mengangguk kemudian menuju kamar
sebentar dan keluar dengan membawa kitab lusuh. Zahrona ingin menangis saat
ketika kitab lusuh itu harus berganti tangan dari Bu Asfiah ke tangannya. Ia
merasa belum mampu, namun ini adalah sebuah titah yang harus diperjuangkannya
dan dijaga.
“Kitab ini kitab turunan dari Abah. Jadi ya
wajar kalau udah blutek kaya gini, yang penting isinya masih bisa dibaca dan
disampaikan ke yang lainnya.”
“Nggih, buuk.” Ucap Zahrona kemudian
melangkah meninggalkan jejak kaki yang masih mematung sembari mengiring doa
untuk ungkapan sebuah titah.
Disepanjang perjalanan Zahrona masih saja
merenung dengan titah yang baru saja menghampirinya. Titah yang akan
menghantarkannya pada suatu bentuk keberkahan seorang bunyai. Keberkahan yang
jika tuhan menghendakinya, semua akan berjalan pada rotasi garis ketetapan
tuhan. Namun, satu hal yang terkadang berkecamuk mengobrak abrikkan pemikiran Zahrona.
Benarkah keberkahan itu akan terus mengikuti jejak langkah penerimanya, ataukah
hanya sekedar penghantar bagi penerimanya untuk berjalan menyusuri apa yang pernah
ditelusuri oleh jejak jejak pewaris para Nabi sebelumnya?
Entahlah Zahrona tak mampu lagi berpikir
lebih keras. Sekarang yang ada dihadapanya hanya satu, yaitu bagaimana titah
yang telah diterimanya dari Bu Asfiah akan sampai pada gelora gelora yang tak
akan pernah terpadamkan oleh terobosan terobosan pengetahuan.
“Bismillahirrohmanirrohim.” Bisik Zahrona
sebelum memasuki segerombolan orang orang yang telah melingkar menanti siraman
pengetahuan dari kitab ta’lim al muata’allim karya Syaih Zarnuji.
Zahrona mengucapkan salam kemudian masuk dan
duduk di tempat yang telah disediakan untuknya. Dalam hati ia bersyukur betapa
maha Al-rohman dan Al-rohimnya Allah mengizinkan ia menempati posisi Bu Asfiah
dalam majlis ta’lim yang telah berpuluh puluh tahun diampunya. Belum lama ia
mensyukuri anugerah terindah tersebut, dua sosok wanita seumuran Zahrona
berjalan menunduk dengan menggunakan lututnya kemudian menyungguhkan hidangan
dan segelas teh.
“Subhanallaaah.”
Zahrona tak lagi mampu menyembunyikan rasa
harunya. Sebegitu spesialkah kehadirannya di majlis ini, hingga ia merasa
perlakuan dan jamuan yang disungguhkan warga begitu berharga. Zahrona merasa
semua jamuan ini terlalu berharga dan belum saatnya ia mendapatkan ini. Ia
bukan bu nyai yang setiap orang berlomba lomba untuk menekat demi
keberkahannya. Tapi Zahrona hanyalah seorang santri yang hanya kebetulan
mendapatkan kepercayaan untuk menggantikan posisi Bu Asfiah dalam pembelajaran
mengkaji kitab Ta’lim Al –Muta’alim.
Zahrona tersenyum kemudian mulai membuka
percakapan dengan gaya khasnya. Semua yang hadir tertawa oleh sungguhan guyonan
Zahrona. Begitu juga Zahrona, ia bersyukur banget karena perlahan semua yang
hadir mulai terbiasa dengan gaya berpikir Zahrona dalam menyampaikan dakwahnya,
“Pripun siap dipunlanjutaken nopo dipuncekapi
semanten pengaosanipun, mbak-mbake ugi ibuk-ibuke ingkang sampun podo ngantuk
nggih hehheeee?”
Spontan para kaum ibuk-ibuk protes dengan apa
yang baru saja dikatakan Zahrona. mereka tidak terima dibilang ngantuk, dan hal
itu sungguh membuat Zahrona semangat untuk melestarikan budaya yang dulu
sebelum Indonesia mengalami masa kegemilangan, hal ini hanya menjadi bagian
dari angan angan belaka. Yang kemudian ketika Kartini menyadari akan
kesenjangan yang terjadi antara kaum laki laki dan perempuan, dari situlah Kartini
berani melangkah, memberontak demi emansipasi wanita.
“Hmm oke oke diralat. Pripun tasih semangat ibuk
–ibuke ting pojok?”
“Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaat.” Jawab ibuk ibuk
yang berada di pojok serempak.
Zahrona mengangguk kemudian melanjutkan
membaca kitab ta’lim al muata’allimnya.
“Faslun, utawi iki iku fasl siji. Fi
mahiyatil ilmi iku kang nerangake kepentingane ilmu. Wal fiqhi, lan fiqh. Wa
fadllihi, lan keutamaane.” Zahrona menghela nafas sejenak kemudian menjelaskan
apa yang baru saja dibacanya.
“Ibuk ibuk, mbak mbake yang manis manis, bab
selanjutnya yaitu membahas tentang pentingnya ilmu, fiqh dan keutamaannya..”
Qolaa
Rasulullahi SAW ta’ala alaihi wassalam, tholabul ilmi faridlotun ‘ala kulli
muslimin wal muslimatin.
***
Sepasang mata itu kembali hadir menguntit
langkah kaki yang terseok seok di balik senja yang mulai mengatup. Membiaskan
cahayanya menyusuri titik pusat langkah itu akan terhenti. Perlahan, langkah
itu mulai goyah dan ragu, kemudian tersekat diantara sepasang mata yang mampu
menjadikan pemilik langkah itu terkagum dalam diam.
“Mmmm maaf, aku hanya ingin mengantarkanmu
sampai pesantren.”
Zahrona tercengang diam tak mampu berkata apa
apa. Mata itu tak mampu diingkarinya begitu meneduhkan. Begitu memukau hingga
tanpa disadari Zahronapun mengangguk kemudian kembali melangkah dan membiarkan
mata penguntit itu menyusuri lebih lama langkah langkah kakinya.
Jarak pesantren semakin dekat, Zahrona
menghentikan langkahnya dan sejenak memandang mata itu. Mata itu balas memandangnya kemudian
mengangguk ke arah Zahrona dan pergi.
“Terimakasih atas kerelaan matamu
menghantarkanku sampai disini. Di tempat dimana aku harus kembali.
Mata itu berbalik arah membelakangi Zahrona.
Ia berharap disela sela langakahnya, meski hanya sekejab mata itu kembali dapat
dinikmati keteduhannya. Zahrona tersenyum, cahaya senja itu benar benar ia
temukan lewat sapuan mata penguntit itu.
“Zahrona aja, dia cakap kok!”
“Iya bener dijamin kita akan mengukir sejarah di pesantren
tercinta kita.” Teriak Gentong menambahi usulan Ci’neng.
“Secakap apapun Zahrona, dia masih tergolong
santri baru yang pengalamannya tidak dapat disaingkan dengan santri senior
komplek AB. Apa kita ingin mengulang masa lalu, pulang dengan membawa
kekalahan?”
Zahrona bingung ada apa gerangan yang
menjadikan namanya begitu banyak
dijadikan perdebatan diantara teman temannya dan pengurus pondok. Zahrona malu, suara mereka bahkan terdengar sampai
luar.
Tanpa pikir panjang Zahrona segera berlari
menuju pondok yang sudah tak lagi jauh dari tempatya berada. Ia kaget, disitu
tepat di depan pengumuman yang entah pengumuman apa Zahrona tidak tahu, ada
jajaran pengurus dan teman temannya saling beradu argumen.
“Apa apaan sih ini? Suara sampean sampean itu
lho terdengar mengusik warga kampung.
Seperti inikah santrinya Bu Asfiah?”
Bontot geram dengan apa yang baru saja
dikatakan Zahrona. Ia merasa harga dirinya terinjak diprotes oleh santri yang
masih bau kencur menempati pesantren ini.
“Seperti inikah jagoanmu Gentong? Bagaimana
pondok kita akan mengukir prestasi, jika yang diajukan bahkan tidak memiliki sopan
santun terhadap seniornya?”
“Huuch.”
Jawab Gentong dan Ci’neng bersamaan kemudian melengos pergi meninggalkan
Bontot cs.
Zahrona menggelengkan kepala, bingung dengan
apa yang sebanarnya terjadi. Begitupun teman teman yang lain. Mereka hanya
dapat mengerutkan keningnya sembari kembali ke kamarnya masing masing.
Sesampainya di kamar, Zahrona ingin sekali
memejamkan matanya sejenak melepas penat sembari menunggu sang mu’adzin
mengumandangkan adzan. Namun berkali kali Zahrona mencoba untuk tidak peduli
dengan apa yang terjadi, hal itu terlalu sulit untuk dimusnahkan walau hanya sekejab. Tragedi debat tersebut masih saja
berlanjut di jajaran santri santri yang mendukung ataupun menolak Zahrona.
“Ngapain sih masih ngembahas masalah tadi?
Bukankah itu bagian dari ghibah? Membicarakan orang lain dibelakangnya.”
“Ini bukan lagi masalah ghibah dan tidaknya
ghibah,Zahrona. Tapi menyangkut pondok kita ke depannya. Pokoknya kalau mereka
masih bersi keras tidak membiarkan kamu maju menaklukkan komplek AB, dijamin nanti
malam nggak bakal ada suporternya.”
“MasyaAllah, kenapa harus sedangkal itu, mbak
cara berfikir sampean? Toh kalaupun saya yang maju nanti malam, saya juga nggak
bakalan siap. Kalau mereka lebih siap kenapa kita tidak mendukung perjuangan
mereka?”
“Iya kalau menang kalau kalah?”
“Mending
kalah, aku jauh lebih siap tidak mendengar tawa yang menyeringai dari mereka.
Jika menang, mereka akan bertambah besar kepalnya.” kata Arjom dongkol.
Zahrona
menggelengkan kepala kemudian bangkit untuk memenuhi panggilan mu’adzin.
Kapalanya dirasakan pening, lelah mendengarkan keributan di pesantrennya. Ia
berpikir mengapa hal ini bisa terjadi, mengapa antara santri dan pengurus tidak
bersatu untuk kemenangan pondok ini. Mengapa mereka saling mencerca mencoba
menjadi yang lebih kuat demi ego masing
masing. Dan mengapa harus dirinya yang terlibat dalam perdebatan ini?
Perdebatan
tersebut bagaikan kepulan asap yang menyebar tertiup angin hingga sampai ke
pendengaran ibuk. Melihat polah santrinya, hati ibuk teriris kemudian mengambil
langkah dengan mengumpulkan semua santri di aula sebelum lomba debat dimulai.
“Anak
anakku, lomba tidak lain hanyalah ajang untuk menguji seberapa besar kemampuan
kita dalam meraup pengetahuan yang tersebar di bumi. Bukan sebagai ajang untuk memamerkan apa yang
telah kita miliki. Ibuk bangga santri santri disini cakap dan pintar, tapi ibuk
mohon jangan jadikan kecerdasan kalian sebagai alat untuk menjatuhkan yang
lainnya. Bahkan sampai menimbulkan perselisihan dan fitnah, na’udzu billahi
mindzalik.”
Semua
santri terdiam luruh dalam kekecewaan seorang pengasuh. Kemudian dari kekecewaan itulah sinar cahaya
yang mulai redup kembali menggelitik memenuhi pesantren Bu Asfiah. Mereka dapat
kembali menebarkan cinta dan kedamaian. Bontot beserta jajarannya tersenyum
kemudian menyapa dan menghampiri Zahrona untuk diajaknya gabung
menyemarakkan debat untuk membawa pulang
kemenangan.
“Maaf
mbak jika hanya untuk kemenangan Zahrona tidak bisa, mbak. Masih ada hal yang
jauh lebih penting untuk kita harapkan daripada sekedar meraih kemenangan.”
Bontot tersenyum dan perlahan mengangguk.
“Iya,,
kita masih memiliki otak untuk berpikir demi menemukan sesuatu yang jauh lebih
bermanfaat untuk kita, bangsa dan agama
kita.”
Kerlipan cahaya bintang semakin terang
menghiasi panorama malam di bawah tapak bumi pesantren. Semuanya tergengggam
mencapai titik dimana semuanya harus beradu bukan untuk mencari kemenangan
semata, melainkan mencari demi menemukan sebuah kebebasan bagi kaum hawa untuk
menemukan dunianya.
Dunia saat ketika semua masih berada dalam
cengkeraman ego dan penindasan. Gerak perempuan tersekat dan hanya terbelenggu
oleh 3M. macak, masak dan manak. Dari situlah Kartini tergerak untuk membebaskan
langkah agar perempuan dapat mengekspresikan gaya dan karyanya untuk mewarnai
dunia. Namun, mengapa dunia masih terlalu
sempit dipahami oleh santri. Karena itulah Zahrona ingin hadir sebagai Kartini
baru di masa selanjutnya, dimana seorang perempuan sudah seharusnya dapat bebas
mengepakkan sayapnya menjelajahi samudra kehidupan dari bilik manapun yang
disukainya.
Karena itulah dalam majlis tersebut perwakilan
komplek AB bertandang dengan segenap kemampuannya untuk tetap membela apa yang
telah diyakininya. Bersikukuh dengan berdasarkan bahwasanya perempuan berada di
dalam kekuasaan seorang laki laki.
“Jadi saya tegaskan lagi, tidak ada alasan
bagi perempuan membantah suami untuk menginginkan apapun dari istrinya kecuali
hal hal yang telah dikecualikan. Seperti seorang suami memerintah seorang istri
untuk melakukan maksiat. Hal itu jelas Allah menganjurkan seorang istri untuk
membantahnya.”
“Benar apa
yang dikatakan sahabat saya Fahrudin.
Merujuk pada pengertian wajib dan haram itu sendiri dijelaskan, selama
tidak ada dalil atau larangan dari Allah untuk menjauhi sesuatu maka sesuatu
tersebut berarti boleh. Sedangkan selama ditemukan dalil yang diperintahkan
kepada hambanya maka semua itu berlaku sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan
bukan dibantah dengan berbagai alasan. Dari pengertian tersebut, saya rasa kita
akan peham bagaimana batas sesungguhnya seorang istri berada dibawah kekuasaan
seorang suami, qodrat bagi seorang istri untuk melayani suami dengan menyiapkan
keperluan sehari hari, mengurusi anak dan rumah tangganya, seperti pekerjaan
membersihkan rumah dan memasak.”
“Oke terimakasih sahabat Ardian atas jawaban
yang sangat memukau dan menakjubkan. Namun yang perlu digaris bawahi
pernyataannya sampean, benarkah qodrat seorang istri harus mengurusi pekerjaan
rumah tangga? Jika benar itu adanya, bagaimana bisa sampean menyebut seorang
perempuan yang telah sampean nikahi suatu saat nanti sebagai seorang istri,
tidakkah itu pantas disebut sebagai babu? Yang 24 jam non stop harus dapat
mengurusi kebutuhan dan keperluannya sampean, jika benar itu adanya bukankah
itu dinamakan penindasan?Apakah islam meperbolehkannya? Jadi tolong ketika sampean ingin mempertahankan
argumennya sampean jangan mengatakan pekerjaan rumah tangga adalah qodrat perempuan.
Karena apa, karena qodrat perempuan yang selamanya tidak dapat diubah yaitu
menyusui dan melahirkan. Jika hal ini dihubungkan dengan qoidah Al- adatu
muhakkamah, saya rasa hal itu masih dapat diterima. Hal ini dikarenakan melihat
kondisi persepsi masyarakat di Indonesia yang tidak dapat luput bahwasanya
seorang istri berkewajiban mengurusi rumah tangga. Namun jika ditelaah lebih
dalam salah satu contoh dari qoidah tersebut yaitu mengenahi masalah menstrusi
seorang perempuan. Ketika seorang perempuan menstruasi maka dikembalikan sebagaimana
kebiasaan menstruasinya. Contoh ketika kebiasaan seorang perempuan menstruasi
adalah 8 hari, Namun entah karena apa, pada hari ke Sembilan darahnya masih
juga keluar, hal ini dikembalikan pada dasar kebiasaannya dengan meneliti
terlebih dahulu darah yang keluar. Apakah darah tersebut sesuai dengan
kebiasaannya atau sesuai dengan ciri ciri darah mentruasi sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Fathul Wahab
dalam bab Haidl.”
Hening yang terdengar hanyalah desas desus
santri yang terkuak emosinya menyaksikan debat yang semakin memanas. Kedua
belah pihak sama sama kuat dalam mempertahankan jawaban. Mereka memiliki dasar
yang kuat yang menjadikan penonton semakin penasaran menuai kesimpulan ending
dari debat tersebut.
“Oke bagaimana saudara Ardian dan Fahrudin
masih adakah tanggapan untuk menanggapi pernyataan saudari Zahrona? jika tidak
berarti kita akan meminta tanggapan dari penonton untuk menanggapi pernyataan
saudari Zahrona.”
Zahrona terdiam berharap tidak akan ada lagi
tanggapan dari lawan.Ia sudah lelah dan menginginkan lomba debat ini segera
usai.
“Huuuucf….” Sejenak Zahrona merelaksasikan
matanya agar tetap kelihatan segar. Dikedip kedipkan matanya ke arah sahabat
sahabat sekamarnya yang masih saja bugar dan semangat menyaksikan lomba.
Gentong
hanya cengengesan melihat mata Zahrona yang agak membengkak menahan kantuk.
Sekelebat mata Zahrona terkejut dengan mata yang tadi sore menghantarkannya
sampai pondok. Ia segera mencari keseluruh penjuru santri sembari berharap mata
itu kembali dapat ditatapnya malam ini. Namun sudah berulang kali mata Zahrona
menyusuri ratusan mata santri, ia tidak menemukan mata itu berpendar di
tahtanya.
“Huuuucff mungkin hanya ilusi.” Bisik Zahrona
dalam hati.
Malam semakin larut , panitia memutuskan
untuk mengahiri debat yang diselenggarakan kali ini. Baik kelompok Zahrona ataupun kelompok Fahrudin
mereka sama sama mendapatkan aplous yang begitu berharga dari penonton karena
kehebatan mereka dalam mempertahankan dan memberikan argumennya masing masing.
“ Oke terimakasih untuk semuanya atas
partisipasi dan persaingan yang begitu
memukau dari kedua kelompok. Terimakasih juga kepada segenap santri yang ikut
serta meramaikan dan menyemangati acara debat kali ini. Kami akui dari segenap
panitia benar benar terkejut dengan apa yang disungguhkan dari kelompok mbak Zahrona
dan kang Fahrudin. Akan tetapi karena ini adalah sebuah pertandingin, maka mau
tidak mau kami akan memilih mana yang terbaik diantara yang terbaik dalam
mengemukakan argument. Tetapi, satu hal yang perlu digaris bawahi bahwasanya
dari tema yang di bahas dalam perdebatan kali ini jujur dari panitia sendiri
masih harus belajar banyak dan mengkaji serta menyelami dunia kitab agar dapat
menemukan jawaban yang mendekati kebenaran.
Zainal menghela nafas sejenak menatap deretan
santri yang tampak begitu semangat dan was was dengan siapa yang akan dipilih
dewan juri menempati posisi bersejarah tahun ini. Bahkan sebagai orang yang
dipercaya memimpin berjalannya debat malam ini, Zainal bingung dan lebih
memilih diam membungkam mengenahi siapa
yang berhak pulang dengan membawa kemenangan.
“Hmm bingung ni mo ngomong apa lagi. Pokoknya
untuk kedua kelompok, saya tidak berani komen apa apa, saya kagum dan mengakui
kehebatan kalian. Sekarang disini secarik kertas ini entah sebagai suratan
taqdir atau entahlah para dewan juri memutuskan pemenangnya adalah….”
Zainal sengaja menghentikan sejenak
pembicaraannya agar lebih membuat penonton semakin penasaran dengan siapa yang
dianggap dewan juri berhak pulang dengan membawa kemenangan.
“Yaaach dapatkah penonton menebak siapa pemenanganya?”
Jeritan penonton membahana memenuhi ruangan
berukuran 20x15. Mereka begitu semangat
mengemukakan pendapatnya tentang siapa yang berhak menyandang kemenangan lomba
debat kali ini.
“Oke oke saya kira pilihan kalian tidak ada
yang salah, Semua benar, karena keduanya sama sama cakap dan baik. Akan tetapi
disini dewan juri memutuskan dengan berbagai pertimbangan bahwa pemenangnya
adalah kelompok putra yaitu Fahrudin dan Ardian. Hal ini didasarkan pada
tanggapan mbak Zahrona bahwa seandainya kasus urusan rumah tangga dihubungkan
dengan qoidah Al Adatu Muhakkamah, maka masih bisa diterima, jika urusan
tersebut lebih dominan harus dikerjakan oleh seorang perempuan(istri). Dari
tanggapan tesebut kelompok mbak Zahrona dianggap menyetujui argument lawan
meski dengan alasan yang berbeda.
Gema tawa kebahagian menyatu. Begitu juga
yang dilakukan oleh Zahrona dan kelompoknya terhadap kelompok Fahrudin. Meski Zahrona gagal mengukir
sejarah, ia tak berkecil hati.
“Selamat
yaaa…
Semoga kedepannya jauh lebih baik bagiku,
bagimu dan bagi kita, semua santri Bu Asfiah.”
“Amiin.. barokillah
ukhti.”
“Amin…”
Pendar bintang gemintang bergerumbul
membentuk rasi rasi yang nyata. Zahrona tersenyum ketika dilihatnya rasi
bintang itu seolah mengikutinya. Ke kanan ke kiri dilangkahkan kakinya secara
bergantian. Zahrona semakin tergoda untuk membiarkan rasi rasi itu mengikuti
gerak gerik kakinya yang lincah. Ia merasa bintang bintang itu tersenyum hingga
mampu mengalihkan rasa kantuk yang dideritanya. Sembari mendongak ke arah langit, Zahrona terus melangkah
menyusuri jalanan kecil menuju kompleknya.
“Mbak..”
Dug
Mata itu kembali ditemukannya di secarik
kanvas cahaya langit yang berpendar memenuhi malam. Zahrona terdiam menikmati
degupan jantung yang berdetak begitu cepat.
“Berjalanlah seperti biasanya, jangan pernah
berbalik dan berhenti, saat setelah sampean melihat tawa mereka menyeringai menikmati adegan gilanya
sampean.”
Hwahahhaa,,, huuuu,, kwkwkw
Benar yang dikatakan mata teduh itu. Sekarang
saat ketika Zahrona telah menemukan jutaan tawa menggema terhipnotis oleh
adegan gilanya, Zahrona hanya dapat
berjalan cepat menahan malu yang semakin menggerogoti kebahagian yang baru
saja ditemukannya lewat goresan bintang
gemintang.
***
Tatapan mata itu
Telah membuatku merasakan, tuhan telah menitipkan
cintanya untukku
Membiarkan aku terjamu
Oleh degupan nada
Dan
alunan yang entah mengapa
Aku merasakan semua begitu indah dan nyata
Terimakasih tuhan
Telaga mata itu membiarkanku tenggelam dalam dekapannya
“Huuuueeeck,,,huuuck,,,”
Zahrona segera membungkam mulutnya menuju
kamar mandi. Semua teman teman sekamarnya heran, tidak biasanya Zahrona seperti
ini.
“Kamu sakit, Na??” Tanya Gentong kawatir melihat wajah teman sekamarnya tampak
pucat.
“Nggak tahu mbak tiba tiba jadi pelanggan
kamar mandi ni, ahir ahir ini perutku mual melulu.”
“Nih anak ya, sakit masiiiiiiiiiih saja bisa
becanda. Heran!”
“Masuk angin tuuch,makanya jangan suka
begadang.” Kata Nunu’ menambahi.
“Hmm…”
Ya
udah Zahrona pamit dulu ya, mbak assala…” Belum sepat meneruskan salamnya, Zahrona
segera meluncur ke kamar mandi. Sebenarnya ia sangat takut, apa yang
dirasakannya sekarang bukanlah masuk angin seperti apa yang dikira Nunu’.
Melainkan akibat dosa terindah yang pernah dilakukan dengan pemilik mata teduh
yang telah menyihir segenap rasional otaknya untuk berpikir.
“Mungkinkah?”
Zahrona menyesal mengapa hal seburuk itu bisa
terjadi pada dirinya. Seseorang yang dipercaya bu nyai meski hanya sedikit untuk
menduduki tahtanya. Tahta amanah untuk membagikan ilmunya lewat goresan pena
tua yang tersimpan dalam kitab lusuh dari Abah seorang bunyai.
Zahrona benar benar menyesal dan menangis
sejadi jadinya. Ia tidak tau apa yang harus dilakukan dan tak mampu
membayangkan betapa kecewanya ibuk jika tahu santri yang diercayainya tidak
lain hanyalah seorang …….
“Ya Allah mengapa dulu aku tak pernah
menyadari bahwa tatapan mata teduh itu bukanlah titipan cinta darimu? Ya Allah
aku merasakan tatapan itu, tak lain hanyalah hunusan pedang iblis yang mengaku
percikan cintamu. Ya Allah mengapa tak kau musnahkan saja tatapan itu, saat
setelah ia memberi tahuku untuk,Berjalanlah seperti biasanya, jangan pernah
berbalik dan berhenti, saat setelah sampean melihat tawa mereka menyeringai menikmati adegan gilanya
sampean. Mengapa aku begitu menikmati ceritanya tentang bagaimana anak putra
mentertawakan adegan gilaku saat merasa rasi bintang perlahan bergerak seolah
mengikutiku? Mengapa harus ada pertemuan
selanjutnya ya Allah, hingga kini menjadikanku terpuruk oleh kebodohanku.”
“Na…
Kamu nggak papa thoo?.”
“Ng.. ng….nggak, mbak.”
Sekembalinya dari kamar mandi, semuanya
terkejut melihat mata Zahrona tampak sembab.
“Mbak Nunu’ bisa gantiin Zahrona ngisi pengajian
di majlis kampung sebelah?”
“Tapi, Na?”
“Udahlah Nunu’ terima aja kasian Zahrona
tuu.” Protes Ci’neng terhadap sahabatnya Nunu’.
Nunu’ mengangguk. Zahrona tersenyum diantara kegetiran yang melanda dan
menghakimi kesalahan yang pernah diperbuatnya.
“Makasih ya, mbak Nun…” ucap Zahrona kemudian
segera meluncur ke dapur ndalem. Sesampainya di dapur, deretan abdi ndalem
terheran dengan keberadaan Zahrona yang masuk tanpa salam terlebih dahulu.
“Ehmm.. maaf bisa tolong buatin wedang jahe,
kang?ada teman yang sakit.” Kata Zahrona berbohong.
“Saget mbak, saget. Sekedap nggih?”
Zahrona mengangguk sembari menatap jemari mata teduh itu yang sama sekali tak
respek akan keberadaannya. Ia amati jemari itu dengan lincah menarikan pisaunya
menghujam bawang merah yang perlahan membuat mata teduhnya kabur oleh rasa perih yang ditimbulkannya.
Zahrona tak kuasa menahan air matanya untuk
tidak menetes. Hatinya terlalu sakit hanya untuk sekedar membiarkan mata teduh
itu tersayat perihnya tirisan bawang merah. Bukan karena itu, melainkan hati Zahrona
terlalu perih dan jauh lebih sakit dari semua yang ada.
Gubrak
Zahrona membanting pintu kemudian begitu saja
keluar meninggalkan jejak jejak keheranan oleh semua abdi ndalem. Sejenak mereka
terdiam dan menghentikkan aktivitasnya. Mata teduh itu beranjak dengan alasan
yang tak mampu ditafsirkan oleh kawan abdi ndalem lainnya. Otaknya berpikir
untuk menggerakkkan kakinya ke suatu tempat dimana ia tahu dan yakin, bahwa
pelangi yang ditemukan tidak hanya diwaktu hujan menunggunya.
“Apa yang bisa dilakukan mata teduhmu untuk
menghentikan hujan tangis di matamu? Hingga mata ini dapat memandang jelas
keindahan pelangi berpendar di tahtanya.”
“Tahta itu telah hancur dan tidak akan pernah
membiarkan pelangi berpendar menghias mata teduhmu. Jika masih mungkin untuk
bisa, semua itu amat sangat sulit.”
“Sesulit apa hingga mata teduh ini tidak lagi
dapat menjangkaunya?”
“Sesulit mata teduhmu menemukan hujan di
musim kemarau, di kegersangan yang perlahan akan membuat telaga mata teduhmu
mengering. Dan aku merasakan semua itu sangat sakit.”
“Kenapa harus sakit?”
Zahrona menatap lekat mata teduh yang kini
telah menghancurkan keberadaannya.
“Karena mata teduhmu telah menenggelamkan
senja menghardik dan menghujam pelangimu. Menjadikan pelangimu rapuh dan tak
kuasa untuk sejenak saja membiarkan keteduhan matamu menyapu seganap rasionalitasku
untuk berpikir. Telaga dan keteduhanmu adalah candu iblis yang kini membuatku
terpuruk.”
“Kenapa harus terpuruk?”
“Kenapa harus terpuruk?” Zahrona mengulangi
apa yang baru saja dikatakan oleh
pemilik mata teduh itu.
“Karena biasan telagamu menjadikan pelangi
berpikir tentang siapa diriku
sesungguhnya?”
“Jika sudah kau temukan tentang dirimu, kenapa
harus menagis dan merasakan sakit? Bukankah itu yang dicari oleh setiap raga
yang terhembus oleh nyawa?”
“Apakah aku harus bangga menemukan diriku tak
lain hanyalah seorang pezina yang gelab mata karena keteduhan matamu. Tak
sadarkah kau, benihmu di rahimku…”
Emosi Zahrona memuncak hingga ia tak sanggup
lagi melanjutkan perkataannya. Di
depannya, mata teduh itu hanya dapat menatap pilu pelangi yang kini terpekur menahan
sakit. Begitu juga dengan hatinya, meski berusaha tegar, perlahan mata teduh
itu kabur oleh cairan bening yang menetes dari pelupuk matanya.
“Sekarang kami
tahu, topeng santrimu tak lagi dapat menutupi jiwa iblis yang bersemayam erat
di tubuhmu. Sungguh saya kecewa dengan kamu Zahrona.Tidakkah kamu tahu mana
jalan yang halal yang harus kau tempuh jika tak lagi dapat memadamkan jerat nafsumu.
Dan kau Musthofa, ibuk pasti menyesal memakan
makanan olahan tangan kotormu, tangan iblis.
Baik Zahrona ataupun Musthofa hanya dapat
diam tak tahu harus berkata apa. Bahkan keduanya tak tahu sejak kapan usatadz Ma’sum
dan santrinya berada disini.
“Najis!
Dicambuk aja tadz.” Celetuk salah satu santri.
“Yaach benar! untung kita diutus ibuk bersih
bersih area ini. Jika tidak, mungkin selamanya tempat ini akan jadi tempat
mesum.” Celetuk santri lain.
Tak berapa lama semua santri ikut menghujam Zahrona
dan Musthofa. Mereka menyeret keduanya dengan caci maki yang sangat memekakkan
telinga. Zahrona berteriak kencang dan menangis berharap mendapat belasan
kasihan dari mereka. Tapi nash, teriakan itu bagaikan angin lalu yang
menghilang tanpa harus disesali. Bahkan mereka seolah mengginkan teriakan itu
terhunus oleh tangan Izroil
Kini ratusan pasang mata santri Bu Asfiah
Abdul Khozin merasa tertampar oleh tindakan terkutuk yang dilakukan Zahrona dan
Musthofa. Mereka gelab mata tidak lagi peduli dengan teriakan Zahrona yang
meronta merintih dan menyesal dengan apa yag telah dilakukan.
Puuuck
Zahrona menyeka cairan merah yang mengalir
hangat dari pelipisnya.
“Ini
nih yang lebih pantas diterima perempuan jalang sepertimu.” Teriak sorang
santri kemudian melemparkan dua telur tepat di wajah Zahrona.
“Rasa
sakit ini begitu nyata ya Allah….”
Rintih Zahrona dalam hati. Ia tak peduli
santri santri lain ikut melemparinya dengan apa saja yang ditemukan. Ia hanya
dapat menatap nanar perempuan yang terpaku dan terdiam oleh kekecewaan yang
baru saja diusungnya.
“Pergilah!
Tempat ini terlalu suci untuk kau singgahi.”
Kata Gentong kemudian melemparkan tas ransel kehadapan sahabatnya dan pergi.
Zahrona meraih tas ransel sembari manatap
nanar kepergian sahabatnya dan Bu Asfiah secara bergantian.
“Maafkan saya, buuk.” Ucap Zahrona kemudian
melangkakahkan kakinya meninggalkan
pesantren yang telah begitu banyak menorehkan kenangan di hidupnya.
***
Berita tentang kehamilan Zahrona bagaikan
asap yang diterpa angin menyebar
memenuhi penjuru alam. Menyelubung memenuhi kuping kuping tak berdosa
menghimpit dan menyekat aliran darah untuk sejenak berpikir meredakan ego tak
sadarnya. Zahrona tahu, apa yang telah dilakukannya hanya akan menjadikan kabar
gulita bagi malam malam dimana Abah dan Uminya bersujud, menengadah mencoba
mencari dan menemukan dimana mereka akan berdiri. Jika masih mungkin untuk
tegap, tiang apa lagi yang dapat berkenan menopang keberadaannya selain Allah?
“Maafkan putrimu, Abah…”
“Haruskah dengan tangan Abahmu hukuman cambuk itu diberlakukan?”
“Abah…” Teriak Umi tak percaya dengan apa yang baru saja
dikatakan suaminya.
“Meski Negara ini bukan Negara islam Umi, aku
akan melakukannya terhadap seseorang yang terlahir dari nuthfahku.”
“Abaaah..”
Plakkk…
Satu sabetan mengenahi pantat Zahrona. Ia
mengaduh menahan rasa perih.
”Lakukanlah, bah. Jika itu dapat membuat
engkau ikhlas menerima semuanya.” Kata Zahrona dalam hati. Meski ia tahu
selamanya hal ini akan menjadi kenyataan
terkeji yang menampar kehidupan orang tuanya.
Plaak..
“Hentikan!”
Plak
“Umi bilang hentikan!” Teriak Umi yang kedua
kalinya.
“Umi… aku mohon biarkan Abah menghukumku, Umii.”
Rintih Zahrona sembari mendekap kaki Umi.
“Pergi!
Atau akan kuperintahkan masa menyeretmu.”
“Maafkan Zahrona, Umi.”
“PERGIIIIIIIIII.” Teriak Umi sembari
menghempaskan kakinya hingga Zahronapun terjatuh.
“Jika masih mancintai Umi, Umi mohon pergilah!”
Kata Umi lirih kemudian masuk rumah tak peduli putrinya merintih berharap akan
uluran tangan dan menanting tangannya untuk bangkit.
Tapi nash, uluran tangan itu hanya suatu
kemustahilan yang tidak akan pernah terjadi sampai ia benar benar dapat bangkit
dan mengembalikan semuanya. Mengembalikan percikan percikan yang telah retak
tergores muslihat shaitan yang karena
kebutaannya telah dirasakan bagaikan titipan cinta tuhan.
“Mbok Inah…..”
“Pergilah neng mbok akan menemanimu.”
“Benarkah, mbok?”
Mbok Inah mengangguk membuat Zahrona semakin
terisak oleh tangis kebahagiaan. Tangis haru akan uluran tangan tuhan yang
dengan belas kasih cinta dan rahmatnya masih berkenan menciptakan pencakar
kehidupan itu hadir menguatkan bangunan kehidupan yang telah hancur.
“Makasih, mbok.” Ucap Zahrona kemudian
melangkah sejengkah demi sejengkah menyusuri perkampungan kumuh yang ini
merupakan kali pertamanya ia menemuinya
disini, di tempat sebagaimana yang dicantumkan mbok Inah saat menyuruhnya
pergi.
“Jika ini bagian dari fase aku selanjutnya, aku
mohon ya Allah biarkan aku menapakkan jalanku disini atas dasar cintamu
sesungguhnya. Cinta yang atas kuasamu
mampu menjadikan aku bertahan di masa dimana kutang kutang itu masih
menjadi hal yang mengasikkan untuk
berpendar kokoh tak berbalutkan kain lain.”
Tiga hari kemudian mbok Inah benar benar
menepati janjinya. Ia rela meninggalkan kemegahan orang tua Zahrona demi menyusulnya di perkampungan kumuh.Beliau
tersenyum saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah yang ternyata adalah
tempat dimana mbok Inah dilahirkan. Berbeda dengan Zahrona, meski ia berusaha
untuk tersenyum menghadapi keterasingan yang saat ini dijalaninya, keterasingan
tersebut terlalu enggan hanya untuk sedikit berbagi masa bagi Zahrona untuk
mengenalnya.
“Zahrona nggak kuat tinggal disini, mbok.”
Perlahan senyum mbok Inah memudar. Butiran
Kristal dipelupuk matanya terjatuh. Zahrona masih saja meronta, meski ia tahu
apa yang dilakukannya tidak akan mengubah apapun.
“Ngomong, neng,…
Siapa yang telah menanam nutfah di rahimmu?”
Zahrona semakin terisak dan membiarkan
pertanyaan mbok Inah berlalu bagaikan petir yang menghilang tanpa harus
disesali.
Melihat hal itu, mbok Inah tak putus asa.
Beliau berusaha membujuk dengan segenap kesabarannya agar Zahrona berkenan
memberitahukan siapa ayah dari janin yang kini mendekam erat di rahimnya. Zahrona
masih saja terdiam membuat kesabaran mbok Inah perlahan memudar menjadi emosi
yang tidak dapat terkontrol lagi. Mbok Inah marah dan bahkan mengancam Zahrona
untuk membiarkannya hidup sendiri di lingkungan yang masih begitu asing di
kehidupanya.
Paginya setelah mbok Inah berhasil menggertak
Zahrona, beliau meminta Zahrona untuk makan yang banyak agar ia kuat selama di perjalanan. Ia tak tahu kemana
mbok Inah akan membawanya, yang ia tahu kakinya nyeri dengan luka yang semakin
melebar. Melihat ketidakberdayaan Zahrona, mbok Inah menghentikan sejenak
langkahnya dan memijat seseorang yang telah sejak kecil diasuhnya.
“Sabar nggih, neng. Bengkak neng ini hanyalah
gawan bayi.”
Zahrona mengangguk sembari menahan rasa perih
di kakinya yang tak jua reda.
“Sampun mendingan, neng sakitnya?”
Untuk kedua kalinya Zahrona mengangguk. Ia
tak tega untuk mengatakan tidak. Keduanyapun kembali melangkah dan seperempat
kemudian mereka dapat menarik nafas panjang sembari menikmati sepoinya jamuan
alam dengan bersandarkan kursi reot yang ditumpanginya.
Perlahan mata ini
mengatup
Membiarkan selaksa alam asing membawanya ke peraduan
antah berantah
Tak kenal dan tak mengerti
Namun….
Ia percaya kaki tua itu akan melangkah mencari secercah
cahaya yang masih menguning di ujung senja yang telah rapuh
“ Mbok Inah sebenarnya kita mau kemana sih?”
Belum sempat mbok Inah menjawab, suara ricuh
penumpang mengalihkan keduanya. Semuanya menggerutu kesal oleh keputusan
kondektur yang tidak dapat dipercaya. Akibatnya si kondektur hanya dapat termangu oleh amukan penumpang.
“Hooo kalo tahu kaya gini jadinya, gak
bakalan ngikut bis ini aku. Udah reot menipu lagi. Huuuuch…” Omel perempuan
paruh baya kepada si kondektur.
“Ya udah kita turun yuk, mbok…”
Mbok Inah mengangguk kemudian menyisingkan
tapehnya agar dapat lebih mudah menuruni tangga bis. Namun tiba tiba…
Stttt,,, braaak…
Gelap
Langkah kaki tua itu terhenti
Tersekat..
Oleh denyut nadi yang semakin melemah
Dan perlahan…
***
“Temui Musthofa!”
Entah untuk yang
keberapa kalinya pesan itu begitu mengoyak alam sadar Zahrona.Ia berpikir,
mungkinkah karena alasan itu mbok Inah
mengajaknya pergi ke suatu tempat yang ia sendiri tak mengetahuinya.
Sampai saat ketika jawaban itu belum sempat tergenggam, lisan tua itu telah
lebih dulu terbungkam.
“Benarkah karena
itu, mbok?...
Jika ya,,,
Maaf! tak ada
alasan lagi bagiku tuk menemuinya.”
“Bu Zahrona kenapa
menangis?” Tanya Agus dengan lugunya.
“Nggak nak, ibuk
hanya bangga di saat ibuk benar benar terjatuh kehilangan dua orang yang sangat
berarti dalam kehidupan ibuk, Allah berkenan menghadirkan kalian berada disini.
Makasih ya, sayaang?”
Agus dan Rohmat mengangguk kemudian mendekat
dan memeluk erat Zahrona.
“Sekali lagi
makasih ya, sayang. Karena keberadaan kalian menjadikan ibuk menemukan alasan
mengapa ibuk harus bertahan tanpa harus terpuruk akan kepergian mbok Inah dan
bayiku.”
“Terimakasih juga
ya, buuk. Meski terlalu muda untuk dipanggil ibuk, anda telah berkenan
membiarkan kami disini menikmati masa kami. Karenamu, kami tidak lagi hidup
berkawankan jalanan.”
Dan…
Tak hanya terkadang
Kamipun bangga
Berpelukkan jalanan dan berkawankanmu,,,
Kau
dan aku
Disini…
***
Sepi
Semuanya
terisak dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sungguhan itu begitu memukau,
menguak emosi dan menenggelamkan pandangan untuk tertunduk, merasakan demi
mengetahui sebuah jawaban menjadi jawaban….
Dari tangan siapakah pesantren ini terlahir??
THE
END
SEPENGGAL SURGA YANG TERLUKA
Oleh: Sulistyoningsih
Di
sini
Di
puncak peraduanku
Ku
sematkan cinta tuhan untukmu ,anakku
Cinta
yang tak pernah luruh meniupkan kehidupan
Cinta
yang tak pernah mengering mengalirkan riak riak berdentuman
Wahai
engkau pemangku zaman,,,,
Ingatlah
sayang
Jangan
biarkan masa mencabikmu, menggenggammu dan memutus urat lehermu
Wa idz akhodza robbuka min bani adama min dhuhurihim
dzurriyatahum wa asyhadahum ‘ala anfusihim,alastu birobbikum,qolu bala syahidna
an taqulu yaumal qiyamati inna kunna ‘an hadza gofilin
Masa masih enggan memberikan jawaban pasti
tentang apa yang akan terjadi. Hening, semua hanya dapat mengatup sembari
berbisik lirih mengalunkan bait bait suci kalam illahi. Berharap diantara
denting denting harapan pasi, masih ada sepercik kehangatan yang dapat
merangkul dan mendekap wajah wajah yang mulai menampakkan kepudaran.
Delapan bulan
Wajah wajah itu tak pernah usang menanti
waktu menjawab semuanya. Menjawab sebuah
masa yang mulai mengering seolah kehilangan sosok yang telah menjadikan kanvas
dan oase masa berarti. Namun, sebuah titik oase masih sanggup bertahan. Mereka tak akan membiarkan masa menggulung dan
melenyapkan denyut denyut yang masih menyembulkan kehidupan. Mereka yakin
diantara hembusan nafas yang tersengal, akan ada keajaiban kata yang mampu
mengubah semuanya. Mengubah dan menjadikan zaman terdekap erat di genggaman
penguasa cilik yang terlahir dari tangan penyihir buta.
Yaaach penyihir buta. Semua berawal dari
sebuah masa yang tak mampu dikendalikan. Gejolak yang dirasakannya begitu indah
telah menyesatkan dan menyeret ia ke dalam jurang yang kemudian semua harus
berahir di pembantaian. Cacian, murka, amarah dan entah apa lagi.Terlalu banyak
hingga masapun tak mampu mendeteksi dan mendefinisikannya. Namun, pembantaian
dan caci maki itu tak membuatnya lekas
mati. Ia bangkit dan mencoba menghapus yang
telah basi, karena ia yakin tuhan masih memberikan percikan cintanya dengan
aksi dekomposer yang kemudian menjadikannya sebuah zat-zat anorganik yang terserap oleh
tumbuhan. Itulah dia yang terlahir kembali dari sebuah masa kegelapan hingga ia
mampu berdiri dan melahirkan generasi generasi baru.
Generasi generasi itulah yang kini senantiasa
manjaga dan tak pernah letih menyenandungkan bisikan rohani pada seseorang yang
kini hanya mampu terbaring lemah sembari menanti Allah menjatuhkan taqdir
kehidupan selanjutnya.
“Gus
gus…ibuk menangis.”
“Heeh…?”
Agus menghentikan sejenak aktivitas membaca al qur’annya. Ia pandangi
mata yang telah beberapa hari ini tak lagi dapat membuka atau sejenak saja
berkedib membiarkan cahaya masuk menerobos retina. Benar, telaga teduh itu
terpejam, namun keterpejaman itu meneyiratkan
sesuatu yang tidak semua orang dapat menginterpretasi pesan apa yang berusaha
disampaikannya.
“Buuuk.” Sapa Rohmat.
Mata tua itu masih saja terpejam tanpa sejenakpun menghentikan air matanya
untuk tak terjatuh. Rohmat kebingungan tak tau apa yang terjadi pada seseorang yang telah dianggapnya sebagai ibu
kandungnya sendiri.Agus yang semula berdiam diri ikut mendekat dan menyapa
perempuan hebat di hadapannya.
“Bu Zahrona, ini Agus buuk.”
Aliran air mata itu semakin deras mengalir
membasahi pipi yang mulai mengkriput.Pipi yang dulu selalu menampakkan rona
kemerahannya. Yang baginya rona itu tak sekedar rona yang menjadikan siapapun
melihatnya terkagum akan pesona yang dipancarkannya. Namun, rona itu begitu
alami terpancar dari kesungguhan hati yang dipenuhi akan cinta penghambaan
illahi.
“Agus
ambilin minum ya, buuk.”
Diam. Agus dan Rohmat saling berpandangan
mencoba saling bertukar pikiran apa yang sebenarnya dirasakan Bu Zahrona.
Keduanya menggeleng tak tau.
“Ibuuuk,Rohmat
panggilin dokter dulu yaa?”
Tiba tiba tangan itu tergerak pelan. Agus dan
Rohmat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Agus
terpana dan segera menggenggam erat tangan
Bu Zahrona.Begitu juga Rohmat, ia segera mengurungkan niatnya untuk menemui
dokter.Ia tau saat ini Bu Zahrona sangat menginginkan keduanya hadir menemani
mata tuanya terbuka dan kembali menyikap warna yang entah telah berapa sekian
waktu tak dirasakannya.
Dingin itu semakin menjalar, merambat dan
menghentikan aliran darah, menyekat pernafasan dan membungkam lisan tua itu
untuk berkata. Namun, meski hanya dengan terkatup perlahan suara lirih itu
terdengar.Mereka hanya dapat menduga mungkinkah ini saat semua akan terambil
dan terlepas dari titik dimana ruh bersemayam,yang kemudian raga itu terbujur
kaku dan hanya akan meninggalkan jejak jejak kenangan,,,,,,,,,
***
Masa
telah menjawab semuanya, bahwa perlahan titik ujung cengkeraman Izroil tak akan
pernah sedetik saja meleset dari sasaran mautnya. Ruh itu terlepas meningalkan
kumpulan organ yang terbalut daging. Yang semua mengakui bahwa awal dari
keberadaan itu tak lain hanyalah dari setetes nuthfah yang tersimpan kokoh di
ruang dimana tuhan telah menjamin telapaknya sebagai keridhohan surganya.
Kini
tak hanya dua sosok pemangku zaman yang masih berdiri tegap dan kemudian
melangkah menjejaki dunia tanpa alas seorang penyihir buta. Semua mengakui tak
hanya pada pandangan yang terlihat oleh kasat mata. Alam yang tak dapat dijangkau oleh tangan tangan
yang terlahir dari benih Adam, dan semuanya masih enggan terbangun dari
kegelapan karena masa yang mengambil penyihir buta dirasakannya terlalu cepat.
Yaach,,,,
Semua terasa begitu cepat mengambil alih masa
untuk terlepas dari bingkainya. Hingga saat mata tua itu benar benar harus
terpejam, dua pemangku zaman masih merasa risalah yang telah sampai padanya
belum sepenuhnya sempurna. Namun entahlah, kini semuanya benar benar gelap, dan
kegelapan itu yang memaksa pemangku zaman
harus tergerak melangkah
memerangi sebuah masa.
“Gimana sudah siap?” Tanya seorang mudin.
Rohmat dan Agus hanya mampu menganggukkan
kepala dan berusaha setegar mungkin untuk tidak melepas kepergian orang yang
dicintainya dengan derai air mata. Keduanya yakin Bu Zahrona akan tersenyum berkawankan kebaikan tuhan. Meski
ada satu masa gelap yang tak akan pernah terlupakan sejarah dimana seseorang
yang kini di bopong menuju peraduan terakhir, adalah seseorang yang pernah
mengingkari kesucian kalam tuhan.
“Selamat
tinggal, Bu Zahrona. Kami sangat mencintaimu.” Bisik Agus yang diangguki oleh Rohmat.
Keduanyapun
pulang sembari menghimpit senja yang mulai menguning. Melangkah tegap membawa
janji yang terikror di atas kemilau nisan karena terpaan mentari. Padang
ilalang kemarau menjadi saksi bisu bahwa suatu saat nanti, cinta itu tumbuh
kembali membawa masa akan tertunduk di penghambaan tuhannya. Mengabdi dan
bersujud menikmati nada nada kenikmatan tuhan yang tak terhitung oleh setiap
jengkal kaki melangkah dan berkarya.
Tak hanya itu, semuanyapun tak akan pernah
ada yang mampu untuk menghitung seberapa banyak dan luas karunia illahi yang
tersebar secara horizontal dan vertikal kehidupan. Semua anugerah itu terlalu
indah, terlalu berharga untuk sekedar diingkari dengan kebahagiaan semu. Namun,
dalam kalamnya Allah menyebarkan barbagai cara utuk menguji kemampuan hambanya.
Hal itu dilakukan Allah bukan karena kekuasaanya untuk menghakimi seseorang
melalui garis taqdirnya. Melainkan sebagai kekuasan demokrasi tuhan yang
memberikan jalan pilihan bagi hambanya untuk memilih apa apa yang dikehendaki.
Tak
hanya terlepas begitu saja, Ar- Rahman dan Ar-Rahim Allah tersebar memenuhi
keidahan bumi yang tersampaikan lewat kalam tuhan dan rasulnya. Dari situlah manusia akan dimintai
pertanggung jawaban, sudahkan apa yang dilakukan sesuai deangan rambu rabu
illahi.
Jika iya tentulah manusia akan menuai
keindahan abadi di sisinya, bergelimang kenikmatan yang selamanya tak akan pernah
terlepas. Namun jika hal itu berlaku
sebaliknya, Allah maha pengampun dan menerima hambanya untuk melakukan
perubahan.Sebagaimana yang pernah dilakukan Bu Zahrona, seseorang yang atas
kuasa illahi terlahir untuk merasakan keindahan dunia dari setetes nuthfah yang
dipenuhi akan cahaya keimanan illahi. Terbungkus oleh dinding rahim seorang ibu
yang sangat menikmati denyutan hidup berpayungkan cinta tuhan.
***
Tujuh
hari kepergian Bu Zahrona langit masih saja kelabu. Mendung masih saja bergumul
menjanjikan tetesan hujan terjatuh menyatukan kembali tanah tanah yang telah
merengggang akan kemarau yang melebihi separuh musim. Rohmat dan Agus duduk
terpaku sembari menanti bidadari kecil berlarian, berkejar kejaran dengan
menenteng qiro’ah di surau kecil peninggalan Bu Zahrona.
“Ada
yang hilang, Guus.” Keluh Rohmat.
“Iyaaa,
sekarang aku merasakan surau ini kosong. Tak ada lagi tawa mencumbu kita dikala
malam menjelang. Guyonan itu, serasa tak akan pernah tergantikan.”
Agus
mengangguk dan kemudian mengalihkan peredaran arah matanya menyapu kepekatan
sore yang masih saja berselimut kabut. Sembari meneguk kopi dengan ditemani
sebatang rokok, Agus menghembuskan
perlahan kepulan asap dari mulutnya, berharap duka itu menghilang bersamaan
asap putih yang perlahan pudar dan sirna oleh angin sore peralihan musim.
“Seandainya
semudah kepulan asap ini kesedihan kita tanpa Bu Zahrona, tentulah hal itu akan
memudahkan kita untuk bangkit.”
Rohmat menggeleng kemudian menatap erat
sahabatnya.
“Kenangan
Bu Zahrona di surau ini terlalu indah dan tak sepadan dengan kepulan asapmu Guus.
Bu Zahrona mewariskan kepada kita dan semua yang belajar disini dengan sesuatu
yang dapat menjadikan seeorang melakukan perubahan. Perubahan dalam menguasai
barisan huruf huruf hijaiyah menjadi suatu rentetan kata yang menenggelamkan
pemiliknya ke kedamaian seorang hamba pada tuhannya.
“Benar,
Rohmat. Peninggalan Bu Zahrona tak seperti kepulan asap dari hisapan rokokku.
Kepulan asap ini hanya akan menjadikan detak jantung semakin melemah oleh
nikotin yang menyebar menjadikan pembuluh darah kita tersumbat dan mengalami
pembengkakan. Yang ketika saatnya tiba nyawa seseorang akan begitu saja terhunus oleh cengkeraman pedang Izroil.”
Geram Agus sembari mematikan rokok yang hampir habis dihisapnya.
Rohmat mengangguk. Sejenak kemudian keduanya
bangkit menoreh senyum di kerlingan duka yang belum sepenuhnya musnah. Titik
titik air pun menetes perlahan membasahi pelataran bumi yang telah amat sangat mengering
kehausan, menjadikan bocah bocah kecil surau yang masih belum memiliki nama itu
berlarian menangkap tetesan air yang terjatuh. Mereka enggan untuk sejenak saja
bersinggah mengayunkan kakinya ke surau tempat dimana kenangan penyihir buta
bersimpuh erat melekat di dinding dinding putihnya.
Rohmat dan Agus tersenyum menyapa bidadari
kecil untuk menghidupkan kembali surau
ini.Mereka mengangguk dan memperlihatkan geraham giginya. Perlahan satu per
satu diantara mereka mulai terlatih untuk mencintai kalam suci tuhan dengan
membaca dan menghafalnya.
“Sabbihis ma robbikal a’la. Alladzi kholaqo
fasawwa. Walladzi qoddaro fahada…”
Demi
langit yang datang pada malam hari, dan tahukah kamu apakah yang datang pada
malam hari itu? Bintang yang bersinar tajam,….
***
Dua puluh tiga tahun kemudian
Derai cinta tu mengalir dari kerlipan mata ibnu sabil pesantren zahroniah.
Semuanya terpaku oleh jamuan seni film yang terbingkai oleh setapak genggam
kehidupan Bu Zahrona. Agus dan Rohmat tersenyum menyembulkan gelagat keriput
keriput diwajahnya yang semakin tak bisa untuk ditutupiya. Meski belum sempurna,
keduanya bangga telah mampu mengenalkan siapa pemilik pondok yang kini telah
meraup ribuan pasang mata santri yang siap menebar ruh islam dalam setiap
kehidupannya.
1986…
Terseok
seok kaki itu melangkah mengitari para warga yang dengan keindahan senyumnya
melepas gadis kecil yang terlahir dari seorang ibu yang sangat disegani karena
keilmuan agamanya. Gadis itu tersenyum dengan tak berhentinya mengibaskan
kerudungya oleh terpaan angin sore.
“Ngangsu
kaweruh kanthi sae nggih neng, mbok Inah among saget dedungo mugi neng Zahrona
dipun rekso gusti Allah, manah lan kesehatanipun.”
Zahrona
mengangguk dan tersenyum dengan seseorang yang telah mengabdikan masa tuanya
untuk merawat Zahrona. Karena itulah bukan suatu yang aneh jika hubungan
diantara keduanya sangatlah dekat. Hingga terkadang kedekatan itu menimbulkan
kecemburuan Umi Lutfia sebagai orang yang telah melahirkan Zahrona. Namun apa
mau dikata, cinta antara seorang abdi ndalem telah terbingkai di hati putri
tercintanya sejak masih bayi. Meski terkadang Umi Lutfia menyesal karena obsesi
untuk menyelesaikan pendidikannya di Al-Azar Cairo menjadikan jarak baginya
untuk mengekspresikan cintanya pada putrinya tersekat.
Zahrona
kembali berdiri disamping mbok Inah dan Abahnya yang juga bersebelahan dengan Umi
Lutfia. Tak lama kemudian Abahnya mengambil nafas sejenak dan meminta izin
warga untuk turut mendoakan putrinya yang akan hijrah berlayar mengarungi ilmu
tuhan.Umi Lutfia tersenyum kemudian menghampiri putrinya yang telah menginjak masa remaja.
“Gimana
udah siap semuanya, sayang?”
“Sampun
Umi.” Jawab Zahrona kemudian melangkah
menuju mobil yang diikuti Abah dan Uminya. Namun, tiba tiba Zahrona
menghentikan langkahnya perlahan.
“Ada
apa, sayang?” Tanya Umi Lutfia.
“Umi….
Mbok
Inah boleh ikut yaa?” Umi Lutfia tercengang kemudian memalingkan wajahnya kearah
suaminya. Abah Zahrona tersenyum kemudian menggeleng.
“Gini
sayang,..
kalau
mbok Inah ikut, nanti yang manyediakan makan malam untuk santri siapa?”
“Kan
ada mbok Sari, Umi. Ayolah Umi, mbok Inah boleh ikut yaa..?”
Ahirnya Zahronapun teriak bangga karena Abah
dan Uminya mengizinkan mbok Inah ikut
bersamanya mengantarkan Zahrona ke pondok dimana ia akan belajar mendalami khazanah
ilmu yang tersimpan dalam kitab kuning.
Umi
Lutfiah tersenyum. Ahirnya setelah hampir tujuh jam mendekam di mobil, beliau
dapat bernafas lega menikmati panorama alam khas Yogya. Dari kejauhan tampak
seorang wanita cantik berlari mendekatinya.
“Assalamualaikum, mbak Lutfiah. Tambah ayu ki suwe ra keton hehehe…
pripun kabare?”
“Alhamdulillah
sae, keluarga ugi sae.”
“Alhamdulillah….
Monggo
pinarak rumiyen. Ampun ting mriki panas hehhe...”
Umi Lutfia ,Abah, Zahrona dan mbok Inah
tersenyum kemudian mengikuti langkah sahabat Umi Lutfia yang juga menjabat
sebagai pengasuh pesantren yang akan menjadi tempat belajar Zahrona. Umi Lutfia
sengaja menganjurkan Zahrona belajar di pesantren sahabatnya, karena beliau
tahu betul kafasihan alqur’an sahabat di Mesirnya dulu dan kecerdasannya dalam
mengkaji kitab kitab kuning. Selain itu, pesantren ini dipilih karena
keberadaannya tepat untuk mewadahi Zahrona dalam mengembangkan kecerdasan
otaknya.
Merekapun berbincang bincang sambil menkmati
gudeg sebagai makanan khas Yogya. Zahrona tak berhentinya tersenyum dengan
keakraban yang terjalin diantara keluarganya dengan bu nyai yang baru saja
diketahuinya. Bu Asfiah, benar yang diceritakan Uminya, sahabat di Mesirnya
dulu sangat cantik dan baik. Hal itu terlihat dari gayanya berbicara yang sopan
dan riang. Beliau juga sering menyelipkan guyonan guyonan yang mampu mencairkan
kebekuan. Tak ayal jika membayangkan saja mengaji dan menghafal di hadapan
beliau, Zahrona seolah menemukan semangat baru yang menambah keinginannya untuk
segera menapaki jalan sebagai santri. Sebagaimana yang dilakukan santri santri
lain di pesantren yang di naungi Abah dan Uminya.
“Gimana, neng Zahronanya udah siap di marah
marahin ibu disini? Hehhe kalau nakal nggak mau ngaji nanti tak suruh kang
kange nyeret.”
“Kalau yang nyeret kang kange mending tiap
hari Zahrona nggak ngaji, bu hehhe.” Balas Zahrona.
Spontan semuanya tertawa dengan kekonyolan
yang diciptakan Zahrona. Umi Lutfia tersenyum dengan guyonan yang baru saja
keluar dari bibir putrinya. Begitu juga seseorang yang tanpa sengaja mendengarkan guyonan yang baru
saja terjadi antara pengasuh pesantren dan santri baru, Zahrona.
“Nggih cekap semanten, bu. Kulo lan Umi Lutfia
nitip Zahrona dipun bimbing lan di arahaken kanthi sae. Sak derengepun keluarga
ngaturaken maturnuwun sanget, among
saget dungo mugi berkah anggen ngeluberake ilmu amin.”
“Nggih nggih amin, pak. Restune mawon saget ngemban
amanah kanthi sae.” Jawab Bu Asfiah.
***
Teng teng teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng
02.00
Fajar kadzib mulai menampakkan kehadirannya. Semua santri
terbangun oleh gelegar loteng yang sengaja dibunyikan. Hal ini bertujuan unuk
membentuk mental santri agar senantiasa membudayakan malam sebagai kendaraan
untuk menemui tuhannya. Hal ini tidak dirasakan Zahrona berat, karena ini
merupakan hal yang biasa dilakukannya ketika masih tinggal bersama Abah dan Uminya.
“Zahrona wes tangi opo durung?” Tanya Bu
Asfiah yang sengaja langsung berkunjung ke pondok untuk mengecek santrinya yang
masih pulas dengan tidurnya.
“Sampun buk.” Jawab santri lainnya.
“Yo wees…
Mengko nek wes podo kumpul mbak mbak e sik
wes senior kon ngimami, ibuk lagi gak solat.”
“Nggih, buuk.”
Seperempat berlalu, semua santriwati kecuali
yang berhalangan telah bekumpul di musholla. Tak hanya santri putri, hal yang
sama dilakukan juga oleh santri putra yang dibimbing langsung oleh Bapak,
suaminya Bu Asfiah.
“Sttt
stttt….gus Endart gus Endart,,,,,,”teriak salah seorang santri yang kemudian
tanpa dikomando semuanya beraksi mejulurkan kepalanya ke pintu yang berhadapan
langsung dengan pintu ndalem. Mata mereka berbinar menyaksikan seseorang
berjalan menembus kegelapan untuk menggantikan Bapak mengimami santri putra tahajudan.
“Subhanallaaaaah,
itu yang namanya gus Endar? Dulu ibuk waktu bikin, doanya apa yaa?” Celetuk Arjom
santri asal Jombang.
“Sttt…saru!”
Protes Gentong salah seorang santri asal Klaten ini memiliki julukan khas dari
santri lain karena porsi tubuhnya yang gedhe.
“Hweech,,,”
Gerutu Arjom kesal.
“Tapi
emang iya kok Arjom yaaa,,,,seganteng itu makanannya apa ya? Heran!” Kata Nunuk
menambahi.
Mereka
larut dalam kekaguman. Hingga tak sadar sepasang mata tiba tiba melotot tepat
di depan pintu. Tak heran jika semua langsung tertunduk dan mengundurkan langkah
kakinya kembali ke sajadah masing masing.
Zahrona
dan santri lainnya telah larut menikmati sepoi angin Yogya dari celah celah
tirai yang tersingkap. Bergelayut dalam pegabdian suci illahi. Menengadah agar
di pesantren ini mereka menemukan apa yang mereka cari.
Zahrona
masih tertunduk dalam sujudnya. Ternyata
pertama kali hidup tanpa Abah, Umi dan mbok Inah disampingnya membuatnya
merasakan ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya. Tapi ia sadar hal ini tak
lain hanyalah sekedar emosi sesaat.
“
Zahrona, kenapa seorang perempuan harus cerdas dan berpengetahuan tinggi?”
Tanya Abah sehari sebelum kepergiannya untuk nyantri.
“Kata
Umi, kesuksesan seorang suami tak bisa lepas dari peran perempuan cerdas di
belakangnya. Makanya baah kalau besok Zahrona udah gede, Zahrona ingin menjadi
perempuan cerdas yang mendukung kesuksesan suami Zahrona. Seperti Abah dan Umi
dan juga sebagaimana yang dilakukan Aisyah terhadap Rasulullah.”
Abah mengangguk dan memeluk putri semata
wayangnya.
“Iya,
sayaaang…
Yang
terpenting untuk saat ini adalah belajar. Pernahkah Zahrona tahu tentang kisah
Sulaiman?”
Zahrona mengangguk. Kemudian menceritakan
tentang betapa besarnya kekuatan ilmu. Hingga ketika Allah meminta Nabi Sulaiman
untuk memilih satu diantara empat pilihan yaitu harta, jabatan, wanita yang
cantik dan ilmu. Maka tak ayal jika Sulaiman lebih memilih ilmu. Karena dengan
ilmu pintu segala kesuksesan akan terbuka.
Abah manggut manggut dengan kisah Sulaiman
yang diceritakan putrinya. Kembali Abah memeluk dan mencium kening Zahrona. Zahrona
tersenyum bahagia. Ia menyadari moment seperti ini jarang sekali singgah di
kehidupannya. Karena kesibukan Abahnya harus mengurusi pesantren.
Dari
balik pintu ahirnya wanita itu melangkahkan kakinya mendekat dan kemudian
membelai kerudung Zahrona.
“Kamu benar, nak
Allah
telah menganugerahkan kenikmatan di seluruh permukaan bumi dan langit. Tapi
hanya dengan ilmulah kenikmatan tuhan itu akan mudah digapai dan dimanfaatkan
untuk ibadah kepadanya.”
Zahrona berbalik arah dan memeluk perempuan yang
atas izin Allah telah menjadikannya merasakan kekuatan dinding rahimnya.
“Allahuakbar.”
Ucap Zahrona lirih kemudian segera menguasai hatinya untuk tidak larut dalam
bayangan Abah dan Uminya.
attahiatu al ssolawatu attoyyibatulillah.
Assalamu’alaika ayyuhannabiyyu warohmatullahi wabarokatuh.Assalamu’alaina
wa’ala ibadillahissolihiiin………..
***
Tak terasa dunia pesantren telah melarutkan Zahrona
untuk tenggelam menikmati belaian lembut cakrawala pengetahuan yang tersimpan
erat di balik balik huruf tak
berharokat. Ia pandangi jajaran kata yang tersusun indah oleh pakar pakar terdahulu. Semua begitu mengagumkan. Bahkan untuk membayangkannyapun Zahrona tak mampu. Bagaimana jerih payah tangan para ulama’ menorehkan dunia berada di balik
kertas kertas yang semula kosong tak bermakna. Bagaimana para ulama’ menahan kepekatan matanya untuk menjejali dan membagi
apa yang diketahuinya lewat bahasa tulisan yang kemudian sampai kepada kita. Bagaimana
kinerja keras ulama’ mencurahkan otaknya untuk berkarya dan bagaimana cara ulama’
melewati padang pasir, gurun, lautan dan entahlah demi sebuah jawaban.
“Sttt..
stttt… nek kene ae, Ci’neng.”
Zahrona mengalihkan pandangannya kearah dimana
suara tersebut berasal.
“Balkon,
mbak?” Balas Ci’neng tak percaya.
Zahrona tersenyum dengan aksi dua temannya.
Ia berpikir kekonyolan ini telah merambat dan menjalar sehingga menyekat pola pikir
mereka untuk bangkit menjelajahi samudra ilmu. Namun, Zahrona menyadari ini
adalah bagian dari sebuah misteri yang harus ia pahami. Mengapa hal itu bisa
terjadi. Bukankah sejak sebelum melangkahkan kaki disini mereka telah paham
dengan apa yang akan digelutinya di pesantren.
“Ci’neng
buruan.” Teriak Gentong.
“Iyah
iyaaah bentar. Balas Ci’neng yang kemudian dengan gesit melangkah keluar
melewati jendela. Sesampainya di balkon, Ci’neng memberi kode Zahrona untuk
menutup tirai jendela agar ketika keamanan oprasi nyawa mereka terselamatkan.
“Kenapa nggak di jemuran aja, mbak?” Bisik Zahrona.
“Udah
nggak aman. Keamanan si Bontot udah mulai curiga. Ya udah buruan tutupin ya
tirainya.”
Zahrona
mengangguk kemudian melakukan apa yang di inginkan teman sekamarnya. Zahrona
tahu mereka melakukan ini bukan tanpa alasan. Mereka hanya menghindari amukan
pak Kurdi yang ketika mengajar tak pernah sekalipun memperliihatkan senyumnya. Zahronapun
heran terbuat dari apakah guru tauhidnya itu. Tak pernahkah beliau berpikir
cara yang ditempuhnya hanya akan menjadikan santri jengah dan bosen bahkan menghindar.
Yach
ini suatu pembelajaran yang berharga bagi Zahrona. Ia tak ingin mewarisi sikap
pak Kurdi yang ekstrim dalam menyalurkan ilmunya. Namun, karena keinginannya
untuk bisa sedikit saja mewarisi keilmuan istri termuda Rasul Aisyah, Zahrona
tak peduli dengan tampang geram pak Kurdi ketika ada santrinya salah dalam
memaknai kitabnya.
“Bismillahi
tawakkaltu ‘alallah.”Zahrona berdoa kemudian melangkah menyusuri lorong gelap
untuk sampai ke kelas dimana pak Kurdi akan menyalurkan ilmunya dengan gaya
yang khas, datar dan mencekam.
“MasyaAllah
udah ditutup pintunya ya, mbak?” Tanya Zahrona pada salah satu santri yang
mencoba membuka pintu tapi gagal.
“Iya,
dek. Kebiasaan nih Ustadz. Masak baru setengah delapan udah ditutup pintunya.
Kalau bukan karena tauhid ilmu yang
wajib untuk diketahui dek, sumpah males banget harus ketemu nih orang.”
“Hmmmm
salam aja yuk mbak, mana tahu dibukain pintunya.”
“Haaah?”
Jawab santri tersebut ragu. Zahrona tak peduli kemudian ia melangkah dan
mnegucapkan salam agak keras agar terdengar dari tempat duduk dimana pak Kurdi
mengajar.
Tak
seberapa lama kemudian Zahrona berucap syukur. Perlahan pintu terbuka, ia dan
teman sekelasnyapun mengendap ngendap ketakutan kemudian masuk. Namun baru saja ia akan duduk, suara khas pak Kurdi
mencegahnya.
“Yang
baru masuk baca halaman lima belas.”
Dalam hati Zahrona bersyukur, apa yang diperintahkan
pak Kurdi telah ia pelajari sebelumnya. Begitu juga degan seseorang yang begitu
antusias untuk mengetahui ketauhidan tuhan tak peduli risalah tentang itu
disampaikan oleh ustadz yang bernama pak Kurdi. Satu satunya ustadz yang mampu
mengubah pola pikir pengurus untuk aktif
berorasi dan beroprasi meninjau santri yang malas malasan mengikuti
ngajinya pak Kurdi.
“Bismillahirrohmanirrohim.” Ucap Zahrona
mengawali bacaannya.
Semua santri terpana menyimpan kekaguman
dengan apa yang sedang didengarnya. Suara Zahrona halus dan tegas membaca
setiap kata dengan fasih dan benar. Bahkan karena itu, langitpun menggumang
tentang keanehan yang terjadi dalam sosok ustadz yang selama ini begitu angker.
Beliau mampu tersenyum bahkan memuji kehebatan santrinya dapat menguasai
jejeran kata tanpa makna.
***
Bagaikan
janji bintang
Siapapun
akan berdecak kagum
Saat..
Ketika
mata itu mengalihkan sejenak pandangannya untuk menguasai malam dengan
keajaiban tahtanya
“Bagaikan
janji bintang.” Begitulah Zahrona mendeskripsikan tentang kehidupan yang
diselaminya dalam memenangkan rivalnya.Rival yang hanya dengan hatinyalah ia
dapat mengatahui sejauh apa ia mampu menggenggam apa yang seharusnya ia
genggam.
Semua
itu perlahan terbukti seiring perjalanan waktu Zahrona menggeluti dunianya.
Dunia al-qur’annya, dunia kitabnya dan dunia pesantrennya. Karena dengan ketekunan
itulah Zahrona merasakan kemudahan baginya menjelajahi fase yang dulu hanya
menjadi bagian dari imajinasinya.
Sekarang…
Semua dapat tersenyum bangga. Tak hanya
gumpalan awan putih yang melaju seiring putaran bumi mengelilingi matahari, atau
kicauan burung yang berlalu lalang memenuhi dunia tak terbatasya. Semua bangga,
dan bahkan kebanggan itu beradu menjadi sebuah titik kekaguman yang harus
diujikan dalam rival sesungguhnya. Yaitu rival yang tak hanya melawan diri
sendiri, tapi melawan sesuatu yang harus dilawan sebagai bentuk perjuangan
terhadap apa yang telah sebelumnya diperjuangkan oleh Kartini. Salah satu
perempuan di Indonesia yang mampu mengubah ketersekatan perempuan menjadi
perempuan tangguh yang dapat mencengkeram dunia dalam genggamannya.
“Gimana udah siap nak?”
“Bismillahirrohmanirrohim insyaAllah buk,
pangestune mawon seget ngemban amanah meniko kanthi sae ugi ikhlas.”
Bu Asfiah mengangguk kemudian menuju kamar
sebentar dan keluar dengan membawa kitab lusuh. Zahrona ingin menangis saat
ketika kitab lusuh itu harus berganti tangan dari Bu Asfiah ke tangannya. Ia
merasa belum mampu, namun ini adalah sebuah titah yang harus diperjuangkannya
dan dijaga.
“Kitab ini kitab turunan dari Abah. Jadi ya
wajar kalau udah blutek kaya gini, yang penting isinya masih bisa dibaca dan
disampaikan ke yang lainnya.”
“Nggih, buuk.” Ucap Zahrona kemudian
melangkah meninggalkan jejak kaki yang masih mematung sembari mengiring doa
untuk ungkapan sebuah titah.
Disepanjang perjalanan Zahrona masih saja
merenung dengan titah yang baru saja menghampirinya. Titah yang akan
menghantarkannya pada suatu bentuk keberkahan seorang bunyai. Keberkahan yang
jika tuhan menghendakinya, semua akan berjalan pada rotasi garis ketetapan
tuhan. Namun, satu hal yang terkadang berkecamuk mengobrak abrikkan pemikiran Zahrona.
Benarkah keberkahan itu akan terus mengikuti jejak langkah penerimanya, ataukah
hanya sekedar penghantar bagi penerimanya untuk berjalan menyusuri apa yang pernah
ditelusuri oleh jejak jejak pewaris para Nabi sebelumnya?
Entahlah Zahrona tak mampu lagi berpikir
lebih keras. Sekarang yang ada dihadapanya hanya satu, yaitu bagaimana titah
yang telah diterimanya dari Bu Asfiah akan sampai pada gelora gelora yang tak
akan pernah terpadamkan oleh terobosan terobosan pengetahuan.
“Bismillahirrohmanirrohim.” Bisik Zahrona
sebelum memasuki segerombolan orang orang yang telah melingkar menanti siraman
pengetahuan dari kitab ta’lim al muata’allim karya Syaih Zarnuji.
Zahrona mengucapkan salam kemudian masuk dan
duduk di tempat yang telah disediakan untuknya. Dalam hati ia bersyukur betapa
maha Al-rohman dan Al-rohimnya Allah mengizinkan ia menempati posisi Bu Asfiah
dalam majlis ta’lim yang telah berpuluh puluh tahun diampunya. Belum lama ia
mensyukuri anugerah terindah tersebut, dua sosok wanita seumuran Zahrona
berjalan menunduk dengan menggunakan lututnya kemudian menyungguhkan hidangan
dan segelas teh.
“Subhanallaaah.”
Zahrona tak lagi mampu menyembunyikan rasa
harunya. Sebegitu spesialkah kehadirannya di majlis ini, hingga ia merasa
perlakuan dan jamuan yang disungguhkan warga begitu berharga. Zahrona merasa
semua jamuan ini terlalu berharga dan belum saatnya ia mendapatkan ini. Ia
bukan bu nyai yang setiap orang berlomba lomba untuk menekat demi
keberkahannya. Tapi Zahrona hanyalah seorang santri yang hanya kebetulan
mendapatkan kepercayaan untuk menggantikan posisi Bu Asfiah dalam pembelajaran
mengkaji kitab Ta’lim Al –Muta’alim.
Zahrona tersenyum kemudian mulai membuka
percakapan dengan gaya khasnya. Semua yang hadir tertawa oleh sungguhan guyonan
Zahrona. Begitu juga Zahrona, ia bersyukur banget karena perlahan semua yang
hadir mulai terbiasa dengan gaya berpikir Zahrona dalam menyampaikan dakwahnya,
“Pripun siap dipunlanjutaken nopo dipuncekapi
semanten pengaosanipun, mbak-mbake ugi ibuk-ibuke ingkang sampun podo ngantuk
nggih hehheeee?”
Spontan para kaum ibuk-ibuk protes dengan apa
yang baru saja dikatakan Zahrona. mereka tidak terima dibilang ngantuk, dan hal
itu sungguh membuat Zahrona semangat untuk melestarikan budaya yang dulu
sebelum Indonesia mengalami masa kegemilangan, hal ini hanya menjadi bagian
dari angan angan belaka. Yang kemudian ketika Kartini menyadari akan
kesenjangan yang terjadi antara kaum laki laki dan perempuan, dari situlah Kartini
berani melangkah, memberontak demi emansipasi wanita.
“Hmm oke oke diralat. Pripun tasih semangat ibuk
–ibuke ting pojok?”
“Semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaat.” Jawab ibuk ibuk
yang berada di pojok serempak.
Zahrona mengangguk kemudian melanjutkan
membaca kitab ta’lim al muata’allimnya.
“Faslun, utawi iki iku fasl siji. Fi
mahiyatil ilmi iku kang nerangake kepentingane ilmu. Wal fiqhi, lan fiqh. Wa
fadllihi, lan keutamaane.” Zahrona menghela nafas sejenak kemudian menjelaskan
apa yang baru saja dibacanya.
“Ibuk ibuk, mbak mbake yang manis manis, bab
selanjutnya yaitu membahas tentang pentingnya ilmu, fiqh dan keutamaannya..”
Qolaa
Rasulullahi SAW ta’ala alaihi wassalam, tholabul ilmi faridlotun ‘ala kulli
muslimin wal muslimatin.
***
Sepasang mata itu kembali hadir menguntit
langkah kaki yang terseok seok di balik senja yang mulai mengatup. Membiaskan
cahayanya menyusuri titik pusat langkah itu akan terhenti. Perlahan, langkah
itu mulai goyah dan ragu, kemudian tersekat diantara sepasang mata yang mampu
menjadikan pemilik langkah itu terkagum dalam diam.
“Mmmm maaf, aku hanya ingin mengantarkanmu
sampai pesantren.”
Zahrona tercengang diam tak mampu berkata apa
apa. Mata itu tak mampu diingkarinya begitu meneduhkan. Begitu memukau hingga
tanpa disadari Zahronapun mengangguk kemudian kembali melangkah dan membiarkan
mata penguntit itu menyusuri lebih lama langkah langkah kakinya.
Jarak pesantren semakin dekat, Zahrona
menghentikan langkahnya dan sejenak memandang mata itu. Mata itu balas memandangnya kemudian
mengangguk ke arah Zahrona dan pergi.
“Terimakasih atas kerelaan matamu
menghantarkanku sampai disini. Di tempat dimana aku harus kembali.
Mata itu berbalik arah membelakangi Zahrona.
Ia berharap disela sela langakahnya, meski hanya sekejab mata itu kembali dapat
dinikmati keteduhannya. Zahrona tersenyum, cahaya senja itu benar benar ia
temukan lewat sapuan mata penguntit itu.
“Zahrona aja, dia cakap kok!”
“Iya bener dijamin kita akan mengukir sejarah di pesantren
tercinta kita.” Teriak Gentong menambahi usulan Ci’neng.
“Secakap apapun Zahrona, dia masih tergolong
santri baru yang pengalamannya tidak dapat disaingkan dengan santri senior
komplek AB. Apa kita ingin mengulang masa lalu, pulang dengan membawa
kekalahan?”
Zahrona bingung ada apa gerangan yang
menjadikan namanya begitu banyak
dijadikan perdebatan diantara teman temannya dan pengurus pondok. Zahrona malu, suara mereka bahkan terdengar sampai
luar.
Tanpa pikir panjang Zahrona segera berlari
menuju pondok yang sudah tak lagi jauh dari tempatya berada. Ia kaget, disitu
tepat di depan pengumuman yang entah pengumuman apa Zahrona tidak tahu, ada
jajaran pengurus dan teman temannya saling beradu argumen.
“Apa apaan sih ini? Suara sampean sampean itu
lho terdengar mengusik warga kampung.
Seperti inikah santrinya Bu Asfiah?”
Bontot geram dengan apa yang baru saja
dikatakan Zahrona. Ia merasa harga dirinya terinjak diprotes oleh santri yang
masih bau kencur menempati pesantren ini.
“Seperti inikah jagoanmu Gentong? Bagaimana
pondok kita akan mengukir prestasi, jika yang diajukan bahkan tidak memiliki sopan
santun terhadap seniornya?”
“Huuch.”
Jawab Gentong dan Ci’neng bersamaan kemudian melengos pergi meninggalkan
Bontot cs.
Zahrona menggelengkan kepala, bingung dengan
apa yang sebanarnya terjadi. Begitupun teman teman yang lain. Mereka hanya
dapat mengerutkan keningnya sembari kembali ke kamarnya masing masing.
Sesampainya di kamar, Zahrona ingin sekali
memejamkan matanya sejenak melepas penat sembari menunggu sang mu’adzin
mengumandangkan adzan. Namun berkali kali Zahrona mencoba untuk tidak peduli
dengan apa yang terjadi, hal itu terlalu sulit untuk dimusnahkan walau hanya sekejab. Tragedi debat tersebut masih saja
berlanjut di jajaran santri santri yang mendukung ataupun menolak Zahrona.
“Ngapain sih masih ngembahas masalah tadi?
Bukankah itu bagian dari ghibah? Membicarakan orang lain dibelakangnya.”
“Ini bukan lagi masalah ghibah dan tidaknya
ghibah,Zahrona. Tapi menyangkut pondok kita ke depannya. Pokoknya kalau mereka
masih bersi keras tidak membiarkan kamu maju menaklukkan komplek AB, dijamin nanti
malam nggak bakal ada suporternya.”
“MasyaAllah, kenapa harus sedangkal itu, mbak
cara berfikir sampean? Toh kalaupun saya yang maju nanti malam, saya juga nggak
bakalan siap. Kalau mereka lebih siap kenapa kita tidak mendukung perjuangan
mereka?”
“Iya kalau menang kalau kalah?”
“Mending
kalah, aku jauh lebih siap tidak mendengar tawa yang menyeringai dari mereka.
Jika menang, mereka akan bertambah besar kepalnya.” kata Arjom dongkol.
Zahrona
menggelengkan kepala kemudian bangkit untuk memenuhi panggilan mu’adzin.
Kapalanya dirasakan pening, lelah mendengarkan keributan di pesantrennya. Ia
berpikir mengapa hal ini bisa terjadi, mengapa antara santri dan pengurus tidak
bersatu untuk kemenangan pondok ini. Mengapa mereka saling mencerca mencoba
menjadi yang lebih kuat demi ego masing
masing. Dan mengapa harus dirinya yang terlibat dalam perdebatan ini?
Perdebatan
tersebut bagaikan kepulan asap yang menyebar tertiup angin hingga sampai ke
pendengaran ibuk. Melihat polah santrinya, hati ibuk teriris kemudian mengambil
langkah dengan mengumpulkan semua santri di aula sebelum lomba debat dimulai.
“Anak
anakku, lomba tidak lain hanyalah ajang untuk menguji seberapa besar kemampuan
kita dalam meraup pengetahuan yang tersebar di bumi. Bukan sebagai ajang untuk memamerkan apa yang
telah kita miliki. Ibuk bangga santri santri disini cakap dan pintar, tapi ibuk
mohon jangan jadikan kecerdasan kalian sebagai alat untuk menjatuhkan yang
lainnya. Bahkan sampai menimbulkan perselisihan dan fitnah, na’udzu billahi
mindzalik.”
Semua
santri terdiam luruh dalam kekecewaan seorang pengasuh. Kemudian dari kekecewaan itulah sinar cahaya
yang mulai redup kembali menggelitik memenuhi pesantren Bu Asfiah. Mereka dapat
kembali menebarkan cinta dan kedamaian. Bontot beserta jajarannya tersenyum
kemudian menyapa dan menghampiri Zahrona untuk diajaknya gabung
menyemarakkan debat untuk membawa pulang
kemenangan.
“Maaf
mbak jika hanya untuk kemenangan Zahrona tidak bisa, mbak. Masih ada hal yang
jauh lebih penting untuk kita harapkan daripada sekedar meraih kemenangan.”
Bontot tersenyum dan perlahan mengangguk.
“Iya,,
kita masih memiliki otak untuk berpikir demi menemukan sesuatu yang jauh lebih
bermanfaat untuk kita, bangsa dan agama
kita.”
Kerlipan cahaya bintang semakin terang
menghiasi panorama malam di bawah tapak bumi pesantren. Semuanya tergengggam
mencapai titik dimana semuanya harus beradu bukan untuk mencari kemenangan
semata, melainkan mencari demi menemukan sebuah kebebasan bagi kaum hawa untuk
menemukan dunianya.
Dunia saat ketika semua masih berada dalam
cengkeraman ego dan penindasan. Gerak perempuan tersekat dan hanya terbelenggu
oleh 3M. macak, masak dan manak. Dari situlah Kartini tergerak untuk membebaskan
langkah agar perempuan dapat mengekspresikan gaya dan karyanya untuk mewarnai
dunia. Namun, mengapa dunia masih terlalu
sempit dipahami oleh santri. Karena itulah Zahrona ingin hadir sebagai Kartini
baru di masa selanjutnya, dimana seorang perempuan sudah seharusnya dapat bebas
mengepakkan sayapnya menjelajahi samudra kehidupan dari bilik manapun yang
disukainya.
Karena itulah dalam majlis tersebut perwakilan
komplek AB bertandang dengan segenap kemampuannya untuk tetap membela apa yang
telah diyakininya. Bersikukuh dengan berdasarkan bahwasanya perempuan berada di
dalam kekuasaan seorang laki laki.
“Jadi saya tegaskan lagi, tidak ada alasan
bagi perempuan membantah suami untuk menginginkan apapun dari istrinya kecuali
hal hal yang telah dikecualikan. Seperti seorang suami memerintah seorang istri
untuk melakukan maksiat. Hal itu jelas Allah menganjurkan seorang istri untuk
membantahnya.”
“Benar apa
yang dikatakan sahabat saya Fahrudin.
Merujuk pada pengertian wajib dan haram itu sendiri dijelaskan, selama
tidak ada dalil atau larangan dari Allah untuk menjauhi sesuatu maka sesuatu
tersebut berarti boleh. Sedangkan selama ditemukan dalil yang diperintahkan
kepada hambanya maka semua itu berlaku sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan
bukan dibantah dengan berbagai alasan. Dari pengertian tersebut, saya rasa kita
akan peham bagaimana batas sesungguhnya seorang istri berada dibawah kekuasaan
seorang suami, qodrat bagi seorang istri untuk melayani suami dengan menyiapkan
keperluan sehari hari, mengurusi anak dan rumah tangganya, seperti pekerjaan
membersihkan rumah dan memasak.”
“Oke terimakasih sahabat Ardian atas jawaban
yang sangat memukau dan menakjubkan. Namun yang perlu digaris bawahi
pernyataannya sampean, benarkah qodrat seorang istri harus mengurusi pekerjaan
rumah tangga? Jika benar itu adanya, bagaimana bisa sampean menyebut seorang
perempuan yang telah sampean nikahi suatu saat nanti sebagai seorang istri,
tidakkah itu pantas disebut sebagai babu? Yang 24 jam non stop harus dapat
mengurusi kebutuhan dan keperluannya sampean, jika benar itu adanya bukankah
itu dinamakan penindasan?Apakah islam meperbolehkannya? Jadi tolong ketika sampean ingin mempertahankan
argumennya sampean jangan mengatakan pekerjaan rumah tangga adalah qodrat perempuan.
Karena apa, karena qodrat perempuan yang selamanya tidak dapat diubah yaitu
menyusui dan melahirkan. Jika hal ini dihubungkan dengan qoidah Al- adatu
muhakkamah, saya rasa hal itu masih dapat diterima. Hal ini dikarenakan melihat
kondisi persepsi masyarakat di Indonesia yang tidak dapat luput bahwasanya
seorang istri berkewajiban mengurusi rumah tangga. Namun jika ditelaah lebih
dalam salah satu contoh dari qoidah tersebut yaitu mengenahi masalah menstrusi
seorang perempuan. Ketika seorang perempuan menstruasi maka dikembalikan sebagaimana
kebiasaan menstruasinya. Contoh ketika kebiasaan seorang perempuan menstruasi
adalah 8 hari, Namun entah karena apa, pada hari ke Sembilan darahnya masih
juga keluar, hal ini dikembalikan pada dasar kebiasaannya dengan meneliti
terlebih dahulu darah yang keluar. Apakah darah tersebut sesuai dengan
kebiasaannya atau sesuai dengan ciri ciri darah mentruasi sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Fathul Wahab
dalam bab Haidl.”
Hening yang terdengar hanyalah desas desus
santri yang terkuak emosinya menyaksikan debat yang semakin memanas. Kedua
belah pihak sama sama kuat dalam mempertahankan jawaban. Mereka memiliki dasar
yang kuat yang menjadikan penonton semakin penasaran menuai kesimpulan ending
dari debat tersebut.
“Oke bagaimana saudara Ardian dan Fahrudin
masih adakah tanggapan untuk menanggapi pernyataan saudari Zahrona? jika tidak
berarti kita akan meminta tanggapan dari penonton untuk menanggapi pernyataan
saudari Zahrona.”
Zahrona terdiam berharap tidak akan ada lagi
tanggapan dari lawan.Ia sudah lelah dan menginginkan lomba debat ini segera
usai.
“Huuuucf….” Sejenak Zahrona merelaksasikan
matanya agar tetap kelihatan segar. Dikedip kedipkan matanya ke arah sahabat
sahabat sekamarnya yang masih saja bugar dan semangat menyaksikan lomba.
Gentong
hanya cengengesan melihat mata Zahrona yang agak membengkak menahan kantuk.
Sekelebat mata Zahrona terkejut dengan mata yang tadi sore menghantarkannya
sampai pondok. Ia segera mencari keseluruh penjuru santri sembari berharap mata
itu kembali dapat ditatapnya malam ini. Namun sudah berulang kali mata Zahrona
menyusuri ratusan mata santri, ia tidak menemukan mata itu berpendar di
tahtanya.
“Huuuucff mungkin hanya ilusi.” Bisik Zahrona
dalam hati.
Malam semakin larut , panitia memutuskan
untuk mengahiri debat yang diselenggarakan kali ini. Baik kelompok Zahrona ataupun kelompok Fahrudin
mereka sama sama mendapatkan aplous yang begitu berharga dari penonton karena
kehebatan mereka dalam mempertahankan dan memberikan argumennya masing masing.
“ Oke terimakasih untuk semuanya atas
partisipasi dan persaingan yang begitu
memukau dari kedua kelompok. Terimakasih juga kepada segenap santri yang ikut
serta meramaikan dan menyemangati acara debat kali ini. Kami akui dari segenap
panitia benar benar terkejut dengan apa yang disungguhkan dari kelompok mbak Zahrona
dan kang Fahrudin. Akan tetapi karena ini adalah sebuah pertandingin, maka mau
tidak mau kami akan memilih mana yang terbaik diantara yang terbaik dalam
mengemukakan argument. Tetapi, satu hal yang perlu digaris bawahi bahwasanya
dari tema yang di bahas dalam perdebatan kali ini jujur dari panitia sendiri
masih harus belajar banyak dan mengkaji serta menyelami dunia kitab agar dapat
menemukan jawaban yang mendekati kebenaran.
Zainal menghela nafas sejenak menatap deretan
santri yang tampak begitu semangat dan was was dengan siapa yang akan dipilih
dewan juri menempati posisi bersejarah tahun ini. Bahkan sebagai orang yang
dipercaya memimpin berjalannya debat malam ini, Zainal bingung dan lebih
memilih diam membungkam mengenahi siapa
yang berhak pulang dengan membawa kemenangan.
“Hmm bingung ni mo ngomong apa lagi. Pokoknya
untuk kedua kelompok, saya tidak berani komen apa apa, saya kagum dan mengakui
kehebatan kalian. Sekarang disini secarik kertas ini entah sebagai suratan
taqdir atau entahlah para dewan juri memutuskan pemenangnya adalah….”
Zainal sengaja menghentikan sejenak
pembicaraannya agar lebih membuat penonton semakin penasaran dengan siapa yang
dianggap dewan juri berhak pulang dengan membawa kemenangan.
“Yaaach dapatkah penonton menebak siapa pemenanganya?”
Jeritan penonton membahana memenuhi ruangan
berukuran 20x15. Mereka begitu semangat
mengemukakan pendapatnya tentang siapa yang berhak menyandang kemenangan lomba
debat kali ini.
“Oke oke saya kira pilihan kalian tidak ada
yang salah, Semua benar, karena keduanya sama sama cakap dan baik. Akan tetapi
disini dewan juri memutuskan dengan berbagai pertimbangan bahwa pemenangnya
adalah kelompok putra yaitu Fahrudin dan Ardian. Hal ini didasarkan pada
tanggapan mbak Zahrona bahwa seandainya kasus urusan rumah tangga dihubungkan
dengan qoidah Al Adatu Muhakkamah, maka masih bisa diterima, jika urusan
tersebut lebih dominan harus dikerjakan oleh seorang perempuan(istri). Dari
tanggapan tesebut kelompok mbak Zahrona dianggap menyetujui argument lawan
meski dengan alasan yang berbeda.
Gema tawa kebahagian menyatu. Begitu juga
yang dilakukan oleh Zahrona dan kelompoknya terhadap kelompok Fahrudin. Meski Zahrona gagal mengukir
sejarah, ia tak berkecil hati.
“Selamat
yaaa…
Semoga kedepannya jauh lebih baik bagiku,
bagimu dan bagi kita, semua santri Bu Asfiah.”
“Amiin.. barokillah
ukhti.”
“Amin…”
Pendar bintang gemintang bergerumbul
membentuk rasi rasi yang nyata. Zahrona tersenyum ketika dilihatnya rasi
bintang itu seolah mengikutinya. Ke kanan ke kiri dilangkahkan kakinya secara
bergantian. Zahrona semakin tergoda untuk membiarkan rasi rasi itu mengikuti
gerak gerik kakinya yang lincah. Ia merasa bintang bintang itu tersenyum hingga
mampu mengalihkan rasa kantuk yang dideritanya. Sembari mendongak ke arah langit, Zahrona terus melangkah
menyusuri jalanan kecil menuju kompleknya.
“Mbak..”
Dug
Mata itu kembali ditemukannya di secarik
kanvas cahaya langit yang berpendar memenuhi malam. Zahrona terdiam menikmati
degupan jantung yang berdetak begitu cepat.
“Berjalanlah seperti biasanya, jangan pernah
berbalik dan berhenti, saat setelah sampean melihat tawa mereka menyeringai menikmati adegan gilanya
sampean.”
Hwahahhaa,,, huuuu,, kwkwkw
Benar yang dikatakan mata teduh itu. Sekarang
saat ketika Zahrona telah menemukan jutaan tawa menggema terhipnotis oleh
adegan gilanya, Zahrona hanya dapat
berjalan cepat menahan malu yang semakin menggerogoti kebahagian yang baru
saja ditemukannya lewat goresan bintang
gemintang.
***
Tatapan mata itu
Telah membuatku merasakan, tuhan telah menitipkan
cintanya untukku
Membiarkan aku terjamu
Oleh degupan nada
Dan
alunan yang entah mengapa
Aku merasakan semua begitu indah dan nyata
Terimakasih tuhan
Telaga mata itu membiarkanku tenggelam dalam dekapannya
“Huuuueeeck,,,huuuck,,,”
Zahrona segera membungkam mulutnya menuju
kamar mandi. Semua teman teman sekamarnya heran, tidak biasanya Zahrona seperti
ini.
“Kamu sakit, Na??” Tanya Gentong kawatir melihat wajah teman sekamarnya tampak
pucat.
“Nggak tahu mbak tiba tiba jadi pelanggan
kamar mandi ni, ahir ahir ini perutku mual melulu.”
“Nih anak ya, sakit masiiiiiiiiiih saja bisa
becanda. Heran!”
“Masuk angin tuuch,makanya jangan suka
begadang.” Kata Nunu’ menambahi.
“Hmm…”
Ya
udah Zahrona pamit dulu ya, mbak assala…” Belum sepat meneruskan salamnya, Zahrona
segera meluncur ke kamar mandi. Sebenarnya ia sangat takut, apa yang
dirasakannya sekarang bukanlah masuk angin seperti apa yang dikira Nunu’.
Melainkan akibat dosa terindah yang pernah dilakukan dengan pemilik mata teduh
yang telah menyihir segenap rasional otaknya untuk berpikir.
“Mungkinkah?”
Zahrona menyesal mengapa hal seburuk itu bisa
terjadi pada dirinya. Seseorang yang dipercaya bu nyai meski hanya sedikit untuk
menduduki tahtanya. Tahta amanah untuk membagikan ilmunya lewat goresan pena
tua yang tersimpan dalam kitab lusuh dari Abah seorang bunyai.
Zahrona benar benar menyesal dan menangis
sejadi jadinya. Ia tidak tau apa yang harus dilakukan dan tak mampu
membayangkan betapa kecewanya ibuk jika tahu santri yang diercayainya tidak
lain hanyalah seorang …….
“Ya Allah mengapa dulu aku tak pernah
menyadari bahwa tatapan mata teduh itu bukanlah titipan cinta darimu? Ya Allah
aku merasakan tatapan itu, tak lain hanyalah hunusan pedang iblis yang mengaku
percikan cintamu. Ya Allah mengapa tak kau musnahkan saja tatapan itu, saat
setelah ia memberi tahuku untuk,Berjalanlah seperti biasanya, jangan pernah
berbalik dan berhenti, saat setelah sampean melihat tawa mereka menyeringai menikmati adegan gilanya
sampean. Mengapa aku begitu menikmati ceritanya tentang bagaimana anak putra
mentertawakan adegan gilaku saat merasa rasi bintang perlahan bergerak seolah
mengikutiku? Mengapa harus ada pertemuan
selanjutnya ya Allah, hingga kini menjadikanku terpuruk oleh kebodohanku.”
“Na…
Kamu nggak papa thoo?.”
“Ng.. ng….nggak, mbak.”
Sekembalinya dari kamar mandi, semuanya
terkejut melihat mata Zahrona tampak sembab.
“Mbak Nunu’ bisa gantiin Zahrona ngisi pengajian
di majlis kampung sebelah?”
“Tapi, Na?”
“Udahlah Nunu’ terima aja kasian Zahrona
tuu.” Protes Ci’neng terhadap sahabatnya Nunu’.
Nunu’ mengangguk. Zahrona tersenyum diantara kegetiran yang melanda dan
menghakimi kesalahan yang pernah diperbuatnya.
“Makasih ya, mbak Nun…” ucap Zahrona kemudian
segera meluncur ke dapur ndalem. Sesampainya di dapur, deretan abdi ndalem
terheran dengan keberadaan Zahrona yang masuk tanpa salam terlebih dahulu.
“Ehmm.. maaf bisa tolong buatin wedang jahe,
kang?ada teman yang sakit.” Kata Zahrona berbohong.
“Saget mbak, saget. Sekedap nggih?”
Zahrona mengangguk sembari menatap jemari mata teduh itu yang sama sekali tak
respek akan keberadaannya. Ia amati jemari itu dengan lincah menarikan pisaunya
menghujam bawang merah yang perlahan membuat mata teduhnya kabur oleh rasa perih yang ditimbulkannya.
Zahrona tak kuasa menahan air matanya untuk
tidak menetes. Hatinya terlalu sakit hanya untuk sekedar membiarkan mata teduh
itu tersayat perihnya tirisan bawang merah. Bukan karena itu, melainkan hati Zahrona
terlalu perih dan jauh lebih sakit dari semua yang ada.
Gubrak
Zahrona membanting pintu kemudian begitu saja
keluar meninggalkan jejak jejak keheranan oleh semua abdi ndalem. Sejenak mereka
terdiam dan menghentikkan aktivitasnya. Mata teduh itu beranjak dengan alasan
yang tak mampu ditafsirkan oleh kawan abdi ndalem lainnya. Otaknya berpikir
untuk menggerakkkan kakinya ke suatu tempat dimana ia tahu dan yakin, bahwa
pelangi yang ditemukan tidak hanya diwaktu hujan menunggunya.
“Apa yang bisa dilakukan mata teduhmu untuk
menghentikan hujan tangis di matamu? Hingga mata ini dapat memandang jelas
keindahan pelangi berpendar di tahtanya.”
“Tahta itu telah hancur dan tidak akan pernah
membiarkan pelangi berpendar menghias mata teduhmu. Jika masih mungkin untuk
bisa, semua itu amat sangat sulit.”
“Sesulit apa hingga mata teduh ini tidak lagi
dapat menjangkaunya?”
“Sesulit mata teduhmu menemukan hujan di
musim kemarau, di kegersangan yang perlahan akan membuat telaga mata teduhmu
mengering. Dan aku merasakan semua itu sangat sakit.”
“Kenapa harus sakit?”
Zahrona menatap lekat mata teduh yang kini
telah menghancurkan keberadaannya.
“Karena mata teduhmu telah menenggelamkan
senja menghardik dan menghujam pelangimu. Menjadikan pelangimu rapuh dan tak
kuasa untuk sejenak saja membiarkan keteduhan matamu menyapu seganap rasionalitasku
untuk berpikir. Telaga dan keteduhanmu adalah candu iblis yang kini membuatku
terpuruk.”
“Kenapa harus terpuruk?”
“Kenapa harus terpuruk?” Zahrona mengulangi
apa yang baru saja dikatakan oleh
pemilik mata teduh itu.
“Karena biasan telagamu menjadikan pelangi
berpikir tentang siapa diriku
sesungguhnya?”
“Jika sudah kau temukan tentang dirimu, kenapa
harus menagis dan merasakan sakit? Bukankah itu yang dicari oleh setiap raga
yang terhembus oleh nyawa?”
“Apakah aku harus bangga menemukan diriku tak
lain hanyalah seorang pezina yang gelab mata karena keteduhan matamu. Tak
sadarkah kau, benihmu di rahimku…”
Emosi Zahrona memuncak hingga ia tak sanggup
lagi melanjutkan perkataannya. Di
depannya, mata teduh itu hanya dapat menatap pilu pelangi yang kini terpekur menahan
sakit. Begitu juga dengan hatinya, meski berusaha tegar, perlahan mata teduh
itu kabur oleh cairan bening yang menetes dari pelupuk matanya.
“Sekarang kami
tahu, topeng santrimu tak lagi dapat menutupi jiwa iblis yang bersemayam erat
di tubuhmu. Sungguh saya kecewa dengan kamu Zahrona.Tidakkah kamu tahu mana
jalan yang halal yang harus kau tempuh jika tak lagi dapat memadamkan jerat nafsumu.
Dan kau Musthofa, ibuk pasti menyesal memakan
makanan olahan tangan kotormu, tangan iblis.
Baik Zahrona ataupun Musthofa hanya dapat
diam tak tahu harus berkata apa. Bahkan keduanya tak tahu sejak kapan usatadz Ma’sum
dan santrinya berada disini.
“Najis!
Dicambuk aja tadz.” Celetuk salah satu santri.
“Yaach benar! untung kita diutus ibuk bersih
bersih area ini. Jika tidak, mungkin selamanya tempat ini akan jadi tempat
mesum.” Celetuk santri lain.
Tak berapa lama semua santri ikut menghujam Zahrona
dan Musthofa. Mereka menyeret keduanya dengan caci maki yang sangat memekakkan
telinga. Zahrona berteriak kencang dan menangis berharap mendapat belasan
kasihan dari mereka. Tapi nash, teriakan itu bagaikan angin lalu yang
menghilang tanpa harus disesali. Bahkan mereka seolah mengginkan teriakan itu
terhunus oleh tangan Izroil
Kini ratusan pasang mata santri Bu Asfiah
Abdul Khozin merasa tertampar oleh tindakan terkutuk yang dilakukan Zahrona dan
Musthofa. Mereka gelab mata tidak lagi peduli dengan teriakan Zahrona yang
meronta merintih dan menyesal dengan apa yag telah dilakukan.
Puuuck
Zahrona menyeka cairan merah yang mengalir
hangat dari pelipisnya.
“Ini
nih yang lebih pantas diterima perempuan jalang sepertimu.” Teriak sorang
santri kemudian melemparkan dua telur tepat di wajah Zahrona.
“Rasa
sakit ini begitu nyata ya Allah….”
Rintih Zahrona dalam hati. Ia tak peduli
santri santri lain ikut melemparinya dengan apa saja yang ditemukan. Ia hanya
dapat menatap nanar perempuan yang terpaku dan terdiam oleh kekecewaan yang
baru saja diusungnya.
“Pergilah!
Tempat ini terlalu suci untuk kau singgahi.”
Kata Gentong kemudian melemparkan tas ransel kehadapan sahabatnya dan pergi.
Zahrona meraih tas ransel sembari manatap
nanar kepergian sahabatnya dan Bu Asfiah secara bergantian.
“Maafkan saya, buuk.” Ucap Zahrona kemudian
melangkakahkan kakinya meninggalkan
pesantren yang telah begitu banyak menorehkan kenangan di hidupnya.
***
Berita tentang kehamilan Zahrona bagaikan
asap yang diterpa angin menyebar
memenuhi penjuru alam. Menyelubung memenuhi kuping kuping tak berdosa
menghimpit dan menyekat aliran darah untuk sejenak berpikir meredakan ego tak
sadarnya. Zahrona tahu, apa yang telah dilakukannya hanya akan menjadikan kabar
gulita bagi malam malam dimana Abah dan Uminya bersujud, menengadah mencoba
mencari dan menemukan dimana mereka akan berdiri. Jika masih mungkin untuk
tegap, tiang apa lagi yang dapat berkenan menopang keberadaannya selain Allah?
“Maafkan putrimu, Abah…”
“Haruskah dengan tangan Abahmu hukuman cambuk itu diberlakukan?”
“Abah…” Teriak Umi tak percaya dengan apa yang baru saja
dikatakan suaminya.
“Meski Negara ini bukan Negara islam Umi, aku
akan melakukannya terhadap seseorang yang terlahir dari nuthfahku.”
“Abaaah..”
Plakkk…
Satu sabetan mengenahi pantat Zahrona. Ia
mengaduh menahan rasa perih.
”Lakukanlah, bah. Jika itu dapat membuat
engkau ikhlas menerima semuanya.” Kata Zahrona dalam hati. Meski ia tahu
selamanya hal ini akan menjadi kenyataan
terkeji yang menampar kehidupan orang tuanya.
Plaak..
“Hentikan!”
Plak
“Umi bilang hentikan!” Teriak Umi yang kedua
kalinya.
“Umi… aku mohon biarkan Abah menghukumku, Umii.”
Rintih Zahrona sembari mendekap kaki Umi.
“Pergi!
Atau akan kuperintahkan masa menyeretmu.”
“Maafkan Zahrona, Umi.”
“PERGIIIIIIIIII.” Teriak Umi sembari
menghempaskan kakinya hingga Zahronapun terjatuh.
“Jika masih mancintai Umi, Umi mohon pergilah!”
Kata Umi lirih kemudian masuk rumah tak peduli putrinya merintih berharap akan
uluran tangan dan menanting tangannya untuk bangkit.
Tapi nash, uluran tangan itu hanya suatu
kemustahilan yang tidak akan pernah terjadi sampai ia benar benar dapat bangkit
dan mengembalikan semuanya. Mengembalikan percikan percikan yang telah retak
tergores muslihat shaitan yang karena
kebutaannya telah dirasakan bagaikan titipan cinta tuhan.
“Mbok Inah…..”
“Pergilah neng mbok akan menemanimu.”
“Benarkah, mbok?”
Mbok Inah mengangguk membuat Zahrona semakin
terisak oleh tangis kebahagiaan. Tangis haru akan uluran tangan tuhan yang
dengan belas kasih cinta dan rahmatnya masih berkenan menciptakan pencakar
kehidupan itu hadir menguatkan bangunan kehidupan yang telah hancur.
“Makasih, mbok.” Ucap Zahrona kemudian
melangkah sejengkah demi sejengkah menyusuri perkampungan kumuh yang ini
merupakan kali pertamanya ia menemuinya
disini, di tempat sebagaimana yang dicantumkan mbok Inah saat menyuruhnya
pergi.
“Jika ini bagian dari fase aku selanjutnya, aku
mohon ya Allah biarkan aku menapakkan jalanku disini atas dasar cintamu
sesungguhnya. Cinta yang atas kuasamu
mampu menjadikan aku bertahan di masa dimana kutang kutang itu masih
menjadi hal yang mengasikkan untuk
berpendar kokoh tak berbalutkan kain lain.”
Tiga hari kemudian mbok Inah benar benar
menepati janjinya. Ia rela meninggalkan kemegahan orang tua Zahrona demi menyusulnya di perkampungan kumuh.Beliau
tersenyum saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah yang ternyata adalah
tempat dimana mbok Inah dilahirkan. Berbeda dengan Zahrona, meski ia berusaha
untuk tersenyum menghadapi keterasingan yang saat ini dijalaninya, keterasingan
tersebut terlalu enggan hanya untuk sedikit berbagi masa bagi Zahrona untuk
mengenalnya.
“Zahrona nggak kuat tinggal disini, mbok.”
Perlahan senyum mbok Inah memudar. Butiran
Kristal dipelupuk matanya terjatuh. Zahrona masih saja meronta, meski ia tahu
apa yang dilakukannya tidak akan mengubah apapun.
“Ngomong, neng,…
Siapa yang telah menanam nutfah di rahimmu?”
Zahrona semakin terisak dan membiarkan
pertanyaan mbok Inah berlalu bagaikan petir yang menghilang tanpa harus
disesali.
Melihat hal itu, mbok Inah tak putus asa.
Beliau berusaha membujuk dengan segenap kesabarannya agar Zahrona berkenan
memberitahukan siapa ayah dari janin yang kini mendekam erat di rahimnya. Zahrona
masih saja terdiam membuat kesabaran mbok Inah perlahan memudar menjadi emosi
yang tidak dapat terkontrol lagi. Mbok Inah marah dan bahkan mengancam Zahrona
untuk membiarkannya hidup sendiri di lingkungan yang masih begitu asing di
kehidupanya.
Paginya setelah mbok Inah berhasil menggertak
Zahrona, beliau meminta Zahrona untuk makan yang banyak agar ia kuat selama di perjalanan. Ia tak tahu kemana
mbok Inah akan membawanya, yang ia tahu kakinya nyeri dengan luka yang semakin
melebar. Melihat ketidakberdayaan Zahrona, mbok Inah menghentikan sejenak
langkahnya dan memijat seseorang yang telah sejak kecil diasuhnya.
“Sabar nggih, neng. Bengkak neng ini hanyalah
gawan bayi.”
Zahrona mengangguk sembari menahan rasa perih
di kakinya yang tak jua reda.
“Sampun mendingan, neng sakitnya?”
Untuk kedua kalinya Zahrona mengangguk. Ia
tak tega untuk mengatakan tidak. Keduanyapun kembali melangkah dan seperempat
kemudian mereka dapat menarik nafas panjang sembari menikmati sepoinya jamuan
alam dengan bersandarkan kursi reot yang ditumpanginya.
Perlahan mata ini
mengatup
Membiarkan selaksa alam asing membawanya ke peraduan
antah berantah
Tak kenal dan tak mengerti
Namun….
Ia percaya kaki tua itu akan melangkah mencari secercah
cahaya yang masih menguning di ujung senja yang telah rapuh
“ Mbok Inah sebenarnya kita mau kemana sih?”
Belum sempat mbok Inah menjawab, suara ricuh
penumpang mengalihkan keduanya. Semuanya menggerutu kesal oleh keputusan
kondektur yang tidak dapat dipercaya. Akibatnya si kondektur hanya dapat termangu oleh amukan penumpang.
“Hooo kalo tahu kaya gini jadinya, gak
bakalan ngikut bis ini aku. Udah reot menipu lagi. Huuuuch…” Omel perempuan
paruh baya kepada si kondektur.
“Ya udah kita turun yuk, mbok…”
Mbok Inah mengangguk kemudian menyisingkan
tapehnya agar dapat lebih mudah menuruni tangga bis. Namun tiba tiba…
Stttt,,, braaak…
Gelap
Langkah kaki tua itu terhenti
Tersekat..
Oleh denyut nadi yang semakin melemah
Dan perlahan…
***
“Temui Musthofa!”
Entah untuk yang
keberapa kalinya pesan itu begitu mengoyak alam sadar Zahrona.Ia berpikir,
mungkinkah karena alasan itu mbok Inah
mengajaknya pergi ke suatu tempat yang ia sendiri tak mengetahuinya.
Sampai saat ketika jawaban itu belum sempat tergenggam, lisan tua itu telah
lebih dulu terbungkam.
“Benarkah karena
itu, mbok?...
Jika ya,,,
Maaf! tak ada
alasan lagi bagiku tuk menemuinya.”
“Bu Zahrona kenapa
menangis?” Tanya Agus dengan lugunya.
“Nggak nak, ibuk
hanya bangga di saat ibuk benar benar terjatuh kehilangan dua orang yang sangat
berarti dalam kehidupan ibuk, Allah berkenan menghadirkan kalian berada disini.
Makasih ya, sayaang?”
Agus dan Rohmat mengangguk kemudian mendekat
dan memeluk erat Zahrona.
“Sekali lagi
makasih ya, sayang. Karena keberadaan kalian menjadikan ibuk menemukan alasan
mengapa ibuk harus bertahan tanpa harus terpuruk akan kepergian mbok Inah dan
bayiku.”
“Terimakasih juga
ya, buuk. Meski terlalu muda untuk dipanggil ibuk, anda telah berkenan
membiarkan kami disini menikmati masa kami. Karenamu, kami tidak lagi hidup
berkawankan jalanan.”
Dan…
Tak hanya terkadang
Kamipun bangga
Berpelukkan jalanan dan berkawankanmu,,,
Kau
dan aku
Disini…
***
Sepi
Semuanya
terisak dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sungguhan itu begitu memukau,
menguak emosi dan menenggelamkan pandangan untuk tertunduk, merasakan demi
mengetahui sebuah jawaban menjadi jawaban….
Dari tangan siapakah pesantren ini terlahir??
THE
END
Komentar
Posting Komentar