Refleksi Rihlahku Di Hari Guru



Anjungan Walisongo WBL
Sebelumnya, terimakasih tak terhingga atas secercah cahaya yang dikirimkan Tuhan di kehidupanku. Terutama kepada cahayaku, yang telah mengajariku menyibak gelabnya kebodohan.Tak dapat kuingat betul lantunan kalam tauhid di telingaku, ketika aku terlahir di detik pertama mengenal dunia. Tapi, kesabaran dan ketegasan mengenalkan huruf hijaiyah dan abjad di usia beliaku, membuatku mengerti. “Banyak hal dari suguhan dunia yang harus aku baca.” Karenanya, tepat di hari ini, ku teriakkan lantang pada cahaya-cahayaku “Salam ta’dhimku , semoga aku selalu dapat meneruskan jejak-jejak istimewamu.”

Di sini, aku ingin sedikit bercerita tentang satu di antara dua hal yang menarik untuk aku perhatikan ketika rihlah di Wisata Bahari Lamongan (WBL). Tepatnya di Anjungan Walisongo, kudapati seorang perempuan sedang mendidik anak kecil. Pada awalnya aku berpikir, perempuan itu ialah ibu yang sedang mengenalkan deretan huruf hijaiyah pada anaknya. Ternyata, setelah kubaca penjelasannya, perempuan itu digambarkan seorang kakak. Sungguh, melihat pemandangan tersebut jadi teringat, betapa pendidikan masih dianggap sebagai isu feminis. Tapi bukan masalah itu yang ingin aku ungkap. Sebagai perempuan tentulah aku sangat bangga, gambar tersebut menjelaskan betapa perempuan dapat berkontribusi mendidik generasi bangsa.

Jujur, alasan kenapa aku tertarik mengabadikan gambar tersebut? Aku berpikir, alam yang menjadi latarnya, ialah tanda bahwa pembelajaran tidak hanya berkutik di sepetak ruang bernama kelas. Ada buku yang harus di buka, materi yang harus dijelaskan penjabarannya dan cara berpikir yang tidak boleh tersekat oleh apapun. Lantas, apa refleksi rihlahku di hari guru?

Jangka panjang dari sebuah pendidikan ialah kehidupan yang lebih baik. Harapan dari sebuah pendidikan ialah kehidupan yang lebih baik. Yang harus diperjuangkan dari sebuah pendidikan adalah kehidupan yang lebih baik. Imbas dari sebuah pendidikan ialah keseluruhan kehidupan yang lebih baik. Tapi mengapa, untuk mewujudkan keseluruhan tatanan kehidupan yang lebih baik guru hanya dilabeli sebagai pahlawan pengabdian? Bukan siapa-siapa yang melabeli, melainkan cara berpikirku terhadap guru. Entah ini sebagai wujud kekritisanku atau bukan, guru selalu dipandang dengan upah minim sehingga terkadang ada yang jurusan pendidikan lebih memilih mencari pekerjaan tidak sebagai guru di ruang formal. Alangkah, pahitnya negeri ini.

Aku teringat ketika guruku bercerita mengenai pendidikan semasa Bani Abbasiyah. Para pendidik digaji mumpuni, sehingga dapat terfokus mencerdaskan generasi bangsa. Di Indonesia, plesetan “guru dibayar murah dituntut untuk perbaiki karakter dan akhlak anak-anak, sedangkan artis sinetron dibayar mahal untuk merusak akhlak anak-anak” menurutku ialah potret realita sosial yang dibiyarkan begitu saja. Alangkah pahitnya negeri ini.

Ya,,,karena itu guru adalah pahlawan pengabdian. Bukankah mengabdi, biarlah menjadi rahasia ketulusan para pengabdi? Pemerintah seharusnya tidak lantas mengacungi jempol dan mengapresiasi saja. Masa Bani Abbasiyah dapat dijadikan pembelajaran menentukan langkah di negeri tercinta ini. Semoga,…

“selamat hari guru, para pahlawan pendidikan. Panjenengan,adalah cahaya yang dikirimkan tuhan untuk mencerdaskan anak bangsa. Terimakasih, telah menghantarkan anak didik menjadi generasi bermartabat. Panjenengan luar biasa istimewa.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi