Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…
![]() |
| Add caption |
Rihlah,suatu hal yang sangat menyenangkan
bukan? terimakasihku teruntuk segenap pengasuh dan panitia rihlah komplek R,
karena jerih payah kalian saya dapat turut serta sowan kepada Raden Qasim atau
yang dikenal dengan sebutan Sunan Drajat. Ini bukan kali pertamanya aku sowan,
sewaktu kecil bapak dan ibuku kerap mengajak dan mengenalkanku dengan pejuang Islam
di tanah Jawa. Salah satunya, Sunan Drajat. Namun, baru kali ini aku dapat
merasakan nikmatnya sowan pada beliau. Dulu aku terlalu kecil, usia SD belum
dapat membuatku berpikir apa-apa selain hanya soal senang diajak bapak ibuk
turut serta rombongan ziarah desa ke makam waliyullah. Itu saja,….
Namun kali ini, mataku sudah dapat membaca,
otakku sudah dapat berpikir akankah ketika aku tak lebih dari sepasang batu
nisan ada yang berkenan datang mengusap nisanku dan mendoakanku? Adakah
anak-anak yang aku temani di TPA mengingat dan mengamalkan apa yang aku
sampaikan? Bagaimana jika kurangnya kesungguhanku mendidik mereka tidak
berdampak apa-apa pada perkembangan hidupnya? Interaksi sosial yang aku bangun,
akankah mengalir pahalanya hingga aku mati? Bagaimana jika begitu saja terhapus
oleh kesombongan lisan, pemikiran dan tindakanku? Lantas apa yang dapat dibanggakan
dari sebuah kematian?
“Astagfirllahal Adhim, semoga selalu dalam
keadaan beriman.” Ucapku dalam hati.
Kembali tentang Sunan Drajat. Putra dari Sunan
Ampel ini memiliki kecerdasan yang luar biasa. Selain cerdas, sunan Drajat
memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap kaum miskin. Pantang baginya
berdakwah tanpa memberikan teladan. Karenanya, sebelum beliau mengenalkan
ajaran Islam, Sunan Drajat memperhatikan kondisi kesejahteraan masyarakat
terlebih dahulu. Hal tersebut tercermin pada pesan yang dicantumkan di sarean /
makam beliau.
wenehono teken marang wong kang wuto
wenehono pangan marang wong kang keluwen
wenehono payung marang wong kang kaudanan
wenehono sandang marang wong kang kawudan
Aku yang asli Jawa tentu dengan mudah mengerti apa
yang disampaikan Sunan Drajat. Namun, apakah aku paham? Ternyata tidak. Bahkan
sampai saat aku pulang ke Jogja dan menulis tentang salah satu perjalan
rihlahku ini, aku masih berpikir tentang nasehat Sunan Drajat. Bayanganku
melayang tentang kondisi zaman saat beliau menjadi pemimpin umat. Apakah
kondisi sosial dan ekonomi begitu sangat memprihatinkan, sehingga ada orang
yang tidak memiliki baju dan perlu agar kita memberikannya baju? namun bukankah
di setiap zaman selalu ada macam-macam bentuk kekurangan? Yang jelas empat
nasehat Sunan Drajat mengajariku agar memberi sesuatu sesuai dengan konteks
kebutuhan orang yang membutuhkan.
Wenehono teken marang wong kang wuto artinya berikanlah tongkat pada orang yang
buta. Karena tongkat dapat dijadikan landasan langkah mana yang akan dituju
sesuai dengan kadar kemampuan orang buta. Tongkatlah yang dapat dijadikan mata
untuk membedakan jalan yang terjal atau bukan. Kecuali jika tidak dengan
tongkat sekalipun kita berani mengulurkan tangan dan menggandengnya, berjalan
seiring langkah yang akan ditujunya. Namun, apakah dengan demikian lantas akan
membuat orang buta mandiri? Tentulah, yang sesuai kebutuhan bagi orang buta
adalah tongkat.
Membahas tentang tongkat, jadi teringat ulasan
Cak Nun saat Indonesia demam aksi damai 4 November 2016. Singkatnya yang dapat
kupahami Cak Nun menganalogikan tongkat ialah Islam yang dapat dijadikan
landasan manusia dalam berpijak. Apakah sebagai landasan “Islam” membutuhkan
pembelaan bahwa ia adalah Islam? yang butuh dibela bukan Islam melainkan
manusianya yang menggunakan tongkat, menggunakan Islam sebagai pijakan
hidupnya. Intinya kita itu siapa mau membela Islam? apalagi dengan
teriak-teriak seolah Islam Sangat Butuh Pembelaan Dari Kita.
Kalau seperti ini, jadi benar-benar rindu dan
ingin bertanya kepada Sunan Drajat, 36 tahun berotoritas menjalankan roda
pemerintahan, bagaimana beliau akan menanggapi hal semacam ini? Aku tidak
berani membayangkan apa yang akan diintruksikan beliau. Hanya saja aku
berpikir, konteks tongkat dan orang buta ini apakah ketika beliau ngendikan,
hanya terpaku pada soal fisik ataukah dapat diterjemahkan dengan konteks lain.
Bukankah buta dapat diartikan sebagai kegelapan, mata hati tidak dapat melihat
sehingga dibutuhkan cahaya untuk menyingkap kegelapan? Jika tongkat ialah
landasan berupa cahaya, ia sangat dibutuhkan agar manusia buta dapat keluar
dari tabir kegelapannya. Lantas siapa yang akan memberikan tongkat pada manusia
buta? Ya semuanya..semua dari kita yang diajarkan tentang sesama Islam adalah
saudara. Karenanya, kalau ada saudara yang buta dan keblinger tidak
lantas melabelinya kafir, tapi dikaruhke “ini lho jalan yang benar” Jika tidak berkenan, ya sudah tidak perlu
ngotot dan meneriakinya jahanam, bid’ah, kafir dll. Positif Thinking dan
toleransi, mungkin tongkat yang ia butuhkan tidak sesuai dengan yang kita
kasihkan. Bisa jadi tongkatnya, terlalu kecil sehingga tidak nyaman untuk
dijadikan pijakan melangkah, atau tongkatnya terlalu kegedean sehingga
menyulitkannya mengangkat saat berjalan, atau tongkatnya terlalu halus,
sehingga licin ketika digenggam, atau bisa jadi tongkatnya terlalu kasar
sehingga tidak nyaman ketika digenggam,,,,so…..berikanlah sesuai dengan
kebutuhan.
Wenehono pangan marang wong kang keluwen. Nasehat kedua Sunan Drajat tersebut bermakna
berikanlah makan pada orang yang kelaparan. Kuulang berkali-kali melafalkan
kalimat tersebut dalam hati. Pertanyaankanku satu, kelaparan dengan tidak
bersyukur beda tipiskah? Ini bukan berarti aku mengkritisi nasehat Sunan Drajat.
Sama sekali tidak, kelaparan memang benar-benar ada di sekitar kita. Namun,
bagaimana jika kelaparan diakibatkan oleh ketidakcukupan hati bersyukur dan
kelemahan jiwa serta diri untuk tidak berikhtiar? Sebagaimana pengemis yang
tidak dapat beranjak dari keterpurukan berpikir ingin hidup mudah dengan
meminta? Padahal kondisi fisik sehat, masih produktif untuk bekerja namun
terninabobokkan dengan menengadahkan tangan di setiap lalu lalang orang-orang?
Bahkan mengemis dijadikan identitas diri sebagai pelaku kelaparan yang harus
dikasihani? Sungguh aku berpikir seperti ini bukan karena merendahkan seorang
pengemis. Bapakku pernah bercerita tentang anjuran Rasulullah agar memberi
sesuatu kepada orang yang meminta sekalipun ia naik kuda.
Ketika itu bapak sedang bercerita tentang orang
yang sudah tidak lagi malu meminta padi dengan hanya datang lantas menodongkan glangse/karung.
Padahal orang-orang tersebut cukup mampu ekonominya, dan yang ia lakukan tidak
lagi soal urusan perut, melainkan menimbun kekayaan. Karena sekali musim panen
saja, hasil mengemis padi di sawah-sawah milik orang lain dapat dijual untuk
mengganti motornya dengan yang baru. Bapakku mengeluh, dan ngendikan zamane
wes bedo ora koyo mbiyen. Dulu meminta itu sesuatu yang sangat dianggap
memalukan, karena akan terlihat identitas miskinnya, la sekarang mengemis
dijadikan budaya untuk mengumpulkan kekayaan. Dan orang semacam itu, sudah
tidak lagi peduli, “wong koyo ngono kui ora iso ngiro-ngiro, kiro-kiro sik
ndue sawah iki sawahe gede opo cilik, le dijaluki ki iso balik modal ora? Ora
mikir, nek ora dikei yo diomong medit!” Keluh bapak padaku. “le koyo
ngono melaske wong sik miskin, sik ora gelem jaluk. Sik paham sawahe ombo, yo tetep
mikir zakatke bakale diwehke wong kae, la sik paham tapi hasil sawahe ora balik
modal mergo kakeen dijaluki sak durunge dibagi nang wong miskin?” Ucap
Bapakku menambahi.
Cerita bapak yang demikian yang menurutku susah
dipetakan. Kelaparan macam apa yang demikian? Terlebih saat di sekeliling jalan
menuju makam sunan Drajat banyak ditemukan pengemis. Hanya satu pengemis yang
aku lihat memang butuh untuk dibantu, kakinya cacat. Selain laki-laki paruh
baya yang kakinya tidak berfungsi secara sempurna tersebut, semua pengemis
tampak sehat, bahkan ada yang segar bugar dan berusia produktif. Ada juga dua
anak perempuan seusia SD. Sungguh miris hatiku, kelaparan semacam apa yang
demikian terjadi? Kenapa rumah Sunan Drajat dihiasi hal-hal yang demikian.
Tidak hanya di makam Sunan Drajat, begitu juga di makam-makam para wali yang
pernah aku kunjungi. Aku tidak merendahkan mereka, aku hanya berharap mereka
diberikan keteguhan berpikir untuk menjalani hidup sebagaimana normalnya
manusia. Berikhtiyar, bekerja dan berdoa. Bahkan aku berharap pemerintah
tergerak untuk mengatasi hal tersebut.
Di sini aku sedikit mengktritisi Jawa Timur
terkenal dengan penangan gelandangan dan pengemis, mengapa masih banyak
terdapat pengemis di sekitar pemakaman para waliyullah. Ataukah ini keberkahan
tersendiri yang dikirimkan Allah bagi orang-orang yang berziarah ke makam para
wali karena sekaligus bershodaqoh? Kalau demikian semoga Allah benar-benar
mengampuni kelancanganku berpikir.
Nasehat ketiga Sunan Drajat yakni wenehono
payung marang wong kang kaudanan. Kalau nasehat ketiga ini, aku tidak akan
mengaitkannya dengan apa-apa. Mungkin dengan memberikan payung/ minimal
meminjami lah ya (hehehe….) kita telah menjadi lantaran menyelamatkan anak
bangsa. Misalnya, bisa jadi seseorang
terjebak hujan saat akan mendidik di TPA, nah dengan payung atau bisa
diqiyaskan dengan jas hujan yang kita berikan atau kita pinjamkan, ia tidak
telat untuk sampai di TPA.
Terakhir, ialah wenehono sandang marang wong
kang kawudan berikanlah pakaian pada orang yang kawudan. Kawudan itu
makna mentahnya bugil yang artinya dalam konteks ini mungkin tidak memiliki
pakaian, atau memiliki pakaian yang sudah tidak layak pakai, robek sehingga
terlihat bagian anggota tubuhnya yang seharusnya tertutup rapi. Setujukah dengan
nasehat ini? Jelas sangat setuju 100%. Dalam hal ini aku melirik berpikir,
orang-orang yang berpakaian bukan karena ketidakmampuan membeli sehingga
nampaklah bagian anggota tubuhnya. Ya Koyooo…sik keno di sawang pas
mlaku nang alun-alun opo nang tipi-tipi kaya kaelah. Njukkkk????
Sisi lain yang juga belum dapat aku pahami,
ialah gelar yang diberikan Raden Patah Demak kepada Sunan Drajat yakni “Mayang
Madu”. Aku mencoba searching di internet tapi belum menemukan maknanya. Hanya
menduga saja, jika mayang diartikan bunga dan madu ialah sesuatu yang manisnya
tidak menjemukan dan dapat dijadikan kekebalan tubuh serta obat, mungkin hal
tersebut dapat menggambarkan Sunan Drajat yang kehadirannya semerbak laksana
bunga mayang di masyarakat. Serta penyejuk jiwa masyarakat, dengan keteladanan
dan nasehat-nasehatnya yang memotivasi masyarakat hidup dengan cara yang sehat
untuk menjadi manusia yang sehat. Sehat berpikir, berucap, dan bertindak. (Mohon Maaf, Sunan Drajat, kulo lancang menafsirkan
gelar panjenengan).
Krapyak, 23 November 2016

Komentar
Posting Komentar