Mungkin Belum Saatnya
Pedar rembulan dan gemintang tak lagi dapat menghipnotisku. Tanah tempatku berpijak seolah tak lagi kukenali. Aku ingin pergi, mengikuti jejak langkah-langkah mereka. “Aku ingin keluar dari zona ini, bapak.” Kataku merayu bapak. Bapak terdiam sejenak, desahan nafasnya menghiasi percakapan kami. “Kenapo?” tanya bapak khas dengan bahasa jawanya. Aku tak lantas menjawab. Lidahku kelu, tak terasa air mata membasahi kedua pipiku. “Aku ingin pindah pesantren khusus bahasa.” Kataku akhirnya. Di pelataran tempatku belajar kini, aku seolah melihat bapak menganggukkan kepala. “Memang kudune wani metu soko titik aman. Wong nek mung meneng ora wani gerak ora bakal berkembang.” Kata bapak membuat tangisku semakin pecah. Aku mengangguk seolah keinginanku untuk mencari pengalaman baru di iyakan olehnya. Aku menarik nafas perlahan, sembari menunggu bapak kembali bertutur. “Tapi opo ngajine, wes rampung?” Tanya bapak kemudian. Aku tercekat, oleh pertanyaan yang tak mamp...