Mungkin Belum Saatnya
Pedar rembulan dan gemintang tak lagi dapat menghipnotisku. Tanah tempatku berpijak seolah tak lagi kukenali. Aku ingin pergi, mengikuti jejak langkah-langkah mereka. “Aku ingin keluar dari zona ini, bapak.” Kataku merayu bapak.
Bapak terdiam sejenak, desahan nafasnya menghiasi percakapan kami. “Kenapo?” tanya bapak khas dengan bahasa jawanya. Aku tak lantas menjawab. Lidahku kelu, tak terasa air mata membasahi kedua pipiku. “Aku ingin pindah pesantren khusus bahasa.” Kataku akhirnya.
Di pelataran tempatku belajar kini, aku seolah melihat bapak menganggukkan kepala. “Memang kudune wani metu soko titik aman. Wong nek mung meneng ora wani gerak ora bakal berkembang.” Kata bapak membuat tangisku semakin pecah.
Aku mengangguk seolah keinginanku untuk mencari pengalaman baru di iyakan olehnya. Aku menarik nafas perlahan, sembari menunggu bapak kembali bertutur. “Tapi opo ngajine, wes rampung?” Tanya bapak kemudian.
Aku tercekat, oleh pertanyaan yang tak mampu aku jawab. Ketakutan tidak mendapatkan izinnya begitu saja hadir menyekatku. Tapi,keinginan untuk mengikuti langkah mereka begitu kuat.Aku tidak lantas tertunduk begitu saja oleh pertanyaan bapak. Terlebih, sosok laki-laki terhebatku itu memiliki kedemokrasian yang cukup tinggi. Tentu bukan hal yang sulit untuk mendapatkan izinnya asal aku dapat mengemukakan alasan yang nyata.
“Tuntas dereng, tapi pemberlakuan Madin dugi kelas sekawan sampun rampung setahun wingi.” Jawabku.
“Jane aku luwih seneng tetep nang pondok kono disik. Mbok menowo keluberan berkahe poro mu’allime.”
Ketakutanku benar, kali ini kedemokrasian bapak tidak begitu saja mudah untuk kutembus.Kepedeanku mudah untuk mengantongi izinnya, berasa tidak aku temukan. Meski bapak tidak melarang, tapi aku tahu pilihanku kali ini tidak diinginkannya.
Aku terdiam. Hanya isak tangis yang coba aku tahan agar tak terdengar oleh bapak. “Tapi nek emang karepmu pindah diroso luwih apik yo monggo. Sik ngerti penting orane kebutuhan pindahmu, yo awakmu dewe. Tapi dipertimbake disik sik tenanan.” Kata bapak akhirnya.
Pedar bintang seolah tak lagi kulihat. Pekat malam menyekatku sebagaimana izin bapak yang kurasa tak kudapati seutuhnya. Suasana hening, bapak mengalihkanku untuk meminta pertimbangan pada ibu.Aku mengiyakan, meski aku tahu jawaban ibu tak mungkin berbeda dengan bapak.
Sembari menanti ibu menyapaku, pikirku melayang, ini seperti saat ketika aku ingin pindah dari pesantrenku dulu. Ketika aku ingin mengikuti jejak temanku di sekolah kejuruan, bapak dengan analogi telur ayam mampu meluruhkanku. “Ngangsu kaweruh nek pindah-pindah kui koyodene endog sik di engkeremi, dipindah-pindah sak durunge netes. Bakalan bobor, ora hasil opo-opo.” Nasehat bapak dulu.
Entah nasehat itu benar atau tidak, saat itu aku menerimanya saja tanpa membantah. Kurasa bapak dulu hanya menakutiku.Berapa banyak ilmuwan yang bergontai ganti sekolah? Gus Dur bahkan tidak pernah sampai tuntas menyelesaikan belajarnya.
Tapi mungkin saat itu bapak lebih tahu kemampuan putrinya. Aku bukanlah Gus Dur yang memiliki kemampuan istimewa dari manusia biasanya. Yang ku tangkap nasehat bapak satu, mungkin agar aku mematangkan keilmuwanku terlebih dahulu. Baru boleh beranjak ketika dirasa telah cukup. Dan itu terbukti ketika aku telah menuntaskan 12 tahun belajarku. Aku bebas memilih Universitas yang kutuju.
Tapi, akankah nasehat bapak dulu akan dikemukakan lagi saat ini? Saat ketika aku telah cukup dewasa menentukan langkahku?
“Assalamu’alaikum.” Sapa perempuan terhebatku.
Seketika lamunanku pudar berganti senyum yang sengaja kupaksakan. Bayangan ibu tidak akan berpihak pada rencana pindahku, bergelayut di benakku.
“Kenopo pengen pindah?” Tembak ibu.
Ah mungkin aku dapat lebih merayu ibuku. Kuutarakan keinginanku pindah ke pesantren khusus bahasa adalah sebuah tuntutan, agar ketika kelak aku lulus aku sudah mengantongi kemampuan berbahasaku. Krapyak, tempat yang kini kusinggahi kujanjikan untuk tetap kusambangi seminggu sekali. Begitu juga dengan organisasi yang hingga kini kugeluti, aku tidak lantas melupakannya begitu saja. Aku menjanjikan sepulang kerja dan hari minggu akan tetap turut berkecimpung di dalamnya.
“Kuat ora tenaga lan otake?” Tanya ibu.
“Kuat insyaallah.” Jawabku lantang. “Insyaallah di sela-sela kerjaku, aku bisa menghafal untuk setoran bahasaku. Semisal kulo sios pindah.” Tambahku yakin.
“Nek sinau bahasa inggris gak kudu pindah soko pondok saiki pie?”
Sudah ku tebak, ibuku akan sama pemikirannya dengan bapak. Meski akhirnya akan terserah padaku, izin dari keduanya tetap saja berasa tak kumiliki seutuhnya.
“Saget, tapi nek mboten khusus bahasa ki yoo tetep mawon.” Bantahku.
“Pesantrene tetep ono ngajine?”
“Wonten, kui lho pendirine ugi santri Krapyak. Hanya saja beliau fokus di pesantren bahasa biar literatur asing dapat dipelajari oleh orang Indonesia.”
“Yo wes nek ancen karepmu ngono. Dongo sik tenanan, ben luwih manteb anggone melangkah.” Kata ibu akhirnya.
Titik-titik keraguan masih saja menggelayutiku.Meski kedua orangtuaku telah mengiyakan bagiku untuk bertindak atas pilihanku, aku masih tidak mengingkari akan harapan bapak dan ibu agar aku tetap berada disini.
Mungkin tidak selamanya, hanya saja dalam pandangan keduanya masih mengira aku belum cukup waktu untuuk menjejakkan langkah di dunia yang berbeda. Bukan melarang, tapi masih banyak tanggungan yang belum terselesaikan. Beliau mengajariku untuk tetap di sini, hingga kelak ketika aku dirasa telah bisa menuntaskan semuanya.
Percakapanku terhenti saat ku lihat satu pesan masuk dari bunyaiku. Aku pamit dan memastikan pada ibuku untuk mempertimbangkan langkahku.
“Nggih mpun buk, pangestunipun.”
“Ojo lali dongo.” Pesen ibu setiap kali mengakhiri percakapan teleponku.
Aku mengangguk, mengucap salam dan segera meluncur sowan ke bunyaiku. Aku bisa saja berpura-pura tidak sedang terjadi apa-apa di hadapan bunyaiku. Ku kecup tangannya dan seperti biasanya kupijit kakinya.
“Pie wingi pelantikane?” Tanya bu nyai.
Aku bersyukur di antara kesibukan bunyai, beliau masih memperhatikan organisasi yang kini ku geluti. Memang sih, beliau kini secara struktural turut berkecimpung sebagai dewan penasehat di organisasiku. Dan itu adalah kali pertamanya beliau terlibat. Bunyai meminta maaf karena tidak bisa hadir dalam pelantikan pengurus.
“Alhamdulillah lancar, buk. Pak Asyhari Abta ugi rawuh.” Jawabku senang seolah lupa pada gejolak yang terjadi padaku.
“Alhamdulillah. Jama’ah ngaji ibuk-ibuk masih berjalan, nak?”
“Masih buk.Seminggu dua kali.”
“Alhamdulillah, ditelateni ya...” Pinta bu nyai padaku.
Deg
darahku berasa mengalir lebih cepat. Detak jantungku begitu terasa. Aku tak dapat mengelak apapun selain menganggukkan kepala dan mengiyakan permintaannya.
insyaallah saya tidak akan kemana-mana ibuk.
Keinginanku untuk pergi, luruh oleh caramu memanggilku. Bismillah ngalab berkah
Komentar
Posting Komentar