Cerutu Abah Kakung
“
Kholik,,,,Kholiiiiiik,,,,Kholiiiiiiiiiiiiiiik,,,,”
Suara
itu semakin mengeras, geram, tanduk tanduk di kepalanya seolah bermunculan.
Begidik, menakutkan dan membuat jemari - jemari bocah cilik merapat mencengkeram
apapun yang dapat dicengkeramnya. Bersembunyi, namun berkali kali melongokkan
mata bulatnya pada sepasang tanduk yang siap menyeruduk bidikan.
“KHOLIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIK,,,,…”
Semakin
keras.
Tak
hanya seolah - olah. Gemerutuk giginya mulai terdengar. Mengamuk benar - benar
mengamuk. Sepasang matanya melotot, hidungnya mengendus kembang kempis dan siap
menerkam.
“
HYAAAAAAAAAAAAAAAAAA,,,,JHIA JHIA JHIA
JHIAAAAAAAAAA TILUNG TILUNG, ULTRAMEN MEBIUUUUUUUUUUUUS.”
Tertawa
girang. Loncat - loncat masih dengan gaya pahlawan yang dikenalnya. Bocah cilik
berbadan gendut itu mengendap - endap memastikan lawannya telah mati.
“
HWAHAHHAA,,,KHAO KHHHOOOO….
HAIYYYAAAAAAAAAAAAAAAA
JHIAA”
Gelap
Tersedu
sedan mata bulat itu hanya dapat menatap nanar laki laki berjenggot di
hadapannya. Membiarkan wajah angkernya
semakin angker didera emosi oleh ulah bocah kecilnya. Sudah biasa, tapi entah
kali ini wajah angker itu tampak tak seperti biasanya.
Diliriknya
diam diam laki - laki di hadapannya. Benarkah laki - laki yang dipangggilnya
Ayah telah benar - benar enggan menganggapnya sebagai anak?
Aach
bocah kecil itu masih terlalu dini dan tak mengerti. Tapi ia tahu ayahnya benar
- benar marah hingga tak segan - segan mendaratkan tamparan ke pipi tembemnya.
Sakit, ia hanya dapat menangis sembari memegangi pipinya yang memerah.
Tak
hanya sekali, laki - laki itu benar - benar kalap hingga kedua kalinya tangan
kanannya mendarat lepas membuat bocah ciliknya kesakitan. Laki - laki itu masih
saja mengamuk kesetanan, tidak peduli darah segar mengalir dari bibir putra
kecilnya.
“
Dimana perempuan yang biasa membelanya?”
Bocah
cilik itu bertanya - tanya, namun tersekat oleh isak tangis yang tak mampu
ditahannya. Suaranya tercekat oleh ketakutan yang mendera. Sosok di hadapannya
tak lagi seperti monster yang membuat anak - anak kecil lari tunggang langgang
atau bersembunyi di ketiak Ibunya sembari mencengkeram erat perempuan
terhebatnya. Begitu juga ia, bocah cilik itu hanya dapat tertegun, sesunggukan
menguatkan nyali untuk lari, menghindar
dari semuanya.
Takut
Bocah
cilik itu benar - benar takut, ia tak dapat balas menyerang seperti halnya
Ultramen menyerang balik monster - monster yang dihadapinya.
“
HWEEECH bocah tengil, mau kemana kau?”
Lari
terus berlari tanpa ada yang peduli. Sosok perempuan yang biasa membelanya tak
lagi ada, MATI.
***
“
Mas,…”
Bocah
cilik itu tersenyum menghentikan sejenak aktivitas bermain kelerengnya. Berlari
- lari kecil hingga membuat laki - laki tua yang memanggilnya tertawa melihat
pipi tembemnya naik turun.
“
Abah Kakung, ini lokoknyaaaaa.”
Laki
- laki yang dipanggilnya Abah Kakung tersenyum, meminta bocah cilik itu
mendekat dan duduk di pangkuannya. Bocah cilik itu menurut sembari menyelipkan
rokok yang belum dinyalakannya ke bibir laki - laki yang baru dikenalnya.
Senyumnya
mengembang seolah lupa laki laki yang memangkunya bukanlah yang biasa
dipanggilnya Ayah. Ia tak peduli, hanya sedikit rasa rindu pada sosok perempuan
yang tidak lelah membangunkan, memandikan, memakaikan seragam sekolah, menyuapi
dan…..
Lagi
- lagi ia tersenyum memperlihatkan giginya yang keropos. Laki laki tua itu
balas tersenyum dan merangkulnya erat.
Damai!
“ Iklok bismilobbikalladi kolak, kolakol
ingsanamin alak, iklok walabbukal akram, alladi allama bil qolam, allamal insana
ma lam….lam….lam,,,,”
“ Ya’lam”
Sepontan
bocah cilik itu tertawa, kemudian malu - malu mengikuti gerakan bibir Abah
Kakungnya.
“Yaklam,
yaklam, yaklam hehehhe.”
Abah
Kakung,…
Laki
- laki tua itu tersenyum menyalakan rokoknya sembari mendengarkan bibir mungil bocah
cilik itu terus menerus melafalkan surat
Al- Alaq.
Bacalah dengan (
menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan
Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah
Bacalah, dan
tuhanmulah yang maha mulia
Yang mengajar (
manusia dengan pena)
Dia
mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya
***
Iqro’,
bacalah,,,…
Senja
masih menampakkan keeksotisannya. Sedikit agak berbeda, mungkin karena
peralihan musim begitu Abah Kakung menyebutnya. Enam bulan berlalu, bocah cilik
itu mulai menampakkan perkembangannya.
“
Abah Kakung…” Panggilnya sedikit agak keras. Abah Kakung tersenyum. Seperti biasanya,
ia akan bergelayut manja sembari menyelipkan rokok di bibir laki laki yang tak
lagi asing di kehidupannya.
Memandang
tajam sekali - kali tertawa oleh asap rokok yang membumbung menghiasi langit
langit senja. Entah sudah yang kesekian senja, dilewatinya dengan hal yang
sama. Mendengarkan Abah Kakung mendendangkan kalam - kalam tuhan, muthola’ah
kitab dan membaca asmaul husna.
Sekali
- kali saat ia jenuh, diambilnya kelereng atau apa saja yang dapat mengalihkan
kejenuhannya. Bermain tanpa takut ditegur dan diteriaki Abah Kakung. Bebas
benar benar bebas. Bahkan pada saat ia kalap dan tak mau berhenti bermain, Abah
Kakung membiarkannya. Sebagai gantinya, Abah Kakung meminta kaki - kaki
kecilnya berjalan pelan di atas punggungnya
dan menyelipkan rokok ke bibirnya tanpa harus menyalakannya terlebih dahulu.
“
Abaaah Kakung.”
Lagi
lagi Abah Kakung tersenyum, menghela nafas sejenak kemudian bercerita dengan
cerita yang sama seperti saat pertama kali lisan Abah Kakung bertutur tentang
kisah Rasul dan wahyu pertamanya.
“
Perempuanku, bocah kecilmu rindu.” Bisiknya rindu sembari memandang lepas sedikit
bernostalgia dengan senja. Senja yang telah lapuk lebih tepatnya. Haaach bulir -
bulir rindu ternyata tak dapat diingkarinya. Melihat kegirangan yang memudar, Abah
Kakung menghentikan sejenak berceritanya.
“
Mas Kholik rindu sama ayah dan Ibu?”
“
Aaah,,,nggak Abah Kakung. Gak suka sama meleka.”
Abah
Kakung manggut manggut kemudian melanjutkan ceritanya. Diliriknya diam - diam bocah kecil di pangkuannya, Abah Kakung
merasakan ada yang berbeda. Mata bulatnya tampak sayu, bahkan saat Abah
Kakung sengaja melencengkan ceritanya, bocah cilik itu hanya diam tak
memprotesnya.
“Mas
Kholik rindu sama ayah dan Ibu?” Tanya Abah Kakung yang kedua kalinya.
“
Kholik gak suka sama meleka. Meleka jahat gak sepelti malaikat.”
Gleeer…
Suara
petir menyambar membuat bocah kecil begidik ketakutan. Seperti enam bulan yang
lalu saat ia memutuskan pergi jauh menghindar dari amukan ayahnya. Ia lelah
terhadap mereka yang hanya bisa memaksa menuntutnya seperti teman - teman
lainnya, bisa menulis huruf dan membaca dengan baik. Mereka tak pernah memberikan solusi,
bagaimana agar ia dapat menulis tanpa harus terbolak balik. Mereka tak peduli
dan tak pernah mau mengerti mengapa huruf B menjadi D.
Jengah
Bocah
cilik itu benar - benar jengah. Lelah oleh ratapan, kecaman dan tindakan kasar
orang tuanya. Dimata mereka, bocah cilik bernama Kholik adalah kesalahan tuhan dan derita yang selalu menggelayuti
keluarganya.
Mereka
mengeluh, entah sudah berapa sekolah yang angkat tangan dan menyarankan
orangtuanya menyekolahkan Kholik ke sekolah luar biasa.
“
Anakmu aneh tak seperti anak - anak yang lainnya. Lihat saja gaya bicaranya,
bola mata dan kepalanya memutar. Dan ketika ketakutan, seperti tikus asik
memainkan jemarinya hahhaha.”
Semuanya
tertawa oleh banyolan kepala sekolah. Tanpa pikir panjang, ditariknya tangan Kholik,
pergi….
***
Mereka tak
seperti malaikat
“Duh Gus ti, beri hamba kekuatan untuk dapat
menghapus sakitnya.” Rintih Abah Kakung
di sela - sela sujudnya.
Terisak
Kelopak
mata yang kian hari kian menggelambir tak dapat menyembunyikan kesedihannya.
Dalam hati Kholik yang kini tumbuh dewasa hanya dapat diam menerka, mungkin Abah
Kakungnya merindukan istrinya.
Sepertihalnya
dia,,,
Yang
diam - diam tak dapat mengingkari kerinduannya pada perempuan yang dipanggilnya
Ibu. Baginya, perempuan itu telah mati. Tapi….
Semenjak
dewasa, ia tak yakin perempuan yang tak kalah bringas dengan Ayahnya benar
benar mati. Ia tak akan mati di tangan ultramen yang hanya bersenjatakan roket kala
itu. Dia hanya pingsan, mungkin…
“
Abah rindu sama Eyang putri?” Tanya Kholik selepas mencium tangan keriput Abah
Kakungnya.
“
Eyang putrimu seperti malaikat. Dia tak
perlu dirindukan, jika hanya akan menimbulkan kesedian. Menjaga apa yang dulu
menjadi idenya, adalah cara Abah Kakung untuk meluapkan rindu. Bukan membenci,
karena ia tak lagi dapat menemani Abah Kakung muthola’ah, nderes atau
bersenggama dengan senja.”
Kholik
tersenyum getir betapa tak beruntungnya dia yang tak diizinkan Allah bertemu
perempuan berhati malaikat itu.
“
Seandainya….”
Kholik
segera membuang jauh pengandainnya. Ia tak ingin menghakimi taqdir yang tidak
menjadikannya terlahir dari rahim istri Abah Kakungnya. Tapi tuhan maha adil.
Diantara tangan tangan mereka yang tak seperti malaikat, tuhan membiarkannya
pergi dan bertemu dengan laki - laki yang kini dianggapnya sebagai Abah Kakungnya.
“
Ayah, Ibu….
Putra
tololmu tak lagi membencimu. Suatu saat, kita akan bertemu.”
***
Senja telah benar benar perlahan menelan masanya
Membiarkan si udik nan kerdil ini
Berjalan sendiri
“
Pripun, Mas?”
Hening
Tak
sedikitpun Kholik bergeming. Diam, tapi bukan berarti tak merespon. Ia hanya
masih tak percaya laki - laki yang terakhir kali dianggapnya merindu itu,
ternyata benar benar merindu. Merindu tuhan dan merindu perempuan pemilik ide…….
“
Aaaaaaackh mengapa kau biarkan aku tersiksa
oleh mereka yang merindukanmu, Abah Kakung? Bukankah kau telah damai
berkawankan tuhan dan perempuan yang kau cintai? Kenapa harus aku, tak salahkah
mereka memintaku meluapkan rindu dengan menjaga apa yang telah menjadi ide
perempuan terkasihmu selain Ibumu?”
Masih
saja hening. Sungguh Kholik masih belum
siap mengiyakan apa yang diminta laki - laki sebaya di hadapannya. Menggantikan Abah Kakungnya melebur bersama
mereka tak sekedar berangkulan, akan tetapi merangkul siapapun dan kapanpun
bukanlah hal yang mudah. Ia takut ketika memaksakan diri merangkul, tangannya
tak sampai. Jika harus dipaksakan, tidakkah ada yang terluka?
“
Pripun, Mas?” Tanya kang Anshori, begitu para santri memanggilnya.
Kholik
menghela nafas sejenak, menatap lamat - lamat laki - laki bersarung bernama
Anshori. Yang dilihatnya hanya dapat merunduk, diam seperti halnya dia yang tak
bergeming sebelumnya.
“
Saya itu orang bodo. Baca tulis saja tidak bisa, bagaimana bisa mengajar? saya
gak memiliki keahlian apa - apa selain menyelipkan rokok di bibir Abah Kakung tanpa harus menyalakannya. Sampean ngerti thoooooooooooo?
Saya tidak bisa!” Jawab Kholik tegas khas dengan gaya berbedanya, gerakan
tangan dan kepala yang berlebihan serta intonasi yang terlalu rendah dan tak
jarang panjang dan sedikit tinggi.
“
Bagaimana saya tidak yakin, sampean hafal Al-Qur’an tanpa menghafalnya. Itu karena senja yang sering sampean
lewati dengan menyelipkan rokok di bibir
Kiai tanpa harus menyalakannya. Adakah pada saat sampean bersama Kiai, Kiai
tidak sedang muthola’ah kitab, nderes
Al-Qur’an, melafalkan asmaul husna dan bercerita tentang hal yang sama?”
Lagi
- lagi Kholik hanya dapat diam. Ia tak tahu harus membalas apa, dengan apa yang
baru saja diucapkan Anshori.
“
Sampean, Mas. Sampean! Yaach sampeanlah
yang ditunjuk Allah menjaga ide mediang istri Kiai untuk mengembangkan
pesantren ini. Sampean tahu dan bahkan sampean sangat mengagumi Rasulullah yang
tak bisa baca tulis, akan tetapi bisa membawa umat dari kegelapan menuju cahaya
terang.”
“
Hahahaha,,,,itu Rasulullah kang, bukan Kholiiiiiiiiiiiiiiiiik.”
“
Sama- sama kalam allah yang pertama kali
diucapkan dan dihafal adalah Al –Alaq 1-5. Dulu sampean melafalkannya lancar
sekali, dan terhenti pada lafal ya’lam. Itu karena sampean lupa, mas. Sungguh
setiap kali Kiai bercerita tentang kelupaan sampean, saya merasa antara ya’lam
dan penerus Kiai selanjutnya adalah sampean.”
“
HAHAHHAHHAAAA…..lucu… lucu… lucu… lucu….”
“
‘Alamal insana malam ya’lam, dia
mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ya’lam, ya’lam, ya’lam.” Kata Anshori kemudian pergi meninggalkan Kholik.
“
HAHAHHAAAA…HAAA,,HA…HA”
Kholik
tertawa semakin keras. Namun tak lama saat ia menyadari ada yang tertinggal
atau sengaja ditinggal, entahlah! perlahan tawa kerasnya melunak. Sepi!
***
Alif
Lam
Mim
‘allima ya’lamu ‘ilman
Innallaha la
yugoyyiru ma biqoumin hatta yugoyyiru ma bianfusihim
“
Aku pasti bisa!” Ucap Kholik yakin, tegas dan tak seperti biasanya kemudian memasuki
aula yang biasa digunakan mengaji para santri.
Semua
santri terhenyak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Aaach…laki - laki
kerdil itu tampak ganteng bersarung, berpeci dan berbaju koko.
“
Woooch,,,gowo kitab e kang, terus piye mocone?” ceplos salah seorang santri
khas dengan logat jawanya.
Kholik
tak mengindahkan keributan yang terjadi diantara santri- santri Abah Kakungnya.
Ia yakin kebingungan mereka akan terjawab seiring berjalannya waktu.
Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum sampai
mereka mengubah diri mereka sendiri
Kholik
tersenyum sembari membaca kalam Allah yang membuat para santri terpana, bingung
dan entahlah. Banyak hal yang tidak mereka ketahui. Mereka sibuk menduga,
mungkinkah ini karena keberkahan sang Kiai? Tapi, biarlah….
Kholik tak peduli. ia hanya
tersenyum sembari menatap lekat satu - satunya
seseorang yang berlinang air mata keharuan.
“
Terimakasih, Anshori. Telah kau kenalkan aku dengan keanehanku. Disleksia namanya.Penyakit
yang membuat pengidapnya kesusahan membaca, menulis dan berbicara. ” Ucap Kholik
dalam hati.
“Innallaha la yugoyyiru ma biqoumin hatta
yugoyyiru ma bianfusihim Sesungguhnya
Allah tidak mengubah suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri”
Angan Kholik melayang menyelami senja yang pernah membuatnya
menertawakan Anshori karena ide yang dianggapnya gila. Ternyata, emang benar - benar
gila. Anshori gila begitu juga dengannya. Tapi tuhan benar - benar sesuai
janjinya, bahwa ia tak akan menelantarkan sejenakpun hambanya dari ketakutan,
ketidak mengertian, kelaparan, kehausan, bahkan terhadap orang gila sekalipun
asal,,,,,
“ Mereka berkenan berusaha.” Jawab santri yang
mulai luluh dan tak lagi menyangsikan makhluk kerdil pengganti Kiainya.
Kholik mengangguk, tersenyum dan tak hentinya
bersyukur karena allah memberikan kejutan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Dapat membaca, menulis seperti teman teman yang lainnya, adalah mimpi orang tua
Kholik, bukan mimpinya.
Dulu ia jengah dan benci sekali dengan yang bernama
huruf, tak peduli latin ataukah arab. Karena huruf - huruf itulah yang membuat
orang tuanya tak berbelas kasih padanya. Tapi kini, melalui flasdisk Anshori
yang tertinggal saat anshori memintanya menggantikan posisi Abah Kakungnya, Kholik
berani lancang membuka dan mengkopi paste film Taare Zameen Par kemudian
menontonnya.
Dari situlah, ia menemukan dirinya tak jauh beda
dengan Ishan bocah cilik yang kehilangan senyumnya karena menjalani
hidup yang berbeda. Tidak bisa membaca dan menulis, akan tetapi dituntut orang
tuanya untuk bisa tanpa dicarikan solusinya. Bocah cilik itu memberontak dan
sering kali bikin ulah maka tak heran jika orang tuanya sering memarahinya.
Berbeda saat ketika bocah cilik itu menemukan
dunianya. Senyumnya merekah dan semangat untuk bisa membaca dan menulis seperti
teman yang lainnya.
“ Hweeee,,,,
mas Kholik Senyam senyum sendiri lhoo….” Teriak Anshori membuat seisi aula riuh
tertawa oleh kelakuan Kiai barunya.
“ Hahahaha,,,”
Sekelebat
Ia benar - benar rindu
Bercerita
Sembari menyelipkan
cerutu diantara bibir Abah Kakungnya
The End
Komentar
Posting Komentar