IBLIS DI ATAS SAJADAH

Aku berjalan ke kanan dan ke kiri menyelidik  penuh curiga. Mengendus-endus hidungku  oleh bau anyir yang memvonis pembauku. Jatuh terjerembab oleh rasa yang tak dapat ku elakkan. Bau anyir, amis itu masih saja terasa dan bahkan seolah menertawai pembauanku.
“Aaach tuhan, inikah karmamu? Dulu aku suka menghina temen sekelasku yang ingusan dengan sebutan pabrik umbel( pabrik ingus).Kali ini aku ingin engkau benar-benar mematikan fungsi hidungku sebagai pembau.” Teriakku mengadu, memaksa, mengecam dan seolah-olah sok berkuasa menghakimi tuhan.
Tuhan membiarkanku atau tak menjawab keinginanku. Aku sebal tak sampai berteriak lantang dengan mengatakan bahwa tuhan tak adil. Bagiku tuhan maha adil. Meski terkadang tanpa terucap lantang, hatiku berteriak tuhan tak adil. Hanya saja aku dapat menyembunyikannya untuk menutupi keiblisanku biar dikira qona’ah atau bahasa jawanya nerimo ing pandum(menerima apa adanya).
“Kenapa, Bapak?” Tanya Kadir padaku.
“Anyir, amis, busuklah pokoknya. Kaya bau bangkai.”
Kadir heran mendengar pernyataanku. Ia pun mencoba memastikan apa yang menggelayuti pembauku. Di endus-enduskan hidungnya, tapi  Ku lihat ia tak merasakan bau apa-apa. Hanya kerutan hitam legam di dahinya yang sama sekali tak membuatku mengerti. Akankah kerut-kerut kebingungan oleh bau yang menyergabku, ataukah  kerut taqdir karena tuhan menciptakan keahlihan di tangannya sebagai tukang bangunan.
Dengan lembut aku minta tolong agar Kadir menggledah calon bangunanku. Aku tak ingin namaku, yang baru membayangkannya terpajang dan dikagumi oleh jama’ah terpampang mentereng sebagai nama calon bangunanku bau. Aku tak ingin ada bangkai (najis) menggelayuti sejarah calon bangunanku.
“Tidak ada, Pak.  Sudah saya cek semuanya, tapi nihil.”
Aku masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Kadir. Aku mulai curiga, mungkin orang seperti Kadir sudah tak lagi dapat membedakan bau apa saja yang masuk ke hidungnya. Entah bau harum, amis, anyir mungkin saja baginya telah menjadi kawan sehati dan sejati. Bisa jadi, toh itu terbukti bahwa Kadir telah berkawan dengan peluh keringat tak sedap di badannya. Yayayayya, Kadir telah lupa bagaimana fungsi hidungnya bekerja.
Aku tersenyum bak malaikat Ridwan menyungguhkan pintu surga untuk kelak menjadi pintu masukku menemui Tuhan. Pikiranku liar, terkekeh dalam hati di atas pangkuan perutku yang sebenarnya tak ingin sama sekali ku tanggalkan. Aku semakin berharap kantong buncitku semakin membesar, tentunya agar aku dapat membangun pijakan-pijakan di atas tanah agar masyarakat Indonesiaku bebas merasakan tempat yang nyaman, bersih, megah untuk mengadu peluh kisahnya pada tuhan. Sedangkan aku? Tak perlulah! Pembangunan ini akan menjadi pahala sampai kelak aku mati.
Lagi-lagi aku tersenyum. Malu saat Kadir memergokiku. Namun, aku mengelak demi nama besarku. Caranya ya tentulah memerintah Kadir mengajak teman-temannya untuk kembali mengecek sela-sela calon bangunanku. Aku tak peduli wajah Kadir yang tiba-tiba di tekuk. Toh, bagiku Kadir tak memiliki hak untuk marah, apalagi meluncurkan tinju di mukaku. Bagaimana bisa, tangan sekasar tangan Kadir meleset di muka calon ahli surga. Aku tertawa puas mendongakkan dagu  sembari memasukkan tanganku ke kantong ajaib kecilku.
Kantong kecil,,,
Yach hanya kecil dan hanya cukup kumasuki ke lima jariku. Menyembunyikan lebih tepatnya. Dan untuk urusan menyembunyikan tangan di balik saku ini telah menjadi pilihanku sejak….
Sejak entah lupa. Pokokya ketika aku dan namaku mulai berpengaruh menjadi orang hebat di Negeriku. Indonesia, Negeri besar, sebesar dan sekecil perut buncit dan sakuku.
Lagi-lagi aku tertawa memamerkan keangkuhanku oleh takjub malaikat Rakib. Biarlah makhluk yang paling patuh tersebut tangannya putus mencatat kebaikanku.
“Dan engkau setan, iblis, siap-siaplah menangis. Engkau tak akan punya pasukan dari Indonesia. Hahahhaha, wargaku sudah aku bikinin masjid, biar rajin solat, ngaji dan ujung- ujungnya pahala akan mengalir mulus padaku karena akulah pembuatnya. HAHAHHAHAHA….”
Aku tertawa, tertawa dan tertawa semakin keras, hingga aku tak lagi  sadar ada yang tawanya jauh lebih keras dari tawaku. Tapi aku tak peduli, bagiku tawa-tawa selain tawaku adalah tawa merdeka untuk merayakan kemenanganku.
“HAHAHAHHAAA…….”
Aku tercekik oleh tawa yang membuatku gelap mata, telinga dan hati. Ku dapati diriku ditertawakan oleh mereka. Yaach mereka yang tertawa lepas oleh kebodohan dan kesombonganku. Mereka berhasil memangkuku, mematikan nurani, akal, iman dan entahlah, semua yang kumiliki telah mati dan beku. Dan bau amis itu………
“Dari perut gendut yang bukan perutku. Perut rakyat yang seharusnya aku jamu, aku layani, aku perhatikan, aku sayangi dan aku kobarkan kepercayaan dirinya layaknya orang tua yang mengharapkan anaknya mampu berdiri di atas kakinya. Bukan sebaliknya……..”
Aku…
Iblis yang masih saja sok suci berdiri di atas sajadah
Biar dikira………





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru