Nyawang Yo Nyawang, Tapi Ojo....
Sudah tidak asing lagi, bahkan amat sangat familiar dengan ucapan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Satu dengan yang lainnya tidak akan dapat benar-benar hidup tanpa menggantungkan diri dengan yang lainnya. Saat mati sekalipun, tidak lantas memutus hubungan sosial kita dengan yang lainnya. Seolah-olah iya, mungkin bagi kita yang meninggalkan seluruh hiruk pikuk kehidupan dunia. Tapi, benarkah ketika kita mati kita tidak lagi butuh peran orang lain untuk mengurus jasat tak berdaya kita?
Tentulah tidak!
Lantas siapa diantara kita yang paling dapat berperan dan dibutuhkan kontribusinya oleh orang dan masyarakat lain? siapakah yang lebih muliya di antara kita sebagai manusia? Mereka yang berdasikah, yang dapat membeli suara ketika kampanye? Mereka yang berpeci dan bersarungkah, yang ketika berjalan sedikit menunduk? Atau mereka yang kaki dan anggota tubuh lainnya dihiasi tato? Ehmmm apa mungkin bisa jadi mereka yang terlunta-lunta oleh ketercekikan kehidupan ekonomi yang tidak memadahi, dengan pakaian compang-camping dan rambut yang tak rapi? Entahlah….
Yang jelas “Inna akromakum indallahi atsqokum” yang artinya sesungguhnya yang paling muliya menurut Allah adalah yang paling bertakwa kepadanya. Lantas bagaimana dengan mereka yang salatnya “rubuh gedang, sak karepe dewe, senin kamis, jumngatan tok, opo malah setahun ping pindo?” tidak lebih mulyakah mereka dengan kaum bersarung atau tidak lebih mulyakah mereka dengan orang yang di dahinya terdapat lingkaran hitam?
Tidak ada yang lebih tahu daripada Allah. Ngendikane pak Sahiron saat mengaji kitab Manbaussa’adah “Bisa jadi dalil inna akromakum indallahi atsqokum adalah mereka yang paling dapat menjaga salatnya.” Selanjutnya pak Sahiran menuturkan bahwasanya hal tersebut biarlah menjadi kewenangan Allah untuk menilai. Sedangkan kita sebagai orang yang merasa salatnya dapat terjaga, tidak lantas merasa lebih muliya dibanding mereka yang tidak punya konsistensi menjaga perintah Allah.
Intinya, jangan karena seolah kita lebih baik dalam hal ketaatannya pada Allah, lantas memandang sebelah mata mereka yang tidak terjaga ketaatannya. Mengapa? karena kita tidak pernah tahu, apa yang dilakukan sesungguhnya oleh orang yang seolah tidak memiliki ketaatan pada Allah. Misal, preman! Tahukah kita jika mungkin di balik sikap arogansinya, seorang preman memiliki jiwa kedermawanan melebihi kita?
Ah…jadi teringat Sunan Kalijaga yang rela menjadi pencuri untuk kemudian hasil curiannya dibagikan kepada orang miskin. Tentunya, kita tak perlu meniru Sunan Kalijaga. Takutnya kita tak mampu menebus hukuman sebagaimana yang dilakukan Sunan Kalijaga. (lah beliau sunan eee, lah kita? hehehe)
Kembali ke bahasan awal. Intinya, pak Sahiron menjelaskan pada pengajian kelas pasca, Senin (1/02/2016) “Intinya kitab ini mengajak kita, agar kita ketika memandang orang lain dengan pandangan yang memuliyakan.” Jelasnya. Maksutnya, agar kita menerapkan sikap memuliyakan orang lain dengan tidak memandang status sosial,nasab,kepribadian keseharian seseorang dll. “Bisa jadi yang berpakaian compang camping lebih muliya daripada kita.”
Ah, cerita tentang ini jadi teringat dengan “Mbah Wondo” orang yang menemukan wali di desaku Mojorembun. Alhamdulillah, saat beliau hidup aku berkesempatan bertemu beliau.
Mbah Wondo, begitu bapak mengenalkannya padaku. Seseorang yang dikenal memiliki kemampuan lebih dibanding manusia lainnya. Beliau sosok yang dari sisi pakaian yang dikenakannya, sama sekali tidak terlihat bahwa Mbah Wondo adalah orang yang memiliki kemampuan lebih. Kendaraan yang dikenakan setiap harinya adalah sepeda tua. Ehmm Mbah Wondo bekerja di KUA atau apa aku lupa dan meninggal terjatuh saat mengendarai sepeda tuanya. Masih jelas ucapan bapak saat itu “Sik paling ngerti kemulyaane menungso kui gusti Allah. Sedone Mbah Wondo koyoto biasa ae. Malah koyo ra terhormat sedo nang dalan. Tapi sopo ngerti kui carane gusti Allah mulyakke Mbah Wondo?”
Yah,,,kita memang tidak boleh merasa lebih muliya daripada lainnya. Pak Sahiron menuturkan pentingnya selalu memuliyakan orang lain tanpa pilih kasih. “Bahkan terhadap orang yang berbeda agama sekalipun, kita harus memuliyakan.” Ucap Pak Sahiron.
Pak Sahiron mengutip pangendikan Gusdur. “Agama jangan dilepaskan dari kemanusiaan.” Terdapat ajaran kemanusian pada setiap agama. Makanya dalam Nahdlatul Ulama’ terkenal dengan konsep ukhuwah basyariah (persaudaraan sesama manusia). Qurays Shihab (Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudlui Atas Pelbagai Persoalan Umat) juga menyebutkan konsep persaudaraan sesama manusia “Ukhuwah insaniah (basyariyah)”. Bahwasanya, ada yang lebih penting yakni memanusiakan manusia. Terlepas apakah berbeda keyakinan, suku, ras, bahasa, status sosial dll.
Pengarang kitab Manba’ussa’adah, beliau Syaih Husain Muhammad Asyrofuddin meyakini bahwasanya Islam adalah agama kemanusiaan. Manusia satu dengan yang lainnya memiliki kesamaan hak untuk mendapatkan perlakuan baik, dimuliyakan, dihormati, mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum, kebebasan bersuara, bermasyarakat, bertindak dan bersosial.
Siapa yang paling muliya? “Inna akromakum indallahi atsqokum” tapi biarlah Allah yang menilai siapa yang lebih muliya di antara kita sebagai manusia. Adapun kewajiban kita sebagai manusia adalah memandang manusia lain dengan pandangan yang memuliyakan.
Komentar
Posting Komentar