Kok...Rokok...........
Rokok dan kopi, paduan yang sangat cocok untuk menemani obrolan, mengusir sepi, dan memanjakan hidup. Benarkah? Kurasa iya, meski tidak semua menyetujuinya. Bahkan, tanpa rokok dan kopi, terkadang orang kehilangan semangat untuk berkarya. Aku sih gak pernah merasakan, selain aku bukan perokok aku juga tak terlalu suka dengan kopi. Tapi, bagaimana dengan meraka yang telah larut dalam candu kopi dan rokok?
Sebenarnya aku hanya ingin menuliskan ceritaku saja tentang rokok dan sedikit tentang kopi. Entah sudah keberapa kalinya aku dan kawan-kawanku membahas tentang rokok dan kopi. Tidak serius sih, hanya kebetulan saja, saat habis makan atau menunggu kehadiran dosen.
Seperti kali ini, ketika temanku bernama Yusuf beradu argumen dengan Mansur. Mereka mematematiskan harga satu kontainer rokok dengan harga mobil yang juga diangkut kontainer “Sepertinya lebih mahalan rokok.” Ungkap Mansur.
Penasaran Yusuf pun menghitung persatuan bungkus rokok dengan kisaran harga Rp. 10.000. Aku sih tak begitu paham matematis yang mereka hitung. Lamat-lamat aku hanya mengamati mereka berdua mengukur bungkus rokok, panjang, lebar, dan tinggi kontainer, dan kira-kira muat berapa bungkus rokok dalam satu kontainer kemudian dikalikan perbungkusnya. Beda perhitugan beda hasil, alhasil tak dapat titik temu jawaban.
“Ya sudah sekarang dihitung saja rokokku dalam sepuluh tahun berapa jumlah harganya.” Usul Yusuf perokok berat.
“Oke.” Jawab Mansur, yang tidak hobi merokok.
Dalam satu hari Yusuf menghabiskan 2 pak rokok dengan kisaran harga satuannya Rp.10.000. di matemastikan saja ya….
Seminggu (2x10.000x7=140.000)
Sebulan (140.000x4=560.000)
Setahun (560.000x12=6.720.000)
Sepuluh tahun (6.720.000x10=67.200.000)
“Rp.67.200.000.” Ungkap Yusuf.
“Woch bisa dipake buat haji ya?” Kataku menimpali.
“Hiya, tapi Mansur yang tidak merokok, sekarang dari sepuluh tahun yang lalu punya uang sebanyak Rp. 67.200.000?” Tanya Yusuf.
Sontak aku, dan Mujib mantan pecandu rokok tertawa. Begitu juga dengan Mansur.
“Hidup itu tak bisa dimatematiskan kok.” Komen Mujib.
“Makanya kadang aku heran, orang-orang yang teriak anti rokok dengan alasan mending uang ditabung, kalau ditanya berapa tabungannya? Diam saja. Wkwkwkw.” Canda Yusuf.
Sungguh aku semakin larut dalam obrolan mereka. Ada yang unik memang dari rokok, aku sampai mengibaratkan, mungkinkah rokok dan laki-laki itu, ibarat perempuan dengan make up? Ada semacam ketergantungan, ketidaknyamanan, dan kepedean diri yang berasal dari rokok dan make up. Hehehe…
“Daripada gak rokok, mending gak makan. Ya ibarate koyo dene nek adus karo nyanyi ngono kae. Asik! Yo koyo ngono.” Tutur Mujib.
Aku hanya manggut-manggut sembari mengingat kawan pondokku yang punya kebiasaan nyanyi di kamar mandi. Memang, saking senangnya hadrohan, di kamar mandi, bak air dijadikan terbang sambil nyanyi. “Mungkinkah nikmatnya merokok sama seperti halnya nikmatnya menyanyi di kamar mandi? Berasa tidak ada suara paling indah selain suara diri sendiri?”
“Lah dosen kita, pak Iswandi gak bisa menulis kalo gak ngerokok dan ngopi.” Ungkap Yusuf mengingatkan cerita pak Iswandi. Pak Iswandi memang pernah mengakui, dari sekian buku yang berhasil diterbitkan, terinspirasinya dari rokok dan kopi. “Tanpa rokok dan kopi, otakku buntu, gak bisa sama sekali untuk mikir.” Kata pak Iswandi saat itu.
Aku jadi mikir, kerap kali teman-temanku cowok yang menghafal Al-Qur’an juga tidak bisa menghindari rokok dan kopi. Alasannya biar betah melek, sehingga kuat untuk nderes dan menghafal Al-Qur’an.
Pikirku semakin melayang, kalau hidup di dunia hanya sebentar saja, gak ada salahnya dong mereka yang rela menjadi pecandu kopi dan rokok demi dapat berkarya untuk orang lain? “Mending mana coba hidup sebentar tapi berkarya atau hidup lama tanpa karya?” (ini sih, aku hanya mencoba membayangkan oleh orang-orang yang mati hidup ideberkaryanya tergantung pada rokok dan kopi. Tidak untuk yang selain bukan pecandu lhoya,,,,hehehe).
Di tengah berpikirku, Mujib bercerita tentang temannya yang rela keluar dari Muham…………(sensor) kalau rokok di haramkan. Ya entah temannya itu guyon atau tidak, aku tidak paham. Intinya bahwasanya kita tidak dapat menghindari stigma kalau rokok dan kopi telah menjadi gaya hidup, bahkan kebutuhan bagi pecandu. Ibaratnya yang namanya kebutuhan, apapun kondisinya ya harus terpenuhi.
Kadangkala aku mikir, bagaimana kalau orang terdekatku pecandu rokok? Bisakah aku perlahan menghentikannya? Atau ya toleran sedikitlah,tidak masalah lah rokok, asal tidak berlebihan dan diimbangi dengan gaya hidup yang sehat. Makan-makanan yang mengandung anti oksidan mungkin, ya seenggaknya biar relasi antara mendatangkan penyakit dan menghambat penyakit itu imbang. Karena kalau gak salah nih ya, anti oksidan dapat menangkal radikal bebas, sehingga dapat mencegah kanker dll. (berpikir seperti ini hanya karena aku tidak pernah paham, bagaimana nikmatnya merokok sehingga dapat melepas penat dan mendatangkan ide serta semangat bagi perokoknya). Mencoba memahami saja….hehehe
Padahal ya, yang rada heran itu di bungkus rokok dicantumkan tuh berbagai macam penyakit, tapi masih saja para perokok tidak pernah peduli. Malah memplesetkan jargon di bungkus rokok. “Kan merokok membunuhmu, tidak membunuhku. Di gambar lho, yang merokok sehat-sehat saja?”
Yach karena yang namanya cinta ya,,,,bahaya dianggap anugerah. Apa boleh buat, suka,,,,,
“Mati itu takdir, yang merokok matinya sampai tua ya ada. Yang tidak merokok mati muda ya banyak.” Bela Yusuf.
Hal tersebut di amini Mujib, namun tidak begitu dengan Mansur. Aku sih masih saja diam, aslinya gak setuju. Tapi kalau dipikir-pikir, gimana lagi ya bingung ngomongnya. Hahaha
Tapi meski Mujib membenarkan pernyataan Yusuf, ia tetap mengakui bahwasanya rokok memang berpengaruh banget terhadap kesehatan. “Saking pengen berhenti rokok, aku dulu sampai nadzar, seandainya rokok lagi, akan puasa seminggu.”
“Akhirnya?” Tanya Mansur penasaran.
“Lebih memilih puasa seminggu daripada berhenti rokok whahahhaa.” Kata Mujib lantas ketawa.
Namun akhirnya, Mujib benar-benar berhenti ngerokok karena sakit tenggorokan yang dideritanya tak kunjung sembuh. Dokter melarangnya merokok. Saat itu, Mujib mengakui sangat susah, tapi karena ingin sehat akhirnya memilih untuk benar-benar berhenti.
“Kalau sekarang ngisep sedikit saja, ya langsung dampaknya kerasa.” Kata Mujib.
Aku manggut-manggut. Apalagi Mansur manggut-manggutnya semangat banget berasa dapat pembelaan dari Mujib.
Ada satu hal lagi yang masih menarik perhatianku tentang rokok. Berapa besar pendidikan yang disuplai oleh perusahaan rokok? Bahkan penelitian-penelitian tentang bahaya rokok pun diizinkan dan bahkan dibiayai oleh perusahaan rokok.

Komentar
Posting Komentar