Tembak Massa Dengan Bambu Runcing Dan Peluru
Tanggal 9 Desember tiga kabupaten di DIY akan menggelar pesta
demokrasi. Masing-masing Cabup/ Cawabup menarik massa dengan menggunakan bambu runcing dan peluru. Kedua cara tersebut dilakukan oleh masing-masing Cabup/Cawabup di kabupaten Sleman, Bantul dan Gunung Kidul.
Di era modern bambu runcing masih digunakan.
Namun, bambu runcing tidak seperti senjata yang digunakan nenek moyang (bangsa Indonesia) saat mengusir penjajah.
Bambu runcing yang digunakan para Cabup/Cawabup dengan menyerang langsung
massa. Penyerangan dilakukan dengan mengumpulkan massa untuk mendengarkan
retorika para calon.
Momen inilah yang memungkinkan masyarakat
terlibat aktiv berinteraksi dan menelisik lebih detail tentang pribadi calon. Biasanya
para calon akan menyampaikan visi, misi dan janji-janji ketika ia terpilih
sebagai Bupati dan Wakil Bupati. Suatu hal yang lumrah dilakukan saat kampanye
bukan?
Cara lain menembak massa yaitu peluru. Wilbur
Schram pada tahun 1950-an mengasumsikan peluru sebagai media massa memiliki
kekuatan sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa.
Asumsi ini kemudian dicabut pada tahun 1970-an karena khalayak sasaran media
massa ternyata tidak pasif. Terlepas dari asumsi Wilbur Schram, peluru dapat
menembak sasaran dari jarak jauh. Disinilah, para calon dapat menyampaikan
pesan-pesan politiknya kepada masyarakat. Visi, misi, janji, progam-progam dan
prestasi kinerja yang di siarkan melalui media massa diharapkan dapat
mengkontruksi kepercayaan masyarakat.
Namun bagaimana dengan keberpihakan media
massa terhadap keberhasilan para calon? tidak dapat dipungkiri media massa saat
ini banyak yang tidak mentaati kaidah jurnalistik. Prinsip-prinsip kejujuran,
keberimbangan dan keadilan, kredibilitas narasumber, dan objektif terkadang
tidak lagi diterapkan.
“Ada uang media sayang, wani piro?” Istilah tersebut mungkin tepat untuk menggambarkan
keadaan media massa. Para calon memiliki peluang berhasil ketika bersahabat dengan media massa. Keberhasilan
ini dikarenakan gempuran media massa yang dalam teori komunikasi massa disebut
sebagai Ekologi Media. Dalam
teori Ekologi Media, media akan mempengaruhi setiap perilaku masyarakat serta
membentuk persepsi dan mengatur pengalaman masyarakat.
Sudah dapat ditebak bukan? calon mana yang
eksis di media massa tentulah akan banyak memberikan pengaruh kepada masyarakat
untuk memilihnya. Hal ini sering dikenal sebagai pencitraan yang dilakukan oleh
media massa.
Disini media
massa berperan sebagai penyebar informasi dengan mempropagandakan aktivitas
para calon. Kalimat persuasif digunakan agar masyarakat terpesona. “Ada uang
media sayang, wani piro?” jika
demikian bagaimana dengan para calon yang tidak memiliki dana untuk membayar
mahalnya biaya publikasi diri?
Mungkin kita
dapat menebak, mereka akan kolab karena kalah pamor dan pencitraan. Kejamkah
media? Bukan medianya yang kejam. Media massa hanyalah alat yang dipelopori oleh orang-orang yang
mengendalikan.
Seburuk apapun media massa, tetap saja
memiliki manfaat yang luar biasa. Bagaimana bisa manusia modern menjalani rutinitas kehidupannya tanpa media massa. Tanpa
media massa, manusia akan terlelap dininabobokkan oleh ketidaktahuan.
Tidak semua
pemilih mengenal dan memahami para calon. Agar tidak buta dalam memilih Cabup/Cawabup, pemilih
harus melek pengetahuan. Salah satu caranya dengan akses informasi yang
disajikan oleh media massa tentang Cabup/Cawabup.
Mengakses
informasi tentang para calon saja sebenarnya tidak cukup. Kita harus menela’ah
visi, misi dan progam para calon. Mengetahui latar belakang dan aktivitas para
calon, aktive dalam kampanye terbuka, serta membuka diri dengan publik guna
mengakses pandangan-pandangan publik.
Ketika kita
tahu masing-masing pribadi para calon, kita dapat menentukan pilihan. Mana yang
layak terpilih sehingga dapat menyelesaikan permasalah dengan bijak. Dapat
memajukan daerah dengan aksi nyata. Serta dapat menjadi Bupati dan Wakil Bupati
yang mengemban amanah masyarakat.
Beruntung Pilkada
di DIY sekarang berbeda dengan periode lalu. Kali ini KPU akan menanggung
keseluruhan biaya kampanye. Ajang yang biasa digunakan untuk sosialisasi baik
secara langsung atau melalui media massa, dapat menekan terjadinya monopoli
pencitraan. Selain itu, KPU juga
mengfasilitasi debat antar Cabup/Cawabup. Adanya debat membuka peluang bagi
masyarakat untuk lebih tahu kecakapan antar Cabup/Cawabup.
Sungguh ide yang cemerlang bukan? Antar
calon memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kecakapan yang
dimilikinya. Ketakutan kalah pamor atau pencitraan yang disebabkan tidak mampu
bersahabat dengan media massa dapat dihindari. “Pemenang bukan tergantung
seberapa besar isi dompetnya.”
Komentar
Posting Komentar