KEDAULATAN RAKYAT DI BAWAH KETIAK IDHAM SAMAWI
Media massa hadir di tengah masyarakat bukan tanpa apa-apa.
Kontruksi pesan atas peristiwa disampaikan kepada khalayak. Disinilah, media
massa berkuasa menyeleksi dan membuang suatu peristiwa. Kebenaran yang sampai
di masyarakat tergantung siapa di balik media massa.
Sudah tidak independent kah media massa? Pertanyaan retoris
bukan? tidak perlu dijawab saking sedikit bahkan tidak adanya media massa yang
murni independent tanpa intervensi oknum tertentu. Tetapi apapun
keadaannya, peran media massa sangat dibutuhkan. Selain memudahkan mengakses
informasi juga sebagai kontrol sosial, pendidikan bahkan hiburan. Hanya saja,
seberapa besar peran-peran tersebut terimplementasi guna mewujudkan masyarakat
yang peduli dan tanggap terhadap isu-isu aktual?
Masyarakat telah kehilangan hak untuk mendapatkan informasi secara
utuh atas peristiwa yang terjadi. Namun, kepentingan-kepentingan pribadi telah
merampas keutuhan dan kejujuran media massa dalam memberitakan peristiwa.
Kebenaran dikontruksi oleh kekuatan-kekuatan nepotisme. Sehingga korupsi dan
kolusi terlihat abstrak, dikaburkan dan bahkan sengaja dihilangkan agar
keberadaannya tidak diketahui oleh masyarakat.
Secara tidak langsung masyarakat diperkosa pemikirannya untuk
menerima kebenaran yang telah dikemas sedemikian rupa oleh media massa.
Sebagaimana yang dilakukan Surat Kabar Harian (SKH) Kedaulatan Rakyat
saat memberitakan dilantiknya Idham Samawi sebagai anggota DPR RI.
Kedaulatan Rakyat kehilangan
ke-otentik-annya sebagai media massa ketika berada di bawah ketiak Idham
Samawi. Informasi yang disajikan ke masyarakat tidak berimbang dan hanya
mengulas tentang progam-progam ke depan Idham Samawi. Kasus dugaan korupsi
Persiba Bantul dikaburkan bahkan dihilangkan.
Hal tersebut sebagaimana dikemukakan Entman dalam Analisis Framing.
Framing menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari
realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan
informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan
alokasi lebih besar daripada isu lain.
Mengapa Kedaulatan Rakyat
di bawah ketiak Idham Samawi? Karena Idham Samawi politikus fraksi PDIP, mantan
Bupati Bantul sekaligus petahana di kabupaten Bantul tersebut memiliki hubungan
darah dengan pendiri Kedaulatan Rakyat. Dialah M. Samawi, ayah kandung
Idham Samawi. Bahkan Idham Samawi kini menjabat sebagai penasehat redaksi Kedaulatan
Rakyat. Bagaimana Kedaulatan Rakyat tidak dibayangi oleh kekuatan
nepostisme keluarga Samawi?
Kedaulatan Rakyat
edisi 21 Oktober 2015, menampilkan gambar prosesi pelantikan Idham Samawi
sebagai anggota DPR RI. Halaman pertama dengan judul “Optimalkan Sisa Waktu
Jabatan” tidak dilengkapi alasan mengapa pelantikan Idham Samawi
tertunda selama satu tahun. Keseluruhan isi hanya progam-progam dan iming-iming
kemudahan akses pembangunan DIY. Sebagaimana dalam kutipan “Sebagai salah satu
wakil dari DIY, setelah dilantik akan bekerja memperjuangkan agar pembangunan
di DIY khususnya dan Indonesia umumnya cepat dilakukan. Karena disadari atau
tidak, pembangunan di daerah sampai sekarang tingkat ketergantungannya dengan
pemerintah pusat masih tinggi. Oleh karena itu, semua harus diperjuangkan
bagaimana caranya agar kontribusi APBN tersebut berdampak langsung terhadap
pembangunan di DIY.”
Sungguh berbeda ketika membandingkan media massa lainnya. SKH
Sindo dalam menyikapi dan menyajikan berita terkait dilantiknya Idham
Samawi, turut mengulas kasus yang tengah dihadapi Idham Samawi. Berita tidak
diletakkan di halaman pertama serta tidak dilengkapi foto saat Idham Samawi
dilantik menjadi anggota DPR RI. Judul “Dilantik Jadi DPR, Idham Samawi Masih
Belum Aman”. Judul tersebut dilengkapi dengan ulasan kasus dugaan korupsi yang
belum selesai sepenuhnya. Dalam pemberitaannya, Sindo menyertakan
pandangan lain dari DPC PDIP Bantul Aryunadi terkait harapan dilantiknya Idham
Samawi. Di sisi lain, mengulas kronologi perjalanan Idham Samawi sejak Kepala
Kejati DIY Suyadi meneken surat perintah penyidikan pada 18 Juli 2013-20
Oktober 2015 saat Idham Samawi dilantik menjadi anggota DPR RI.
Sindo
lebih berani menampilkan dua sisi yang berbeda dari Idham Samawi. Di sinilah
masyarakat menjadi tahu, sisi lain di balik prestasi yang diraih Idham Samawi.
Tampilan judul mengingatkan masyarakat terutama masyarakat DIY agar tidak
terperdaya begitu saja dengan keberadaan Idham Samawi sebagai anggota DPR RI.
Masih ada kasus yang belum tuntas 100 % dan bahkan akan dibuka kembali jika
ditemukan bukti baru terkait dugaan korupsi.
Terlepas dari Kedaulatan Rakyat dan Sindo, kita tetap
harus jeli dalam menerima informasi yang disajikan media massa. Kita perlu
mengetahui informasi yang kita dapat berasal dari media massa mana, siapa di
balik peristiwa apa, adakah kepentingan diantara teks-teks yang tertuang dalam
berita yang disajikan, dan tentunya tidak cukup membaca satu, dua, atau tiga
media massa saja. Semakin banyak membaca dari media massa yang berbeda, tingkat
kemampuan pembaca dalam menganalisis suatu peristiwa akan semakin terbentuk.
Manfaat yang didapat adalah, menjadi masyarakat yang peduli dan tanggap
terhadap peristiwa aktual dengan tidak mudah terkontruksi oleh peristiwa yang
kebenarannya dikontruksi media massa.
Komentar
Posting Komentar