Media Massa dan Perannya dalam Pembentukan Opini Publik

Keterbukaan informasi paska reformasi 1998 melahirkan beberapa efek yang dialami oleh media massa. Salah satunya adalah semakin intensnya media meliput dan memberitakan momentum politik. Era ini menjadi surganya media massa. Mengapa? Karena media massa memiliki kebebasan mencari, mengolah dan mempublikasikan berita. Kebebasan tersebut sebagaimana yang dijamin oleh negara pada pasal 2 UU. No.40 tentang “Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum”.

Media massa atau bisa disebut sebagai pers memiliki kekuatan membentuk opini publik. Informasi yang disajikan media massa dapat mempengaruhi masyarakat. Sebagaimana dua asumsi Teori  dari Ekologi Media. Pertama, media melingkupi setiap tindakan di dalam masyarakat. Kedua, media memperbaiki persepsi kita dan mengorganisasikan pengalaman kita. Berangkat dari dua asumsi tersebut, jelas bahwa media massa memiliki kekuatan mengorganisir atau membentuk persepsi publik. Media memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Media menyediakan informasi berita, hiburan dan pengetahuan bagi masyarakat melalui konten-konten yang diterbitkan. Media adalah agen yang secara aktif menafsirkan realitas untuk disajikan kepada khalayak. (Eriyanto, 2002:26).

Seperti halnya Pilkada serentak yang diselenggarakan pada tanggal 9 Desember 2015. Bantul misalnya, Kekalahan Sri Surya Widati untuk meraih kembali kursi jabatan sebagai bupati dianggap sebagai tumbangnya Dinasti Samawi. Bagaimana tidak, suatu hal di luar prasangka, dinasti yang telah berkuasa selama 15 tahun berhasil dikalahkan oleh pasangan Suharsono dan Abdul Halim Muslih.

Kenyataan yang pahit mungkin bagi keluarga Samawi, kedekatan Sri Surya Widati dengan Surat Kabar Harian (SKH) Kedaulatan Rakyat ternyata tidak mampu membawa Sri Surya Widati pada kemenangan seperti periode lalu. Sri Surya Widati dan Kedaulatan Rakyat terhubung secara kekeluargaan. Karena Idham Samawi, suami Sri Surya Widati memiliki hubungan darah dengan pendiri Kedaulatan Rakyat. Dialah M. Samawi, ayah kandung Idham Samawi. Bahkan Idham Samawi kini menjabat sebagai penasehat redaksi Kedaulatan Rakyat.

Lantas bagaimana peran media massa dalam membentuk opini publik? Gagalkan SKH Kedaulatan Rakyat membangun atau mengkontruksi persepsi masyarakat terhadap citra pasangan nomor dua tersebut? tentulah tidak. SKH di Yogyakarta tidak hanya satu, melainkan banyak. Di sinilah pertarungan wacana antar media massa terjadi dalam memberitakan peristiwa yang sama.
Kalahnya Sri Surya Widati disebut-sebut karena adanya kader PDIP tingkat ranting yang membelot. Kader-kader tersebut akan dipecat karena dianggap pengkhianat. Tindakan pemecatan disampaikan oleh Ketua DPD PDIP DIY Bambang Praswanto (SKH Sindo, edisi 14 Desember 2015). Bahkan ada ketua ranting yang rela mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggung jawabannya atas kegagalannya memenangkan pasangan calon Sri Surya Widati-Misbakhul Munir.

Paska pengumuman kalahnya Sri Surya Widati-Misbakhul Munir, partai berlogo banteng tersebut semakin terlihat kerapuhannya. Wacana di masyarakat memandang bahwa PDIP tidak lagi solid. Hal tersebut memunculkan stigma di masyarakat Bantul akan kejenuhan atau keinginan untuk mendapatkan suasana kepemimpinan yang baru dan berbeda. Selain itu, wacana ketidak yakinan dari sri surya widati untuk kembali mencalonkan diri muncul. Namun PDIP tingkat ranting sudah tidak lagi berpikir dan peduli untuk mendukung calon yang di usung PDIP. Maka tidak heran jika Bambang Praswanto marah besar melihat kenyataan pahit yang tidak pernah disadari sebelumnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru