PANCASILA, ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN DAN SALIM KANCIL
Indonesia negeri gemah
ripah loh jinawe. Kekayaan alam yang melimpah dan keanekaragaman budaya,
suku, bahasa serta keluhuran budi pekerti disimbolkan dengan ketangguhan burung
Garuda. Warna keemasan serta perisai dengan lima sila di tengahnya, dimaknai
sebagai indonesia yang jaya dan berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Bersatu
dalam perbedaan dan bersaudara dalam
keanekaragaman.
Bintang diartikan sebagaimana sila pertama yang berbunyi
ketuhanan yang maha esa. Di Indonesia sendiri mengakui adanya perbedaan agama.
Kebaikan berpikir dan bertindak tentulah diajarkan di masing-masing agama.
Namun, kenapa masih banyak pertikaian terjadi dengan mengatasnamakan agama?
Mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Dalam
Islam, Manifestasi ketuhanan tidak hanya berdampak pada pelaku dan tuhannya
(Allah SWT). Namun, sinergi positif akan terpancar secara sosial, politik,
ekonomi dan budaya. Hal tersebut dapat dilihat dari setiap ibadah mahdhoh (ibadah wajib) yang ditetapkan
dalam rukun Islam, yakni syahadat, salat, zakat, puasa dan haji.
Misal zakat yang wajib dikeluarkan bagi yang mampu.
Kewajiban ini secara sosial akan mengurangi kesenjangan antara yang kaya dan
miskin. Hidup berbagi, saling tolong menolong dapat mewujudkan budaya
kepedulihan terhadap sesama.
Sila kedua yang bersimbol rantai melambangkan kemanusiaan
yang adil dan beradab. Al-Qur’an telah banyak menyebutkan perintah agar berbuat
adil. Salah satunya innallaha ya’muru bil adli
wal ihsan. Ketika keadilan dan kebaikan
dapat terwujud dalam kehidupan dan tatanan sosial, manusia satu dengan yang
lainnya akan saling peduli dan empati.
Selain
itu, keadilan dan kebaikan akan menciptakan peradaban-peradaban dalam
persatuan. Indonesia diantara keanekaragaman yang melingkupinya akan bersatu
sebagaimana sila ketiga pancasila yakni persatuan Indonesia. Dalam Islam, hal
ini biasa dikenal dengan istilah ukhuwah.
Qurays Syihab menyebutkan empat ukhuwah
Islamiyah (persaudaraan
yang bersifat islami atau yang diajarkan dalam Islam). Pertama, ukhuwah
‘ubudiyah (saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah). Kedua, ukhuwah insaniyah atau basyariyah (persaudaraan sesama
manusia). Ketiga, ukhuwah wathaniyah wa
an-nasab (persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan). Ke empat, ukhuwah fi ad-din al-islam (persaudaraan
antar sesama muslim).
Jika semua bersaudara atas dasar keadilan dan kebaikan,
siapapun dan dari manapun pelakunya akan dapat bersatu dalam tatanan kehidupan
perdamaian dan persatuan. “Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu
bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya
apa agamamu.” Pernyataan KH. Abdurrahman Wahid atau yang biasa dikenal Gus Dur
tersebut adalah pernyataan bahwasanya keadilan dan kebaikan berhak diterima
kepada siapa saja tanpa memandang agama dan suku.
Adapun sila ke empat pancasila berbunyi kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Artinya
bahwa negara melalui tangan-tangan pemimpinnya harus mengakui dan
menjamin hak-hak kedaulatan rakyat secara demokrasi yang bebas dari intervensi
kepentingan pihak-pihak tertentu. Aspirasi rakyat sebagai pemegang kedaulatan
tertinggi harus benar-benar dijamin dan didengar.
Dalam hal ini, Rasulullah SAW telah menerapkan dalam
kehidupannya sebagai seorang pemimpin negara. Sebagai pemimpin negara sekaligus
Rasul, rasulullah SAW tidak lantas membuatnya bertindak tanpa mendengarkan
aspirasi umat. Disinilah, manusia akan merdeka dengan kemanusiannya. Didengar
dan dijamin tanpa adanya ketakutan akan ketertindasan yang mengancam
pribadinya.
Ketika empat sila tersebut dapat terwujud, tentulah
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tak sekedar mimpi belaka. Sila ke
lima tersebut terimplementasi dalam tatanan kehidupan. Namun bagaimana realita
Indonesia yang sebenarnya?
Pancasila dengan kelima silanya sudahkah diterapkan oleh
pemerintah sebagai pimpinan, tokoh agama, dan masyarakatnya? Salim Kancil
akhir-akhir ini menjadi isu terhangat akan ketidak merdekaan diri menyuarakan
suaranya. Aktivis anti penambang liar tersebut dikerdilkan dan dibunuh oleh
segerombolan preman. Berbagai surat kabar menyatakan dalang dari pembunuhan
Salim Kancil adalah Haryono, seorang kepala desa Selok Awar-Awar, Lumajang.
Teriakan dan suara Salim Kancil membela kelestarian
lingkungan tercekik dan terputus seiring nyawa yang terenggut di tangan para
preman. Nyawa Salim sengaja dihempaskan karena ada ketakutan dari kepala desa
akan bisnis yang digelutinya. Haryono memanfaatkan peluang kewenangan yang
dimilikinya sebagai kepala desa untuk mengumpulkan kekayaan. “Di tanah kami
nyawa tak semahal tambang.” Ungkapan tersebut didengungkan rayat Indonesia atas
nama kemanusiaan.
Peristiwa Salim Kancil ini
sudah seharusnya tidak terjadi di negeri yang berasaskan Pancasila. Bagaimana
bisa? Mungkinkah kelima sila tersebut telah tergerus oleh kebiadaban manusia
yang memanfaatkan sektor yang digelutinya, baik dalam bidang politik, budaya,
ekonomi dll?
Tentulah ini bukan karena
pancasila yang tidak sakti lagi. Lantas bagaimana agar kejadian tersebut tidak
terjadi lagi di Indonesia? Tentulah hal ini dapat dibenahi dengan melibatkan
berbagai pihak. Pemerintah dalam menegakkan aturan dan hukum, ulama’, guru,
dinas-dinas seperti kesehatan, kebudayaan, masyarakat dan keluarga.
Kerjasama diantara
pihak-pihak tersebut diharapkan dapat menekan tingkat kriminalitas dan
kejahatan-kejahatan lain dengan memanfaatkan kewenangan yang dimilikinya.
Jangan sampai pemerintah beserta dinas-dinas terkait menegakkan aturan, guru
mengajari di sekolah-sekolah, ulama’ mengajarkan dan meneladankan, namun
keluarga dan lingkungan tidak berperan serta. Ini hanya sebagai contoh saja.
Kejadian yang menimpa Salim
Kancil adalah salah satu contoh kebiadaban manusia. Manusia yang dianugerahi
akal dan nurani telah tertutupi hawa nafsu keserakahan urusan perut. Menimbun
kekayaan hingga menjatuhkan dan menghilangkan nyawa manusia lainnya. Sungguh
ironis, dan semoga terbunuhnya salim kancil adalah peristiwa menyakitkan yang
terakhir di Indonesia. “Nyawa tak
semahal urusan perut dan gaya hidup.”
Komentar
Posting Komentar