Tumbangnya Dinasti Samawi dalam Bingkai SKH Sindo dan SKH Kedaulatan Rakyat

Kekalahan tiga pasangan calon yang di usung PDIP di kabupaten Bantul, Sleman, dan Gunung Kidul menjadi pukulan berat partai berlogo moncong putih tersebut. Pasalnya PDIP sudah terlalu yakin, calon yang diusungnya memenangi pertarungan memperebutkan kursi Bupati dan Wakil Bupati. Terlebih kekalahan petahana Bantul, Sri Surya Widati-Misbakhul Munir. Dinasti Samawi yang telah berkuasa selama 15 tahun berhasil ditumbangkan oleh pasangan Suharsono-Abdul Halim Muslih.
Pukulan berat tersebut menjadikan internal PDIP semakin terlihat rapuh. Kemenangannya pada pemilu legislatif tahun 2014, goyah oleh kekalahan Pilkada serentak yang digelar pada 9 Desember 2015. Seiring kekalahan PDIP di tiga kabupaten sekaligus, pengkhianatan kader PDIP disinyalir menjadi penyebabnya.
“Ketua DPD PDIP DIY Bambang Praswanto mengancam akan memecat kader yang ketahuan berkhianat” (SKH Sindo, edisi 14 Desember 2015). Pernyataan tersebut bergulir hingga ke jajaran ranting. Bahkan ada ketua ranting yang rela mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggung jawabannya atas kegagalannya memenangkan pasangan calon Sri Surya Widati-Misbakhul Munir.
Sebagaimana yang dilansir SKH Sindo pada edisi 14 Desember 2015. “Ketua pengurus ranting Argodadi, Kecamatan Sedayu, Kadri mengatakan sebagai tanggung jawab atas kekalahan calon bupati Sri Surya Widati-Misbakhul Munir yang diusung partainya, maka dirinya memutuskan mundur dari kepengurusan partai.” Kadri berharap apa yang dilakukannya diikuti oleh DPC PDIP Bantul. Ia kecewa atas tindakan yang dianggapnya sebagai ketidakbecusan pengurus DPC PDIP dalam menggerakkan mesin partai. “Kami ingin ketua dan pengurus DPC PDIP yang lain bertanggung jawab atas kekalahan ini. Ini menunjukkan ketidakbecusan pengurus DPC PDIP menggerakkan mesin partai.” Ungkap Kadri pada SKH Sindo edisi 14 Desember 2015.
Isu-isu pemecatan tersebut disinggung bahkan diungkapkan SKH Sindo secara gamblang. Pilihan kata dan keberanian mengungkap isu kekisruhan di internal PDIP, menjadi daya tarik tersendiri untuk diteliti. Terutama jika dikaitkan dengan petahana Sri Surya Widati yang kini telah gagal mempertahankan dinasti Samawi. Mengapa menarik untuk dikaitkan dengan Sri Surya Widati? karena media pertama di DIY yang biasa dikenal dengan SKH Kedaulatan Rakyat memiliki kedekatan hubungan dengan Sri Surya Widati. Lantas apa yang diberitakan SKH Kedaulatan Rakyat paska kegagalan Sri Surya Widati untuk kembali menduduki kursi bupati? Tidakkah menyinggung kekalahan Sri Surya Widati yang merupakan owner SKH Kedaulatan Rakyat.
Edisi yang sama yakni 14 Desember 2015, SKH Kedaulatan Rayat juga menampilkan peristiwa pemecatan kader di PDIP. Berjudul “Kader yang membelot diancam dipecat” wartawan dengan nama pena Awa tidak menyebutkan sama sekali pasangan-pasangan yang kalah Pilkada. Lebih spesifik lagi berita ini ditempatkan di rubrik kawasan Gunung Kidul, sehingga alasan kuat untuk mengaburkan Sri Suryawidati pemilik SKH Kedaulatan Rakyat dari kegagalannya. Wajar bukan Sri Surya Widati tidak disebutkan dalam pemberitaan tersebut, tentulah wajar dan sah-sah saja, karena spesifik rubrik yang mengulas tentang pemecatan kader PDIP tersebut diulas di kawasan rubrik Gunung Kidul.
Namun jelas tidak dapat dipungkiri, SKH Kedaulatan Rakyat telah mengaburkan dan menonjolkan peristiwa untuk diberitakan. Sebagaimana dikemukakan Entman dalam Analisis Framing. Framing menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu lain.
Framing yang dilakukan SKH Kedaulatan Rakyat tersebut tentunya tidak terlepas dari keberadaan Sri Surya Widati sebagai owner perusahaan SKH Kedaulatan Rakyat. Reese dan Shoemaker (1996: 60) mengungkapkan lima faktor yang mempengaruhi konstruksi di media. Mulai dari faktor individual, rutinitas media, struktur organisasi, kekuatan ekstra media, dan ideologi.
            Keberpihakan SKH Kedaulatan Rakyat terhadap Sri Surya Widati semakin jelas dengan berita-berita yang ditampilkan. Misal SKH Kedaulatan Rakyat edisi 10 November 2015 menampilkan dua berita. Pertama berjudul “Sri Purnomo, Badingah dan Suharsono unggul.” Judul tersebut lebih mengulas tentang pemenang pasangan calon di tiga kabupaten DIY. Sebagaimana dikutip dalam SKH Kedaulatan Rakyat “Pasangan calon Sri Purnomo-Sri Muslimatun, Badingah-Immawan, dan Suharsono-Abdul Halim Muslih unggul dibandingkan calon-calon lainnya dalam pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) serentak di DIY.
            Dibandingkan dengan SKH Sindo, SKH Sindo lebih berani mengungkap kekalahan Sri Surya Widati dan keterkaitannya dengan PDIP. Seperti judul “PDIP Terlalu Percaya Diri” pada edisi 11 Desember 2015. Gambar Suharsono dan Sri Surya Widati ditampilkan dengan dukungan suara yang diperoleh masing-masing keduanya. Bahkan catatan dalam berita tersebut menyatakan “Alasan pertama bisa jadi karena masyarakat Bantul sendiri sudah tidak menginginkan keluarga Idham Samawi untuk berkuasa.”(SKH Sindo, edisi 11 Desember 2015).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru