Mencintaimu Maha Guru



Munawwir masih menampakkan kekokohannya. Temaram senja perlahan memudar, dan hilang. Pekat memikat, seiring suara merdu sang muadzin mengumandangkan seruan untuk menghadap tuhan.
Seperti biasa kehidupan pesantren selalu menampakkan kekhasannya. Para santri bergegas mengambil air wudlu. Berlomba-lomba mengisi sof terdepan. Entah mereka melakukan semua itu karena rindu akan pelipatan pahala hingga 27 derajat ataukah tertuntut oleh aturan pesantren yang tidak dapat dihindarinya.
Entahlah, apapun itu salat berjama’ah telah menjadi tradisi pesantren. Tapi, kali ini hal tersebut berlaku sebaliknya bagiku. Aku yang sehari-hari bekerja meliput kegiatan dewan di DPRD DIY, kuliyah  di UIN Sunan Kalijaga sekaligus nyantri di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, tiba-tiba ingin kabur.
Keinginan kabur bermula ketika Veni temanku kos mengutarakan keinginannya untuk menonton pagelaran budaya di Titik Nol Kilometer. Keinginan kabur sudah kurencanakan dua hari yang lalu.
Saking tidak terbiasanya kabur dari pesantren, aku sempat bimbang. Ketakutan ketahuan keamanan sekaligus ditimbali bunyai menyergapku. Iyach…bunyai kerap kali memanggilku untuk memijatnya. Jadi selain belajar di pesantren mengulas khasanah kitab kuning, aku bersyukur dianugerahi Allah SWT kemampuan memijat. Keahlian memijatlah yang membuatku semakin hari semakin jatuh cinta pada bunyaiku.
Bagiku bunyaiku seorang perempuan yang hebat. Bagaimana tidak, bunyaiku cakap dalam bidang bisnis, pendidikan dan politik. Maka tidak heran selain bisnis untuk menghidupi pesantrennya, bunyai juga mengajar langsung santri yang diasuhnya. Di bidang politik, bunyaiku pernah aktif sebagai dewan di DPRD DIY. Namun semenjak pak yai sedo hampir dua tahun yang lalu, jalur politik ditinggalkannya. Bunyaiku lebih memilih bisnis dan fokus mengelola pesantren.
Kembali pada keinginanku kabur. Hatiku gusar, aku ingin melupakan keinginanku menonton pagelaran budaya. Tapi ternyata tak semudah itu. Berkali-kali bayangan sajian budaya Indonesia yang ditampilkan di pagelaran tersebut menggodaku. Aku belum pernah menyaksikan sebelumnya, tapi entah kenapa kali ini keinginanku berasa tak dapat kuelakkan.
Kusambar mukenaku. Dengan penampilan seadanya tanpa riasan apa pun, aku kabur. Beberapa santri yang memergokiku keheranan.
“Mo kemana, mbak?” Tanya salah seorang santri.
“Jama’ahnya ke Mekah, makanya naik motor. Hahhaa”
“Ke Mekkah naiknya pesawat, mbak.” Guraunya kemudian berlalu.
Tanpa ba..bi…bu kunyalakan motorku, dan wuuuuss,,,,
Bagaikan maling takut ketangkap, kupacu motorku sekencang mungkin. Takut keamanan melihat aksi kaburku. Sesampainya di pertigaan Krapyak Wetan aku bernafas lega. Aksi kaburku dilindungi Allah.     
“Alhamdulillah terimakasih, ya Allah.” Kataku dalam hati.
Segera aku menghampiri Veni dan Hana di kos. Kedua teman kosku telah siap menikmati sajian budaya Nusantara. Sedangkan aku, masih dengan mukena dan muka kucelku. Beruntung mereka baik hati.
Veni dan Hana siap menungguiku menuntaskan kewajibanku salat maghrib. Keduanya juga mengizinkanku mandi, macak ala kadarnya dan berinisiatif untuk pergi setelah isyak. Aku semakin bahagia, meskipun akan ada kegiatan pesantren yang aku tinggalkan, seenggaknya salat tepat waktu dapat aku lakukan.
“Terimakasih mbk yu yang cantik-cantik, sudah berkenan menunggu.” Kataku pada Veni dan Hana.
Keduanya tersenyum. Sembari menunggu adzan isyak berkumandang, Veni dan Hana tidak henti-hentinya bercerita tentang pagelaran budaya yang telah dilihatnya saat pembukaan acara. Aku semakin iri, dan keinginanku kabur semakin mantap.
“Sekali-kalilah refresing Jogja di malam hari.” Batinku.
Lamat-lamat terdengar adzan berkumandang. Segera kusambar mukenaku, salat dan berdoa secukupnya. Aku berharap aksi kabur pertamaku tidak ketahuan siapa-siapa. Dalam hati aku berjanji, tidak akan kabur-kabur lagi kecuali ada urusan kerja atau kuliyah yang tidak bisa dihindari, itu pun harus izin terlebih dahulu dengan keamanan.
“Oke, kita berangkat sekarang?” Tanya Veni memastikan.
“Siap!” Kataku girang.
Di sepanjang perjalan Krapyak ke Titik Nol Kilometer kusenandungkan lagu kesukaanku. Sesekali Veni dan Hana menggodaku agar muas-muasin nyanyi sebelum menangis tertangkap oleh keamanan. Bibirku manyun, tapi bayangan dapat menyaksikan pagelaran budaya Nusantara mengalihkanku terhadap apa pun resiko jika ketahuan kabur.
Aku harus siap menerima ta’ziran (hukuman) membaca dua juz Al-Qur’an di depan pondok putra dan merangkum dua kitab kuning. Tapi, lagi-lagi aku tak peduli resiko dita’zir ketika ketahuan kabur. Aku kembali bernyanyi sembari menikmati rintik hujan yang tiga hari ini membasahi Jogja.
“Rintik hujan dan sepoi hembusan angin malamnya, menambah keeksotisan dan keistimewaan Jogja.” Batinku masih dengan bernyanyi-nyanyi kecil.
Tanpa terasa aku dan kawanku telah sampai di Titik Nol Kilometer. Suara lincah MC seolah merayuku. Aku tak melihat penampilan apapun di panggung budaya. Berjejalan manusia menghalangi langkah dan pandanganku. Tapi aku, Veni dan Hana tidak mau kalah. Dengan lincah kita menyelinap senggol kanan senggol kiri, mencari celah-celah kecil untuk dapat menikmati sajian budaya Nusantara. Usaha kita tidak sia-sia, meski harus beralaskan sandal untuk duduk di tengah halaman yang basah oleh hujan, kita bernafas lega.
“Wah keren ya…”Kataku penuh kagum.
Memang ini kali pertamanya aku menikmati sajian budaya di Jogja secara langsung. Belenggu peraturan pesantren membuatku tak dapat berkutik selama empat tahun tinggal di Jogja.
Aku masih saja nyerocos tidak dapat menyembunyikan luapan kebahagiaanku. Kucengkeram tangan Veni saking gemesnya mendengar lagu khas Jogja diirngi Angklung alat musik tradisional dari Jawa Barat. Lirik-lirik yang lumayan kuhafal turut kudendangkan.
“Suuttt. Senengnya biasa aja. Malu dilihatin orang.” Kata Veni mengingatkanku.
Benar cowok di sampingku memandangku geli dan raut mukanya ditekuk. Mungkin karena kehebohanku yang dianggapnya norak, sekaligus polusi suaraku saat bernyanyi membuatnya tidak dapat menikmati sajian budaya.
Aku pun akhirnya diam, menikmati sajian budaya Angklung. Ku lirik Veni dan Hana. Keduanya telah larut oleh sajian budaya yang juga menghipnotisnya. Dalam hati aku berpikir, kenapa tidak dari dulu-dulu aku berani kabur dari pesantren.
“Sesekali kabur gak papalah.” Batinku kemudian tertawa kecil.
Satu lagu telah usai. Tepuk tangan dan sorak gembira penonton menambah kemeriahan pagelaran budaya. Penonton berteriak ketika penyanyi menawarkan lagi untuk menyanyikan lagu keduanya.
“Siap dengerin lagu berikutnya?.” Tanya penyanyi yang anggun dengan balutan kebaya hitam dipadu rok keemasan.
“SIAAAAAAAAAAAAAAAAAP.” Jawab penonton serentak.
Aku tersenyum simpul dan kembali asik mendengarkan lagu kedua berjudul Lir-Ilir. Lagu ciptaan Sunan Kalijaga tersebut berasa menyetu dan menembus jiwaku. Lir-Ilir memang lagu kesukaanku. Hampir tiap hari aku mendengarkan lagu Lir-Ilir yang dinyanyikan oleh Cak Nun dan Kiai Kanjeng.
Tapi, kegembiraanku pecah. Lagu Lir-Ilir yang mengalun lembut seolah tak lagi kudengar seiring dering suara HPku. Nama bunyaiku muncul memanggilku. Aku tak berani menjawab.
“Mbak, ibuk nelpon.” Kataku pada Hana.
“Weee…?”
“Aku gak berani ngangkat. Kayaknya ibuk capek, ingin dipijat.” Tebakku.
Kulihat wajah Hana sama bingungnya sepertiku. Tapi ia pun tidak dapat berkutik apa-apa. Mau menyarankan pulang saja, tapi ia tak tega mengatakannya padaku. Satu lagu yang kudengar belum dapat menghapuskan keinginanku untuk menikmati pagelaran budaya.
Hp-ku kembali diam. Hatiku bergejolak antara keinginan menyaksikan pagelaran budaya dan pulang.
            “Ya Allah,,,” Desahku kebingungan.
            “Sudah pulang saja.” Kata Veni.
Aku mengangguk. Satu SMS kulayangkan pada perempuan hebat yang setiap tutur katanya selalu membuatku jatuh cinta. Aku memohon maaf karena telah tidak mengangkat panggilan telponnya.
Tak berapa lama, jawaban SMS kuterima dari bunyaiku. Aku pun memutuskan untuk pulang. Kubuang jauh-jauh keinginanku untuk menyaksikan pagelaran budaya Nusantara.
            “Sejauh apapun seorang anak melangkah, ia akan kembali. Seiring panggilan kerinduan perempuan hebat di kehidupannya. Saya akan pulang, ibuk.” Batinku kemudian melangkah pergi meninggalkan Veni dan Hana.
            Langkahku gontai menembus pekat. Motor yang setia menemaniku kunyalakan, dan kulaju pelan. Rintik hujan tak kuhiraukan. Kubiarkan dekapan dingin malam memelukku.
            “Sebentar lagi, ibuk. Anakmu akan sampai.”
Dalam hati aku bersyukur, keinginan untuk pulang dan memenuhi panggilan bunyaiku mampu mengalahkan keinginanku menyaksikan pagelaran budaya.
            “Semoga rintik hujan ini menjadi saksi aku telah memilihmu, ibuk. Bismillah selamanya dapat memeluk erat dan menemanimu. Aku rindu untuk selalu berdekatan dan ngalab berkah kepada para Mu’allim yang berjiwa sholih di sekitarmu.” Kataku pelan tertelan pekatnya malam.
            Salah satu obat hati yang dinyanyikan Opik yakni berkumpullah dengan orang-orang sholih masih dan semoga senantiasa terdekap erat di benakku. Pesantren dan seluruh kehidupannya dipenuhi oleh lisan-lisan yang tak letih berdzikir dan menyebut asma tuhan. Pengajian dan pengkajian mengulas kitab-kitab kuning dilakukan pesantren untuk menghadapi permasalahan sosial, budaya, politik, tekonolgi dan ekonomi.
            Yach meski aku mungkin tidak menjadi salah satunya yang melakukan pengkajian, tapi aku bahagia setiap kali bunyaiku memanggilku untuk memijatnya. Kenapa? Karena sembari menikmati pijatanku, bunyai kerap bercerita tentang apa saja. Pengalamannya di politik, masalah-masalah yang dihadapi Indonesia, keterlibatan perempuan di sektor publik, bahkan cerita tentang romantisme kehidupan rumah tangganya dengan pak yai. Cerita-cerita itu menjadi cermin bagiku.
Tanpa sadar aku telah sampai di pesantren tercintaku. Kupandang lekat pelataran pesantren Al-Munawwirku. Kupercepat langkah tegapku, tak sabar ingin segera mengecup jemari tangannya. Kupandang lekat wajah sepuh bunyaiku. Kantung matanya semakin membesar. Lelah tak dapat disembunyikan setelah seharian beraktivitas di usia senjanya.
Bunyaiku tak menyadari kehadiranku. Ia terbangun saat kukecup tangannya. Ia tersenyum menyambut gembira kehadiranku.
“Alhamdulillah, anakku. Maaf ibuk mengganggu waktu belajar kamu.” Kata bunyaiku.
Aku tersenyum “Tidak apa-apa, ibuk. Saya tidak sedang belajar.” Kataku.
Ibuk tersenyum kemudian menyelonjorkan kakinya. Penyakit Diabates yang diidapnya beberapa tahun yang lalu membuat bunyaiku mudah kelelahan. Jemari kakinya minta dipilin-pilin agar rasa nyerinya hilang.
Seperti biasa, kupilin satu persatu jemari kaki bunyaiku. Ingin sekali aku dapat mengecup kaki surganya. Kaki Mu’allim yang tak pernah letih melangkah mendatangi Majlis Ta’lim. Mentranformasikan ilmu kepada masayarakat agar masyarakat memiliki keseimbangan hidup.
Setelah menduga rada mendingan, tanganku berpindah memijat punggung dan tangan bunyaiku. Hening, tidak ada cerita dari lisannya. Mungkin bunyaiku terlalu lelah. Rasa kantuk tak dapat dihindarinya.
Aku bersyukur setiap kali dapat menghantarkan bunyaikan menikmati nyenyak tidur malamnya. Bagaimana tidak bahagia, sentuhan asal jemariku telah dipercaya dapat mengusir lelahnya. Aku tidak tahu, seandainya aku tidak dianugerahi Allah kemampuan memijat, dapatkah aku merasakan kedekatan ini?
Aku bukanlah santri yang cerdas yang memiliki kemampuan membaca kitab kuning. Bukan pula mahir dan lancar dalam menghafal kalam tuhan. Bait-bait Hadist hanya beberapa saja yang kuhafal. Intinya dari sisi keilmuan tidak ada yang patut dibanggakan oleh bunyaiku.
Terlebih aktivitas kerja, organisasi di Kodama (Korp Dakwah Mahasiswa) serta kuliyah Pascaku telah banyak menyita waktuku, sehingga kegiatan pesantren kerap kalitidak bisa aku ikuti. Setoran ke guru Al-Qur’anku telah banyak dihiasi tanda silang. Salat berjama’ah kerap kali terlupakan oleh letih pulang kerja dan mengajar Madrasah Diniyah (Madin) di Kodama. Begitu juga dengan jama’ah subuh, rasa kantuk efek begadang menyelesaikan tugas kuliyah membuatku memilih salat sendiri di kamar. Mujahadah malem Jum’at selalu saja kutinggalkan karena bersamaan ada kuliyah malam.
Beruntung empat tahun keberadaanku di pesantren tercinta Al-Munawir membuatku telah dapat merampungkan Madin yang diselenggarakan di pesantren. Sehingga, kegiatan sejenis sekolah tersebut hanya dilakukan seminggu tiga kali. Berbeda dengan santri yang masih duduk di kelas 1-4 yang harus mengikuti kegiatan Madin selama satu minggu. Aku bersyukur Madin ini masih dapat menjadi prioritasku sebagai salah satu kegiatan pesantren.
“Lis….” Panggil bunyaiku lirih.
Inggih, ibuk.” Jawabku.
Bunyaiku tersenyum sembari menggenggam tanganku.
“Wes,,,wes wengi. Ngapurane yooo.”
Aku mengangguk. “Mboten nopo-nopo, ibuk.”
Ibuk kembali tersenyum. “Semoga tidak merasa direndahkan ibuk ya, nak….disuguh bokong lan sikil.”
“Ya Allah ibuk, mboten nopo-nopo. SMS mawon menawi sayah, kulo siap mijit.”
Ibuk mengangguk dan mempersilahkanku kembali ke pesantren dan istirahat.
Malam semakin pekat, rintik hujan langit telah mereda. Rasa menyesal tak dapat menyaksikan pagelaran budaya hilang, seiring pedar gemintang yang bermunculan. Hatiku mngharu biru.
Terimakasih telah kau izinkan tanganku menggenggam dan menyentuh kaki surgamu. Mencintaimu Maha Guru.
THE END

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru