Kenapa Harus Bapak

Pernah suatu kali aku ditanya “Kamu lebih dekat dengan bapakmu kah?” aku tersenyum. “Aku dekat dengan keduanya.” Jawabku.

“Kok yang sering diceritain bapak bukannya ibu?” tanya kawanku  tak puas dengan jawabanku.
Aku mulai berpikir, percakapan yang pada awalnya kubiarkan begitu saja. Aku baru menyadari saat ketika salah satu di antara temenku memposting foto bapaknya dan mengatakan “kangen”. Aaach di waktu yang berbeda, temenku juga pernah membingkai foto keluarganya. Aku menggelitik dan berkomentar “perempuan terhebatnya mana, mbak?”
 “Foto ibu menyusul, mbak.hehhe”

Disini aku merasakan ada sebuah kejanggalan. “Kenapa aku dan temanku seolah lebih menonjolkan kehebatan, bapak? Apakah tolok ukur kehebatan terlihat dari kecerdasan dan prestasi formalitas yang disandangnya?”

Aaach kawan….
Persepsimu tentang kedekatanku, sungguh keliru. Kenapa yang kusebut selalu bapak? Karena bapak bisa menjadi teman saat aku butuh bercerita tentang polemik isu aktual yang ada. Tidak semuanya, bapak tau. Hanya saja, ia lebih mengerti daripada ibu.

Di sela-sela senggangnya, bapak suka menonton berita. Sedangkan ibu terlalu disibukkan menyiapkan berbagai hal demi keluarga tercintanya. “Tidakkah perempuan memiliki kehebatan di posisi yang tak jarang suami dan anak menyadarinya?”
Aaach ibu, kehebatanmu sungguh luar biasa. Saat pagi tiba, engkau menyungguhkan makanan. Bapak menemani putri kecilnya berseragam sembari menonton mamah Dedeh, Ustadz Maulana atau malah berita. “Siapakah yang lebih berpengetahuan, terkait keagamaan dan isu aktual?” Lagi-Lagi Bapaklah jawabannya.

Ibu tak pernah mengeluh, bahkan berpikir tentang diskriminasipun, TIDAK. Memang ibuku tak seperti Kartini, yang geram dan memberontak ketika tersekat oleh keadaan yang menghimpit perempuan menemui kebebasannya belajar dan berpengetahuan.Yang ada dipikirannya satu, bagaimana seorang ibu segera dapat menuntaskan urusan rumahnya, bekerja dan pulang kembali menyajikan yang terbaik bagi keluarga yang dicintainya. Itu bagi ibuku, yang sering mengajariku agar kelak ketika dewasa, tak menyandarkan urusan materi pada suami sepenuhnya. Bukan karena ketakutan suami tak dapat mencukupi kebutuhan keluarga, hanya saja kehidupan tak dapat ditebak dan waspada sejak dini adalah solusinya. Iseng aku bertanya tentang seandainya ada seorang suami yang melarang istrinya bekerja. Masih teringat jelas senyum ibuku membuat  kedua kelopak matanya sedikit lebih menyipit. “Gak opo-opo. Kerjo kan gak kudu nang njobo. Nek iso wong wadon tetep berpenghasilan. Nek ndue duit dewe, arep ngekehi dulure, ponakan lan shodaqoh kui bebas. Insyaallah bojo gak bakal ngelarang. Wong duit-duite dewe.

Aaach ibu, aku sungguh mengagumimu. Engkau tak seperti Kartini yang haus akan sebuah keilmuwan. Tapi engkau selalu mengajari putrimu agar menjadi perempuan berpengetahuan. Apa yang engkau lakukan saat ini, seolah tak begitu terlihat, tapi bukan berarti mati. Engkau menilai sikapmu sebagai sebuah pengabdian. “Ora popo wong tuane bodo, asal anake pinter.”

Ibuuu….
Engkau membiarkan lelaki terhebatmu lebih unggul darimu. Tapi taukah kawan, itu salah satu cara agar putrinya berkembang. Bagaimana jika keduanya sama-sama buta pengetahuan??
orang tua tak sekedar “ngendiko” melainkan ruang berdiskusi, berdebat, belajar, dan…..bersandar.
“Masih tanya kenapa seolah-olah bapak lebih dekat denganku?”

#Hanya karena kita terlalu disibukkan membahas isu aktual#

Aku berpikir, akankah yang mungkin terjadi padaku dan kalian sama halnya tentang ini? Tidakkah itu sebagai bentuk disabilitas terhadap kaum ibu? perempuan yang telah melahirkanmu dan aku?
Tapi mereka, kaum ibu tidak akan pernah berteriak. Atas nama cinta keikhlasan semua dirasakan bukan sebagai bentuk pesakitan, melainkan tawa yang bernuai bahagia. Perempuan yang terwakili dari seorang ibu, tersenyum diatas kebahagiaan keluarganya.

Namun, disini aku menyadari, bahwa setiap anak dari manusia, berhak lahir dari rahim seorang perempuan yang berpengetahuan, cerdas, beriman dan berakhlak mulia.
Ketidaktahuan bukanlah kegelapan yang tak berjasa. Ia adalah tirai, yang akan tersibak ketika dipahami oleh pelakunya. “Apapun tentang ibumu, selama ia membebaskanmu untuk belajar, dialah Kartini sesungguhnya.” Kartini bergerak untuk sebuah kebebasan. Tidakkah sama dengan ibuku atau bisa jadi ibumu? Hanya saja, ia lebih terfokus menjadikan putra dan putrinya menenjadi orang yang luar biasa. Beriman, berilmu dan berakhlak muliya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru