Selamat Hari Kartini Perempuan Indonesia
Engkau tak hanya terlihat anggun, tapi selamanya akan benar-benar anggun dan memukau, wahai perempuan. Dari bilik manapun, engkau begitu indah. Tak peduli, siapa yang memandangnya. Hanya saja, teriakan kita sedikit mnegurangi anugerah keanggunah tuhan untuk kita kaum perempuan. Ingin sekali saya berteriak agar kalian berhenti berteriak. Aaach,,,aku telah lupa, diriku sebagai siapa.
Tapi apapun itu, sebuah mimpi bagiku agar kita kaum perempuan bisa diam dan menemui kemerdekaannya. Tak perlu mengemis, dan melontarkan agar kaum laki-laki memandang sama tentang kita dan dirinya.
Emansipasi perempuan atau gender. Aku pun belum begitu paham tentang ini. Hanya saja aku terkadang terbawa isu yang diwacanakan media massa tentang perempuan. Hingga akupun ingin sekali berpihak pada aku dan diriku yang berwujud orang lain. Tapi naluriku sebagai perempuan, aku ingin sekali merdeka tanpa harus berteriak, meminta mereka kaum lelaki memerdekankanku. Merdeka yang benar-benar merdeka.
Aaach tuhan,,,,,
Aku masih terlalu bingung tentang ini. Bahkan apa yang ingin aku tulis, belum tau bagaimana mengawalinya dan akan sampai kemana ujung kehidupan dalam tulisanku. Tapi untukmu perempuan Indonesia, kudendangkan lagu perdu untukmu. “Selamat Hari Kartini.”
Puji syukur atas limpahan nikmat, kasih, sayang, rahman dan rahim tuhan, saat ini kita diberikan ruang bergerak, berimaginasi, berpikir, mengeksplor diri diii,,,sebuah zaman yang katanya merdeka. Meski sebenarnya saya ragu dengan kemerdekaan negaraku. Tapi apapun itu, “Selamat Hari Kartini para perempuan hebat di Indonesiaku.”
Kudendangkan nama yang tak asing lagi di pendengaran kita. Aku berharap Kartini-Kartini masa depan akan tetap terlahir dan mengisi ruh ke-Indonesiaan kita.
Kartini,,,,,seandainya engkau masih bisa melihat secara kasat mata, aku yakin engkau akan bergerak di garis terdepan memperjuangkan kemerdekaan kaum perempuan. Terimakasih saya haturkan, perjuanganmu telah membawa aku dan sesamaku bebas menikmati indahnya dunia pendidikan. Aku bisa berpolitik, mengajar, berpartisipasi di ruang publik. Meski,,,,,tak sepenuhnya memiliki kesamaan sebagaimana kaum pria.
Aku tak akan berbicara lebih jauh tentang ini. Sekali lagi aku bahagia mengenali sedikit tentang anda. Aku terpukau oleh kejeniusanmu yang telah dapat berpikir luas untuk perempuam di usia beliamu. 12 tahun aku belum bisa apa-apa. Tapi engkau tergerak untuk melakukan perubahan. Masih jelas cerita bu Asfiyah satu-satunya Camat perempuan di Kulonprogo tentangmu. Aku semakin terpukau dan berharap teladanmu dimiliki dan ditiru oleh perempuan-perempuan di Indonesiaku dan Indonesiamu. Tak peduli, apapun agama dan sukunya. Teladanmu bebas ditiru siapapun itu.
Ketika bu Asfiyah bercerita, aku seolah berada di suatu masa. Masa dimana aku hidup sebuah kamera yang merekam jejak hidupmu. Dan ternyata,,,imaginasi liarku terpesona oleh ungkapan bu Asfiyah tentangmu. Masih jelas di otakku, kesedihanmu akan keterbatasan masa yang menyekat kejeniusan di balik otakmu. Engkau ingin melanjutkan sekolah, tapi keadaan memaksamu berhenti. Tapi keseriusanmu berpikir dan belajar tak tersekat oleh ruang. Engkau tetap belajar dengan keterhimpitan keadaan. Engkau sudah mulai berpikir jauh, ke depan demi terwujudnya sebuah masa berperadaban.
Aaaach aku juga baru tahu, tentangmu dan Alqur’an kitabku. Ternyata engkaulah cikal bakal adanya penerjemahan Al-Qur’an. Engkau tak ingin sekedar mengikuti tanpa ngelmuni. Aku terpukau dengan isi suratmu dulu, ibu Kartini.
“mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.
Engkau sang teladan. Engkau terpukau oleh keindahan Al-Qur’an. Aku malah sangsi dengan perempuan bernama aku. Tiap hari kudendangkan, tapi aku merasa kandungannya belum terserap seutuhnya. Seperti hanya nyanyian lisanku saja. Aaah….Kartini, terimakasih engkau sang perempuan yang telah membuka cakrawala bahwa menjadi berpengetahuan adalah hak siapa saja. Keberanianmu meminta mbah Sholeh Darat (guru mbah Hasyim Asy’ari dan mbah Ahmad Dahlan) menerjemahkan ayat Al-Qur’an dengan bahasa Jawa, telah menjadi rujukan berbagai keilmuwan. Aku berharap dapat mempelajarinya, agar apa yang aku dendangkan dari keindahan mahasastra tuhan tak sekedar nyanyian lisan.
Kartini, surga semoga mejadi hadiah terindah dari tuhan akan jasamu. Masih banyak perjuangan yang belum terselesaikan. Mesti aku berharap perempuan dapat menemukan kemerdekaannya tanpa berteriak, tapi aku akan tetap mendukung mereka untuk berteriak.
“Selamat Hari Kartini, perempuan Indonesia.” karena perempuan adalah tiangnya negara, mari kita serentak berteriak dengan aksi nyata. Berpikir cerdas, bukan untuk diri sendiri. Melainkan seperti berpikirnya Kartini. Ia berteriak, tapi dengan teriakan yang dingelmuni.Berteriak tak sekedar mencari kesamaan dalam sebuah jabatan, kekuasaan,…..
Melainkan berteriak untuk turut membangun sebuah peradaban.

Komentar
Posting Komentar