Mumpung Selo
Jangan terpaku pada judul yak, meskipun dalam penulisan yang baik judul mewakili isi. Namun kali ini anggap saja pengecualian, heheheee……hanya pengen nulis “wathon” saja, mumpung di tempat kerja sedang kagak ada kerjaan. Jadi serius nih, aku manfaatkan untuk mencari data tambahan penelitianku tentang bunyai Ida Fathimah.
Di tempat kerjaku sekarang, dulunya medan berkiprahnya bunyai Ida Fathimah di bidang politik. Tapi bukan berarti kerjaanku sama dengan yang bunyai Ida dulu lakukan lho ya….beda! nah karena gak ada kerjaan, aku pun mencoba berkunjung ke perpustakaan dan ruang arsip demi mendapatkan data tambahan tentang bunya Ida. Namun, kenyataannya tak semulus harapan. Data yang aku cari terkait profile bunyai Ida tak banyak aku dapatkan. Nemu sih, satu profile dewan periode 2004-2009, namun hanya berisi sekilas tentang identitas dewan saja termasuk bunyai Ida Fathimah. Aku buka, dan kubaca sekilas kemudian menutupnya. “Kalau yang seperti ini, sudah aku dapatkan dari wawancara.” Batinku.
Aku pun kembali menyusuri ruangan arsip, sedikit rada takut karena ruangannya terletak di lantai tiga pojok dan jarang dihuni manusia. Lumayan merinding aku, membayangkan sosok-sosok lelembut mendatangiku. Konon, cerita-ceritanya sering terjadi demikian. Tapi aku mencoba melawan rasa takutku. Dan alhamdulillah lumayan takut wkwkwkw
Kucermati dokumen-dokumen sejak tahun 80-an, ternyata entah kurang cermat atau bagaimana yang kutemukan kebanyakan produk hukum, keputusan dewan, risalah perjalanan dewan dalam daerah dan luar daerah, LKPJ, sidang paripurna, skenario sidang dan intinya tidak kutemukan yang aku cari. Aku pun keluar dan tertarik membuka album-album foto. Tepat kutemukan satu album perjalanan daerah yang dilakukan bunyai Ida. Sayangnya, tidak ada keterangan kunjungan tersebut dilakukan kapan dan dimana.
Satu hal yang aku pikirkan ketika memandang foto-foto bunyai Ida. Aku membayangkan seandainya, aku terlahir lebih dulu saat bunyai Ida masih berkiprah di politik, mungkinkah aku bisa banyak menulis tentangnya? Seperti halnya yang kulakukan sekarang ketika mengikuti kegiatan-kegiatan dewan. Ach, takdir tidak perlu dibayangkan. Apalagi yang jelas-jelas tidak dapat berubah, tapi dianugerahi Allah untuk dapat mengenal bunyai Ida, adalah anugerah. Semoga penilitianku nanti membawa manfaat untuk umat. Amin
Komentar
Posting Komentar