Simbahku Yang Renta
![]() |
| Simbah Penjual Jajanan Alkid |
Aku bukanlah seorang pengemis, mungkin jargon tersebut cocok untuk menggambarkan simbah-simbah yang jualan jajanan di Alkid. Dua minggu yang lalu, aku bersama kawanku sempat ngobrol banyak dengannya. Satu hal yang membuat aku berpikir mengenahi simbah, ternyata kaum kapitalis tidak hanya mereka para investor yang hobi membangun mall, apartemen, hotel dan bangunan yang tidak ramah terhadap kaum bawah. Melainkan, ah aku kebingungan mencari istilahnya.
Dua minggu yang lalu, baru aku tahu sebotol air mineral Vit (600 ml ) dijual dengan harga Rp. 5000. “ Oke! Harga di Alkid gitu lho.” Tapi menurutku untuk ukuran Vit harga tersebut terlalu mahal. Ketika kutanya simbahnya apakah laku? Simbah menjawab dagangannya selama ini laku tapi tidak mesti setiap harinya berapa.
Temenku Khotim lantas bertanya berapa keuntungan yang didapatkan simbah dari setiap satu botol Vit yang terjual. “Limangatus.” Jawab simbah. Masyaallah, sekejam inikah perilaku rakyat dengan rakyat? Kaum bawah mengeksploitasi kaum bawah?
Temenku menghela nafas. “Buk iki regone asline mung RP. 1700.” Kata temenku kepadaku. Aku mengangguk sambil mengingat-ingat sebotol air mineral merek Vit ukuran 600 ml di Mirota, seingatku sekitar Rp. 1300.
Allah karim. Temenku lantas memberi tahu simbah tentang harga Vit sebenarnya. Tidak banyak yang dapat aku dan temanku lakukan selain meinta simbah untuk menanyakan perihal harga Vit ke pemasok sebenarnya. Selama ini simbah membeli per botol Vit dari pemasok Rp. 4500. Bagiku ini sangat kejam, walau pun dalam dunia bisnis jargon modal sekecil-kecilnya untuk dapat untung sebesar-besarnya. Tapi menurutku, mbokya ojo keterlaluan.
Tidak hanya Vit, simbahnya bahkan tidak pernah tahu berapa harga asli minuman-minuman yang dijualnya seperti Teh pucuk, Pocari, Floridina, Mizone dan aneka minuman kemasan lainnya. Simbah selama ini hanya tahu kepada calon pembeli ia harus menjual berapa, dan itu ia lakukan atas intruksi dari pemasok.
Teh pucuk ukuran 350 ml Rp. 5000, Pocari 350 ml Rp. 7000, Floridina 360 ml Rp. 5000, Mizone 500 ml Rp. 7000. Temenku bilang “Mbah regone iki kabeh kelarangen. Wong yo do ngerti rego, Vit iki lek didol 5000 yo larang, mengko ngomong ke pemasoke ya..” simbah menggut-manggut dan berjanji akan membahas baik-baik persoalan harga dengan pemasoknya.
Berkali-kali simbah berterimakasih kepada kami. Simbah sempat ingin mengambil dagangan saja ke kami, seandainya kami dapat memberikan harga lebih murah daripada pemasok. Aku mikir, seandainya aku beli dari Mirota dan kujual ke simbah seharga Rp. 2000, jika aku tidak salah mengingat aku dapat mengambil per botol nya sebesar Rp. 700. “Simbahnya bisa menjual seharga Rp. 2500 atau Rp. 3000.” Batinku.
Namun, bukankah hidup tidak melulu soal aji mumpung? Bagiku iya! Ada banyak hal yang harus dijaga, termasuk mata rantai sebuah relasi sosial antara pemasok dan simbah. Mana tahu masih dapat dirembuk untuk secara adil sama-sama mendapat untung yang layak.
Di minggu berikutnya, aku kembali menyapa simbah. Kali ini tidak dengan temanku Khotim. Ia absen jogging karena sedang ada acara syukuran di kosnya. Sebagai tetangga kos yang baik ia turut membantu persiapan yang dilakukan teman kosnya.
Aku pun jogging dengan temanku di pondok. Saat itu simbah belum datang. Ketika sampai di putaran ketujuh, kulihat simbah mulai menjajakan dagangannya. Aku tak tahu pasti kapan simbah datang, tapi berbagai minuman belum sempat ia jajakan. Sembari menunggu temanku aku mencoba membantunya. Bukan karena apa-apa, hanya teringat ibuku di rumah juga seorang pedagang dan berharap ketika tua nanti, semoga ibuku tidak lagi sibuk menjajakan dagangan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Semoga aku mampu mencukupi kebutuhan di usia senjanya Amin.
Kembali ke simbah, simbah memintaku untuk menjaga dagangannya. ia ingin pulang ke rumah untuk mengambil dagangan yang lupa tidak terbawa. Aku pun berinisiatif untuk mengantarkannya pulang. Simbah menolak. Namun ketika kujelaskan agar simbah berkenan kuantarkan pulang dan temanku lainnya yang menjaga dagangannya, simbah pun mengiyakan.
Rumah simbah tidak jauh dari Alkid. Tidak sampai lima menit dengan mengendarai motor, kami pun sampai di rumah simbah. Sekilas yang aku lihat sebelum simbah membuka pintru rumahnya “Kandang”. Rumah simbah ini sungguh tak layak untuk dihuni manusia. Aku menghela nafas, bukan jijik karena melihat kotoran ayam dimana-mana, sungguh bukan. Aku berpikir mungkin keberadaan ayam menjadi salah satu hiburan simbah di masa tuanya. Aku juga tidak ingin mengkritik tentang cara simbah mempelihara ayam namun tidak memperhatikan kebersihannya. Bagiku, simbah dapat berjalan dengan selamat saja sudah cukup. Usianya sudah terlalu renta hanya untuk berjalan sendirian. Jika demikian masih pantaskah aku mengkritik soal kebersihan yang tidak dilakukan simbah?
Simbahpun mengambil kunci yang disimpan di samping pintu rumahnya. Aku sempat bertanya apakah simbah tinggal sendirian? Simbah mengiyakan. Ia bercerita anak-anaknya sudah menikah dan hidup bersama keluarganya. Satu-satunya cucu yang gemati (perhatian) dengannya meninggal. Simbah mengaku sangat kehilangan.
Aku mengangguk pelan mendengarkan ceritanya. Pintu pun terbuka, aku dan simbah masuk. Hatiku miris, tersayat-sayat saat memasuki rumah simbah. Sungguh, rumah simbah tampak dari luar jauh lebih dapat diterima. Itu saja aku sudah menganggapnya tidak layak dihuni manusia. lebih tepat disebut kandang.
Rumah kecil tersebut dipenuhi dengan barang-barang bekas. Hanya ada jalan setapak yang dapat dilalui. Kanan kiri barang yang menurutku sudah tidak dapat difungsikan. Kardus-kardus tertimbun memenuhi kamar. Begitu juga dengan botol-botol minuman. Ada ruang kosong berisi Kasur, mungkin disitulah simbah merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Tapi ketika kutanya demikian, simbah menggelengkan kepala, “Aku turune nang mburi.” Kata simbah. Aku tak sempat masuk ke belakang, kupandang sekilas namun tak kutemukan kamar tidur yang dimaksud simbah. Ingin sekali aku menyusuri rumah kecil simbah, tapi kuurungkan niatku.
Aku berpikir berapa ekor tikus, kecoa yang mati tertimbun barang-barang bekas? Aku tak melihat, tapi aroma bangkai menyeruak memenuhi indra penciumanku. Hatiku berdesir, begidik memandang kenyataan pahit yang dialami simbah. #semoga simbah selalu sehat dan anak-anaknya lekas pulang ke pangkuan.

Komentar
Posting Komentar