Lawan Takut, Setelah Lulus Ngapain?
Hari ini aku tertarik untuk bercerita tentang “yang katanya untuk mengawali menulis itu suatu hal yang sulit.” Iya sih, terlebih seperti aku yang serasa jemari dan penaku hampir tumpul, saking lamanya terlalu membekukan diri dalam diam atau dalam bahasanya Kalis Mardiasih tidak sensitif. Artinya, sebuah peristiwa sosial berlalu begitu saja, tanpa ada greget dari kita untuk menuliskannya. Nah, hari ini aku ingin mencoba menjadi pribadi yang sensitif. Hehehehe.....
Tapi lagi-lagi aku ingin mengawali tulisanku dengan, apa ya? ide sih banyak, tapi ideku bagaikan rinduku pada seseorang, dikatakan malu gak dikatakan haduch rasanya bagaikan tersayat-sayat sakit dan pilu, Eaaakkkk. Hahaha
Oke deh, aku akan memulai bercerita tentang salah satu sahabatku, sebut saja Udin. Bagiku Udin sahabat yang sangat spektakuler. Bagiku lho yaa, karena dia memiliki daya kritis yang bagus dan selain itu dia juga cermat. Termasuk saking cermatnya, sering kali ucapan atau ketikan inbok-ku ke dia dikomen. Hahha....sebel? gak sih, mungkin karena saking deketnya kita ya, jadi komen-komen nyelekit itu suatu hal yang biasa aja.
Nah sahabatku Udin ini, bercerita tentang orang-orang berani menjajakan jajanan di perempatan-perempatan lampu merah, seperti jualan tahu sumedang, kerupuk dll. Ia memandang mereka melakukan semua itu tanpa gengsi. Selain itu, ia juga bercerita tentang seorang sarjana yang lebih memilih menjadi tukang tambal ban, daripada berharap pada negara dan pemerintah untuk mengangkat nasibnya menjadi PNS. Sebelum memilih menjadi tukang tambal ban, ia seorang guru honorer dengan gaji super rendah. Sarjana gitu....namun, entah karena kebutuhan atau apa ya, akhirnya sang guru tersebut banting setir menjadi tukang tambal ban dengan alasan gajinya lebih besar dariada menjadi guru honorer. Ini fakta sosial! Karena aku juga kerap kali mendengar cerita yang demikian. Lantas, sahabatku Udin ini berpikir, bagaimana jika ketika ia menjadi sarjana nanti iapun tak mampu memiliki pekerjaan yang cukup layak dpandang baik secara sosial. Kenapa harus ada klasifikasi layak dan tidak layak dalam sebuah pekerjaan jika dikaitkan dengan status pendidikan?
Aku jadi mikir, aku pernah memiliki ketakutan yang sama. Jadi teringat ketika akan munaqosyah, aku meminta ridlo dari orang tua agar lulus dengan nilai memuaskan. Bapak dan ibuku mengamini. Aku pun berjanji, selepas lulus akan sesegera mencari pekerjaan terutama di bidang tulis menulis atau pendidikan. Tapi satu hal yang aku pinta, ketika pekerjaan tak kunjung aku dapatkan aku berharap bapak dan ibuku tak memintaku pulang. Jujur aku tak siap menjadi sarjana pengangguran, karena di rumah sama sekali tidak memiliki bayangan untuk melamar pekerjaan sebagai apa.
Akhirnya aku putuskan bertanya ada mbak Erlin, kenalanku di humas DPRD DIY saat aku magang. Oiya aku cerita sedikit ya, tentang aku pernah magang di DPRD DIY. Sebenarnya, magangku sih di Surat Kabar Harian (SKH) Tempo, tapi karena dapat posnya Politik akhirnya aku diminta Pak redaktur untuk meliput berita Politik. Sumprit, aku gak betah banget. Satu bulan berasa lamaaaaaa bwanget, sampe aku pengen nangis, males masuk magang tapi kalau gak masuk bakalan tambah molor waktu magangku, karena dihitungnya perharian masuknya. Akhirnya betah gak betah aku paksakan, tapi aku lumayan cerdik, jika saking malesnya, aku izin sama pembimbingku magang mas Anang namanya untuk ikut liputan temenku di temat lain. Beruntung mas anang membolehkan. Jujur aku lebih tertarik, magang di lapangan dariada di politik. Alasannya kenapa coba? Hwaach banyak bangetlah.
Pertama, aku tidak merasakan kenyamanan, karena wartawan-wartawan yang di DRD DIY, hanya sedikit sekali perempuannya dan yang sering nongkrong di DRD DIY adalah wartawan cowok. Aku, yang belum terbiasa gaya hidup wartawan, sungguh aku jadi hamba Allah paling lugu. Padahal dari sisi pakaian aku sudah mencoba mengimbangi ala wartawan. Sungguh berbeda dengan keseharianku yang biasa pakai rok dan baju muslimah ala guru TPA ( ya karena aktivitasku selain kuliyah, ikut bantu-bantu mengenalkan huruf alif, bak dan tak ke anak-anak).
Kedua, aku gak begitu dong persoalan politik. Pertanahan, perekonomian, hukum dll membuatku harus mendengarkan berulang-ulang rekaman liputanku untuk dapat aku tulis dan aku setorkan ke pembimbing magangku. Kalau liputan persoalan pendidikan dan kebudayaan, lumayan senenglah. Ketiga, apa ya yang membuatku gak betah. Ehmmmm kayaknya cuman itu aja deh.
Nah selanjutnya, kembali ke mbak Erlin kenalanku di humas DPRD DIY yak. Iseng-iseng ketika aku sudah dinyatakan lulus dari Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga, aku Whatsapp (WA) mbak Erlin tanya-tanya ada peluang kerja di DPRD atau gak, ternyata belum ada. Ya sudah, aku coba memberanikan diri melamar menjadi editor buku anak-anak di Diva Press. Alhamdulillah sekali, puji syukur kehadirat Allah aku diterima. Sujud syukur aku, lolos seleksi dari 31 peserta. Akhirnya terpilihlah aku, Lina dari Jakarta, anak Wonosari dan satunya aku lupa. Empat peserta ini kemudian diminta tes lanjutan wawancara yang meliuti analis pangsa pasar, buku yang menarik untuk anak-anak itu seperti apa, dilanjut komitmen jika diterima, dan terakhir tes ICT termasuk membuat gambar dengan menggunakan corel draw (haduch keringat dingin aku, batinku alamaaat ketolak).
Dan ternyata benar, aku tidak lolos seleksi karena yang dibutuhkan hanya satu editor. Ya sudah, dengan sedikit kecewa aku kuatkan nyaliku untuk bersabar dan mencoba melamar pekerjaan lain. Namun, saat itu juga aku dapat pesan WA dari mbak Erlin. Masih ingatkan, kenalanku di humas itu lho. Mbak Erlin memintaku untuk melamar pekerjaan di humas. Aku bersyukur, mantap sudah aku memilih kembali bidang politik sebagai pekerjaanku. Entah karena apa, aku yakin banget bakalan diterima. Ternyata, setelah wawancara pada tanggal 9 maret 2015, keesokan harinya aku diminta untuk bekerja sebagai peliut berita DPRD DIY. Aku nangis, ya Allah di antara lelahku dulu gak kerasan magang di politik, ternyata Allah so sweet banget. Allah menjawab doaku, untuk memiliki pekerjaan setelah lulus (saat itu aku belum diwisuda) Fabiayyi Ala Irabbikuma Tukaddziban?
Aku merenung, betapa beruntungnya aku yang tidak keterima di Diva Press, seandainya keterima aku meiliki jam kerja lebih banyak daripada jika di humas. Setiap hari harus bekerja dari 07.30-17.00 kecuali hari minggu dan tanggal merah. Tapi di humas, waktu kerjaku lumayan, aturannya sih pukul 07.30 tapi karena aku outscorsing, jadi jam 08.00 tidak masalah baru sampai kantor, dan pulang pukul 16.00 (aslinya) walaupun prakteknya aku lebih sering pulang sekitar pukul 16.30. dan yang paling aku syukuri, di sini aku dapat libur dua hari yakni saptu dan minggu, sehingga dari sinilah aku mencoba berdialog dengan orangtua seandainya kuliyah lagi mengambil weekend, bagaimana? Eh eh eeehh ternyata, bapak dan ibuku mendukung penuh. Akhirnya, mendaftarlah aku di universitas yang sama UIN Sunan Kalijaga. Yaa,,,karena jika melirik UGM, aku rada sangsi takut terlalu memberatkan ortu dalam hal pembiayaan. Hehehe….nah dari sinilah aku merasa Allah benar-benar memelukku dari rasa takut, takut menjadi pengangguran ketika lulus, takut cibiran, takut terlalu mengecewakan bapak yang setiap hari berkawan dengan panasnya mentari demi mengais rizki. Takut pengangguranku menjadi beban ibuku, yang sudah sangat rela tabungannya terkuras untuk biaya wisudaku. Hiks hiks,,,,
Lantas apakah setelah aku dapat pekerjaan telah kehilangan rasa takutku? Ternyata tidak! Rasa takut itu masih ada. Pekerjaan ini meski sesuai jurusan kuliyahku, sesuai permintaanku tapi, suatu saat nanti aku akan melepaskannya. Dan bapakku selalu bilang, rejeki kui tersebar di semesta alam, tapi lek gak dingelmuni, njipuke yo kangelan. Pertanyaannya, apakah ilmu hanya di dapat di sepetak ruang bernama kelas atau diselembar bernama ijazah?
Anis Baswedan, menganggap pendidikan sebagai eskalator untuk mencapai kehiduan yang lebih baik. Dan aku percaya, sepetak ruang bernama kelas dan legalitas ijasah cukup berengaruh terhadap kelayakan hidup. Tapi apa artinya legalitas tanpa keilmuan yang memadahi? Di sinilah tata nilai sosial berlaku. Mengapa orang memandang sarjana lebih elok tidak menjadi seorang tukang tambal ban. Namun, di balik semua itu, ada PR besar yang harus diselesaikan. Mengapa sampai sekarang gaji di bawah rata-rata masih berlaku di Indonesia? Sehingga mencerdaskan anak bangsa dianggap sebagain orang seperti halnya lilin, untuk dapat memberi ia harus melukai diri. Beruntung, masih banyak yang bertahan dengan kondisi ini, entah sebagai pilihan terakhir atau ketulusan. Bagiku beda tipis. Semoga, setelah lulus aku dapat selalu melawan rasa takutku. Bagiku yang terpenting ialah, jangan diam dan merenungi nasib tanpa bergerak. Selain itu, yakinlah dengan keajaiban doa. “Ketakutan ada itu bukan untuk dimanjakan, melainkan dilawan!”

Komentar
Posting Komentar