Nyunmor Nang Alkid

Ini pagiku,,,
Fabiayyi ‘ala irabbikuma tukaddziban? Nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? “Tidak ada” bisikku lirih sebelum mengayunkan pelan kakiku. Kehangatan mentari pagi laksana pelukan rahmat tuhan. Terlebih di antara temaram cahaya keemasannya, sepoi angin berdesir pelan memainkan jilbabku. Sungguh tidak ada nikmat yang pantas aku dustakan.
Kulangkahkan kakiku sembari menggerak-gerakkan pelan tangan kakan dan kiriku. Mataku menyapu sudut Alun-alun Kidul (Alkid). “Berbagai aktivitas sedang berlangsung di sini.” Batinku. Kulihat para pedagang berjejeran menjajakan dagangannya. Menurutku di Alkid setiap hari minggu sudah seperti Sunmor. Jujur lumayan mengganggu aktivitas jogging-ku. Tapi bukankah Alkid ruang publik yang boleh dimanfaatkan siapapun?
Akhirnya aku berdamai dengan realitas sosial yang sedang berlangsung di Alkid setiap hari minggu. Aku berpikir mereka para pedagang ialah orang-orang cerdas yang berkenan menangkap peluang. Mereka jauh lebih berani daripada aku yang menggantungkan penghasilan dari sebuah instansi.
Aku tersenyum dan tertarik mengabadikan momen pagi ini di kamera Lenovo A6000-ku. Para pedagang gorengan berjejer rapi. Pembeli seolah disajikan prasmanan untuk dapat memilih dengan bebas jajanan yang disukai. Ada bakwan, tempe, tahu, onde-onde, tempura, Gandos dan lain sebagainya. Para penjual minuman juga mencoba mencari peruntungan dari pelanggan di Alkid. Ada susu murni, jus jambu, susu kedelai, bubur, kunir asem, sirup dan masih banyak lagi minuman lainnya.
Selain gorengan dan minuman, makanan berat untuk sarapan juga tersedia. Jika kamu ke Alkid, coba amatilah di sepanjang trotoar, berbagai nasi dapat dijumpai dengan mudah seperti Gudek, rames, pecel dan soto. Bahkan pedagang pakain, kerudung, topi, jilbab, sandal, mukena juga tertarik menjadikan Alkid sebagai ruang berjuangnya di bidang perekonomian.
Masih banyak hal menarik lagi mengapa aku menyebut hari minggu Alkid sudah seperti Sunmor. Kulihat para Mahasiswa jurusan kesehatan menyediakan jasa cek kesehatan baik cek gula darah, kolestrol, asam urat. Sebagai mahasiswa, menurutku mereka kreatif terlihat dari cara mereka menggaet pelanggan. Di spanduk ditulis dengan huruf besar cek tensi darah gratis, Sedangkan untuk cek gula, kolestrol dan lemak dikenai biaya Rp.10000.
Aku tersenyum bersyukur melihat mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kepedulian sosial. Namun aku belum tertarik untuk menjadi salah satu pelanggannya. Aku kembali melangkah, kudapati segerombolan mahasiswa menawarkan dagangannya. Kubaca seksama dagangan mereka yang tidak lain berupa C1000 dan M-150. Tanpa pikir panjang kukeluarkan uang Rp.10000 untuk membeli C1000. “Murah sekali Rp.10000 dapat tiga.” Batinku.
Biasanya harga satuan C1000 jika di Maga sekitar 6000-an, begitu juga di Alfamart dan Indomart. Berbeda jika di Mirota, persatuan C1000 lumayan lebih murah Rp. 5000 sekian, apalagi kalau pas diskon. Hehehe (Tapi harga tepatnya berapa lupa).
Usai membeli C1000 aku kembali menyusuri arena Alkid dengan sebelumnya menyimpan C1000 terlebih dulu di motor. Kulangkahkan kakiku pelan-pelan, tak ingat-ingat sudah putaran ketiga kudapati simbah-simbah dagangannya belum laku. Aku mikir, permainan dari kaleng susu yang ketika digerakkan berbunyi menjadi salah satu dagangannya. Selain itu kulihat mainan seperti kincir angin yang terbuat dari gelas plastik masih saja belum berpindah tangan ke pembeli. Aku sempat mikir, apakah permainan tradisional tersebut cukup menarik hati anak-anak sekarang? nyatanya sampai putaran ketiga joggingku, dagangan simbah tersebut belum juga laku. Sampailah aku ke putaran ke empat, simbah-simbah tersebut masih saja asik memainkan permainan yang dijajakannya, namun keadaan masih sama. Aku pun melewatinya begitu saja, tidak kuat memandang lebih lama membayangkan seandainya hari ini memang tidak sedang beruntung pada nasibnya.
Putaran kelima, aku bersyukur. Kupandang lekat simbah-simbah yang nampak sumringah. Dagangannya dilirik anak kecil perempuan. Kurasakan bahagia yang luar biasa, bukan hanya menyoal dagangan simbah tersebut laku, melainkan ibu tersebut telah berbesar hati memerdekakan keinginan anaknya untuk memiliki permainan tradisional. Jujur aku yang belum menjadi seorang ibu terkadang kasian seandainya anaknya meminta sesuatu orang tua tak mampu mewujudkannya. Bahkan terkadang ibunya membentak dengan kasar. Biasanya kalau menyaksikan seperti ini aku hanya memandang prihatin, bukan hanya tidak terpenuhinya keinginan anak, melainkan mengapa jika tidak mampu membelikannya sekarang, orang tua cukup memberikan pengertian ke anak saja, orang tua tidak perlu marah.
Tapi lagi-lagi aku tidak berhak menghakimi. Bukankah aku belum merasakan bagaimana menjadi orang tua? Yang ternyata merayu anak untuk sekedar bersabar membeli sesuatu di lain waktu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Nyatanya saat Mts aku ingin dibelikan HP, bapakku hanya diam saja. Aku merengek, tapi bapak bilang HP belum begitu penting untuk dibeli. Akhirnya aku hanya diam sambil menggerutu. Nyatanya sebulan kemudian saat aku pulang dari pesantren, aku tersenyum karena HP yang aku inginkan akhirnya kudapatkan. Masih teringat jelas bapak berkata “Wong tuo kui paling loro ati lek anake jaluk ora keturutan.” Aku selalu pengen nangis kalau mengingat perkataan tersebut. Hiks hiks….hiks….
Kembali ke bahasan awal yak, tentang Alkid. Setelah putaran kelima, akhirnya aku juga tertarik berhenti tepat di gerombolan mahasiswa yang menjajakan berbagai buku pengetahuan umum dan keagamaan. Sengaja aku meminta izin untuk memotretnya. Mereka dengan senang hati mengizinkan permintaanku.
Betapa, satu titik saja bernama Alkid berbagai aktivitas berlangsung secara bersamaan dalam satu waktu. Kesehatan, perekonomian, bahkan kebudayaan seperti halnya simbah-simbah yang bertahan menjajakan permainan tradisional. “Indahnya Indonesiaku.” Kataku sembari menyentuh gelembung-gelembung air yang bertaburan di terpa angin. “Dan itu ada di Alkid.” Hehehe…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru