Pengen Dodolan

Iseng-iseng nih yee…ikut nimbrung gitu diskusi tentang UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Aslinya ya belum begitu paham, tapi disini aku dapat ilmu lah yaa….eh pengetahuan ding tentang wirausaha. Hehehe….
Kalau kata mbak Rika, wirausaha tidak butuh teknologi dan scient yang muluk-muluk, yang penting praktek. Hohooo….betul juga ya. Lah boro-boro praktek kadang kita takut duluan persoalan modal. Pernah ngerasain kayak gitu gak? Kalau aku sih iya, pernah. Tapi ternyata modal juga tidak jadi prioritas dalam berwirausah. Puter otak nih!
Kadang aku mikir, emang pekerjaan paling enak ya berwirausaha. Minimal, lek kesel leren amergo nggon-nggone dewe. Wahaha, gimana mau maju baru saja terbersit berwirausaha sudah mikir banyak liburnya. Wkwkw,
Aku pernah mencoba jualan pulsa, tapi aku tidak pernah tahu berapa untungnya, karena uang modal, uang jajan, dan keuntungan jadi satu. Nah ini nih, yang kata temenku payah. Akhirnya aku mikir kayaknya aku gak cocok jadi wirausaha. Tapi ya pengeeen, terlebih saat ini lihat temenku Mts yang baru saja merintis usahanya di bidang kuliner. Belum ada setengah tahun sih tak amati sejak pertama kali ia mempromosikan baksonya di Facebook. Lah temenku ini memanfaatkan Sosial Media untuk menggaet pelanggan. Selain buka di rumah, ia juga membuka jasa delivery. Alhasil kalau tak lihat dagangannya laris, banyak pesenan dimana-mana mulai dari arisan RT, pengajian, khitanan dll, aku pun mupeng (muka pengen berwirausaha).
Ia pun mencoba menambah menu lain seperti tahu bakso, penyetan (lele, nila, bandeng, ayam), horok-horok, bahkan sampe rujak (kalau di Jogja disebut Lotis). Aku heran, tak sawang kaya sukses banget ya,,,sampai-sampai aku cerita ke bapak dan pengen jualan bakso untuk dapat dijajakan bulek, nanti aku bagian menejemennya (eaaak,,,,,teori dan praktek saja tidak pernah mau memenej hehe). Tapi kata bapak, di rumah penjual bakso sudah banyak. Aku protes di desaku mana banyak pak? Bapak menjawab “lek jarene wong-wong dodolan nang etan kali karo kulon kali ki bedo, kulon kali sik do dodolan yo do sukses, tapi etan kali do ora laris. Wong do milih kulon kali” Kata Bapakku bercerita.
Maksud dari etan kali dan kulon kali ini sebuah desa yang dipisahkan jembatan. Hanya jembatan sepanjang sekitar lima meter mungkin, tapi membuat nama desa bahkan kabupaten kami berbeda. Etan kali masuk wilayah Rembang, Kulon kali masuk wilayah Pati, jadi bapakku setiap kali beli sarapan harus ke Pati dulu. Hehee..
Kembali lagi ke “Mengapa jualan etan kali dan kulon kali berbeda.” Kalau kata bapak, mungkin letak geografisnya berbeda, kurang strategis. Atau mungkin ada sejarah panjang suatu wilayah tertentu cocok buat berdagang dan wilayah lain bukan. Aach,,,kalau ini kurang tahu.
Beneran gara-gara lihat temen Mts-ku yang jualan bakso, aku jadi pengen berwirausaha. Ya meskipun masih sekedar omong doang. Nyaliku terlalu ciut ternyata, padahal ibuku seorang pedagang. Kenapa darahku tidak mewarisinya? Hiks hiks,,,kalau nyali menjajakan dagangan kayaknya lumayan ada deh. Aku pernah jualan bros di Sunmor, diajak temen sih bantuin menjajakan dagangannya, asik-asik saja, dan aku menikmatinya. Tapi ya itu, sayangnya tidak telaten.
Aku pernah diminta menjualkan baju temanku di komplek, alhamdulillah laku banyak tapi sayangnya harga jualku dibawah standart pada umumnya. Aku ditegur sama temenku, Alma namanya. Ia membatin makanya laris, karena harganya murah.
Haduch aku jadi mikir, apa aku gak bakat jadi wirausaha ya,,,,ketika kuadukan perihal ini ke bapak, bapak bilang “wong kui bidange bedo-bedo, ono sik telaten dodolan, yo ono sik telaten nulis.” Aku mengangguk dan meyakini diri, memang sepertinya darah ibuku seperti tak mengalir di darahku.
Tapi aslinya beneran banget nih, pengen banget berwirausaha bukan semata-mata ketika ingin libur bisa meliburkan diri karena usaha-usaha kita sendiri. Namun ada banyak banget alasan, minimal kita berkuasa memilih jalan yang kita tempuh, tidak perlu tertekan sistem, aturan seperti ketika kita bekerja di perusahaan atau instansi tertentu. Alasan lain, biar kelak ketika berkeluarga tetap dapat memprioritaskan keluarga. Kan usaha-usaha kita, bebas dong mau istirahat jam berapa? Wkwkwkw…..
Ngomong kaya gini kaya pede banget yak. Padahal berwirausaha juga terkadang menyita banyak waktu, terlebih jika keuntungan dari wirausahanya masih belum cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Alhasil, meskipun usaha-usahanya sendiri tapi ia ditekan oleh kebutuhan. Bukan atasan, bukan teman seperjuangan, melainkan kebutuhan.
“Ya allah lapangkanlah rizki orang-orang yang bergerak dan percaya rizkimu tak terhitung oleh apapun, Amin.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru