Ibu-Ibu dan Ibuku
Hari ini, tahun ketiga kerja di bulan puasa. Alhamdulillah atas segala limpahan rahmat Allah, masih berpijak di tempat kerja yang sama. Terenyuh sekali hari ini, ketika akan berangkat kerja, ada suatu hal yang mengharuskanku menemui bunyaiku di Krapayak. Nyai Hj. Ida Fathimah Zainal Abidin beliau dikenalnya. Kuucapkan salam, dan terdengar jawaban lembut dari beliau di kamar. Seperti biasa aku langsung menyibak tirai kamar bunyaiku, masuk dan mengecup ta’dhim tangan beliau.
Ibuk ida, biasa aku memanggil beliau menghentikan sejenak aktivitas membaca kitabnya. Entah kitab apa yang sedang dibacanya aku tak begitu mengamati. Aku hanya menebak mungkin Risalatul Mu’awanah karena selama Ramadhan setiap pukul 09.00 beliau akan mengulas kitab tersebut di hadapan para santri.
“Gimana kabarnya?” Tanya Ibuk Ida. Aku tersenyum dan menjawab tentangku alhamdulillah baik dan sehat. Aku lantas bercerita dan menyampaikan amanah dari sahabatku Zida yang belum dapat sowan saat ke Jogja. Selain menyampaikan amanah dari Zida, kusampaikan oleh-oleh dari bu Umi warga Krapyak kulon untuk bunyai.
“Kapan ketemu bu umi?” Tanya Ibuk.
“Kolo wingi bu Umi nyuwun didereaken belanja keperluan masak ting peken.” Jawabku .
Ibuk Ida tersenyum dan mengangguk. Sembari memintaku menyampaikan salam kembali atas berbagai kebaikan bu umi. Selanjutnya, Ibuk Ida memastikan apakah aku akan berangkat kerja. Tanpa pikir panjang kuanggukkan kepalaku.
“Poso-poso kok kerja.” Kata Ibuk Ida menggodaku.
Di antara ucapan menggodaku, ibuk langsung berdoa semoga allah melimpahkan keberkahan dan kesuksesan meraih cita-cita. Aku mengamini, dan terakhir kukecup kembali tangan beliau untuk kemudian berangkat kerja.
Satu hal yang teringat di benakku. Selama aku kerja ibuku di kampung halaman belum pernah aku pamiti secara langsung. Jadi membayangkan, seandainya dapat setiap waktu mengecup ta’dhim tangan ibuku. Pernah suatu ketika ibuku mengutarakan harapannya kelak anaknya tinggal di sampingnya. “Kadang wong tua pengen ngerti anake berangkat lan mulih kerja keadane koyo ngopo.”Ucap Ibuku kala itu.
Ya allah,…terimakasih telah menganugerahkan perempuan-perempuan hebat dimanapun aku berpijak. Semoga selalu engkau limpahkan kesehatan, ketenangan dan kesumringahan dalam beribadah dan menjalani hidup. #Terimakasih Perempuan-Perempuan Terhebatku.
Komentar
Posting Komentar