Ada Apa Dengan Bapak?
Semakin hari aku semakin jatuh cinta dengan bapak. Terlebih ketika dengan jujur bapak mengakui akan kebelumsiapannya ditinggal putri kecilnya mondok di pesantren. Aku yang belum pernah merasakan berpisah dengan anak sedikit memaksa bapak berkenan merelakan sementara berpisah dengan putri kecilnya. Suatu hal yang tidak pernah aku sangka, bapak tak setegar seperti ketika dulu aku memilih belajar di pesantren. Saat itu bapak begitu antusias, bahkan berkenan mengantarku ke pasar untuk mewujudkan keinginanku membeli sarung. Sarung sebagai pakaian khas pesantren pun aku miliki sebelum aku resmi menjadi salah satu santri di pondok pesantren Raudlatul Ulum Guyangan.
Ada apa dengan bapak?
Kali ini saat ketika putri kecilnya akan belajar di pesantren, aku yang belum dapat secara rutin menyuguhkan kopi untuknya merasakan kepedihan yang sangat. Ibuku bercerita, tentang hal yang dulu dirasakannya ketika aku memilih belajar di pesantren. “Bapakmu luwih ora tegel karo adimu karena merasakan betul bocah lek rewel koyo ngopo.” Ungkap ibuku.
Aku tersadar, semenjak ibu memilih menjadi pedagang dua hari sekali harus berangkat setelah subuh untuk kulakan di Pasar Rembang. Peran ngopeni anak pun dibagi bersama. Bapak tidak hanya sekedar mengajak jalan-jalan anaknya, membelikan jajanan, dan mengajari ngaji melainkan memandikan putri kecilnya, menyiapkan seragam, mengikat tali sepatu, menyisir rambut, membedaki, dan bahkan menyuapi.
Maka tidak heran jika bapak lebih sangat kehilangan ditinggal mondok si kecil daripada aku. Bukan menyoal siapa yang lebih di sayang, melainkan ada banyak yang harus dipahami tentang bapak. Aku yang terlahir sebagai anak pertama merasa sangat berdosa, belum dapat pulang dan menemani bapak. Yaach….bapak satu-satunya laki-laki di keluargaku akan sementara berpisah dengan partner nonton bolanya. Siapa lagi selain putri kecil bapak yang menyukai bola? tidak ada.
Terimakasih bapak, telah sangat rela terjeda jarak dengan putri kecilnya. Aku tak akan lagi merayunya sekedar memintanya untuk bersabar lebih lama berpisah dengan putri kecilnya. Aku mulai memahami, mengapa bapak tak mengizinkan si kecil memilih Madrasah yang menerapkan sistem persiapan satu tahun. Padahal dulu, sistem persiapan satu tahun masuk Madrasah Tsanawiyah tidak menjadikan bapak berpikir ulang untuk mundur dengan memilih madrasah lain dan itu ketika memilihkan pendidikan pesantren untukku. “Batinku nek iso langsung Tsanawi, ben lek kuliyah ora ketuan.” Ungkap Bapak.
Aku hanya dapat membatin, apakah bapak merasa anak pertamanya terlalu tua ketika kuliyah atau bagaimana? Sehingga hal tersebut diharapkan tidak terjadi lagi di putri keduanya. Aach bapak, satu hal yang aku pikirkan, “Apapun keputusanmu untuk pendidikan putri kecilmu engkau lebih berhak menentukan.” Bukan persoalan laki-laki lebih berkuasa menentukan kebijakan, melainkan bapak yang paling tahu cara mengobati sakitnya berpisah sementara dengan putri kecilnya. Aku berharap, si kecil mampu melewati ujian masuk Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Falah, sehingga tidak perlu mengikuti kelas persiapan.“Semisal ora keterimo,arep tak golekke sekolah liyo.” Kata Bapak. Aku mengangguk “Inggih bapak, nanti kita carikan yang standar pendidikannya tidak terlalu ketat, tapi tetap berkualitas.”
Komentar
Posting Komentar