Floridina Simbah, EXPIRED

Tentang simbah yang bukan simbahku. Yaah….beliau ialah simbah-simbah yang gemar menjajakan dagangannya di Alkid. Sejak pertemuanku di Alkid saat jogging, iseng-iseng aku ngobrol tentang dagangan yang dijajakannya. Baca http://menarasenja.blogspot.co.id/2017/04/simbahku-yang-renta.html sejak saat itu aku merasa jatuh cinta dengannya. Kami pun menjadi akrab, setiap kali jogging ke Alkid aku tidak absen menegurnya, hanya untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.

Simbah tidak pernah tahu siapa namaku, ia hanya menyebutku Krapyak setiap kali aku mengunjunginya. Sebutan itu sudah cukup membuatku bahagia, karena di usia senjanya ia masih mampu mengingat.

Jum’at kemarin saat aku cukup disibukkan dengan aktifitas kantor, membuatku harus ngelembur dan pulang sekitar pukul 20.00. Tiba-tiba aku teringat simbah, sempat ingin kembali mengunjungi rumahnya karena sudah hampir sebulan aku tak lagi jogging. Ternyata keinginanku diwujudkan Allah, saat aku pulang dan sampai di Alkid kudapati simbah dengan baju coklatnya sedang menjajakan dagangan.

Kuparkir motorku tepat di samping dagangannya, dan kusapa simbah. “Mbah...” Sapaku. Sontakl simbah langsung berkata“Krapyak ya..?”. Aku pun mengangguk girang. Simbah segera menawariku minuman dan makanan untukku berbuka puasa, aku sempat menolak karena aku sudah membatalkan puasaku. Simbah seperti pertama saat aku berkenalan dengannya, ia tidak pernah merasa kurang dan dirugikan hanya untuk memberikan makanan atau dagangan padaku.

“Teh yaa opo roti. Mbahe nduene mung ngeniki.” Kata simbah memaksaku.
Aku pun akhirnya mengiyakan mengambil salah satu dagangannya. Mataku tertuju pada sebotol minuman berlabelkan Floridina. “Kulo mendet niki mawon, mbah.” Kataku. Simbah mengangguk, sembari mengambilkan roti untukku. Tapi aku menolak.

Pertemuanku malam itu tidak begitu lama, karena aku mengejar untuk segera sampai di pondok. Aku hanya ngobrol sebentar dengan simbah kemudian pamit. Ketika sampai pondok, Floridina yang aku bawa dari simbah pun belum sempat aku buka, hanya aku taruh di lantai. Sebenarnya memang karena aku kurang begitu suka minuman-minuman kemasan, selain air mineral. Tapi karena menghormati simbah, dan berharap dengan mengiyakan tawarannya dapat membuatnya sumringah. Kalau dalam tatanan Jawa ngajeni.

Kembali ke Floridina, ternyata salah satu sahabatku, Iyut cukup suka dengan Floridina. Ketika dilihatnya Floridina di lantai, ia lantas bertanya Floridina milik siapa. Aku yang saat itu masih mendirikan solat terawih sendirian di kamar, karena seperempat lagi terawih di masjid Al-Munawwir selesai membuat Iyut mengurungkan diri meminum Floridina. Ketika selesai menuntaskan tarawih, aku pun memanggil Iyut yang berada di kamar sebelah. “Mbak Iyut, dene ra sido diminum?” Tanyaku. Iyut hanya menjawab karena kemasan botol Floridina belum dibuka. Aku hanya nyengir lantas memberikan Floridina ke Iyut. Belum sampai di tangannya Iyut, kuamati sekilas warna Floridina yang mulai sudah berubah. “Kok warnane koyo ngene ya, mbak?” Tanyaku. Iyut lantas memerika Floridina dari simbah yang ternyata sudah kadaluarsa sejak bulan Februari tahun 2017.

Allah karim, pikirku melayang masih berapa botolkah simbah menyimpan jajanan yang sudah kadaluarsa di rumahnya? Bagaimana jika ada yang menuntutnya karena dianggap senagaja menjajakan dagangan yang sudah kadaluarsa?

Simbah….

Adakah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkenan melakukan pendampingan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM)-nya simbah? Menyetok harga dagangan dengan harga standar atau lebih murah agar ia terhindar dari kriminalisasi penyetok dagangannya selama ini. Aku berharap, pada Gusdurian bagian pendampingan kios-kios atau LSM lainnya. #Semoga Simbahku Tertolong.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru