MENCINTAIMU HUJAN,,,,
Awan pekat menghiasi langit-langit
gereja. Percikan gerimis menambah keeksotisan cumbu rayu manusia kristiyani
dengan tuhannya. Aku terjebak oleh rintikan gerimis yang perlahan menjadi rinai
hujan. Aku ingin berlari, berharap segera menemui tuhanku di persemayaman
keabadiaannya.
Aku ingin berlari menikmati
kemesraan tuhan dengan alam semesta. Tapi langkahku begitu saja terhenti, saat
perlahan sayup sendu laki-laki di sampingku menggodaku. Aku tergoda bukan
dengan jamuan pesona ketampananannya. Melainkan oleh keteduhan matanya menatap
lekat kitab suci tuhannya.
“ Ehmmm,,,,,mas.” Panggilku ragu.
Laki-laki itu masih saja menatap
erat kitabnya sembari mengalunkan lirih lafadz-lafadz yang tertera. Kembali aku
memanggilnya. Kali ini agak lebih keras.
“Kamu, memanggilku?”
Aku mengangguk mantap. Ia pun
segera menutup kitabnya dan beralih memandangku sekejab kemudian menundukkan
pandangan matanya.
“Aku terpukau oleh kitab tuhanmu.”
Kataku memuji.
Laki-laki itu hanya tersenyum dan kembali membuka kitabnya.
“Maukah engkau mengulang bacaanmu?”
Ia mendongakkan kepalanya ke
arahku. Menatap sedikit agak lama, dan tersenyum simpul hingga kelihatan
giginya.
“Kamu menyukai hujan?”
Aku menggeleng. Selain tak suka,
aku tak paham dengan arah pembicaraannya.
“Kenapa?” tanyanya ingin tahu.
Kugelengkan kepalaku kedua kalinya.
Ia paham, dan tak menelisik lebih jauh tentang kekosongan jawabanku.
Lagi-lagi aku terpukau oleh
kelembutan suaranya berpadu dengan kalam tuhannya. Syahdu, dan perlahan membuat
mataku terkatup.
Hujan masih mengguyur jalanan. Aku
terhipnotis hingga melupakan persembahanku pada tuhan Yesus. Bahkan aku telah
lupa, selama ini telah membenci hujan. Cipratannya kini kurasa bagaikan
percikan mata air surga.
“Namaku
Almathoroh. Aku benar-benar takjub oleh keindahan bahasa di setiap lafadz yang
kau senandungkan.” Pujiku yang kedua kalinya
“Almathoroh. Nama yang indah.”
Tuturnya.
“Apa karena aku telah memuji
keindahan bahasa kitab tuhanmu?”
Ia menggeleng, menatap hujan
sembari menengadahkan tangannya ke arah lanngit. Penasaran, aku pun perlahan
berdamai dengan hujan. Kutengadahkan tanganku, dan kubiarkan percikannya
menjuntai memenuhi telapakku.
“Hujan itu anugerah.”
Lagi-lagi aku kembali menatapnya.
Melihatnya tak bergeming, aku pun mencoba menyelami sisi anugerah dari
keindahan hujan. Aku menggeleng, tak menemukan apa-apa kecuali nostalgia
gelapku tentang hujan.
“Bagiku, hujan itu musibah.”
Laki-laki itu menatapku tajam.
Diam, tapi aku tahu apa yang diinginkannya. Ia berharap ia telah salah dengar
dengan apa yang barusan aku ucapkan.
“Bagiku hujan itu musibah.” Kataku
meyakinkan.
Ia tersenyum, sedikit menggelengkan
kepala kemudian kembali menikmati rintikan hujan yang terjatuh membasahi
telapak tangannya.
“Karena hujan telah menorehkan luka
di hatiku hingga sekarang.”
“Iyach,,,
Terkadang hujan memang membawa
luka. Tapi, bukan berarti keberadaanya membekukan hati manusia. Hanya saja,
kesempitan pemikiran kita dalam memaknai hujan, menjadikan luka terpahami
sebagai petaka. Padahal,,,,tidak semuanya.”
Aku tersenyum kecut dengan apa yang
baru saja dituturkan laki-laki asing di sampingku.
“Anda terlalu baik memaknai hujan.”
Kataku kemudian melangkah pergi menembus hujan.
Kupercepat langkahku. Panggilan
tuhan telah membuatku rindu. Aku terkesiap saat melihat jema’at Kristiyani menyebut-nyebut
tuhan Yesus. Kecemasan tampak di wajah mereka.
Diantara kebisingan sahutan mereka,
telingaku masih terlalu tajam mendengar celotehan mereka tentang hujan. Tak
terasa air mataku menetes, sakit oleh kepedihan perempuan baya yang terenggut
nyawanya karena hujan. Perempuan malang itu terpeleset saat memasuki gereja.
Persis seperti terenggutnya nyawa
17 tahun yang lalu. Di usia lima tahunku, hujan telah menghancurkan semuanya.
Tawa dan derai manusia-manusia yang terberkati lenyap seiring terhentinya
putaran roda motor ayahku.
Aku yang saat itu masih belum tau
apa-apa menangis dipelukan bundaku yang terpejam. Kulihat cairan darah segar
menetes dari pelipisnya. Ayahku, entah aku tak tau dimana ia terpental.
Yang aku tahu, warga sekitar
berusaha menenangkanku, menggendong dan menjauhkanku dari hiruk pikuk kerisauan.
“Memang hujan tu, bikin licin.”
Aku segera menoleh ke arah suara.
Kepanikan bertengger menghiasi wajah perempuan di sampingku. Semakin dalam aku
menatapnya, perempuan itu kurasakan bagaikan mengecam hujan.
“Ibuk membenci hujan?” Tanyaku
spontan.
Perempuan itu menoleh ke arahku. “Bagaimana
bisa aku membenci hujan mbak? Terdapat keberkatan di setiap tetesnya. Hanya
kita harus hati-hati, hujan menjadikan jalanan licin.” Katanya kemudian
melangkah pergi.
Aku termenung, berbalik arah dan
menatap lekat mata Yesus. Silih berganti terbayang wajah kedua orang tuaku
diantara rinai hujan 17 tahun yang lalu. Dingin menyergap dan memeluk pilu
keterpurukanku. Ketiadaan keduanya menjadi alasan bagiku membenci hujan.
“Umatmu dan Umat Islam sama-sama
memandang hujan sebagai sebuah kebaikan, anugerah dan rahmat bagi kehidupan
manusia. Tidakkah jawaban mereka sebuah kekeliruan? Katakan Tuhan, tidakkah itu
sebuah kesalahan?” Teriakku geram oleh kebekuan hati yang hanya terjawab oleh
kekosongan.
Aku menangis, emosi telah meracuni
kesadaranku. Aku berlari menentang langit yang tak kunjung membiru. Gelap dan
sisi keabuannya mengubur dalam luluh lantak retakan kebencianku pada hujan.
“Engkau tak bisa menjawabnya Yesus.
Mengapa mereka menyukai hujan?” teriakku diantara hujan yang kian menghujam.
Aku terpekur oleh
ketidaksanggupanku berdamai dengan hujan. Aku lelah membenci hujan, tapi aku
tak mampu memaafkannya. Aku menangis berteriak berharap diantara rinai tangisan
langit terdapat jawaban Yesus.
Kosong…
Aku tak mendapatkan jawaban
apa-apa. Rintikan hujan yang tak jua mereda menggigilkanku. Aku tak peduli, aku
ingin meredam kebencian dengan menentang dan pasrah disetiap hujamannya.
Perlahan tetes rintikan hujan tak
lagi aku rasakan. Aku mendongak, laki-laki asing telah membentangkan payungnya.
Aku berdiri mengambil alih payungnya.
“Jika hujan adalah anugerah, kenapa
engkau menghalangiku menari diantara rinai rintikannya?”
“Anugerah tak dapat engkau tembus
dengan sebuah kebencian. Engkau hanya menari diantara kepiluan dan kedukaan
hatimu.”
“Ach kau sok tau.” Kataku kemudian
berlalu.
Kubiarkan hujan yang katanya
anugerah dan berkat menghapus jejak air mataku. Peluh, rindu dan kebencian
masih menyisakan kepekatan di hatiku.
Laki-laki asing mengejarku dan
kembali membentangkan payungnya padaku. Aku menolak, tapi ia bersi keras
melindungiku dari terpaan hujan. Aku pun ahirnya tak peduli dan membiarkan saja
ia berulah dengan sikap tak wajarnya. Melindungi perempuan kerdil yang telah
menentang pernyataannya bahwa hujan adalah anugerah.
“Kenapa?” Tanyaku ketika aku mulai
lelah berjalan.
Laki-laki asing di sampingku
menggeleng.
“Tidakkah payungmu terlalu berharga
hanya sekedar untuk melindungi perempuan kerdil yang tak dapat berdamai dengan
hujan.”
“Bagaimana aku bisa, membiarkanmu
terpeluk erat selamanya pada hujan dan kebencian. Engkau mencintai kalam
tuhanku.”
Aku tersentak dan memandang lama
laki-laki asing yang telah berbaik hati padaku. Ia turut menatapku sekejab,
kemudian kembali melangkahkan kakinya. Entah aku tak tahu mengapa, kakiku
begitu saja melangkah mengikuti jejak langkahnya.
“Bisakah aku berdamai dengan hujan?”
Tanyaku sembari menatap dalam wajah sendunya.
Ia tersenyum menatapku sedikit agak
lama kemudian mengangguk meyakinkanku. Aku tersenyum, oleh keteguhan dan
kepercayaanya tentangku dan hujan.
Percikan hujan diantara sepoinya
angin perlahan kunikmati. Aku belum dapat sepenuhnya berdamai, tapi aku sudah
mulai membuka mata dan hati menjadikan hujan bagian dari anugerah.
Aku pun menghentikan langkahku.
Berteduh di penjual angkringan. Aroma kopi dan kehangatannya menggodaku. Aku berharap
sedikit dapat menghangatkan tubuh kami yang terkena tarian hujan. Ia setuju, dan segera melangkah lebih cepat
memasuki angkringan lesehan khas Jogja.
Sembari menunggu pesanan, laki-laki
yang baru aku tahu bernama Firdausi bercerita
tentang hujan. Aku terhipnotis dari setiap pilihan katanya menafsirkan hujan. Begitu
menggoda, seperti halnya kemarau panjang merindukan hujan. Aku telah lupa
bagaimana kebencian ini begitu saja musnah. Tertanggal oleh alunan kelembutan
sikap dan keteduhannya.
“Almathoroh bermakna hujan. Berarti
aku harus berdamai dengan namaku dan hujan dong?” Tanyaku.
Ia mengangguk pelan sembari
menikmati seduhan kopi khas Jogja. Kebahagiaanku membuncah. Berdamai dengan
hujan adalah anugerah. Terasa, hingga tak terdefinisikan oleh apapun. Aku ingin
memeluk hujan.
“Almathoroh! Berarti aku
memanggilmu hujan saja yaa? Hahaha.” Katanya menggodaku.
Ia tertawa lebar. Berbeda dengan
aku. Aku tertunduk, oleh rasa yang tiba-tiba menyergabku. Ku pandang jauh
jalanan yang yang masih terguyur hujan. Separoh waktu berlalu tanpa belaian
kehangatan mentari.
“Kenapa?”
“Tak menyangka aku bisa berdamai
dengan hujan melalui anda. Aku ingin mendekap erat pertemuan ini bersama
hujan.”
“Diminum kopinya.”
Aku mengangguk dan perlahan meneguk
kopiku. Tanpa rasa, hening dan hambar. Kami telah berada pada oase kesunyian.
Keheningan menyergap pikiran kami. Aku tenggelam oleh kebisuanku. Aku tak tahu,
harus melakukan apa agar pertemuan ini tak kunjung berakhir. Aku bahagia
diantara sekatan Firdausi bukanlah siapa-siapa. Orang asing, yang datang
sekejab kemudian pergi.
“Kubacakan lagi lafadz kesukaanmu
ya?” Katanya mencairkan suasana.
Sayup-sayup aku kembali tenggelam
oleh lafadz yang dibacakan Firdausi. Senandung lembut suara yang keluar dari
lisannya dan keindahan lafadz al-Qur’an terasa bagaikan kopi dan kepulan
asapnya. Menyatu!
“Aku terpukau oleh apapun
tentangmu, Firdausi.” Kataku spontan.
Firdausi masih saja asik dengan
kalam tuhannya. Entah, benar-benar tak mendengar dengan apa yang baru saja aku
ucapkan atau sekedar berpura-pura.
Hatiku berdegup hebat tak seperti
biasanya. Seperti ketakutan akan kehilangan sosoknya ketika hujan reda. Kuhela
sejenak nafasku. Mencoba menguasai getar hati. Aku benar-benar terpukau melalui
caranya mendamaikanku dengan hujan.
“Aku mencintaimu, Firdausi. Demi
Yesus aku bahagia engkau menjadi perantara aku dalam mengenal dan berdamai
dengan hujan.” Kataku setengah berteriak dan malu.
Firdausi segera menghentikan
bacaannya Al-Qur’an-nya. Ia tersenyum menatapku sejenak kemudian mengalihkan
pandanganya pada hujan yang mulai reda. Rintikan tetesannya berubah menjadi
titik lembut gerimis. Aku menangis, kehilangan benar-benar telah aku rasakan
bersamaan hilangnya hujan dari pelupuk mata.
“Apa engkau akan meninggalkanku?”
“Aku mencintai dan mengesakan
Tuhanku.” Katanya pelan.
Bagaikan halilintar, aku baru
tersadar ada ketersekataan keyakinan diantara aku dan Firdausi. Tapi rasa
sekejab yang akupun tak dapat mempercayainya, kurasakan bagaikan hujaman pisau
yang membilah jantung hatiku. Sakit, tak seperti ketika aku membenci hujan.
“Oke, aku mencintaimu karena
tuhanmu.”
Air mataku meleleh. Berjatuhan bak
darah yang mengalir dari pelipis bundaku di 17 tahun yang lalu. Tak menyisakan
apa-apa kecuali duka. Pergi,meninggalkan luka dari sebuah kehilangan.
“Maaf, aku tidak melihat adanya
tuhanku dalam dirimu. Kita bersaudara saja sebagai sesama manusia dan bangsa.”
Katanya kemudian berlalu.
Aku masih tertunduk memandangi
hujan. Langkah gontainya perlahan membawanya pergi dari pandangan. Mengecil kemudian
hilang tertelan kejauhan.
Aku tak kuasa menahan air mataku. Sisa-sisa
seduhan kopinya tak lagi mengepul. Persis seperti alunan suara dan keindahan
kalam tuhannya yang tak lagi ada. Bukan memudar, hanya saja tak lagi dapat aku
miliki. Tapi aku bersyukur, keindahan paduan lisan dan kalam Al-Qur’an-nya
dapat aku kenang dan kubawa pulang. Ku peluk erat diantara bayangan ketiadaannya.
Alam
tara annallaha yuzji sahaban tsumma yuallifu bainahu tsumma yaj’aluhu rukaaman
fataralwadqo yakhruju min khilalihi. Wa yunazzilu minassamaa’I min jibalin fiha
min baradin fayushibu bihi man yasya’u wa yashrifuhu ‘an man yasya’u yukadu
sanabarqihi yadzhabu bilabshar.
Tidakkah
engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian
mengumpulkannya, lalu dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat
hujan keluar dari celah-celahnya, dan dia juga menurunkan butiran-butiran es
dari langit, dari gumpalan-gumpalan awan
seperti gunung-gunung, maka
ditimpakannya butiran-butiran es kepada siapa yang ia kehendaki dan
dihindarkannya dari siapa yang dikehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir
menghilangkan penglihatan.
THE
END
Komentar
Posting Komentar