ANTA MA’A MAN AHBABTA “SOPO MANUT BAKAL KATUT”
Aku…
Termenung diantara ketidaktahuanku
. eraba mendekati apa yang dipeluk oleh mereka. Meski kadang belum bisa aku
pahami. Tapi,sandang yang kini dikenakan bapak dan ibuku padaku, perlahan
membuatku jatuh cinta tanpa alasan. Selain,melebur dan menganggap sandang ini
sebagai milikku, akupun mulai nyaman.
Sandangan ini tak berkilau, tidak
eksklusif dan biasa saja. Bapak yang didukung penuh oleh perempuan terhebatku,
merasa sedih. Keterbatasan kemampuan dirasanya tak dapat memberikan sandang
yang jauh lebih baik pada putrinya. Ia pun menitipkankan sang buah hati pada
seorang yang dirasa memiliki kemampuan mengubah sandangku yang biasa saja
menjadi lebih berbobot dan bermanfaat.
Satu hal yang orang tuaku
pikirkan, ketika akupun tak mampu mengubah sandangku, ketika aku berada
diantaranya akan ada cipratan kilauan dan aroma keharumannya. Tapi, indahnya
hidup bukankah ketika kita memiliki harapan dan mimpi?? Karena dari harapan dan
mimpilah akan timbul semangat dalam pecapaiannya.
Semangat menjadikan putrinya
lebih dari sekedar kemampuan yang dimiliki orang tuaku, membuatnya rela
terpisah bertahun-tahun. Sandang yang didalamnya terdapat keilmuwan para mu’allim
telah benar-benar menjadi tumpuan harapan, kelak tuhan mengizinkan aku memiliki
sandang yang lebih baik dari keduanya. Dari situlah, bapak ibuku mengirimku ke
sebuah pesantren di Pati. Raudlatul Ulum namanya. Diantara berbagai keilmuwan
kitab kuning serta keilmuwan modern yang disajikan, hanya sedikit dan bahkan
tak terlihat dalam kehidupanku. Tapi itupun telah membuat bapak dan ibuku
bangga. Anugerah katanya. Aku bisa berada diantara para mu’allim yang memiliki
keilmuwan, solidaritas, pengabdian, ketawadlu’an dan perangai baik lainnya yang
tidak bisa aku sebutkan.
Hingga ketika aku paripurna masa
belajarku, aku harus beranjak dari pesantrenku tercinta. Sandang yang aku
kenakan masih sama. Hanya saja, aroma khas mu’allim dan pesantren seenggaknya
telah melekat dalam diriku. Pelekatan ini yang menjadikanku berpikir ketika aku
menyeleweng terlalu jauh dalam kebutaan, aku tidak akan rela. Karena ada
kilauan dan aroma para mu’allimku.
Aku yang pulang masih merasa
tanpa apa-apa,matur pada orang tua untuk berlalang buana menemukan mu’allim di
pesantren yang berbeda. Al-Munawwir krapyak menjadi pilihanku. Ketakutanku dulu
ketika aku keluar dari Raudlatul Ulumku akan terpisah dengan para mu’allim, tak
terjawab. Di Al-Munawwir dan di Krapyak (KODAMA) aku bisa kembali bergabung
dengan para pemilik sandang yang berkilau dan beraroma surga. Kewibawaan,
pengayoman, senyum ketulusan, kemerdekaan berpikir sedikit banyak mewarnai
kehidupanku. Dan Raudlatul Ulumku alhamdulillah masih dan semoga selamanya
tetap terdekap. Apa yang diajarkan dan diikrarkan saat wisuda, Allah SWT
menjaganya.
Aku mencintai
keduanya,,,,Raudlatul Ulumku dan Munawwirku dan Kodamaku. Masih jelas diantara
senyum bu Magfurotun menerangkan “anta ma’a
man ahbabta” dalam kitab Tajridusshorih “Kamu bersama orang yang kamu
cintai. Kata-kata tersebut adalah salah satu pengetahuan yang kudapat dari Raudlatul Ulumku. Dan disini, di
Al-munawwirku dan Kodamaku, kebetulan Gus
Yahya mengulas lebih jauh saat mengisi acara Habib Syehan di lapangan Ali
Maksum 13 Agustus 2015. Pangendikan ajaib beliau yakni “Sopo manut bakal katut.” Kalimat yang diulang-ulang tersebut,
menjadikanku bernostalgia akan pengetahuan yang disampaikan bu Maghfurotun saat
menduduki kelas XI di jurusan Bahasa, Yayasan Perguruan Islam Raudlatul Ulum
(YPRU). “Anta ma’a man ahbabta, kamu
bersama orang yang kamu cintai.” ketika kita enggan berpikir sekaligus atau
terbatas kemampuan kita dalam berpikir asal ada cinta yang terpaut pada
seseorang, kita akan turut dalam usaha dapat berdampingan dengannya selamanya. Ketika
kita berdampingan dengan penjual minyak tentulah aroma harum melekat pada kita,
meski kita tak menegenakannya. Ketika kita berdampingan dengan penjual ikan,
tentulah kita tidak dapat terlepas dari aroma amis.
Karena cinta pada dasarnya akan
membuat kita terlena dalam buaian cawan kerinduannya. Mencintai Habib Syeh akan
mendorong kita menikmati lantunan sholawat. Mencintai orang-orang sholih dan
kiai, akan mendorong kita mengikuti tindakan-tindakan yang dilakukannya. Meskipun
tidak semuanya, namun “Kamu bersama orang yang kamu cintai dan sopo manut bakal katut.”
Sebagaiamana kisah anjing dan Ashabul Kahfi. Tujuh
pemuda yang sengaja mengasingkan diri ke gua karena terdholimi dan terancam
keimanannya dari penguasa yang bernama Dikyanus. Diperjalanan ada seekor anjing
yang mengikuti ke tujuh pemuda tersebut. Setelah diusir tidak mau sedikitpun
beranjak, Ashabul Kahfi pun membiarkan anjing mengikuti mereka selama Ashabul
Kahfi tertidur di dalam gua selama 300 tahun. Maha besar Allah, anjing ini
kelak menjadi penghuni surga. Bagaimana bisa sedangkan anjing najis?? Keterangan
dari Gus Yahya mengatakan bahwa najis itu bisa dihilangkan sifat kenajisannya
oleh Allah SWT.
Cerita tersebut ditarik ulur oleh
Gus Yahya bahwasanya menjadi seorang pengikut akan bersama orang yang
diikutinya. Meskipun, tindakan yang dilakukannya berbeda. Namun, kita manusia
yang diberi kemampuan akal dan nurani sebaiknya memanfaatkan anugerah Allah
yang dimiliki masing-masing manusia.
"Jika engkau
bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut
ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah
mereka. Dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci
mereka." (Umar bin Abdul Aziz)
Ungkapan Umar Bin Abdul Aziz tersebut
sangat sinkron ketika dihubungkan dengan “Anta
ma’a man ahbabta “kamu bersama orang yang kamu cintai dan sopo manut bakal
katut”
Nasihat tersebut mengajari kita untuk
memanfaatkan anugerah yang telah dianugerahkan Allah pada kita. Harapan dan
mimpi tersebar bebas bagi mereka yang menginginkannya. “Kamu bersama orang yang
kamu cintai dan sopo manut bakal katut”
dua slogan tersebut patut untuk dipraktekkan dan, mari menjadi manusia yang
dapat menghias sandangannya dengan lebih baik. Tidak sekedar anut, tapi kalau bisa diilmuni. Ben luwih manteb,,,,
Malioboro, 19 Agustus
2015
Komentar
Posting Komentar