Sinetron Kekerasan Perempuan Terhadap Perempuan Semakin Menggila
Kekerasan terhadap perempuan telah menjadi perhatian bersama pemerintah dan kaum feminis di Indonesia. Upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan pun diadakan, demi mewujudkan sikap ramah terhadap perempuan. Seminar, pembinaan dan pemberdayaan perempuan dikenalkan kepada masyarakat agar masyarakat memeiliki persepsi yang sama menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, baik itu fisik seperti memukul atau pun psikis sepertihalnya pengekangan berpikir,manipulasi, penghinaan dan eksploitasi. Bahkan, lembaga seperti halnya Badan Pemberdayaan Perempuan dan Mayarakat, Rifka Annisa telah giat mengkampanyekan pendidikan keluarga. Sudah berapa banyak perceraian akhirnya menjadi ujung tombak hancurnya sebuah keluarga yang diakibatkan kekerasan dalam rumah tangga? Tentunya ketika menilik lebih jauh, berbagai alasan terjadinya kekerasan rumah tangga dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya; ekonomi, ketidakpuasan berhubungan sex, perselingkuhan, labilitas pasangan karena menikah dini dll. Pernah disebutkan dalam sebuah seminar Kaukus Perempuan Parlemen DPRD DIY, dampak dari pernikahan dini ialah meningkatnya angka perceraian. Mengapa? Karena pasangan yang menikah dini belum memiliki kesiapan yang cukup matang baik materi atau pun non materi.
Menanggapi hal yang demikian, kaum feminis tersentuh untuk bergerak menyadarkan kaum perempuan agar mengenali, paham dan cermat dalam menyikapi segala bentuk macam kekerasan. Harapannya apa, bukan semata-mata menuntut kesejajaran atau keseimbangan peran perempuan dengan laki-laki di ruang publik atau sosial. Melainkan, untuk mewujudkan generasi bangsa yang ramah untuk bangsa, negara dan dunia. Menyebut generasi bangsa, tentulah tidak terlepas dari yang namanya seorang anak. Sekarang dapat dibayangkan, bagaimana anak dapat tubuh menjadi pribadi yang ramah terhadap sesama jika di lingkungan keluarga masih berlaku kekerasan? Jadi, katakan tidak terhadap kekerasan.
Mengapa kekerasan terjadi? Tentulah karena ada keegoisan diri merasa berkuasa atas yang dikuasai. Dominasi penguasa atau yang berkuasa dalam tatanan system hierarki, jelaslah laki-laki sebagai pelakunya. Namun saat ini bukan hal tersebut yang akan disinggung penulis dalam tulisan ini. Melainkan kemirisan penulis akan salah satu sinetron yang banyak digandrungi masyarakat. Contohnya, sinetron dengan tokoh lemah lembutnya bernama Naura. Sinetron yang berjudul “Anugerah Cinta” tersebut di setiap episode-nya selalu menampilkan kekerasan perempuan terhadap perempuan. Bagi penggemar sinetron ini, pastinya tahu dong bagaimana sikap Kintan, mama Seruni dan mama Raka bersikap kepada Naura. Dan yang paling menyakitkan yang dirasakan penulis sebagai seorang perempuan, mengapa Naura ditampilkan begitu polos menghadapi orang macam Kintan, Mama Seruni, dan mama Raka? betapa bodohnya sosok perempuan yang ditampilkan sebagai Naura? yang perlu dicatat ialah baik itu tidak lantas terlalu lugu dan selalu mengalah bahkan gak dong terhadap perilaku buruk yang menimpanya. Apakah masyarakat terutama kaum perempuan akan diajak cara berpikir seperti ini?
Sungguh, di tengah-tengah kaum feminis mengkampanyekan sikap ramah terhadap perempuan, sinetron ini bagaikan api yang menyulut dan menghanguskan semuanya. Ach, sungguh,….mengutip judul film-nya Dedi Mizwar “Alangkah lucunya negeri ini.”

Komentar
Posting Komentar