Tak Terperi Rinduku Padamu, Mojorembunku
Pagi ini aku bertanya-tanya, apa yang dapat aku bawa pulang setelah hampir 12 tahun seolah menghilang dari peraduan kampung halaman? Terlalu takut menyebut sebuah petualangan panjang, karena nyatanya sampai sekarangpun, masih belum dapat melakukan apa-apa.
Semua ini berawal ketika kutemukan https://mojorembun.wordpress.com/category/sejarah/. Aku berpikir, sudah berapa kali momen-momen sakral dan penting di desaku ku tinggalkan? Sedekah bumi, Haul simbah Abdul Rahman, simbah Abdul Rozaq dan Nyai Siti Robi’ah, Semerak peringatan Maulid Nabi, isra’ mi’raj dan peringatan hari besar islam lainnya sudah jarang sekali aku terlibat dan berpartisipasi di dalamnya. Begitu juga dengan kegiatan rutinan barzanji malem rabuan, majlis takhtimul qur’an selapanan, hadrohan, dan entah kegiatan apa lagi sudah banyak yang tidak aku tahu.
Di sini aku benar-benar rindu, meski nyatanya aku masih tak mampu berpikir untuk pulang. Namun cinta dan rinduku, masih satu, menyatu dan itu untukmu kampung halamanku. Mojorembun, masih jelas dan akan selalu jelas di pelupuk mata. Ketika fajar menyongsong, ayam jago bersahut-sahutan, dingin menyergab tak menjadi halangan bagi penghuninya untuk terbangun. Ada banyak hal yang harus dilakukan, berkawan dengan panasnya suguhan alam. Bekerja di bawah terik mentari sebagaimana yang dilakukan Bapakku. “membuat batu bata merah”.
Yaaach pekerjaan melelahkan, namun telah dipilih sebagian besar penduduk desaku untuk bertahan memenuhi kebutuhan. Biasanya, laki-laki akan cenderung lebih pagi bergumul dengan rutinitas harian “membuat batu bata merah”. Ngudek (semacam membuat adonan batu bata merah dengan cara galian tanah yang sudah direndam air di lembutkan dengan tambahan kulit padi atau yang biasa disebut rambut serta Awu atau debu bekas pembakaran batu bata merah) menjadi pekerjaan yang dilakukan laki-laki.
Dimana perempuan? perempuan tidak lantas berdiam diri, melainkan memasak dan menyiapkan kebutuhan anak-anaknya yang akan bersekolah. Baru ketika urusan dapur dan anak selesai, dengan menenteng makanan, ia ke sawah menyusul suaminya. Disinilah kehidupan harmonis terjalin, makan bersama di antara mentari dhuha. Usai sarapan, lantas nyitak boto (menyetak batu bata). Namun ada juga suami yang lebih memilih sarapan di warung, tentunya hal ini telah menjadi kesepakatan.
Nyatanya, 12 tahun bukan waktu yang singkat untuk tidak terjadi apa yang disebut evolusi/ perubahan. Banyak hal yang berubah, tapi secara keseluruhan rutinitas “membuat batu bata merah” masih menjadi idola, termasuk generasi penerusnya. Sungguh suatu hal yang sangat patut diapresiasi.
Tapi aku berharap, dari tanah dimana bapak , ibu, simbah dan buyutku berpijak, tanah dimana aku dilahirkan di antara kesunyian malam aku menyimpan harap “Akan ada generasi hebat terlahir di kampung kami.” Bukankah semua generasi di kampung kami telah sangat hebat?
Iya, generasi tanah kelahiranku begitu sangat hebat mempertahankan keluhuran budaya, sikap tolong menolong yang kini banyak tergerus modernitas masih terdekap erat tumancep ing jero dodo generasi mudanya. Sungguh nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Tak terperi rasa syukur aku sampaikan pada Allah atas limpahan anugerah atas keterjagaan kampung halamanku.
Tapi tuhan, pintaku berikanlah keberanian pada generasi kampung halamanku untuk bergerak dan menjadi lebih hebat dari sekarang. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk melestarikan apa yang telah ditinggalkan nenek moyang kita agar selalu terjaga dan tak menghilang. Tergerus api kapitalisme, perbudakan massa kaum imperialis, dan sebagaian politikus tak bertuankan tuhan. Tidak semua,…tapi aku berharap generasi kampung halamanku akan selalu sadar untuk itu. Begitu juga aku…
Komentar
Posting Komentar