Berani Jujur Itu Hebat
Allahu Akbar…..Allahu Akbar…..
Adzan berkumandang. Isti, Alma, Leli, Syamsul, Izzat,Nida, Umroh, Zida dan Zaki segera mengambil air wudlu. Mereka berlarian berharap dapat lebih dulu sampai di tempat wudlu. Syamsul teriak girang karena selalu saja menjadi pemenang. Berbeda dengan Zida, yang kerap kali tergopoh-gopoh dan mengeluh.
“Haduch capek, pengen maem sate.” Ucap Zida membuat kedelapan sahabatnya meledeknya.
“Habis Madin beli sate yaaa?” Kata Alma yang diangguki Zida dan lainnya.
Zida cengengesan lantas mengikuti lainnya berwudlu untuk menunaikan salat asar. Salat asar berjama’ah telah menjadi rutinitas mereka sekaligus mengikuti kegiatan belajar keagamaan di Madrasah Diniyah (Madin) Kodama.
Di Madin Kodama, mereka bersembilan dapat belajar Al-Qur’an, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Akhlak. Guru-gurunya ramah, sehingga membuat mereka bersembilan nyaman dan senang setiap kali belajar.
“Kok pak Udin belum datang yaaa? Tumben.” Tanya Leli selepas salat asar berjama’ah.
“Maen bola saja yook?” Ajak Syamsul.
Sontak mereka berteriak senang menyetujui usul Syamsul. Begitupun Zida, meskipun perawakannya gendut, ia selalu semangat diajak bermain sepak bola. Sepak bola memang menjadi olahraga idaman mereka, dan bahkan ketika enggan belajar Al-Qur’an pak Udin tidak keberatan menemani bermain sepak bola di lapangan Fatmasuri.
Baru saja mereka akan menuju ke lapangan, pak Udin datang khas dengan senyum ramahnya. “Pada mau kemana?” Tanya pak Udin.
“Yaaach…kirain libur. Pengen maen sepak bola pak.” Jawab mereka serentak.
“Wooooo,,,,,pak Udin boleh ikut?”
“Boleh, boleh, boleeeeh.” Teriak mereka kompak.
Namun pak Udin tidak lantas mengiyakan keinginan mereka main sepak bola. Pak Udin dengan kelembutannya berhasil merayu mereka bersembilan untuk mengaji Al-Qur’an. Bahkan akhirnya mereka lupa akan keinginannya bermain sepak bola.
Usai belajar Al-Qur’an pak Udin bercerita tentang raja yang sedang mengadakan sayembara mencari pemuda yang layak dijadikan menteri. Datanglah enam pemuda dengan paras menawan dan gagah.
“Gagahnya seperti pak Udin?” Tanya Isti.
“Hmmm….seperti Izzat, Syamsul, dan Zaki.” Jawab pak Udin sambil tersenyum dan melanjutkan ceritanya.
Enam pemuda berparas menawan dan gagah tersebut, masing-masing dikasih satu biji kacang untuk ditanam. Barang siapa dalam satu bulan berhasil membawa biji kacang tersebut menjadi tanaman yang sehat dan subur, dialah yang layak untuk dijadikan menteri.
Pulanglah ke-enam pemuda tersebut dan menanam biji kacang di rumah masing-masing. Satu pemuda risau, karena biji kacang yang ditanamnya tidak juga tumbuh. Padahal ia telah memupuk dan menyiraminya dengan baik, namun biji kacang dari sang raja tidak juga bersemi.
Sebulan kemudian, ia bersama pemuda lainnya kembali datang ke kerajaan untuk menyerahkan hasil tanamannya. Ia berkecil hati, karena hanya biji kacangnya yang gagal menjadi tanaman yang subur dan sehat. Dipandanginya tanaman kacang pemuda lainnya, tampak hijau, subur dan sehat. Ia pun menundukkan kepala.
“Kenapa kamu tidak berhasil melakukan perintahku dengan baik?” Tanya sang raja kepada pemuda yang biji kacangnya tidak berhasil bersemi menjadi tanaman yang subur dan sehat.
“Mohon maaf sang raja, saya sudah menyirami dan memupuknya. Tapi biji kacang ini tidak juga bersemi. Saya telah gagal.” Jawabnya.
Raja mengangguk lantas mengumumkan siapa yang layak untuk dipilih menjadi menteri. Tampak para pemuda cemas dan berharap dirinyalah yang akan dipilih menjadi menteri. Berbeda dengan pemuda yang biji kacangnya tidak berhasil bersemi, ia tampak tenang.
“Kamu yang saya pilih menjadi menteri di kerajaan saya.” Kata sang raja kepada pemuda yang biji kacangnya tidak bersemi.
Pemuda tersebut bingung, dan pemuda lainnya tercengang tidak percaya dengan yang dikatakan raja. Raja lantas bercerita tentang biji kacang yang diberikan ke masing-masing pemuda tidak mungkin dapat bersemi. Biji kacang tersebut telah dimasak dan dikeringkan.
“Saya mencari pemuda yang jujur, dan saya bersyukur di negeri ini masih ada pemuda yang sepertimu.” Kata raja kemudian menggandeng pemuda yang masih membawa biji kacangnya yang gagal bersemi.
Mendengar cerita pak Udin, Alma, Leli, Isti, Izzat, Syamsul, Nida, Umroh, Zaki dan Zida mengangguk-angguk. Terlebih saat pak Udin menjelaskan tentang pentingnya kejujuran.
“Adakah disini yang tidak suka kejujuran?” Tanya pak Udin.
“Isti suka berbohong, pak.” Jawab Izzat.
Isti langsung terdiam dan cemberut. “Benarkah Isti suka berbohong?” tanya pak Udin pada Isti.
“Saya kan jujur pak kalau habis berbohong.” Jawab Isti ngeles.
Semuanya lantas tertawa ngeledekin Isti. Tapi pak Udin segera menenangkan para santrinya dan menantang Isti untuk berani jujur dan tidak berbohong lagi meskipun sedang bercanda.
“Sekarang, siapa yang mau makan sate ikut pak Udin?”
“Saya!!!!” Jawab semuanya serentak dan kompak.
“Berdoa pulang duluuuuuuu.” Ajak pak Udin.
Komentar
Posting Komentar