Sugeng Ambal Warso Ibu Dan Adekku

Aku tak tahu harus memulai dengan apa, selain berdoa semoga Allah melimpahkan tak terhingga rahmat dan keberkahan pada dua perempuan istimewa di keluargaku.
 
Ibu,..
Salam ta’dhim dari putrimu di bumi perantauan dan mohon maaf hanya untuk sekedar mengusap keringat dan peluh lelahmu aku belum mampu. Kecup ta’dhim tepat di keningmu ibu, betapa sekarang aku semakin takut memandang matamu. Gurat harapan dariku belum mampu aku wujudkan. Hatiku ringkih, pedih ketika lisanmu berkata “Manggon nang ndiae ora opo-opo, tapi lek iso pas tuo balik nang ndeso. Aku pengen dikancani.” Aku seperti tak pernah sadar, perempuan terhebatku setiap waktu menghitung sudah berapa lama putrinya jauh darinya? Selama ini yang aku tahu hanya kelogowonan, tak menuntutku segera pulang. Sekarang aku mencoba memahami, kerinduan dan harapan bukanlah sekedar terlihat siapa yang lebih tegar. 
 
Ibu,….di usia ke-42mu kusampaikan terimakasih telah mengajariku banyak hal. Tak banyak cerita yang aku dengar dari lisanmu kecuali tentang masa kecilmu, tentang jatuh cintamu pada bapak, tentang cita-cita menjadi seorang penjahit, tentang kerepotanmu menyetorkan tempe di warung-warung demi membantu simbah menjajakan dagangannya. Saat itu ibu, kau mengaku kepayahan karena sepeda yang kau kayuh tak sebanding dengan ukuran tubuhmu. 
 
Ach, ibu…masih sangat jelas cerita-ceritamu. Tentang sedihmu ketika memilih berdagang di pasar. Belum ada pelanggan, belum cukup bekal bakoh ketika pembeli menawar di bawah rata2. Ketika kau bercerita tentang ini, aku bertanya-tanya kenapa aku tak pernah melihat ibu menangis? Ternyata ibu menyembunyikan semua. Hanya kepada bapak dan simbah ibu bercerita. Sehingga akhirnya, simbah sementara berhenti dari menjual ikan demi menemani ibu berdagang di pasar. Baru ketika ibu sudah dirasa cukup mampu, simbah kembali pada aktivitas yang selama ini dilakoninya. Cerita-cerita lain yang sangat aku suka, ialah tentang peranmu menjalankan kodrat sebagai seorang perempuan. Fabiayyi ala irabbikuma tukadziban? Sungguh aku sangat bangga dan bersyukur terlahir dari rahim njenengan ibuku….sugeng ambal warso ibu.
 
Satu lagi teruntuk kamu, yang sering dijuluki bapak ratu kecilnya. Selamat Ulang tahun ke-12, semoga Allah melimpahkan kejernihan dalam berpikir, kelembutan dalam berucap, dan kesantunan dalam bersikap. Serta semoga setelah lulus SD, diberi kemantapan oleh Allah untuk melanjutkan belajar di pesantren. 
 
Terimakasih Kholif, telah meluangkan waktu bermainmu untuk membantu ibu. Menyapu, mencuci piring dan bahkan mengepel. Ibu pernah bercerita dan mengaku bersyukur kamu tumbuh menjadi pribadi yang tidak terlalu banyak tuntutan. Terimakasih telah cukup paham dan percaya, orang tua akan memprioritaskan apa yang dibutuhkan anaknya.
Suatu ketika ibu bercerita tentang ketakutannya terhadap kemarahanmu. Entah tentang apa aku lupa, kulkas kamu tutup dengan sedikit keras. “Ibu kui paling gampang keno amukane anak.” Kata ibu ketika bercerita padaku. 
 
Kholif,,,,kenapa aku sering bertanya tentang kabarmu? Bagaimana pelajaranmu ada yang sulit atau tidak? Berapa nilaimu, mata pelajaran yang paling kamu sukai apa? Ada cerita apa tentang teman-teman kelasmu, semua itu aku belajar dari ibu. Masih ingatkah, ketika ibu bertanya berapa nilaimu? “Entok piro nilaine?” Jika nilaimu baik kamu dengan bangga memperlihatkan ke ibu lantas ibu bilang “Rene-rene tak sayang.” Bahkan ketika nilaimu jelek, apakah ibu pernah memarahimu?
Teruntukmu adikku,,,,terimakasih telah sangat baik menjaga ibu. Peluk sayang dari Jogja. I love you.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satu di Antara Perjalanan Rihlahku,…

Jangan Hanya Soal Sangsi

Refleksi Rihlahku Di Hari Guru