Aku Dan Sayap Patahku
Langit munawir masih sama, rona keindahannya tampak memesona diterpa senja. Jemari para pecinta mahakarya tuhan tak lelah membolak-balikkan mushofnya. Dan lagu perdu itu, mengalun indah membisiki ruang-ruang kosong atau pemikiran-pemikiran dari saraf motorik yang sengaja diciptakan untuk sebuah kekosangan.
Aku, ruang dan pemikiranku kosong. Tak sepeprti jalanan yang sesak oleh lalu lalang dan bejipun makhluk bernama manusia. Bagaimana dengan pemikiran-pemikiran yang ada di otak mereka?
Aaah,..
dunia ini telah sesak, oleh keadaan yang belum mampu aku pahami dengan kekosonganku. Kekosonganku telah sesak oleh oase-oase abstrak yang tak tau siapa penciptanya. Tuhankah??
Tapi bukannya manusia telah dibekali sebuah kekuatan otak, keberanian, pembelajaran, hikmah, teladan, kalam tuhan, wejangan rasul dan para pewarisnya? Aach lagi-lagi itu hanya masalah aku, yang terlalu minder hidup dalam sebuah keramaian. Otakku terlalu beku dan menemukan kedamainnya berkawankan dengan sepi.
Tapi aku tidak menikmati persahabatan ini? Aku rindu,,,,aku ingin bebas memanjakan paradigma, instuisi, persepsi, interpretasi kehidupan yang sarat akan pertanyaan. Atau…kekosongan yang hidup dan bermetamorvosis dalam sebuah keramaian. Adakah?
Entah,,,aku tak berpikir sejauh itu. Aku hanya bisa bergantung pada tuhan, sang pemilik ruh kehidupan, yang hanya kepadanyalah aku benar-benar memohon tercipta sebuah kehidupan di kekosonganku.
Tuhan…..
Aku rindu memelukmu. Memeluk dengan sebaik-baiknya pelukan sebagaimana yang engkau ajarkan. Seperti apa,,,,,aku belum dapat memeluk semuanya. tuhan beri aku pemahaman dengan sebaik-baiknya pemahaman. Hingga gemuruh hembusan nafas ini, tarian jemari, langkah kaki, bisa benar-benar berjalan sesuai titahmu dan karenamu.
Tuhan…
Bolehkah aku berbisik??
Tidak pada rinai hujan sebagaimana yang dilakukan para sastrawan saat bercumbu rayu menemuimu. Aku bukan sastrawan,,,,tapi aku ingin bercinta dengan bahasa yang hanya bisa dipahami olehku dan engkau, tuhan. aku tak tau bahasa apa itu, biarlah mata, telinga, hati, bibir dan pemikiran ini penuh oleh pemahaman kosong yang bertuan dan bertuhankan engkau tuhan. aku mencintaimu…mencintai keputusan, kehendak, rahman, rahimmu yang membentang memelukku. Terkadang aku tak menyadarinya tuhan,,,,
Tapi…
Kali ini saat engkau membiarkan rasa ini kehilangan hakikatnya, atau sandaran pelapuk rasa ini, aku sadar,,,,engkau telah mengajariku berpuasa melalui kekosonganku. Aku tak menginginkannya, tapi harapan untuk melihatnya dapat lebih berkembang menggenggam erat kalammu tak bisa aku dustai. Aku sangat mengharapkan itu.
Terimakasih tuhan, ini puasa kehidupan, puasa pemikiran, penglihatan, pendengaran, dan puasa untuk menjaga dan fokus apa yang harus dijaga.
Engkau sebaik-baiknya penjaga,ku titipkan padamu jagalah ia, sukma, pemikiran, sosial kehidupan, keilmuwan, pengalaman dan apapun tentangnya.
Disini,,,
Aku tidak hanya akan belajar berpuasa. Tapi aku akan benar-benar berpuasa, hingga aku lupa oleh apapun tentangnya. aku hanya ingin terdekap oleh nikmatnya berbuka sembari mendendangkan mahakaryamu. Mengepakkan sayap, meneladani kehidupan, melangkahkan kaki, bergerak menuju sebuah peradaban yang aku bangun sendiri.
Aku masih bisa terbang, karena doa dan semangat mereka adalah hembusan angin yang akan menemaniku bergerak dan terbang tidak cukup sampai disini. Aku dan mereka akan menciptakan bayangan sayap patahku yang hilang.
Karena tuhan…..
Telah menciptakan penggantinya. Aku dan sayap patahku,hanya luka, bukan derita yang terhiasi oleh tetesan air mata. Pergilah….sampaikan salamku pada tuhan, aku mencintainya dan mencintai caranya mengajariku berpuasa.
Dendangan mahakarya tuhanmu semoga menjadi perantara bagiku, bagimu untuk bertemu. Tidak harus bertempat dan berteduh di tempat yang sama, dengan cara yang berbeda dan atas namanya.
Komentar
Posting Komentar