MIMIN DAN EMPAT AYAM JAGO
Fajar telah tiba. Jago Belang dengan lincahnya mengepakkan
sayapnya. Bernyanyi-nyanyi memamerkan suara jantannya. Ia pun keluar melihat
pohon-pohon yang rindang, hijau dan masih berembun.
Jago Belang berlari-lari sambil bernyanyi, loncat kesana kemari
sembari menikmati angin fajar. Ia ingin menunggu matahari terbit dan berjemur
di bawah teriknya.
Kukuruyuuuk…kukuruyuuuuuk,,,yuk,,,yuk,,,yuk,,,,
Selamat pagi dunia
Pagiku, pagimu, pagi kita semua
Ku…ku…ku..ku…kukuruyuuuuk
Good morning
Ayo kawan kita bermain bersama-sama
Bersama kita loncat
Bersama kita menari
Berdendang laguuuu…
Selamat pagi
Jago Belang senang satu persatu kawan-kawannya berdatangan. Mereka
ikut bernyanyi, meloncat, dan menari seperti yang dilakukan Jago Belang. Ada Jago
Putih, Jago Hitam, Jago Kuning, dan Jago Coklat.
Saat asik-asiknya bernyanyi, tiba-tiba Jago Belang berhenti membuat
kawan-kawannya keheranan.
“Yaah,,,,
Kok berhenti kenapa, Lang?” tanya Jago Kuning pada Jago Belang.
“Iya Lang, capek ya?” Kata Jago Putih menambahi.
Jago Belang masih
terdiam sambil melihat kawan-kawannya
satu persatu.
“Kalian melihat Mimin?” Tanya Jago Belang.
Semuanya kompak menggelengkan kepala. Jago Belang semakin panik.
“Paling Mimin lagi asik menata rambutnya dengan gaya terbaru. Heheee.”
Kata Jago Hitam mencoba mencairkan
suasana.
Jago Belang masih saja tidak bisa mengusir rasa paniknya. Ia takut
terjadi apa-apa dengan sahabatnya Mimin.
“Tidak seperti biasanya, Mimin lebih memilih menata rambut dengan
gaya barunya daripada melewatkan matahari terbit.” Bantah Jago Belang.
Semuanya mengangguk bingung menjadikan suasana yang semuala ceria
menjadi hening dan risau.
“Bagaimana kalau kita sekarang ke kandang Mimin? Usul Jago Coklat.
Usulan Jago Coklat diterima
dengan senang oleh sahabat-sahabatnya. Kemudian mereka bergandengan, berjalan
bersama menuju kandang Mimin. Sesampainya di kandang Mimin, semuanya sedih
melihat Mimin terpekur dengan air mata yang berlinang. Jago Belang dan
kawan-kawannya memeluk Mimin berharap satu-satunya sahabat perempuannya
tersebut dapat tersenyum dan berkenan bercerita.
Mimin semakin tersedu oleh tangisan yang tidak mampu ditahannya.
Bak seorang kakak, Jago Belang mengusap rambut Mimin dan memeluknya erat.
“Kami siap mendengarkan kamu bercerita, Mimin.” Kata Jago Belang yang diangguki oleh sahabat yang
lainnya.
Mimin kemudian melepaskan pelukan sahabat-sahabatnya dan berjalan
pelan kemudian kembali ke sahabat-sahabatnya dengan membawa telur.
Jago Belang tak percaya
dengan apa yang baru saja dilihatnya. Begitu juga dengan Jago Putih, Jago Hitam, Jago Kuning, dan Jago
Coklat.
“Wah selamat Min, kamu dipercaya tuhan melestarikan bangsa kita.”
Teriak Jago Putih dengan bahagia.
Mimin semakin tersedu membuat sahabat-sahabatnya semakin
kebingungan.
“Kenapa sedih, Min?” Tanya Jago Belang.
“Anak-anakku tidak seperti aku. Kenapa dia harus terlahir dengan
wajah tanpa rupa, polos, gak punya kaki, mata, telinga, mulut dan bulu yang
cantik.” Kata Mimin sedih.
Sontak semuanya tertawa melihat ekspresi Mimin yang lugu. Mimin
semakin tersedu dan protes kesedihannya menjadi bahan tertawaan
sahabat-sahabatnya.
Jago Belang mendekat dan membelai lembut telur-telur yang dibawa Mimin.
“Min, sebagai ibu yang baik mintalah pada tuhan untuk mengubah
wujud anak-anakmu.”
“Maksutnya?” Tanya Mimin tak paham.
“Kamu harus mengerami telur-telurmu selama 21 hari. Selain itu,
kamu juga harus menyebut lafal laa ila haillallah. Banyak-banyak
menyebut asma Allah, insyaallah anakmu akan tumbuh menetas dan lahir
sebagaimana kamu dan bangsamu.”
Jago Putih mendekat diikuti yang lainnya. mereka bergantian memeluk
Mimin dan berjanji akan sering berkunjung selama Mimin mengerami
telur-telurnya.
Mimin terharu, isak tangis lagi-lagi menghiasi wajah imutnya.
Mereka pun berpamitan meninggalkan Mimin sendiri bercengkerama memohon pada
tuhannya. Mimin tersenyum dan bahagia memiliki sahabat-sahabat yang baik dan
setia seperti Jago Belang dan kawan-kawannya.
Setiap hari Jago Belang berkunjung ke kandang Mimin di temani
sahabat-sahabat lainnya, hingga telur-telur Mimin menetas dan lahir seperti
bangsa ayam yang lain. Mimin bahagia, karena sahabat-sahabatnya berkenan
membantu Mimin merawat anak-anaknya.
THE END
Komentar
Posting Komentar